Bella's Script

Bella's Script
Sebanyak apa yang gak gue tau tentang lo?



“Sorry gue telat.” Ujar Bella saat Rini menyapanya di pintu studio.


Ia datang dengan tergesa-gesa karena persiapan syuting sudah di mulai.


"Baru mulai kok. Lo udah sarapan?" Tanya Rini. Ia menyodorkan script yang sudah ia siapkan untuk Bella.


"Udah." Bella terus berjalan menghampiri crew.


Devan terlihat sedang mengatur tata letak dan sudut yang akan di ambil. Juga pemain yang mendapat giliran take.


“Lo dari sini, ekpresi lo di buat sesedih mungkin. Nanti kamera datang dari sini. Pencahayaan maksimalin di titik pemain perempuan.” Terangnya memberi instruksi.


“Part yang mana ini Rin?” Bella masih membuka-buka halaman script di tangannya untuk melihat progress syuting. Di bukanya beberapa halaman, untuk melihat part mana yang akan di mainkan.


“Devan minta loncat dulu ke part 16. Dia juga nyari lo tadi\, ada saran perubahan dikit dari dia.” Terang Rini yang berusaha mengimbangi langkah cepat Bella.


“Oh, part 16.” Bella menemukannya.


“Ini kali yaa, part Minara ngeliat Michael sama calon tunangannya.” Komentar Bella yang tetap fokus pada script di tangannya.


“Iya yang itu.” sahut Rini.


Bella membacanya beberapa saat sampai terdengar sapaan dari seseorang, “Morning Bell…” Sapa Indra yang tengah memegangi clapper board.


“Pagi bang. Sorry nih gue telat.” Sahutnya, mengangguk takzim pada para crew yang lain melihat kedatangannya.


Devan yang mendengar suara Bella pun lantas tersenyum. Syukurlah gadis ini sudah tiba.


“Gimana tidurnya semalem? Kayaknya pules banget ampe seger gitu.” Indra masih sempat bertanya membuat Devan tidak konsen memberi arahan.


Tunggu, tidak hanya Devan. Ranggapun ikut memperhatikan Bella yang terlihat sangat segar pagi ini. Apa karena kemarin Bella berjalan-jalan dengan Devan? Wah, pikirannya mulai kemana-mana.


“Iya pules banget. Sampe gak mimpi gue.” Timpal Bella apa adanya.


Devan kembali tersenyum sambil berbicara dan kali ini Rangga melihatnya. Ia memandangi laki-laki itu dengan lekat. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apa mungkin Bella tertarik pada laki-laki sekaku dan sedingin ini?


“Scene yang ini kita bagi dua ya. Bagian Minara sama Michael.” Terang Devan.


Hanya Amara yang mengangguk sementara Rangga malah memandangi Bella yang kini berdiri di samping Devan dan membuat laki-laki itu melirik seraya tersenyum.


“Hey, Rangga, lo nangkep maksud gue kan?” Devan menjentikkan jarinya di depan Rangga dan laki-laki itu tampak gelagapan.


“I-Iya, gue nangkep.” Jawabnya dengan terhenyak namun kembali memandangi Bella dengan penasaran.


“Okey, kita bersiap. Sekarang scene Michael dulu.” Terang Devan yang membuat tim bubar untuk bersiap di posisi masing-masing.


Tapi Rangga masih mematung, memperhatikan interaksi Bella dan Devan.


“Tumben telat?” Tanya Devan yang tersenyum kecil seraya memandangi Bella.


“Iyaa, gak tau nih, perasaan gue gak denger alarm. Jadi kesiangan.”


Bella mengguyar rambut hitamnya yang di biarkan tergerai dan setengah basah. Ia memang sengaja keramas pagi ini untuk menyegarkan tubuhnya yang rasanya enggan beranjak dari tempat tidur.


“Tapi tidurnya pules kan?” Tanya Devan lagi.


“Pules. Tapi tunggu deh,” Ia menjeda kalimatnya dan menatap Devan yang berdiri di hadapannya.


“Kenapa?” Devan tersenyum gemas melihat ekspresi Bella yang lucu pagi ini. Dahinya sampai berkerut, seperti ada pertanyaan besar yang akan ia tanyakan.


“Udah 3 orang yang nanya tidur gue gimana. Abang gue, bang Indra sama lo. Emang sepenting itu ya nanya tidur gue kayak gimana?” Bella balik bertanya dengan tatapan lekat pada Devan, seperti minta penjelasan.


Devan tidak lantas menjawab. Ia memilih tersenyum lantas mengusap pucuk kepala Bella dengan lembut, eh rambutnya malah di acak.


