
POV Devan
“Do you wanna say something?” Tanyaku pada Bella.
Dia terhenyak kaget begitu mendengar pertanyaanku.
Sedari tadi aku perhatikan dia terus melamun. Sesekali melihat keluar jendela, menatap tajam lampu merah dan seringnya melirikku diam-diam. Aku membiarkannya saja, mungkin sedang banyak hal yang dia pikirkan.
Namun beberapa saat lalu, aku melihatnya sedang memandangiku diam-diam sambil menahan senyum. Aku penasaran dengan apa yang dipikirkannya. Ayolah Bell,,, Itu terlalu menggemaskan. Aku jadi tidak fokus menyetir, makanya aku bertanya.
Dan sekarang ia malah tersenyum, seraya mengusap tengkuknya. Terlihat sekali kalau dia kikuk.
“Hey, you okey?” Penting bagiku mengetahui perasaannya. Aku meliriknya dari kaca spion tengah dan dia hanya mengangguk.
Ku dengar ia menghela nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Seperti tengah melepas beban yang sangat berat.
“Apa hari ini sangat berat?” Lagi aku bertanya. Perasaanku selalu tidak karuan kalau belum yakin dengan keadaannya.
“Cukup berat.” Sahutnya seraya tersenyum.
Cukup berat dia bilang, padahal aku pikir hari ini sangat berat untuknya. Dia pasti sangat sedih karena harus mengulang kembali ingatan akan kejadian yang menakutkan dulu demi bisa menjiwai perannya dengan sempurna.
Akh, aku sangat mengkhawatirkannya. Kalau saja Indra tidak menahanku, rasanya aku ingin bilang CUT! saat melihat dia menangis tersedu. Berani sekali wanita itu memaksa Bella membuka luka lamanya. Sebagai sesama perempuan, tidak bisakah dia sedikit berempati pada Bella? Mengapa pengalaman menyakitkan Bella malah ia jadikan object tontonan orang-orang? Dia bahkan bisa tersenyum puas seraya menatapku, mengerikan.
Refleks aku mencengkram setirku dengan kuat karena kesal dan Bella kembali melirik memperhatikan tanganku. Ada apa dengan tanganku? Apa terkesan sangat marah?
Eehh.. Dia malah tersenyum. Saat aku lirik, dia sedang memandangiku dan tidak memalingkan wajahnya saat tatapan kami bertemu. Aaaarrgghh jantungku berdetak sangat kencang, dia membuatku gugup tidak karuan.
“EKHM!” Aku berdehem untuk menetralisir perasaanku.
“Di depan sana ada penjual soto kesukaan lo. Mau makan dulu?” Tawarku untuk mengalihkan perhatian.
“Nope! Gue belum pengen makan. Nanti aja di rumah sakit. Atau lo udah laper?” Dia balik bertanya.
Sejak kapan dia menunjukkan kepeduliannya kepadaku? Biasanya ia tegas pada pilihannya, ya atau tidak. Dan itu yang membuatku cukup mudah memahami keinginan Bella. Dia perempuan yang tidak ribet.
“Kita makan di rumah sakit aja.” Tidak tega juga kalau membiarkan dia menonton aku makan sendirian.
“Van,” Panggilnya tiba-tiba.
“Hem,,” Aku langsung pasang mode siaga.
Aku tegakkan tubuhku, karena dengan dia menyebut namaku lalu sengaja di jeda, dia tengah memintaku untuk memfokuskan sebagian perhatianku padanya.
Aku benar-benar harus bersiap karena pembicaraan Bella selalu tidak terduga apalagi kalau sudah memanggil namaku menggantung begini.
“Emmm… Apa penawaran itu masih berlaku?” Ragu-ragu dia bertanya. Bisa aku lihat wajahnya yang sedikit memerah dengan kedua tangan yang saling mencengkram satu sama lain. Apa dia gugup?
“Sorry, maksud lo penawaran yang mana?” Pikiranku sedang tidak fokus. Memangnya aku menawarkan apa pada Bella?
“Which one? Soal kerjasama bareng temen gue atau soto?” Aku mempersempit pilihannya.
Bella hanya menggeleng lantas tersenyum, membuatku langsung paham kalau bukan tentang kedua hal itu. Melihat wajahnya yang memerah, aku yakin ini tentang sesuatu hal yang lebih besar.
