Bella's Script

Bella's Script
Memilih Pergi



“Malem mas Devan. Sorry ganggu waktunya. Bisa bicara sebentar?” pesan itu di kirim Jihan pada Devan.


Devan yang baru selesai mandi dan masih menghanduki rambut gondrongnya yang selesai di keramasi.


“Silakan.” Balas Devan. Ia melempar handuknya sembarang dan menyisir rambutnya dengan jemarinya.


Tidak berganti menit, ponsel Devan langsung berdering. Nama Jihan yang kembali muncul di layar ponselnya. Ada apalagi dengan wanita ini. Sering sekali mengirim pesan tidak jelas yang menurut Devan tidak cocok dilakukan sebagai rekan kerja.


Apa Jihan sedang mendekatinya?


“Selamat malam mas Devan. Maaf ganggu,…” suara Jihan terdengar lembut dengan senyum terkembang.


“Iya selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” tanya Devan dengan formal.


Menyalakan mode speaker dan menaruh ponselnya di atas meja. Lantas ia terduduk di sofa sambil membaca script milik Bella.


“Oh iyaa,, maaf ini saya ganggu malam-malam. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan, tentang project film kita.” Jihan menjeda kalimatnya menunggu respon Devan. Wanita ini tahu benar kalau obrolannya hanya bisa berjalan dengan membahas project film.


“Ya, silakan lanjutkan…” acuh saja Devan menanggapi. Setengah konsentrasinya masih tertaut pada text di tangannya.


“Iyaaa, ada promotor yang mau bergabung dengan kita. Tapi saya ingin membahasnya dulu dengan mas Devan. Besok siang, bisa kita bertemu? Saat makan siang tepatnya.” Terang Jihan.


“Promotor ya?” Devan balik bertanya.


“Iya mas Devan, ini satu langkah baik untuk project kita.” Jihan terdengar sangat bersemangat.


“Sudah berbicara dengan pak Eko?” Devan balik bertanya.


“Em,, saya akan berbicara dengan beliau, tapi sepertinya lebih baik berbicara dengan mas Devan terlebih dahulu. Karena saya perlu masukan dari mas Devan sebelum menjelaskannya pada pak Eko. Bisa kan mas? Saya janji, hanya sebentar saja.” Kukuh Jihan seperti tidak bisa di bantah.


“Baik.” Entah apa yang ada di benak Jihan, namun pada akhirnya Devan mengiyakan.


Ia penasaran apa yang ada di pikiran seorang Produser tentang promotor film yang akan bekerja sama dengannya.


“Waahh, terima kasih banyak mas Devan. Saya akan memberitahu lebih lanjut untuk tempatnya.” Terdengar sekali perubahan suara Jihan yang ceria.


“Baik. Selamat malam.” Tandas Devan. Ia segera menekan tombol merah di ponselnya untuk mengakhiri perbincangan mereka.


“Mas, mas Devaan…” panggil Jihan pada panggilan yang sepenuhnya sudah terputus. Terlihat jelas wajahnya yang kecewa karena Devan memutus panggilannya.


Kenapa sulit sekali untuk mendekat pada Devan?


*****


Siang itu, sesuai janji Devan dan Jihan bertemu di sebuah resto. Saat Devan tiba, sudah banyak menu makanan yang tersaji di atas meja.


“Silakan,” sambut Jihan mempersilakan Devan duduk. Laki-laki itu masih terlihat kaget dengan banyaknya makanan yang di pesan Jihan.


“Emm, saya kurang tahu makanan kesukaan mas Devan, jadi saya pesan semua menu terbaik di resto ini.” Terang Jihan yang menujukkan senyum manisnya.


Sesuai hasil observasi dia dan bertanya pada Bella, Devan suka nasi kotak. Yang namanya nasi kotak tentu menunya bisa beragam, maka ia memutuskan untuk memesan hampir seluruh menu.


“Anda berlebihan Bu.” Timpal Devan, dengan ekspresinya yang datar.


Jihan tetap berusaha terlihat tenang dan tersenyum ramah.


“Bagaimana kalau kita makan dulu. Jam makan siang sudah hampir lewat.” Ajak Jihan.


Devan tidak menolak saat Jihan mendekatkan makanan ke arahnya.


“Maaf karena membuat makan siang anda terlambat.” Ujar Devan dengan dingin.


Ia memang harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor sehingga datang terlambat ke resto tersebut.


“Oh tidak apa-apa. Silakan di makan.”


