
Bella langsung berhambur berlari keluar rumah saat mendengar suara klakson mobil Inka di depan gerbang. Ia tidak sabar menyambut sang kakak yang baru pulang. Dengan cepat ia membukakan gerbang lebar-lebar sementara Saras menunggu di mulut pintu dengan harap-harap cemas.
Mobilpun masuk ke halaman dan Bella segera menghampiri sesaat setelah mobil berhenti. Ia membuka pintu belakang mobil tempat Ozi membaringkan tubuhnya.
“You okey?” Tanyanya saat ia masuk ke dalam mobil dan membantu Ozi bangun.
“Hem, gue baik-baik aja.” Sahut Ozi yang terlihat lebih baik di banding saat di rumah sakit.
Bella sebenarnya ingin mengomeli sang kakak yang pergi sendiri ke rumah sakit tapi kekesalannya hilang dan berganti rasa syukur karena Ozi masih pulang dengan selamat.
Ia membawa Ozi turun dan masuk ke dalam rumah.
“Yuk Ka, masuk.” Tidak lupa ia mengajak Inka.
Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum. Terlebih saat Ozi menolehnya ke belakang. Seperti memberi isyarat kalau ia harus ikut turun dan masuk.
“Lo mau istirahat dulu di sini apa mau ke kamar?” Tawar Bella yang membopong Ozi bersama Saras.
“Gue baik-baik aja. Gue bisa ke atas sendiri.” Terang Ozi.
Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Bella dan Saras lalu berjalan perlahan menuju kamarnya.
“Abang kalau butuh sesuatu panggil mamah ya..” Seru Saras.
“Iya mah. Makasih.” Ozi mengacungkan jempol tangan kananya ke udara.
Bella dan Saras hanya terdiam sambil memandangi Ozi yang menapaki satu per satu anak tangga dengan perasaan cemas.
“Usaha Abang sangat besar untuk kuat ya mah.” Puji Bella dengan bangga pada sang kakak.
Namun di sisi lain kadang ia sedih. Ia tahu persis bagaimana rasanya terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang agar tidak membuat cemas dan tidak di kasihani.
Saras mengangguk. Ia merangkul tubuh Bella dari samping. Matanya tampak berkaca-kaca dan perlahan pecah.
“Mah,, Mamah inget kan kalau kita udah janji gak akan nangis untuk alasan apapun depan abang?”
Bella yang menyadari kondisi Saras segera menatap wanita itu. Di usapnya dengan lembut air mata yang menetes di pipi Saras. Ia tahu Saras sedih, begitupun dengan dirinya. Namun mereka sudah berjanji untuk tidak membuat mental ozi drop dengan melihat air mata mereka.
“Iya sayang.” Sahutnya dengan suara gemetar.
Terdengar suara langkah kaki yang masuk ke rumah. Saat Saras dan Bella menoleh, ternyata Inka yang datang.
“Masuk Ka. Abang mau istirahat katanya.” Bella segera menghampiri dan mengajak Inka duduk di kursi meja makan.
“Thanks Bell.” Inka menaruh tas dan sebuah plastik di atas meja.
“Nak Inka mau minum apa?” Saras sudah sibuk kembali menyiapkan ini dan itu.
“Tidak usah repot-repot tante.” Sahutnya.
Saras tersenyum kecil mendengar ujaran Inka. Ia membuat 3 gelas teh manis dan menyajikan makanan untuk Inka dan Bella juga dirinya. Sambutan Saras memang selalu hangat sejak dulu pada Inka membuatnya merasa kalau semua ibu itu memiliki lautan kasih walau kesempatan ia untuk bersama Ibunya hanya sebentar.
Saat menoleh, Inka mendapati Bella yang tengah menatapnya dengan lekat.
“Lo nemenin abang periksa?” Tanyanya dengan segaris senyum. Sepertinya ada hal yang tidak ia tahu terjadi di belakangnya.
Inka terangguk cepat. Bisa terlihat wajahnya yang merona dan ceria. Ia menggenggam tangan Bella tanpa bisa berkata-kata.
