
“Gue gak mau! Lo paham gak sih, GUE GAK MAU!!!” Seru Amara membentak staf Inka yang sedang menawarkannya kostum.
Entah sudah berapa potong baju yang di tolak Amara untuk ia pakai.
"Ra, bentar lagi kita take. Mending kamu pilih dulu baju paling nyaman buat kamu supaya kita gak buang waktu." Bujuk Rangga yang sudah pening dengan sikap uring-uringan Amara sejak pagi.
Entah mimpi apa Amara hari ini, yang jelas semua yang di lakukan crew di lokasi selalu salah di matanya.
"Kok telor nya di bikin gini sih? Gue kan gak bisa makan telor kayak gini, natrium nya jadi nambah bisa-bisa gue gemuk lagi. Kamu aja yang makan." Sarapan saja sudah di tolak mentah-mentah dan lebih memilih meminta Lisa untuk membeli lagi sarapan.
"Muka gue lagi break out cii, kayaknya jangan foundation yang ini deh. Lo gimana sih, udah lama jadi make up artist masih aja gak bisa ngenalin kulit wajah konsumen." Make up artist baru pun sudah kena omel, padahal ia sendiri yang memilih make up artist ini.
"Okey, sorry... Make up nya gue ulang yaaa,, biar makin bagus." Polesan make up di wajahnya pun terpaksa di hapus dan di make up ulang sesuai permintaan Amara.
Dan kali ini,
“Gue udah bilang, gue gak suka sama baju-baju yang kalian bawa. Brand kelas bawah kayak gini keliiatan di kameranya aja murahan, norak!”
“Ngerti fashion gak sih lo to*ol!” Amara mentoyor kepala staf bernama Nila yang sejak tadi di omelinya.
Gadis itu hanya bisa berdiri mematung, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Di tangannya sudah banyak baju yang bertumpuk dan di lempar Amara padanya. Setengah wajahnya bahkan tertutup baju lemparan Amara.
“Mba, kami udah ngelakuin quality control sama setiap property yang kami siap kan dan kami,”
“Jawab aja lo anj,” Amara mengangkat tangannya untuk memukul Nila karena tidak suka kalimatnya di bantah.
Nila refleks menutup mata dan memalingkan wajahnya karena takut. Beruntung Inka datang di waktu yang tepat dan menahan tangan Amara.
“Mau ngapain lo!” Tahannya, mencengkram tangan Amara dengan erat lantas mengibaskannya dari udara.
“Awh!” Amara mengaduh saat sendi tangannya tiba-tiba berputar.
Ia menatap Inka dengan penuh kemarahan, begitupun sebaliknya.
“Lo bisa gak sih bersikap lebih sopan sama staf gue?!” Inka masih berusaha berbicara baik-baik walau kekesalan sudah berjogol di rongga dadanya.
“BISA!! Kalau lo dan staf lo gak pada gobl*k!” seru Amara dengan matanya yang membulat. Ia menatap Inka tanpa rasa takut sedikitpun.
Inka berdecik sebal, dengan senyumnya yang sinis menanggapi ucapan Amara. Ia melirik gadis di sampingnya yang sudah menangis karena ketakutan. Selama ia berada di departemen artistic, baru kali ini timnya berdebat dengan artis dan seorang pemain utama karena masalah property syuting yang mereka siapkan.
“Jaga mulut lo ya! PH ini punya standar tinggi soal property syuting, termasuk di dalamnya MUA yang lo protes, baju yang ogah lo pake dan semua pernak pernik yang bikin lo keren di layar kaca. Lo gak bisa asal ngomong kayak gitu!” Inka tidak terima dengan sikap Amara yang menurutnya keterlaluan kali ini.
“Oh ya?! Standar tinggi menurut siapa? Menurut lo dan tim lo? Lo aja gak tau kan kalau selera lo payah! Berapa lama sih lo kerja di industry ini? Newbie lo ya?” Amara berujar dengan tidak mau kalah. Dua wanita ini kini berhadapan dan saling tantang.
"Ra, udah dong." Rangga meraih tangan Amara untuk menenangkannya dan Amara mengibaskannya.
"Gak usah ikut campur!." Sinisnya tanpa menoleh Rangga.
Rangga hanya bisa menahan emosi dengan memalingkan wajahnya yang sudah terlihat kesal. Ia berkacak pinggang sambil berjalan kecil ke sana kemari untuk mengalihkan rasa tidak nyamannya.
Sementara Inka hanya bisa menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia bisa saja membalas ucapan Amara namun jika perdebatan mereka terus berlanjut, syuting tidak akan berjalan mulus.
