Bella's Script

Bella's Script
Apa sudah menunjukkan yang terbaik?



Bogor, menjadi kota tujuan lokasi syuting film Bella. Beberapa mobil bergerak beriringan menuju tempat tersebut, membawa semua crew film dan property yang akan di gunakan selama syuting.


Perjalanan terasa menyenangkan, melewati banyak kebun teh dengan udara yang dingin dan menyegarkan. Pikiran mereka seperti di refresh dari keruwetan selama di ibu kota.


“Wooyy liat ke sini!!!” Seru seorang pengendara motor yang di belakangnya membonceng salah satu cameramen. Ia sengaja mengabadikan behind the scene pembuatan film ini sebagai kenang-kenangan saat syuting berakhir nanti.


“Hay hay!!!!” Inka sibuk melambaikan tangan pada kamera. Ia bahkan melepas kacamata hitam yang membuatnya terlihat keren.


“Gaisss gaiss gaaiisss… Kita mau syuting gaisss… Syuting rasa healing!!!” Serunya seraya menunjukkan lambang hati yang di bentuk oleh jemari lentiknya.


“Wuhuuuuu!!! Mantaaapp!!!” Roni yang bertugas mengemudikan mobilpun berseru girang.


“Deuh bapak dua anak berasa jadi bujang lagi dia. Jangan sampe lo mojok sama eneng-eneng cantik asal sini yaaa…” Ledek Inka, sekaligus mengingatkan.


“YEE!!! Nakal gue kagak yang begituan. Palingan baru juga ada niat, eh udah ada yang ngomel duluan. Terus lapor ke bini gue!” sahut Roni seraya melirik Bella dari spion tengah.


“Awas aja lo kalau macem-macem.” Bella mengangkat bogemnya yang ia tunjukkan pada Roni.


“Ngeriii broo, di sini ada mata-mata bini gue!” Kali ini Roni berbicara pada Devan yang duduk di sampingnya.


Devan hanya tersenyum. Matanya sedikit memincing karena terkena hembusan angin yang cukup kuat. Mereka memang sengaja menurunkan kaca jendela agar udara segar bisa masuk.


Rambutnya yang gondrong pun jadi berantakan terkena angin. Tapi hal itu malah membuatnya terlihat semakin tampan, terlebih saat ia menoleh Bella dan tersenyum.


“Itu namanya girl support girl.” Sahut Devan.


“Tjakeeeppp!!!” Bella mengacungkan jempolnya pada Devan.


“Deuh tumben-tumbenan kulkas 12 pintu ikut nimbrung obrolan.” Ledek Inka.


Devan tidak menanggapi, ia hanya melengos sambil menahan senyum.


“Itu yang bikin Devan jarang nimbrung. Karena tau lo resek kutil!” Hardik Roni yang hanya di balas tawa oleh Inka.


“Ojo baperan mas, ojo baperan… Nanti sampean kurus loh…” Timpalnya yang membuat Bella ikut terkekeh.


Ada saja tingkah Inka ini.


Tiba di lokasi syuting, semua langsung menyeting tempat. Ada yang menyiapkan untuk take nanti sore supaya dapat golden hour, ada juga yang mengatur tempat istrahat. Para pemain datang belakangan setelah tempat istirahat selesai mereka siapkan.


Amara dengan gayanya yang anggun, ogah-ogahan menginjakan kakinya di tanah. Katanya licin.


“Ini emang sengaja tempatnya kayak begini?” Protes Amara saat melihat jalanan bertanah yang sedikit basah.


Ia bersikukuh tidak mau turun karena takut sandal mahalnya rusak.


“Kan udah gue bilang, pake stelan yang tadi gue siapin. Lo malah pake baju beginian. Pake high heels pula.” Protes Lisa yang sudah kesal menghadapi keras kepalanya Amara.


“Ya gue kira kita gak syutting di hutan. Tau gini mending syuting di studio aja.” Timpalnya seraya berdecik sebal.