“Gue gak tau, saat ini tepat atau nggak ngobrolin hal ini, hanya saja gue ngerasa kalau gue sudah tau apa yang saat ini gue rasain.” Terangnya dengan penuh keyakinan. Wajahnya sudah serius tidak lagi senyum-senyum cantik seperti tadi.
“Wait, apa ini tentang permintaan gue sebulan lalu?” Aku jadi teringat akan permintaanku bulan lalu pada Bella.
Biar saja kalau Bella pikir aku kepedean tapi, aku merasa Bella ingin membicarakan hal ini.
“Hem,..” Dia terangguk yakin.
“Deg!”
Akh! Jantungku seperti berhenti berdetak untuk beberapa saat. Tebakanku benar, dia mau membicarakan tentang keputusannya terhadap ajakanku untuk menikah.
Tunggu, kenapa tiba-tiba aku merasa panik begini? Darahku seperti mendidih dan jantungku kini berdebar tidak karuan.
“Tunggu sebenartar Bell, gue perlu menepi.” Aku kelabakan mencari tempat parkir. Kenapa sepanjang jalan rasanya tidak ada tempat yang cocok untuk berhenti.
“Astaga… Sambil menyetir aja Van.” Dia menutup wajahnya sambil tertawa kecil. Dia pasti menertawakan kegugupan dan salah tingkahnya aku.
“No, ini penting. Dan gue cuma mau fokus sama lo.” Tegasku yang masih mencari tempat untuk menepi.
“Okey..” Sahutnya dengan senyum terkulum. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, ikut mencari tempat parkir yang nyaman.
Dia pasti melihatku berlebihan atau apalah, tapi aku tidak peduli. Aku bahkan tidak masalah Bella melihatku terlihat bodoh. Tidak pernah ada hal yang aku tutupi darinya.
“Okey, di sini aja!” Gumamku saat aku melihat sebuah tepian jalan yang cukup luas. Tidak jauh dari kami ada sebuah toko kelontong yang masih buka.
Tidak apa, yang penting ini aman dan tidak terlalu ramai. Aku segera menepi dan memarkirkan mobilku dengan nyaman.
“Okey, what?” Aku langsung membalik tubuhku menghadap Bella seraya menyalakan lampu di atas kepala. Aku tidak sabar dengan kalimat yang akan Bella sampaikan.
“Astaga Van,…” Bella menolehku seraya tertawa.
Matanya yang menyipit karena silau terlihat begitu cantik. Ya, dia memang selalu terlihat sangat cantik saat tertawa begini walau ia menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Dia pasti kaget dengan sikapku yang over excited.
“Bell,, “ Aku menyebut namanya dengan tidak sabar.
“Apa yang perlu gue denger?” Ku tatap dia lekat, Aku benar-benar fokus pada Bella.
“Okey.” Ia menyudahi tawanya walau aku masih melihat wajahnya yang sumeringah. Ia menghela nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Lantas ia berbalik menatapku.
“Gue, udah memikirkan tawaran lo.” Ucapnya. Kalimat pendek itu berhasil membuatku ketar-ketir.
“Okey,, So, apa hasil pemikiran lo?” Aku menunggunya dengan sabar.
Setelah melihat Bella beradu acting dengan Rangga tadi, aku merasa Bella begitu mendalami perannya. Cara dia menatap Rangga, menangis tersedu di hadapan Rangga membuatku kagum dan iri di waktu yang bersamaan.
Aku kagum dengan usaha dia mendalami perannya dan aku iri dengan tatapan tulus yang Bella berikan untuk Rangga. Dan sekarang, jujur aku takut. Aku takut jika Bella memutuskan untuk berbalik dariku dan kembali pada Rangga.
Astaga, kenapa jantungku berdetak lambat tapi kuat begini? Apa sebentar lagi akan melemah dan berhenti?
Kuusap dadaku yang terasa mencelos membayangkan hal yang ada di pikiranku.
“Van,” Dia memanggil namaku membuat lamunanku langsung buyar.
Dia mengeratkan genggaman tangannya satu sama lain, seperti sedang menguatkan dirinya.
“Kretek.” Akh sial. Seperti ada suara patahan di rongga dadaku yang membuat jantungku berhenti berdetak dan menahan nafas untuk beberapa saat.
Bella menyuruhku berhenti menunggu? Apakah dia serius? Apa aku harus benar-benar berhenti?
“Lo serius?” Aku bertanya dengan pikiran kosong. Bahuku yang semula tegak kini mendadak lemah.