Mereka mulai sama-sama menikmati makan siang mereka. Devan yang fokus dengan nasi dan lauk di piringnya sementara Jihan yang sesekali curi-curi pandang memperhatikan pilihan makanan yang di ambil Devan dan ekspresi Devan saat melahap makanan itu.


Ternyata Ekspresi wajahnya datar saja saat melahap makanannya tanpa menujukkan ketertarikan khusus pada menu makanan tertentu.


“Jadi yang mana makanan favoritnya?” batin Jihan.


Hingga selesai makan, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Pelayan mengambil satu per satu piring di atas meja dan merapikannya.


“Bisa kita bicara langsung pada topik pembicaraan kita?” tanya Devan langsung pada intinya.


“Silakan dinikmati dulu dessert-nya mas Devan.” Jihan mendekatkan sepiring makanan manis pada Devan.


“Terima kasih. Silakan untuk menyampaikan maksud anda.” Sepertinya Devan tidak tertarik dengan makanan manis yang di sodorkan Jihan.


“Oh baik.” Wanita itu mengeluarkan tab dari dalam tasnya.


Membuka sebuah halaman yang memuat profil sebuah agensi promotor film. Rasanya Devan mengenal nama promotor yang di tunjukkan Jihan.


“Saya bertemu dengan pemilik promotor film terbaik di Singapura. Beliau mengajak kita untuk bekerja sama.” Ujar Jihan tanpa ragu.


Sekilas Devan melihat laman yang ditunjukkan Jihan. Rasanya Devan mengenal nama promotor yang di tunjukkan Jihan.


“Bukankah PH sudah memiliki promotor sendiri. Ini akan menyalahi jika promotor PH tau anda berencana bekerjasama dengan promotor lain.” Tegas Devan, tidak bisa langsung setuju.


“Untuk soal itu, saya akan berbicara dengan pak Eko. Hanya saja, saya memerlukan dukungan mas Devan. Bukankah mas Devan juga pernah bekerja sama dengan promotor ini saat di Singapura dan membuat film karya mas Devan menjadi peraih penghargaan?” selidik Jihan penuh antusias.


Devan tersenyum kecil di sudut bibirnya.


“Darimana anda mengenal promotor itu?” Devan tahu benar kalau promotor tersebut adalah rekanan tempat kerjanya dulu.


Devan menyandarkan tubuhnya di kursi, memperhatikan Jihan yang siap memberikan jawaban persuasif. Ada rasa tidak nyaman yang ia rasakan saat ini.


“Dari beberapa akun fansbase." Jihan tersenyum kecil.


“Saya juga sudah berkomunikasi dengan rekanan promotor ini sebelumnya, tapi beliau,”


“Tolong berhenti mencari tahu tentang saya.” tutur Devan tiba-tiba. Ia sudah membaca maksud Jihan dari penjelasan awal yang diberikannya.


Jihan tampak tercengang mendengar ucapan Devan. Laki-laki itu mencondongkan dirinya pada Jihan yang masih terkejut.


“Anda bukan tanpa sengaja bertemu promotor tersebut, tapi anda sedang mencari tahu tentang saya.” Devan menatap wanita itu dengan dingin.


“Em enggak. Maksud saya,” Jihan berusaha berkilah namun ia kehabisan kata-kata.


“Tidak perlu tertarik dengan hal apapun tentang pribadi saya, seperti halnya saya yang tidak tertarik dengan anda dan apapun usaha anda. Kita berdua, hanya rekan kerja.” Tegas Devan.


Ia kembali menarik tubuhnya menjauh dari Jihan lantas beranjak. Baginya pembicaraan mereka sudah selesai.


“Devan!” seru Jihan saat melihat Devan pergi.


Ia langsung berdiri dan menghampiri Devan yang mematung di tempatnya.


“Apa salahnya kalau saya tertarik pada anda?” tanya Wanita itu tanpa ragu. Namun Devan tidak berbalik.


“Saya tahu semua tentang anda. Karya-karya anda, permasalahan anda dengan PH sebelumnya dan alasan anda pindah ke sini.” Jihan masih tidak menyerah.


“PH sebelumnya mungkin tidak menghargai usaha anda, pencapaian anda. Tapi saya dan pak Eko bisa melakukan hal sebaliknya.”


Devan tersenyum kecut mendengar ucapan Jihan. Jihan mungkin tahu banyak hal, tapi yang ia tahu tidak sesuai dengan yang terjadi sebenarnya.


“Cukup, saya permisi.” Tegas Devan seraya berlalu pergi. Ia sudah sangat tidak tertarik dengan semua pembicaraannya bersama Jihan.