Dengan malas ia meraih tangan Lisa yang terulur lalu turun.


“Rangga kemana sih?” Ia membuka kacamatanya dan memakai topi yang sudah ia siapkan.


“Tuh, baru nyampe.” Tunjuk Lisa pada mobil yang baru datang.


“Ayaaaanggg…..” Rengek Amara saat melihat kedatangan Rangga.


Rangga yang duduk di depan segera turun saat melihat Amara kesulitan berjalan di atas lahan yang sedikit basah.


“Kamu kok pake baju sama sandal begini sih? Kalau jatuh gimana?” Rangga ikut memprotes kostum Amara.


“Udah gak usah ngomel! Gak usah bikin aku tambah bete. Ini hotelnya di mana sih?!” Ia memegangi tangan Rangga karena takut jatuh sambil memperhatikan lingkungan sekitar.


“Gak ada hotel Ra. Kita di sediainnya Vila. Vilanya bagus kok.” Lisa mencoba menerangkan.


“WHATT!!! Manusia sebanyak ini tinggal di vila? Sebesar apa emang vilanya? Inget ya, gue gak mau campur-campur sama crew. Gue mau private room.” Amara sudah mengulti lebih dulu membuat Lisa menepuk dahinya karena pusing.


“Terserah lo aja deh.” Sahut Lisa sambil melengos.


“Ngomong apa lo?” Rupanya Amara tidak terima mendengar sahutan Lisa.


“Inget yaa, lo di bayar sama gue. Tugas lo juga buat mastiin kalau gue nyaman dimanapun berada. Jangan makan gaji buta lo.” Cerocos Amara tidak mengenal tempat. Ia tidak peduli para crew melihat perdebatannya dengan Lisa.


“Iyaaa, gue sadar diri kok Ra. Makanya gue bilang terserah lo. karena gak ada yang bisa gue bantah juga kan dari semua maunya lo.” Baru kali ini Lisa menjawab Amara dengan kalimat panjang. Sepertinya ia sudah mulai jengah.


“Lo ya,” Amara semakin terpancing.


“Ra, udah dulu dong. Kamu percaya aja sama semua orang yang ada di sini. Mereka tau kok posisi kamu, sebagai apa. Gak usah di bawa ribet.” Rangga menahan tangan Amara yang mulai menunjuk Lisa.


“Kamu juga, sama aja sama perempuan tua itu!” Dengus Amara dengan kesal.


Orang-orang yang menyaksikan perdebatan tersebut hanya saling melirik saja.


Selalu seperti ini, setelah Amara membuat keributan maka Rangga yang akan meminta maaf pada orang-orang tersebut.


*****


“Wah, jadi kita camping-an nih ceritanya?” Inka berseru riang mendengar rencana yang disampaikan Indra.


“Iya.. Kalau lo gak mau, nanti sehabis syuting, yang mau nginep di Vila, bakal di anterin sama anak-anak crew. Jaraknya gak jauh kok, Cuma sekitar 15 menitan dari sini.” Terang Indra.


“Nggak lah, mending gue camping daripada nginep di Vila. Takut ada yang gangguin, Vila-Vila di sini kan pasti seringnya kosong.” Inka sampai bergidik ngeri.


“Jangan sompral lo! Di samperin beneran baru tau rasa.” Ujar Roni mengingatkan.


“Eh, bukan gitu maksudnya. Ya ngeri aja kalau tinggal di Vila. Udah ah gak usah bahas Vila, mending kita bersiap take.” Nyali Inka langsung menciut. Ia memberikan headset milik Bella lalu melengos pergi.


“Dih, dia yang ngomong, dia juga yang takut.” Ledek Romi sambil terkekeh.


Syuting pun di mulai. Mereka mengambil gambar di taman bunga yang dulu sempat di survey oleh Devan dan Bella. Tempatnya masih sama, indah dan sejuk. Cahaya matahari sore memberi bias cahaya yang Indah saat tertangkap kamera.