“Siap-siap gih!” Cetusnya dengan santai. Laki-laki itu pun berlalu pergi dengan senyum penuh kemenangan.


“DEVAAANNN!!” Teriak Bella dengan kesal. Ada-ada saja anak ini.


Devan hanya mengangkat jempolnya tanpa berbalik. Ia terkekeh dan hanya ia yang tahu. Begitu menyenangkan ternyata mengganggu Bella karena namanya akan terus di panggil membuat merasa punya energi lebih untuk menjalani harinya.


Bella dengan rambutnya yang berantakan dan tengah coba ia rapikan. Ia meniup helai rambut yang menutupi wajahnya hingga terbang. Tapi tidak kembali ke posisi sebelumnya yang sudah ia sisir dengan rapi.


“Si kaku yang iseng!” Dengus Bella dengan kesal.


Di kejauhan sana, Rangga hanya tersenyum. Ia berbalik lantas berjalan dengan gontai seraya memukul-mukul kecil dada kirinya dengan kepalan tangannya. Rasa sesak sejak kemarin dirasakannya malah semakin menjadi.


*****


Proses syuting kkembali berjalan dan Devan jadi semakin aktif sekarang. Ia terus mengatur pemain yang menurutnya ekspresinya selalu kurang dapat.


“Rangga, tunjukkin ekspresi lo yang terlihat sedih tapi tetap terlihat angkuh. Bukan kayak gini.” Protes Devan yang kembali menghampiri Devan.


“Okey, sorry. Gue perlu waktu sebentar.” Ia jadi tidak fokus.


“Mba Lisa, pinjem cermin.” Panggil Rangga pada managernya.


Cepat-cepat Lisa memberikan cermin pada Rangga. “Nih.” Ujarnya cepat.


“Thanks.” Rangga segera mengambilnya. Melihat wajahnya sendiri lantas membuat mimik yang Devan maksudkan.


“Lo gak bisa memperlakukan gue kayak gini.” Ujar Rangga, berlatih dengan dialog yang sedang ia lakukan.


“Kurang!” seru Devan.


“Lo gak bisa memperlakukan gue kayak gini.” Lagi Rangga mengulang.


“Emosi lo terlalu kuat. Itu ekspresi pengingkaran, bukan kesedihan.” Lagi Devan menjeda.


Laki-laki iitu terangguk. Sedikit berdehem untuk menetralisir suaranya.Sejenak matanya terpejam, berusaha meresapi apa yang Devan katakan.


“Lo gak bisa memperlakukan gue kayak gini.” Lagi Rangga mengulang kali ini dengan suara lebih lemah.


“Okey! Kurang lebih kayak gitu.” Seru Devan


“Kita ambil scene ini, bersiap di tempat. Bang Iyus, kamera lo zoom-nya lebih cepet yaa.. Kamera dua fokus di ekspresi pemain wanita. Kamera yang ini, ambil gambar dari bawah.”


“SIAP!!” Sahut mereka serempak.


Setelah siap\, Devan kembali ke tempatnya dan mengenakan *headset-*nya. Sementara Bella memilih menjauh. Ada seseorang yang harus ia hubungi.


*****


Bella masih menjauh dari crew yang sedang syuting. Berulang kali ia melihat jam di lengan kirinya, sebentar lagi jam makan siang. Ia terus berusaha menghubungi nomor Ozi namun tidak juga di angkat. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirimi kakaknya pesan.


“Bang, makan siang bareng yuk! Gue mau pepes ikan.” Tulis Bella yang ia kirim pada Ozi.


Ia ingat kalau sang kakak ingin makan pepes Ikan yang memakai daun kemangi. Dan beberapa saat lalu ia jadi kepikiran untuk mengajak Ozi makan siang bersama di luar. Sudah lama mereka tidak melakukannya.


Pesannya terkirim namun belum di baca oleh Ozi.


“Lo masih sibuk? Gue nyusul ke kantor lo yaa.. Gue udah nemu referensi tempat makan yang gak jauh dari kantor lo.” Tulis Bella lagi.


Sama, sudah terkirim tapi belum di baca.


Selesi mengirim pesan pada Ozi, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan menghampiri teman-teman yang masih melakukan proses syuting. Kali ini ia tidak duduk di samping Devan melainkan memilih untuk melihat dari kejauhan.


Rangga sedang beradu acting dengan Amara. Ia menunjukkan emosi yang tadi diajarkan Devan. emosinya kena tapi entah mengapa tidak memberi feel apa-apa pada Bella?


