
Keluar dari studio, Bella bisa menghela nafasnya dengan lega. Segmen wawancara tadi berjalan dengan lancar dan baginya masalah gosip untuk saat ini sudah selesai.
Tidak ada lagi rasa takut karena ia percaya semua orang memiliki pemikiran sendiri. Sekalipun masih ada pemikiran negative dari para pembencinya, Bella sudah tidak memikirkan itu. Orang yang membencinya tidak akan pernah membutuhkan penjelasan apapun dari dirinya dan orang yang menyukainya tidak perlu alasan apapun untuk mendukungnya.
Dan hal itu dibuktikan oleh orang-orang yang duduk di bangku penonton dan menatapnya dengan penuh kecemasan dan rasa haru. Sungguh, keberadaan mereka menjadi salah satu alasan ia berani menghadapi Luna dan penonton di belakangnya.
Seperti yang Bella katakan tadi, mereka lah support system terbaik Bella selain keluarga yang tidak pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun.
Sungguh, Bella merasa sangat beruntung.
“Seneng lo, udah unjuk gigi depan penonton?” Baru bisa tersenyum lega, tiba-tiba suara sinis itu terdengar di ujung Lorong.
Bella segera menoleh dan ternyata Amaralah yang berujar sinis itu. Benar bukan, yang membencimu tidak membutuhkan alasan apapun untuk meneruskan kebenciannya.
Ah, Bella sebenarnya sudah malas berhubungan dengan wanita ini, tapi Amara selalu saja ada di sekitarnya dan membuat Bella harus menambah lagi dan lagi stok kesabarannya.
Gadis itu berjalan menghampiri Bella dan memberinya tatapan sinis penuh kebencian.
“Lo gak pernah berubah ya Bell.” Amara kini sudah berdiri di depan Bella dengan tatapannya yang tajam seperti ingin menguliti Bella.
Bella hanya mengernyitkan dahinya, tidak paham dengan maksud Amara. Bukankah tadi Bella sudah menyelamatkan citra Amara di depan para penonton?
“Sejak dulu lo emang orang yang sok!” Ia mendorong dada Bella dengan telunjuknya yang lentik.
“Sok baik, sok bijak, sok polos, sok suci dan sok tau!”
“DAN GUE BENCI ITU!” seru Amara yang tiba-tiba mencengkram leher Bella dan mendorongnya hingga menempel di dinding. Matanya melotot dengan kilatan kemarahan yang jelas terlihat di sana.
“Aa… Aa…” Bella terrengah kesesakan saat tangan Amara mengunci lehernya di dinding.
Tubuh Amara yang lebih tinggi dan besar dari dirinya membuat Bella kesulitan untuk melawan. Ia memukul-mukul tangan Amara yang mencengkram lehernya dengan kuat dan semakin kuat seiring kemarahan yang semakin menggebu. Mata Bella sampai melotot, seperti nafasnya akan berakhir saat itu juga.
Tajamnya kuku Amara, seperti menusuk permukaan leher Bella yang mulai memucat.
“Bagaimana rasanya, tidak nyaman bukan?” Puas sekali Amara melihat wajah Bella yang kesesakan dengan nafas yang nyaris terhenti. Dengan lemah Bella memukul-mukul tangan Amara agar melepaskan cengkramannya.
“Apa yang lo rasain sekarang? Sesak, sakit, putus asa, atau seperti mau mati saja?!” gertak Amara seraya mengibaskan tanggan dengan kuat, membuat kepala Bella terbentur ke dinding.
“Uhuk! Uhuh!" Bella sampai terbatuk saat ia terlepas dari cengkraman tangan Amara.
"Hah,, Hah,, Hah,,” Bella hanya bisa terhuyung dan terengah dengan tubuh yang terasa lemas. Ia bersandar pada dinding, satu-satunya tempat yang bisa menopang tubuhnya.
Ia pikir, ia akan mati di tangan Amara, tapi sepertinya wanita ini masih bisa berpikir dengan akal sehatnya.