“Ada yang perlu gue omongin sama lo.” Minara menahan tangan Michael yang baru akan beranjak.


“Tentang?” Laki-laki itu menghentikan langkahnya.


“Tentang kita.” Ujar Minara dengan ragu.


“Yakin tentang kita? Kamu tidak akan melibatkan laki-laki yang selalu menjadi malaikat pelindungmu itu dalam pembicaraan kita kan?” Nada suara Michael terdengar sinis.


Minara menggeleng.


“Katakan. Waktuku tidak banyak.” Michael tetap dengan sikap angkuhnya.


“Anjiirrr, ekspresinya mulai dapet Bell.. Keren yaa hasil belajar acting sama seseorang kayak mas Ary.” Puji Rini yang sedang menyimak.


Bella tidak bergeming. Ia lebih memilih tetap fokus pada acting Rangga dan Amara. Ia masih berusaha merasakan feel dari peran yang sedang mereka mainkan.


“Aku akan pergi.” Lirih Minara dengan mata berkaca-kaca.


“Kemana? Kau mau meninggalkanku dan pergi dengan laki-laki itu?” Michael mencengkram dagu Minara dengan kuat.


“Aahhhh.. Kamu menyakitiku Michael!” Minara meringis kesakitan.


Ia memukul-mukul tangan Michael dan laki-laki itu akhirnya melepaskan cengkramannya.


“Kamu boleh pergi kemana pun asal jangan dengan laki-laki itu. Atau aku tidak segan-segan untuk membuatnya berhenti bernafas.” Ancam Michael dengan penuh kecemburuan.


Minara membuang nafasnya dengan terengah-engah. Cengkraman Michael terlalu kuat.


“CUT!!!” Seru Devan.


“Okey bungkuss!!!” Indra menyahuti.


“Okey, persiapkan untuk scene berikutnya. Second lead bersiap.” Devan berbicara melalui pengeras suara.


Crew pun kembali bersiap dan beberapa pemeran beristirahat.


Rangga yang baru selesai berakting, ia menghampiri Bella yang tengah berada di meja script.


“Gimana, apa aku sudah melakukannya dengan benar?” Tanya Rangga tanpa ragu. Pertanyaannya seperti sindiran.


Bella sampai terhenyak, ia pikir Rangga tidak akan menghampirinya.


“Ya, lumayan bagus. Bermain drama itu memang sulit tapi semakin lama kamu akan semakin terbiasa dan  semakin alami seolah tidak sedang beracting.” Sahut Bella dengan tenang.


“Kamu sedang menyindirku? Ada yang perlu kita bahas?” Rangga merasa bukan tentang acting yang sedang Bella bicarakan.


“Tidak ada. Permisi.” Tegas Bella tanpa berlama-lama berbicara dengan Rangga. Pekerjaannya jauh lebih penting dari sekedar membahas masa lalu.


Di tinggalkan oleh Bella yang berlalu begitu saja, membuat Rangga berpikir.


“Lumayan? Lumayan? Seperti apa definisi lumayan?” Gumamnya seraya mengetuk-ngetuk meja di hadapannya.


Sekali lalu, ia memandangi Bella yang sedang berbincang dengan Devan. Mereka tampak berbicara dengan serius.


“Apa laki-laki itu lumayan bisa mengalihkan perhatian kamu Bell?” Batinnya tanpa melepaskan pandangannya dari Bella dan Devan.


Ia merasa tidak ada yang Devan tutupi dari cara ia menatap Bella. Dan Bella. Seperti terlihat biasa. Atau mungkin ia sedang menahan sesuatu.


“Lumayan. Yang aku lihat dari kamu lumayan menyiksaku Bell…” Ujarnya seraya berjalan mundur menjauh dari Bella dan Devan.


****