Melihat mereka berdua Bella sadar kalau mereka cukup serasi. Rangga yang mendapat tantangan keluar dari sifat aslinya yang halus dan romantis, berubah menjadi Michael yang angkuh, kasar dan dingin.


Ya ia serasi dengan Amara yang selalu terlihat sempurna memainkan peran apapun. Sosoknya yang cantik, actingnya yang bagus dan tentu saja auranya yang mahal memberi nyawa tersendiri untuk peran Minara.


“Harusnya mereka memang sudah bersama sejak dulu.” Lirih Bella seraya tersenyum. Tidak terasa berat sama sekali saat mengatakan hal itu.


“Cut!!” Kata itu menjadi akhir pengambilan scene yang di inginkan Devan.


“Lo mau kemana?” tanya Rini saat melihat Bella sudah membawa sling bagnya.


“Gue mau makan siang di luar sama abang gue. Gue duluan ya.” Pamitnya.


“Lo balik lagi tapi kan?” Suara Rini terdengar lebih keras.


“Iya!” Sahut Bella yang tetap meneruskan langkahnya.


“Gue udah otw. Lo masih sibuk ya?” Bella kembali mengirim pesan pada Ozi dan kali ini hanya ceklist 1.


“Kebiasaan nih anak gak bawa charger pasti.” Gumamnya, mengomeli sang kakak.


“Gak apa-apa deh, itung-itung ngasih kejutan sama abang, tiba-tiba nyamperin dia ke kantor. Let’s go!!” Bella mempercepat langkahnya.


Dengan sebuah taksi Bella menuju ke perusahaan tempat Ozi bekerja. Sudah sangat lama ia tidak berkunjung ke sana. Perjalanannya memang cukup jauh namun karena jalanan yang tidak terlalu padat sehingga terasa begitu cepat. Ini salah satu alasan mengapa Ozi ingin bekerja di sana, karena akses jalannya yang mudah dan minim kemacetan.


“Di depan pak.” Ujar Bella, menunjuk bangunan menjulang tinggi di hadapannya.


“Baik mba.” Sopir taksi itu menepi dan lantas mematikan mesin saat sampai di lobi.


“Makasih ya pak.” Bella memberikan beberapa lembar uang sesuai nominal yang tampil di layar.


“Sama-sama mba.”


“Duk!” Pintu mobil di tutup dan taksi itupun berlalu. Tinggal lah Bella yang masih memandangi bangunan tinggi di hadapannya.


Ia tersenyum memandangi bangunan ini. Bangunan yang menjadi tempat Ozi bekerja hampir 10 tahun lamanya. Megah dan asrtistik itu kesan yang Bella dapatkan. Pantas saja Ozi selalu membanggakannya.


“Mau menemui siapa mba?” Tanya receptionist yang menyambut Bella di front office.


“Oh saya mau ketemu bang Ozi. Di divisi photography.” Ujar Bella.


“Mas ozi?” Gadis muda di hadapan Bella tampak mengernyitkan dahinya. Tidak mengenal kakaknya kah?


“Iya mba.” Sahut Bella dengan yakin.


“Ohh mas Ozi yang tinggi dan ganteng itu ya?” Sepertinya gadis ini ingat.


“Iyaaa, hehehhe…” Bella jadi terkekeh mendengar deskripsi gadis ini tentang kakaknya.


“Wah mas Ozi kan udah resign mba. Udah lama. Ini malah kita mau ngirimin balik beberapa surat kiriman beliau yang di return ke sini.” Terang gadis yang membuat jantung Bella berhenti berdetak tiba-tiba.


“Hah, resign?” Mungkin ia salah dengar.


“Iya mba. Udah ada kali sebulanan.” Terang gadis itu dengan yakin.


Kaki Bella rasanya mendadak lemah. Bagaimana mungkin ia sampai tidak tahu kalau kakaknya sudah tidak bekerja di perusahaan yang selalu ia banggakan? Lalu bekerja dimana Ozi sekarang? Kenapa dia masih bilang ada WFO hari ini?”


Akh rasanya Bella akan tumbang.


“ADEK!!” panggil suara yang membuatnya terhenyak kaget.


Ia segera menoleh ke arah pintu masuk dan terlihat Ozi berdiri di sana dengan nafas terengah-engah. Sepertinya laki-laki itu berlari. Wajahnya pucat dan tegang seperti tidak menyangka kalau Bella akan datang menemuinya.


“Abang, sebanyak apa yang gak gue tau tentang lo?” Batin Bella dengan tatapan nanar dan perasaan yang tidak karuan.


*****