“Gimana kata dokter nak?” Saras ikut duduk di hadapan Inka. Menaruh minuman dan kudapan untuk mereka nikmati bersama.
“Sebelumnya, Inka mau minta maaf ya tante, Bell.” Inka menatap Bella dan Saras bergantian.
“Untuk?” Saras yang terlihat sangat penasaran.
Takut-takut Inka menatap mata kedua orang di hadapannya.
“Tadi, Inka menandatangani surat persetujuan tindakan operasi Mas Bima sebagai walinya.”
Bella serta Saras menatapnya dengan penuh keterkejutan. Mereka saling menoleh.
“Inka minta maaf kalau tadi Inka lancang. Tidak berbicara dulu dengan tante dan Bella. Inka cuma,”
Cepat-cepat Inka berbicara walau pada akhirnya ia ragu untuk meneruskan kalimatnya. Tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan situasi di ruang pemeriksaan tadi.
Kini gadis itu tertunduk lesu. Baru terpikir olehnya kalau yang memiliki hak penuh untuk memutuskan adalah Saras dan Bella, bukan dirinya. Ia bahkan tidak tahu apa hubungannya dengan Ozi saat ini.
Saras meraih tangan Inka yang kemudian ia genggam dengan erat. Gadis itu mengangkat kepalanya dengan wajah cemas yang jelas terlihat.
“Maafkan Inka tante. Tadi Inka tidak berpikir panjang.” Akunya penuh sesal.
Saras yang melihat penyesalan Inka, menggeleng pelan. Bibirnya tersenyum.
“Terima kasih,…” Ujarnya dengan suara bergetar membuat Inka mengernyitkan dahinya.
Apakah Saras tidak marah?
Tidak, ia malah menangis.
“Tante dan Bella selalu meminta Ozi untuk berobat. Kami menyemangati agar ia berani menghadapi rasa sakitnya dan bersiap untuk tindakan apapun. Namun Ozi selalu menolak.” Wanita itu menjeda kalimatnya seraya mengusap air matanya dengan kasar.
Bella yang duduk di sampingnya, mengusap punggung Saras dengan lembut untuk menenangkannya. Susah payah Saras berusaha meneruskan kalimatnya.
“Tapi nak Inka, telah membantu tante untuk meyakinkan Ozi kalau ia bisa menghadapi semuanya. Dan menyetujui tindakan apapun yang mungkin akan dilakukan terhadapnya. Tante hanya bisa menyemangatinya. Mendo’akan dia dan berharap ia pulih seperti sedia kala."
"Mungkin di mata tuhan, tante terlalu serakah, tapi tidak ada hal lain yang dinginkan setiap ibu selain melihat anak-anaknya hidup dengan baik dan tidak lagi merasakan kesakitan.” Tandas Saras.
Ia tertunduk, menutup mulutnya sendiri untuk meredam suara tangisnya yang pecah. Bella dengan segera memeluk Saras dari samping rasanya ia turut merasa berdosa karena pernah membuat Saras merasakan kesedihan atas kesalahannya dulu.
Ketiganya kini menangis dalam diam. Beberapa kali Bella mencoba menyeka air matanya yang tidak henti menetes. Sementara Inka, tipe yang menangis seraya menyembunyikan wajahnya. ia menelungkupkan kepalanya di atas meja, tidak terdengar isakan hanya bahunya saja yang bergerak naik turun.
Satu kesamaan di antara ketiganya adalah, mereka menyayangi Ozi dengan teramat besar.
*****
Waktu beranjak semakin malam. Setelah selesai berbincang soal rencana operasi, Inka berniat untuk pamit. Namun, ia sempatkan untuk meminta satu hal terlebih dahulu pada Saras.
“Tante, Inka boleh ngasihin obatnya ke mas Bima? Ada beberapa hal yang harus Inka jelasin juga sama mas Bima.” Inka menunjukkan satu keresek obat di tangannya yang semula ia simpan di tasnya.
“Boleh. Kamarnya di lantai 2. Ketuk aja, kayaknya Ozi belum tidur jam segini.” Saras melihat jam di dinding dan baru jam setengah 9 malam.
“Tante boleh minta tolong sekalian?” lanjut Saras.