“Okey, sekarang mau lo sebenernya apa hah? Dari kemaren-kemaren perasaan permintaan lo aneh-aneh terus.” Akhirnya Inka memilih untuk mengalah, mengalah untuk menang pikirnya.
Amara tidak lantas menjawab. Dengan wajah yang masih kesal ia mengambil ponsel dan mengotak atiknya sebentar. “NIH!” ia menunjukan satu laman story di media sosialnya yang di komentari oleh netizen saat memposting fotonya sedang syuting dengan mengenakan pakaian yang di sediakan Inka.
“My baby Amara cantik. Tapi kok kurang stuning yaaa… Apa karena bajunya yang gak cocok? Uuhhh kasian, dia pasti gak nyaman.” Komentar salah satu netizen yang di baca Inka.
“Paham lo sekarang? Paham dong, masa gitu aja gak paham.” Sinis Amara yang menurunkan kembali layar ponselnya.
Inka hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Itu cuma satu netizen aja Ra. Lo liat dong komentar lainnya, pada positif soal penampilan lo. Lagi pula lo gak bisa memenuhi semua keinginan netizen termasuk soal penampilan lo. Kadang mereka komen juga gak pake otak, Cuma modal ketikan jari sama kuota doang udah merasa paling berhak untuk komentar sesuka hati. Lo jangan gampang terpengaruh.” Inka coba menjelaskan. Menurutnya Amara hanya melihat satu hal kecil di banding hal besar lainnya yang ia terima.
“Cuma lo bilang?!” Amara bertanya dengan sinis.
“Buat lo mungkin cuma, tapi buat gue yang sedang membangun sebuah image, komentar mereka itu penting. Gue gak mau ada celah buat netizen menilai gue dengan buruk. Lagi pula, kalau penilaian mereka bagus, bukannya perusahaan lo juga yang di untungkan?” Terang Amara tidak mau kalah.
“Apa susahnya sih tinggal nurutin maunya gue? Pokoknya gue gak mau mulai syuting kalau lo belum nyediain apa yang gue minta.” Tegas Amara. Ia meninggalkan Inka yang masih berdiri mematung dengan wajah bingung dan kesal.
"HAH!!!!" Dengus Inka dalam hati.
*****
“Aaaarrgghhh!!!!!” Teriak Inka saat sudah berada jauh dari Amara. Ia sampai mengacak rambutnya saking kesalnya dengan sikap Amara.
“Sabar Ka,,,, Memang gak semua artis nerima sama apa yang di sediakan PH. Misalnya Amara.” Bella berusaha menenangkan sahabatnya yang terlihat sangat kesal.
“Gimana gue gak kesel Bell, udah dia ngehina gue, ngehina staf gue, ngehina PH ini, dan sekarang nolak syuting. Gila gak tuh artis baru! Kesel gue!” Racau Inka dengan intonasi suara yang makin meninggi. Baru kali ini ia benar-benar marah.
Sebenarnya tidak hanya Inka yang kesal. Ia dan crew lainnya pun menyimpan kekesalan. Karena penolakan Amara untuk syuting hari ini, jadwal jadi di reschedule dan pengambilan scene pun bergeser pada pemain lain.
Roni dan teman-temannya terpaksa harus bekerja keras untuk mengubah lagi layout yang sudah mereka sesuaikan dengan setting tempat di script.
“Iya gue ngerti. Tapi paling nggak, kita jadi tahu seperti apa pandangan fans-nya Amara terhadap idolanya. Itu bagus juga lo kalau dia memperhatikan hal detail kayak gitu, itu insight buat kita untuk membentuk karakter pemain.” Terang Bella dengan penuh kesungguhan.
"Lagian Ka, setiap orang punya persepsi sendiri soal dirinya sama pandangan orang lain terhadap dia. Satu komen netizen itu mungkin kecil buat kita tapi belum tentu buat orang lain. Karena aktualisasi diri setiap orang beda dan kita gak bisa maksa orang lain untuk memiliki aktualisasi diri yang sama dengan standar kita." Lanjut Bella.
Sejujurnya ia bukan sedang menasihati Inka, melainkan dirinya sendiri. Tidak jarang ia pun kesal saat Amara berkata, "Gue gak suka sama part ini. Bisa di ganti gak sih kalimatnya?" padahal membuat script dan memberi nyawa pada setiap part itu tidaklah mudah.
Untungnya permintaan Amara sejauh ini masih bisa di tolelir Bella sehingga ia masih bisa mengikuti beberapa keinginan Amara selama tidak mengubah maksud cerita.
“Gilaa, lo udah di jahatin sama tu orang juga masih bisa aja ngebela tu pelakor. Aneh banget gue, lo masih bisa aja ngambil sisi positif dari orang yang udah ngehancurin lo.” Inka memandangi Bella dengan heran bercampur kagum. Ia tidak habis pikir dengan apa yang ada di benak Bella saat ini.