Amara masih memandangi Bella dengan tidak suka. Puas melihat Bella kesesakan karena cengkraman tangannya yang kuat. Harus Bella tahu, seperti itulah perasaan ia selama ini. Seperti itulah kesesakan Amara setiap kali melihat Bella dengan segala keberuntungan yang seperti lampu sorot yang mengelilinginya. Sementara ia, selalu tersisih.
Dengan nafasnya yang masih terengah dan lehernya yang terasa sakit, Bella berusaha menegakkan tubuhnya.
“Kapan sih lo bakal berhenti menghantui hidup gue? Kapan lo akan berhenti menjadi bayang-bayang hitam di masa depan gue?”
Bella sampai terhenyak dengan suara Amara yang meninggi.
Amara mencengkram kerah baju Bella dan menatap Bella dengan penuh kebencian. Matanya merah dan berkaca-kaca.
“Harusnya, saat lo jatuh ke danau, lo mati aja Bell…”
“Lo pergi selamanya dari hidup gue dan Rangga. Biarin gue sama Rangga hidup bahagia.” Suara Amara terdengar pelan namun penuh penekanan. Wanita itu berusaha tersenyum namun bibirnya tetap bergetar menahan tangis yang bercampur kemarahan.
Bella yang sudah bisa menyeimbangkan tubuhnya, segera mencengkram tangan Amara dari kerah bajunya. Amara memangi tangannya yang dikibaskan Bella dengan kuat.
"Hahahahahha..." Wanita itu tertawa lirih karena Bella berani melawannya.
“Lo mau gue mati Ra? Iya?!” gertak Bella pada wanita itu. Ia tidak menyangka kalau Amara bisa berpikiran sejahat itu pada dirinya.
“Iya! Gue sangat ingin lo mati Bell, supaya lo gak ganggu hidup gue lagi.” Tanpa ragu Amara mengakui keinginannya dan tersenyum penuh kesungguhan.
Bella hanya bisa berdecak sebal, kesabarannya pada Amara sudah benar-benar habis.
“Lo pengen gue mati tapi sayangnya gue gak akan mati hanya untuk memenuhi keinginan gila lo, Ra.”
“Mana mungkin gue mati dalam keadaan tersiksa sementara orang jahat seperti lo bisa hidup dengan tenang, bahagia dan nyaman? Mimpi lo ketinggian Ra.”
“Heeyy, bangunlah cantik.” Bella menjentik-jentikkan jarinya di depan wajah Amara. Seketika keberaniannya menghadapi Amara seperti terkumpul di dadanya.
“Liat realita yang ada. Gue gak pernah jadi bayangan lo, gue adalah harapan yang gak pernah bisa lo raih. Akui itu. Lo akan selalu tersiksa selama lo masih berpikir kalau gue adalah saingan lo.” lanjut Bella yang tersenyum tipis di hadapan Amara.
“BRENGSEK!” Amara sudah mengangkat tangannya hendak menampar Bella.
“ARA!” Namun tiba-tiba seseorang memanggilnya.
Tangan Amara menggantung di udara dengan nafas tersengau menahan kemarahan.
“Berhenti! Kamu sudah sangat keterlaluan!” seru Rangga yang segera meraih tangan Amara dan menurunkannya.
“Kamu gak apa-apa Bell?” Tanya Rangga pada gadis yang masih mematung di tempatnya.
Amara mendelik kesal pada Rangga, ia sangat marah karena malah Bella yang ditanya keadaannya. Sementara tangan Amara masih di genggam erat, tidak terlepas meski ia berusaha melepaskannya.
“Aku baik-baik saja. Kamu tidak tidak perlu mengurusiku, Ga. Kamu urus saja pacar kamu yang gak tau diri ini!” tunjuk Bella ke wajah Amara sebelum kemudian ia pergi meninggalkan dua orang itu.
“MAU KEMANA LO HAH? SINI HADAPIN GUE BRENGSEK?!” teriak Amara.
Namun Bella tidak menanggapinya. Ia memilih pergi dan membiarkan Amara bersama Rangga. Dua orang itu sudah tidak menjadi urusannya lagi.
*****