“Iya tan. Apa yang bisa Inka bantu?”
Saras beranjak mengambil segelas air, gelas besar kesayangan Ozi. Menaruhnya di atas baki dan memberikannya pada Inka.
“Tolong berikan ini buat Ozi, supaya dia gak turun lagi.” Pesan Saras.
“Baik tante.’ Dengan sigap Inka menyahuti.
Dengan langkah perlahan Inka menaiki anak tangga, langkahnya begitu hati-hati. Ia sangat takut kalau airnya tumpah. Jujur, baru kali ini ia membawa air minum di atas baki. Apalagi dengan gelas sebesar ini.
“Ujian pertama, dia cukup lulus mah.” Ujar Bella memuji usaha sahabatnya.
Patut di catat, seorang tuan putri seperti Inka, mana pernah membawakan air minum di atas baki. Tapi saat dimintai tolong oleh Saras, ia bahkan tidak ragu untuk mengiyakannya. Tekadnya sangat kuat.
“Ujian utamanya dia juga lulus dek. Yaitu, berhasil mengambil hati mamah. Mamah percaya, abang kamu akan bahagia bersama wanita setulus Inka.” Timpal Saras seraya menyandarkan kepalanya di bahu Bella yang lebih tinggi darinya.
“Mamah benar. Tugas kita sekarang, bikin abang yakin kalau Inka kandidat terbaik buat dia.” Sahut Bella seraya melingkarkan tangannya di bahu Saras lalu mengusapnya. Ia menikmati suasana seperti ini. Saling mendukung satu sama lain.
Tiba di depan kamar Ozi, dengan gugup Inka mengetuk pintu kamar.
“Masuk.”
Suara Ozi membuat jantungnya berdebaran tidak karuan. Tangannya sampai basah, membuat ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada baki yang ia khawatirkan tergelincir dari tangannya.
Ia memutar handle pintu dan tidak lama pintu kamar terbuka. Ia melihat sosok Ozi yang berdiri hendak menyambut seseorang yang akan muncul dari balik pintu. Senyumnya sempat terkembang saat ia pikir Saras yang datang. Karena di rumah ini, hanya sang mamah yang biasa mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarnya. Kalau Bella? Kalian tahu lah kalau gadis itu suka menerobos begitu saja.
Namun ekspresinya kembali dingin saat tahu kalau yang datang adalah Inka.
“Ada apa?” Tanyanya dengan acuh. Ia memalingkan wajahnya dari Inka yang tampak gugup dan memilih melanjutkan merapikan meja kerjanya.
“Ini mas, obat mas Bima masih di aku.” Terang Inka.
Ozi melirik Inka dan benar saja di tangan gadis itu ada plastik obat miliknya.
“Taruh saja di sana.” Ia menunjuk meja kecil di samping tempat tidurnya.
Inka menurut saja. Ia menaruh baki di sana beserta obatnya. Menunggu Ozi menolehnya, Inka memperhatikan kamar Ozi yang begitu rapih. Beberapa kali main ke rumah Bella, ia baru tahu kalau ada ruangan yang paling rapi dan wangi di antara ruangan lainnya. Sepertinya Bella benar kalau sang kakak OCD.
“Ada hal lain?” Tanya Ozi yang melihat Inka hanya mematung sambil memperhatikan seisi kamarnya.
“Hah?” Inka melongo balik bertanya.
Ozi yang semula membelakanginya kini berbalik. Laki-laki itu menatapnya dengan dingin seperti biasa. Sorot matanya saja sudah seperti meminta Inka untuk segera keluar dari kamarnya.
“Oh Ini. Ada yang harus aku jelasin soal obatnya ke mas Bima.” Terangnya yang baru tersadar.
“Apa?” Ozi berjalan menghampiri Inka membuat gadis itu semakin gugup.
“Emm,, Ini ada 2 jenis obat. Satu warna putih satu lagi warna merah muda.” Inka mengangkat dua plastik obat di hadapan Ozi. Lihat, tangannya sampai gemetaran.
