
“OKE CUT!!!"
"Bungkus!!!” Seru Devan mengakhiri pengambilan scene.
Rentetan kalimat itu menjadi penanda bahwa serangkaian proses syuting telah berakhir.
“Wuhuuu… Tnank you gaiss!!!!” timpal Indra seraya bertepuk tangan di udara.
"Akhirnya selesai juga." Kemal bisa menghela nafas lega lalu menghampiri Devan dan Indra di tempatnya.
Crew saling berjabat tangan dan berangkulan memberi selamat satu sama lain.
Setelah lebih dari 5 bulan menjalani proses syuting, akhirnya pembuatan film ini selesai juga. Ada kebanggan tersendiri karena bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu di antara banyaknya permasalahan yang nyaris membuat mereka menyerah.
“Van, video call bini lo dong, dia juga pasti gak sabar liat euphoria di sini.” Hasut Kemal yang mengajak Devan tos.
“Okey bentar, gue coba call dia dulu.” Devan tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya karena sudah menyelesaikan project film pertamanya. Ia yakin Bella pun sang menunggu kabar baik ini.
Sebuah panggilan video dilakukan Devan sekitar jam 7 malam. Proses syuting hari ini memang dilakukan sampai malam demi menuntaskan semua pengambilan scene yang dibutuhkan. Di tengah euphoria ini panggilan pun tersambung dengan Bella.
“Assalamu ‘alaikum mas..” Sapa Bella di sebrang sana. Wanita itu tampak berbeda dengan kacamata yang bertengder di atas hidungnya. Kemungkinan ia sedang membaca novel atau sejenisnya untuk mencari referensi.
“Wa’alaikum salam…” Sahut Devan.
“Liat deh yang, di sini rame banget.” Devan segera mengarahkan kamera kepada para crew yang sedang melakukan perayaan. Ia berusaha merekam semua kebahagiaan dan membagikannya pada Bella lewat kamera ponselnya.
“Waahhh,, udah bungkus mas?” Bella tidak kalah antusias.
“Iya, baru selesai, barusan.” Suara Devan terdengar riang.
“Woy Bell, bungkus nih bungkusss!!!” Indra ikut bersorak di tengah perbincangan Bella dan suaminya.
“Waahh Iya bang… Selamat yaaa buat kita semua. Sorry gue belum bisa gabung..” Bella menangkupkan kedua tangannya dari sebrang sana.
“Iya, gak apa-apa, yang penting lo ikut seneng. Salamin buat Ozi, cepet sembuh biar bisa nonton gala premier film kita nantinya.”
“Aamiin… makasih bang Indra.” Bella dengan perasaan harunya. Ia menoleh sang kakak yang sedang di suapi oleh Saras.
“Aamin.. Bilangin sama Indra, gue pasti dateng di gala premier film lo nanti.” Sahut Ozi yang ikut mendengar euphoria di sebrang sana. Lebih ramai dari supporter bola, ada nyala kembang api dan petasan segala.
“Lo denger kan bang, bang Ozi pasti dateng katanya.” Bella meneruskan kalimat Ozi dengan perasaan haru.
Indra mengacungkan jempolnya pada Bella sebelum kemudian berbaur pergi dengan crew yang lain.
“Ada pesta perayaan dulu yang?” Tanya Bella di sela usaha Devan menunjukkan kegembiraan di lokasi.
“Iya, anak-anak udah nyiapin barbeque, mau party kayaknya. Aku paling di sini sebentar, udah gitu langsung pulang.” Devan berjalan menjauh dari keramaian, ia perlu suasana yang lebih tenang untuk berbicara dengan Bella.
“Iyaa, gabung dulu sama yang lain, selebrasi dikit lah. Udah tegang berbulan-bulan masa gak ada selebrasi.”
“Iya rencananya gitu. Kemal juga udah ngehubungin editor dan nanti mau publish teaser sama thriller film kita di depan crew. Semoga hasilnya baik.”
“Aamiin…” Bella menyahuti dengan sungguh-sungguh.