“Berlebihan lo.” Bella jadi memalingkan wajahnya dari Inka.
Jujur, ia tidak sebaik itu. Ia hanya berusaha menahan egonya yang haus pembalasan. Bukankah ini akan lebih menenangkan hatinya?
“Ckckcck!” Inka berdecik sambil menggelengkan kepala melihat sikap Bella.
“Tapi Bell, kita juga kan gak bisa menuhin semua permintaan dan expectasi fans-nya si artis baru itu. Bisa capek sendiri kita.” Inka baru tersadar dengan pikirannya sendiri.
“Kita gak harus menuhin expectasi fans-nya, hanya saja kita harus ikut mengimbangi nampilin sosok bintang di film kita dengan realistis.”
“Dia memang terbiasa memukau fansnya sama penampilan dia makanya expectasi itu yang sekarang kita coba geser secara perlahan. Hanya saja kan sekarang kita lagi nyari perhatian penuh dari fans-nya dia, mau gak mau kita turutin maunya dia. Nanti juga expectasi fans akan berubah sendirinya setelah mereka ngeliat karya Amara. Mungkin ini agak berat buat kita, tapi selagi masih bisa kita tanganin, kenapa nggak kita coba. Kalau udah bener-bener di luar nalar, ya kita cari cara lain.” Terang Bella dengan runut.
Inka masih memandangi Bella dengan wajah cengonya mendengar semua ucapan Bella.
“Lo emang tau banget dia Bell.” Pujinya, nyaris bertepuk tangan andai ia tidak sadar saat ini hal seperti itu bukan hal yang pantas di puji.
Bella hanya tersenyum kecil. Tentu saja ia sangat mengenal Amara. Mereka berteman sejak kecil. Walau pada akhirnya, ia jadi tidak mengenal Amara yang sekarang. Mungkin sudah banyak yang berubah dari Amara yang dikenalnya dulu.
Tidak, lebih tepatnya sudah banyak hal yang mengubah seorang Amara yang dikenalnya.
“Soal baju,” Bella berusaha mengalihkan pikirannya.
“Lo coba ngobrol sama Lisa, managernya. Kita coba tawarin endorsement. Tapi sebelumnya, kita harus minta bantuan anak-anak promotor buat bantu kita kerja sama, sama brand ini. Mudah-mudahan Amara bisa dapet endorsement dari brand itu jadi selain ini keuntungan buat dia, beban kita juga bakalan berkurang.” Terang Bella dengan penuh keyakinan.
Inka tidak lagi berkata-kata, ia memilih memeluk Bella dengan erat. Tidak ada kata-kata yang sepenuhnya menggambarkan perasaan leganya saat ini.
“Thanks Bell. Gue gak tau lagi kalau gue gak kerja bareng lo semuanya akan kayak gimana.” Bisiknya dengan penuh ke sungguhan.
Ia benar-benar bersyukur ada Bella di dekatnya sehingga banyak masalah yang semula tidak bisa ia selesaikan tapi Bella bisa membantunya menyelesaikan semuanya dengan baik.
“Nah itu gunanya temen, bukan cuma partner gosip.” Timpal Bella dengan santai.
“Hhahahahaha… Suka bener lo kalo ngomong.” Timpal Inka yang langsung melepaskan pelukannya.
Ada saja ucapan Bella yang membuat mereka tertawa lepas setelah di landa kekesalan gara-gara Amara.
“Tapi tunggu Bell, anak promotor itu kepala timnya si Hendrik ya?” Tanya Inka tiba-tiba. Ia sampai kaget sendiri.
“Emmm,, Iya kayaknya. Masih dia.” Bella terlihat ragu. Ia sudah lama tidak berhubungan dengan anak-anak promotor.
“Akh sial!” Dengus Inka dengan kesal.
“Hah, emang kenapa? Lo ada masalah juga sama mereka?” tanya Bella penuh selidik.
“Hah?” Inka balik bertanya saat mendapat tatapan Bella yang penuh penasaran. Ia tidak lantas menjawab dan wajahnya terlihat bingung harus menjawab apa.
Bagaimana ia harus menjelaskannya? Masa ia harus bilang kalau itu salah satu saingan Devan, jagoannya?
Aakkhhh ia jadi pusing sendiri. Semakin bertambah saja saingan Devan sekarang membuat kesempatan Devan untuk dekat pada Bella semakin sulit. Soal Bella mau nonton saja ia belum dapat cara untuk mengalahkan jagoannya Roni. Lah ini bertambah lagi.
“Gue mesti jawab gimana anjiirrrr…” Batin Inka seraya memalingkan wajahnya dari Bella yang penasaran.
*****