
Sekitar jam 9 malam Devan baru tiba di rumah sakit. Ia tampak lelah setelah seharian ini beraktivitas di luaran. Bella langsung menyambutnya saat pintu terbuka.
“Assalamu ‘alaikum…”
“Wa’alaikum salam…”
Bella tersenyum senang menyambut kedatangan suaminya. Ia segera menghampiri, menyalimi tangan Devan yang ia kecup dengan lembut. Devan membalasnya dengan usapan lembut di kepala Bella lalu mengecup pucuk kepalanya beberapa saat.
Rasa lelahnya seperti terbayar lunas saat melihat Bella di hadapannya.
“Gimana tadi rapatnya, lancar?” Bella penasaran dengan rapat yang dipimpin Devan dan berjalan sangat lama.
Siang tadi Bella memang pulang lebih dulu karena terus mengkhawatirkan Ozi.
“Alhamdulillah lancar.” Devan melepaskan tas ransel di punggungnya dan Bella langsung mengambil alih.
“Mas udah makan?” Menaruh tas Ransel di sofa.
“Udah, tadi bareng temen-temen. Kamu udah makan?”
“Udah tadi bareng mamah sama Inka.”
“Kalau mas mau bersih-bersih dulu, bisa pake kamar mandi yang itu, aku udah nyiapin handuk sama pakaian mas juga.” Dengan ujung matanya Bella melirik baju Devan yang sudah ia siapkan di atas sofa.
“Iya nanti aku mau mandi. Gimana kondisi Ozi sekarang? Udah lama tidurnya?" Devan menghampiri Ozi yang sudah terlelap. Memandangi sahabat sekaligus kakak iparnya dengan seksama. Beberapa alat rupanya sudah di lepas dari tubuh Ozi. Hanya infusan saja yang masih terpasang di punggung tangan kirinya.
"Udah makin membaik, tadi udah bisa duduk lebih tegak, cuma masih harus pake sandaran. Makannya juga udah lumayan banyak." Terang Bella yang ikut menatap lekat wajah sang kakak.
"Syukurlah kalau dia makin membaik. Oh iya, mamah kemana?"
Sedari tadi ia tidak melihat keberadaan Saras.
"Mamah udah ke rumah singgah di anter sama Inka. Aku minta mamah istirahat di sana, kasian biar bisa istirahat.”
“Iya, sebaiknya mamah tidur di rumah singgah daripada di sini.”
Devan masih memperhatikan sahabatnya yang sudah terlelap. Wajahnya tidak sepucat sebelumnya tidurnya pun tampak lelap. Syukurlah, kondisi Ozi semakin membaik dari waktu ke waktu.
“Yang, ada yang harus kita bicarakan sebentar.” Lirih Devan tiba-tiba. Ia menoleh Bella yang ada di sampingnya.
“Tentang?” Bella jadi penasaran.
“Kita duduk dulu.” Devan mengajak Bella berpindah duduk ke sofa.
Duduk berhadapan dan Devan menatap wajah sang istri dengan lekat.
“Em begini… Tadi aku udah rapat sama crew inti dan pak Eko, kesimpulannya adalah kita akan menyelesaikan sisa scene besok. Dan aku mau minta persetujuan kamu untuk mengubah beberapa scene akhir menjadi scene titipan di part sebelumnya. Gimana menurut kamu?”
Bella tampak tercenung, memikirkan benar pertanyaan Devan.
“*Plot twist-*nya tidak akan berubah hanya saja beberapa scene yang terlalu panjang, akan kita putar di part pertengahan sebagai recall memori pemain.” Devan bisa membaca kekhawatiran Bella akan alur cerita dan plot twist yang berubah.
“Part mana yang akan di pindah?” Bella balik bertanya.
Devan mengambil script dari dalam tasnya lalu membuka di depan Bella.
“Part yang ini akan kita jadikan recall memori di part sebelah sini.” Devan membukan beberapa halaman bergantian.
Bella mengambil alih script ke tangannya dan membaca ulang part yang di tandai Devan. Ia terdiam cukup lama, mempertimbangkan masukan Devan.
“Kalau part ini di merge dengan dua part sebelumnya, menurut kamu gimana yang?” Bella ikut memanandai script-nya.
Devan membaca beberapa saat sebelum memutuskan.
“Bagus. Ending-nya nanti bisa lebih padat. Good idea.” Ucap Devan dengan bangga. Ia mengusap kepala Bella dengan sayang. Ia tidak menyangka kalau Bella bisa dengan cepat memahami maksudnya.
“Okey, kalau gitu aku setuju. Berarti besok lebih sedikit kan scene yang di ambil?”
“Iyaa… Tapi jatohnya jadi lebih efektif ending-nya.. Recall memori bisa membuat kesan lebih mendalam di akhir cerita.” Tandas Devan.
“Okey, aku setuju. Kita lakukan seperti itu." Bella menutup script-nya dan berganti menatap Devan.
"Sekarang, mas mandi dulu biar gak terlalu malem. Aku mau edit beberapa part dulu biar besok gak membingungkan pemain. Gimana?” tawar Bella.
“Okey. Pake laptop aku aja, laptop kamu masih di mobil yang.”
“Sip sip, selamat mandiii…” Bella memberikan handuk dan baju di tangan Devan.
“Kamu gak ikut?” Goda Devan seraya mengedipkan mata kanannya dengan genit.
“Eiittt kamu yaa…” Matanya membulat lantas melirik Ozi.
Bagaimana kalau kakaknya mendengar, malu juga kan?
“Hahahaha… Iya iyaa… Aku mandi dulu. Muach!” Devan sempatkan untuk mengecup kepala Bella sesaat sebelum beranjak menuju kamar mandi.
Bella hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
****