Tidak lama berselang dua orang tampak menghampiri Devan. Adalah Eko dan Jihan yang berjalan mendekat pada Devan. Melihat senyum cerah dari keduanya, sepertinya mereka tampak ikut puas dengan pencapaian crew sampai detik ini.
“Sayang, hold sebentar yaa. Ada pak Eko sama produser.” Devan segera beranjak menyambutnya.
“Well, bro Devan!!! Selamat!!!” Panggilan akrab itu membawa Eko dengan semangat menjabat tangan Devan.
“Terima kasih pak. Ini berkat kerja tim yang solid.” Ungkap Devan tanpa ragu.
Harus ia akui kalau film ini selesai tepat waktu berkat kerjasama tim yang luar biasa. Walau banyak aral melintang namun akhirnya mereka bisa selesai sesuai deadline.
“Selamat yaa..” Jihan ikut menjabat tangan Devan.
“Terima kasih.” Tangan keduanya saling menggenggam beberapa saat dan terlihat perubahan wajah Jihan yang merona saat tangannya menggenggam erat tangan Devan. Ini kesempatan langka menurutnya.
Devan segera melepaskannya, ia tidak nyaman bersentuhan dengan wanita lain, terlebih terlihat jelas kalau wanita itu memiliki perasaan padanya.
“Saya ikut bersyukur proses syuting berjalan dengan lancar sampai akhirnya selesai. Waahh, benar-benar luar biasa.” Puji Eko dengan sepenuh hati.
“Iya pak. Sesuai deadline, syuting film ini selesai lebih cepat satu minggu dari perkiraan. Bapak juga bisa melihat teaser film yang sudah di siapkan oleh crew. Kami butuh masukaan dari bapak.”
“Tentu, tentu saja saya siap untuk berpartisipasi, saya juga sudah tidak sabar untuk melihatnya."
"Ngomong-ngomong, soundtrack film juga katanya sudah siap ya? Kapan clipnya bisa di lempar ke pasaran?” Eko terlihat semakin antusias.
“Iya pak, proses syuting clip baru selesai kemarin sore. Video clipnya masih dalam proses editing, semoga minggu ini bisa segera dinikmati oleh para pencinta music.” Terang Devan dengan yakin.
“Waahhh luar biasa. Saya sangat menunggu hal itu. Terima kasih yaa atas kerja kerasnya, kamu memang sutradara muda yang bisa di andalkan.” Puji Eko seraya menepuk bahu Devan dengan bangga.
“Terima kasih pak.” Timpal Devan.
Eko mengangguk-angguk penuh rasa bangga memandangi Devan. Tidak salah ia mengajak Devan untuk masuk ke PH nya walau sempat menjadi pertentangan dengan tempat kerja Devan sebelumnya karena merasa telenta langka yang dimilikinya di curi oleh Eko. Namun keberuntungan memang berpihak pada Eko.
“Baiklah, silakan di lanjutkan. Saya permisi untuk menyapa crew lainnya.” Pamit Eko.
“Baik pak, silakan.”
Eko dan Jihan pun beranjak pergi tapi kemudian Devan menahannya.
“Nona Jihan, bisa kita berbicara sebentar?” Tanya Devan.
Jihan tampak terkejut dengan ajakan Devan namun ia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang merona.
Jihan melirik Eko dan laki-laki itu seperti paham.
“Silakan dilanjutkan, saya permisi lebih dulu.” Eko memberi ruang bagi dua orang itu.
Sepeninggal Eko, Jihan tampak kikuk dan salah tingkah. Ia tidak menyangka memiliki kesempatan untuk berbicara berdua dengan Devan.
“Baik, apa yang ingin anda bicarakan?” Tanya wanita itu dengan senyum terkembang.
Tatapan matanya yang berbinar membuat Devan bisa membaca isi dari pikiran wanita yang kini sedang di penuhi halusinasi surgawi.
Sebelum menjawab pertanyaan Jihan, Devan lebih dulu mengakhiri panggilan videonya dengan Bella. Bella yang menyimak di sebrang sana langsung terhenyak saat kemudian panggilan video itu terputus.
Memangnya, apa yang akan Devan bicarakan dengan Jihan? Kenapa panggilannya harus di akhiri?
****