“Ya, gue serius.” Aku melihat sorot matanya yang penuh keyakinan. Bell, ini menakutkan.
“Gue udah bisa memahami perasaan gue sendiri Van. Dan baiknya, lo berhenti nunggu gue.” Lagi, dia begitu tegas.
“Bell,…” Ucapku lemas.
“Gue gak masalah kalau harus nunggu lo lebih lama lagi untuk membuat keputusan. Gue gak akan memaksa lo. Lo gak perlu terburu-buru. Tapi jangan suruh gue berhenti nunggu Bell. Gue seperti di paksa berhenti berjalan menuju cahaya yang terang di hadapan gue. Gue gak bisa..” Aku tertunduk lemah.
Aku benar-benar tidak siap mendengar semua ini. Membayangkan Bella jauh dari pandanganku, adalah ketakutan terbesar setelah dulu aku melakukan kebodohan karena pergi meninggalkannya.
“Van,..” Aku mendengar suaranya yang serak kembali memanggilku.
Aku mengangkat kepalaku yang semula tertunduk lesu.
“Bertahan Devan, bagaimana bisa Bella percaya kamu akan selalu ada di sampingnya sementara hanya karena jawaban ini saja kamu menyerah?” Hatiku berbisik saat aku melihat wajahnya yang mencemaskanku.
Dia mencemaskanku?
“Gue gak bisa membuka hati untuk siapapun lagi. Gue takut gue terluka lagi. Kenangan masa lalu gue terlalu indah. Gue gak siap di patahkan lagi.” Aku Bella dengan mata berkaca-kaca namun tetap berusaha tersenyum.
Tiba-tiba saja tangannya terulur meraih tanganku yang mengepal kuat. Aku jadi memandangi tanganku yang dingin saat di sentuh Bella. Apa ini genggaman perpisahan?
Tuhan, aku tidak siap. Jantungku seperti jatuh ke dasar perutku, hatiku mencelos. Ucapan Bella membuatku gemetar, pusing berputar dan merasakan mual di waktu yang bersamaan.
“Itu yang gue rasakan selama ini.” Dia mengeratkan genggaman tangannya seraya tersenyum kecil.
“Itu juga yang gue takutkan sesaat sebelum ngeliat lo berdiri di hadapan gue dan memberikan gue kepercayaan yang besar walau gue tau, lo sangat cemas.” Imbuhnya.
Tunggu, apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba jantungku kembali berdetak? Aliran darahku kembali hangat.
“Berhenti nunggu gue, karena gue udah menemukan jawaban gue, Van.” Dia menatapku dengan penuh keyakinan.
“Terima kasih untuk tetap bertahan di samping gue, meyakinkan gue akan banyak hal. Dan yang terpenting, gue bersyukur ada lo di samping gue. Mungkin ini terdengar klise but gue memutuskan untuk menjawab Ya, atas permintaan lo.” Ucap Bella dengan senyuman manis yang kemudian terbit.
Astaga, aku tidak bisa berkata-kata. Ya, aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya ternganga, menatap Bella tidak percaya. Tapi beberapa detik kemudian, aku seperti tersadar. Jiwaku yang sempat pergi beberapa saat lalu, kini kembali.
“Really, you said yes, for me?” Kalimatku sampai terbata-bata.
“Ya. Gue gak menemukan alasan apapun buat nolak lo. Gue ngerasain hal yang sama sama lo. Dan sepertinya itu cukup untuk meyakinkan diri gue sendiri." Bella menatapku seraya tersenyum membuatku kehilangan kata-kata.
Ku usap wajahku penuh syukur.
"Bell, gue..." Nafasku tercekat tuhan. Aku hanya bisa mengeratkan genggaman tanganku pada stir.
Tapi kemudian aku teringat pada sesuatu, Aku meraba saku baju dan celana.
"Gue gak bawa cincinnya." Akh sial, kenapa bisa semalam aku menaruhnya di lemari.
"Gak apa-apa Van. Yang penting, lo udah tau kan jawaban gue."
"Ya, Lo bener. Ini lebih dari cukup." Aku bisa bernafas lega saat memandangi Bella. Aku juga tidak bisa menyembunyikan senyumku yang lebar dan tidak terkendali. Aku sangat bersyukur ya, teramat sangat bersyukur.