“DEVAN!!” teriak Jihan. Namun Devan tidak punya keinginan sedikitpun untuk menghentikan langkahnya dan memilih pergi meninggalkan tempat ini.


“AARRGGGHH ****!!!” Geram Jihan penuh kekesalan. Wajahnya sampai merah karena marah.


Devan sama sekali tidak memberinya ruang dan kesempatan untuk berbuat lebih sementara seorang Jihan bukan seseorang yang bisa di tolak begitu saja.


*****


Tidak habis pikir, itu yang ada di benak Devan saat ini. Bagaimana bisa seorang wanita seperti Jihan melakukan hal yang tidak menyenangkan baginya.


Ya, di cari tahu adalah hal yang tidak menyenangkan bagi Devan. Ia merasa kalau privasinya mulai di ganggu dengan hal-hal yang selama ini ia kubur dalam-dalam.


Terlalu banyak hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya dan membuatnya untuk tidak terbuka pada siapapun apalagi seseorang yang asing seperti Jihan.


Setelah berkeliling Jakarta tanpa tujuan yang jelas, akhirnya Devan berhenti di sebuah tempat yang cukup asing baginya. Sebuah taman yang tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang terlihat berkeliling dengan sepeda, anak-anak yang naik kuda keliling taman atau bercengkrama sambil menggelar tikar.


Devan memilih duduk di salah satu bangku taman, memperhatikan ke sekeliling. Lantas ia tertunduk saat pikirannya tertaut pada ingatan ia sebelum pulang ke Indonesia.


“Kamu yakin kalau kamu memutuskan untuk pulang ke Indonesia?” tanya laki-laki berwibawa yang biasa Devan panggil Om Alwi.


Laki-laki paruh baya itu menatapnya dengan tajam penuh selidik.


“Iya om.” Sahut Devan dengan tegas.


Laki-laki itu lantas membalikkan tubuhnya membelakangi Devan. Di pandanginya foto ia bersama mendiang sang adik perempuannya yang tak lain adalah ibu dari Devan. Matanya terlihat sedih berbalut kemarahan yang disimpannya selama bertahun-tahun.


“Kamu akan menemuinya?” lagi ia bertanya tanpa menoleh Devan.


Devan tidak bergeming. Entah ia akan menemui orang yang dimaksud Alwi atau tidak.


Mendapati Devan yang tidak menjawabnya, laki-laki itu kembali berbalik.


“Kamu sadar dengan konsekuensi yang akan kamu dapat jika kamu pulang ke Indonesia?” laki-laki itu mendekat dan berdiri tepat di hadapan Devan.


“Iya om.” Devan balas menatap Alwi tanpa rasa ragu.


Laki-laki itu hanya tersenyum namun jelas kalau senyumnya mengandung banyak kekecewaan.


“Apa yang membuat kamu begitu yakin kalau kamu harus pulang dan meninggalkan semua yang sudah kamu dapat?"


"Apa karena seorang wanita?” ia masih ingin mengetahui alasan Devan bersikukuh untuk pulang ke Indonesia walau mereka sudah berdebat panjang di sertai ancaman.


“Om bilang urusanku sudah tidak menjadi urusan om lagi bukan?” tantang Devan.


“HAHAHAHAHAHAH!!!!” laki-laki itu tertawa dengan mata melotot kesal. Tangannya mengepal namun tidak bisa ia lampiaskan.


“Kamu persis ibumu. Keras kepala dan tidak patuh.” Sinis Alwi.


Devan tidak menimpali, membuat laki-laki itu semakin mendekat.


“Juga persis ayahmu yang tidak tahu diri.” Kali ini Alwi berbisik sarkas di telinga Devan.


“Hahahhahaha…” ia terkekeh kecil menertawakan Devan yang terlihat marah.


Tangannya mengepal namun tidak bisa melakukan apapun pada laki-laki yang telah membesarkannya.


“Baik, kalau itu keputusanmu. Dan ini keputusan saya.” Alwi mengangkat tangannya, menekan keypad di ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Devan Rama Aziz, hapus semua artikel tentang dia. Juga hapus dari hak waris keluarga Aziz.” Tegas Alwi seraya menatap Devan dengan penuh rasa puas.


Devan tidak bergeming sedikitpun.


“Terima kasih om.” Ujarnya seraya berbalik pergi meninggalkan laki-laki yang kini mengeram kesal karena merasa di khianati.


Ia sudah sangat yakin dengan pilihannya kalau ia akan pulang ke Indonesia. Dan di sinilah saat ini ia berada.


*****