Sadar tangannya gemetar, Inka segera menurunkannya dan menaruh kembali obat di atas baki. Lalu ia sembunyikan kedua tangan di belakang tubuhnya dan saling mencengkram untuk saling menguatkan.
“Yang putih obat Pereda nyeri, dosisnya di turunkan sama dokter. Katanya ikuti aturan minum yang ada di label. Terus yang merah muda itu multivitamin, di minum satu kali sehari sebelum tidur. Supaya badan mas Bima tetap sehat sampai nanti tiba jadwal untuk operasi.” Terang Inka.
“Ada lagi?” Ozi kembali bertanya. Seperti sangat ingin meminta Inka untuk segera pergi.
Inka hanya menggeleng seraya mengigit bibirnya kelu.
“Kalau gitu, sekarang gue yang mau ngasih tau lo sesuatu.” Ozi menyilangkan tanganya di depan dada.
Inka mengangguk-angguk saja. Jantungnya sudah berdebaran dengan prasangka kalau Ozi akan membahas ungkapan cintanya di hadapan dokter Antony yang tersenyum gemas padanya.
“Apa?” Rupanya Inka sudah tidak sabar menunggu ucapan Ozi.
Ozi mendekat pada Inka lalu duduk di tepian tempat tidurnya. Ia menatap Inka dengan tatapannya yang serius.
“Berhenti berusaha mempertaruhkan masa depan lo buat gue. Karena usaha lo akan sia-sia.” Ujar Ozi tiba-tiba.
Mata Inka yang semula berbinar, kini tiba-tiba meredup. Seperti ada pukulan menohok di jantungnya.
“Maksud mas Bima apa?” Suaranya sampai bergetar mendengar kalimat Ozi yang terlalu tegas menurutnya.
“Gak usah bersikap seolah gak tau apa-apa. Lo sendiri udah denger dengan jelas seperti apa kondisi gue sekarang dan kemungkinannya di masa depan.” Ozi tersenyum sinis lalu tertunduk. Ia melihat kedua tangannya yang saling mencengkram dan pucat.
“Lo punya masa depan yang cerah, jangan di rusak oleh perasaan lo yang sia-sia.” Imbuhnya dengan yakin.
“Sia-sia? Apanya yang sia-sia? Perasaan aku nyata kok buat mas Bima.”
“Tapi gue gak punya perasaan apa-apa sama lo!” Tegasnya hingga ia berdiri. Inka sampai terhenyak mendengar suara Ozi yang mendadak tinggi.
“Denger, gue bukan laki-laki yang punya masa depan. Seperti apa gue kedepannya bahkan belum bisa gue terima. Apalagi lo!” Lagi Ozi bersuara dengan tegas.
“Memangnya apa yang belum bisa aku terima?” Inka balik bertanya. Ia menatap mata Ozi dengan berkaca-kaca.
“Aku tau ini gak mudah buat mas Bima. Bayangan hal buruk efek samping operasi tentu bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Tapi,”
“Aku gak akan pernah pergi dari samping mas Bima untuk alasan apapun.” Tegas Inka dengan suara gemetar menahan tangis. Matanya sudah merah dan basah.
“BODOH!” decik Ozi.
“Cerita roman picisan mana yang sebenarnya lo baca sampai lo berpikir kalau setiap perasaan cinta itu akan berakhir bahagia?"
"Romeo dan Juliet, Cleopatra dan Mark Antony, Lancelot dan Guinevere atau cerita yang mana?” Lagi Ozi tersenyum sinis padanya.
“Tidak perlu referensi untuk sebuah ketulusan. Dan aku tau, mas Bima pun memahami itu. Aku punya pandangan sendiri terdapat perasaanku. Dan sekalipun ada kemungkinan misal mas Bima lupa sama aku, aku tetep gak akan pernah pergi.”
“Karena aku tahu persis siapa laki-laki yang aku cintai dan aku tidak akan meninggalkannya.” Tegas Inka dengan air mata berderai yang coba ia seka.
Bima tidak menimpali, ia hanya menatap gadis keras kepala yang berdiri di hadapannya. Entah apa yang ada di kepala wanita ini saat ini.
Apa isinya kebodohan semua? Tidak bisakah ia lebih realistis?
******