"Tapi Van, ada satu hal lagi yang harus gue bilang sama lo." Bella memandangi tangannya yang saling menggenggam.
"Just tell me, gue nyimak." Dengan cepat aku menimpali. Aku tidak sabar kalimat apalagi yang akan dia ucapkan, apakah mengatakan kalau dia mencintaiku?
Bella menghela nafasnya dalam sebelum memulai kalimatnya, seperti sedang mengumpulkan keberaniannya.
"Van, gue hanya wanita biasa yang mungkin tidak selalu membuat lo tertawa bahagia. Terkadang, gue bisa resek saat lo gak ngabarin gue karena kabar itu penting buat gue. Mood gue juga bisa berubah saat kondisi hormonal gue gak stabil. Gue gak suka silent treatment dan saat marah mungkin gue bisa berkata hal yang kasar sama lo."
"Banyak hal buruk dalam diri gue yang mungkin bisa membuat lo capek karena gak sesuai sama ekspektasi lo. Tapi, gue akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk seseorang yang sudah menjadi prioritas gue. Lo bagian penting dalam hidup gue.”
“So, kalau suatu hari lo bertemu dengan rasa lelah mencintai dan memaklumi gue, take your time. Istirahat sejenak. Kalau lo merasa kondisi kita bisa di perbaiki, gue akan berusaha mempertahankan hubungan kita. Tapi kalau lo udah ngerasa berada di ujung rasa lelah lo, kasih tau gue. Gue gak akan memaksa lo untuk bertahan sama gue." Tutur Bella dengan lugas.
Aku melihat kesungguhan dari setiap kata-katanya.
Ku raih tubuhnya untuk kemudian aku peluk dengan erat.
“Jangan berpikir terlalu jauh soal mungkin gue merasa capek sama lo. Kita baru memulainya Bell."
"Saat gue ngajak lo nikah, gue udah sangat yakin sama pilihan gue karena yang gue ajak nikah adalah lo. Kita nikmati masa-masa kita saling mengenal lebih dalam lagi tanpa merasa tertekan oleh apapun. Buat gue, kebahagiaan lo jauh lebih penting dari apapun.” Ku peluk dia erat-erat dan ku rasakan ia mencengkram kemejaku dengan erat.
Ia mengangguk pelan di pelukanku.
Aku masih tidak percaya bahwa pada akhirnya Bella menerima kehadiranku di hatinya. Rasa menyeruak ini, benar-benar tidak bisa aku gambarkan. Aku bisa merasakan kalau Bella mencintaiku dan akan ku jaga selalu perasaan ini untuknya.
Memeluk Bella membuatku bisa merasakan kalau hatiku bertemu dengan hatinya. Ku lepaskan sejenak pelukanku lalu ku tatap wajahnya yang memerah.
“Gue gak tau harus bilang apa lagi. Tapi, harus lo tau ada di samping lo adalah hal terbaik dalam hidup gue. Thanks a lot Bell,,,” Ungkapku seraya menggenggam tangan Bella dengan erat.
“Lo juga hal terbaik yang gue punya.” Timpalnya. Ia menangkup satu sisi wajahku dan mengusap pipiku dengan lembut. Aku sampai tidak sadar kalau aku baru saja menitikkan air mata.
Untuk beberapa saat kami hanya tertegun. Menatap lekat satu sama lain. Ini pengalaman pertama yang paling indah dalam hidupku, menatap Bella dengan jarak sedekat ini dan perasaan sebesar ini.
“I love you,” Ku kecup tangannya dengan lembut, membuatku bisa merasakan desiran halus yang merambat masuk ke aliran darahku dan menggetarkan jantungku lebih cepat.
Bella memandangiku dengan rasa haru.
"I've Fallen for you, Van." Timpalnya, membuatku tidak bisa berkata-kata.
Beberapa saat, kami hanya saling terdiam dan melempar senyum satu sama lain. Ku eratkan genggaman tanganku yang rasanya tidak ingin aku lepas. Kami sama-sama menyandarkan tubuh pada jok, hembusan nafas lega sama-sama terdengar dari mulut kami yang kemudian tersenyum bahagia.
Aku baru tahu, kalau menggenggam tangan seseorang yang kita cintai bisa semenenangkan ini.
Wanna try? Coba genggam tangan orang yang kalian cintai.
*******
Lanjut?
Yang lagi seneng, jangan lupa Like, comment dan Vote nya ya...
Happy reading...