Bella's Script

Bella's Script
Sambutan Jihan



Iringan suara musik klasik menyambut kedatangan Devan di sebuah pesta meriah yang digelar oleh sebuah production house kenamaan ibukota.


Wijaya, sang tuan rumah penyelenggara acara yang tidak lain adalah ayah dari Jihan.


Acara ini rupanya bukan acara kecil-kecilan seperti yang dikatakan Jihan, melainkan sebuah perayaan ulang tahun perusahaan film yang di hadiri oleh banyak orang-orang terkenal. Tidak sedikit selebritas yang hadir selain itu ada juga pekerja film yang lainnya yang hadir dan turut memeriahkan acara.


Dimulai dari sutradara kondang Indonesia, para produser film dan orang-orang penting lain di bidangnya. Mereka tampak asyik berbincang, memperkenalkan diri satu sama lain.


Sebenarnya ini kesempatan bagus bagi Devan untuk mengenal lebih banyak orang di bidangnya.


Hal menarik itu selalu menjadi pusat perhatian seperti halnya langkah tegas dan percaya diri Devan saat menaiki anak tangga yang menuju tempat diselenggarakan pesta. Banyak pasang mata yang melirik sosok tampan dengan tampilan yang berbeda dari pria lain yang hadir. Benar saja dugaan Bella kalau tidak sedikit wanita yang melirik Devan dan tidak segan menunjukkan rasa ketertarikannya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh seorang Jihan. Saat melihat kedatangan Devan, tuan putri di acara ini langsung meninggalkan tamunya dan memilih menghampiri Devan. Ia tidak menyangka kalau Devan benar-benar memenuhi janjinya untuk datang walau tujuannya hanya untuk bertukar kesepakatan.


Tapi paling tidak, jalan lurusnya menuju Devan semakin mulus. Laki-laki itu masuk ke dalam rencana yang sudah ia susun.


Berjalan anggun dengan tampilannya yang memukau. Kalung berlian yang berkilauan di lehernya seolah menjadi bukti tingginya kasta yang dimiliki keluarga ini.


Pantas saja, jika wanita ini memiliki ambisi yang kuat dalam hidupnya.


“Selamat malam, Mas Devan..” Sapa Jihan saat berdiri tepat di hadapan Devan.


Ia tersenyum penuh pesona pada laki-laki berwajah dingin yang hanya mengangguk sopan.


“Selamat malam.” Suaranya tegas, tidak ada tarikan bibir sedikitpun yang ia niatkan untuk membalas senyum Jihan.


“Terima kasih sudah berkenan hadir. Gimana perjalannya, lancar?” Jihan berusaha berbasa-basi. Ia berharap perhatian kecilnya bisa merubah air muka Devan.


“Lancar, tidak ada kendala apapun.” Lagi Devan berujar tegas.


"Syukurlah. Ngomong-ngomong, selamat datang di pesta kecil-kecilan PH kami. Semoga tidak mengecewakan yaa..."


Devan tersenyum dalam hati, rupanya wanita ini memang pandai bermain majas.


"Terima kasih." Dua kata itu saja yang menjadi sahutan Devan.


“Waaawww… Ada siapa iniii?” dua orang wanita menghampiri Devan dan Jihan, kalimat itu berasal dari salah satunya.


“Oh, hay… Kenalin, ini Mas Devan. Sutradara yang memproduksi film aku sekarang.” Aku Jihan dengan sumeringah.


Dari cara ia berbicara, Devan sangat yakin kalau dua wanita berpenampilan glamour ini adalah teman sekaligus rival Jihan.


“Ohh yaaa, yang sering kamu ceritakan itu. Halo selamat malam, saya Felish.” Wanita itu mengulurkan tangannya pada Devan.


“Devan.”


“Saya Wika,”


“Devan.”


Devan menjabat tangan dua wanita itu bergantian. Mereka saling lirik setelah berhasil menjabat tangan Devan.


“Tapi rasanya wajah anda familiar, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya wanita bernama Felish itu.


“Entahlah, saya tidak yakin.” Devan menggeleng. Ia memang merasa kalau ia belum pernah bertemu dengan dua wanita ini.


“Oh saya ingat, Mas Satya. Benarkan, saat itu Jihan memperkenalkan anda sebagai Mas Satya?” Tunjuk Felish dengan antusias.


“Oh, hahahaha… Itu hanya kesalahpahaman Fel… Jangan membuatku malu. Nama dia sebenarnya Devan…” Jihan tertawa dengan anggun, ia juga menyentuh lengan Devan yang ada di sampingnya.


Devan langsung berreaksi menatap lengannya tidak suka, tapi sepertinya wanita ini tidak mengerti. Lebih tepatnya tidak mau mengerti.


“Ohh ya ampun… Jadi kalian dekat sejak kejadian itu? Hahaha… Mirip cerita romance saja yaa… Mungkin akan menarik kalau di buat film tentang kalian berdua. Sang produser dan sutradara, wah vibes-nya mahal sekali.” Felish melanjutkan ucapannya dan membuat Jihan tersenyum bangga dan menaikkan dagunya. Terlihat sekali kalau wanita ini sangat suka di puji.


“Saya dan nona Jihan, tidak ada hubungan apa-apa.” cetus Devan di sela tawa Jihan yang renyah.


Tawa itupun langsung terhenti dan Jihan menatap Devan dengan lirikan yang menyimpan kekecewaan.


“Saya harap, anda berdua tidak salah paham lagi. Beliau produser di tim kami dan saya sebagai sutradara. Hanya itu saja.” Terang Devan dengan penuh penekanan, tidak ingin ada kesalahpahaman dan kehaluan yang lebih lanjut.


“Oh maaf Mas Devan." Felish melirik Jihan yang tampak kecewa dengan ucapan Devan yang terlalu jujur.


“Tidak masalah kalau belum ada apa-apa. Mungkin kami harus memberi ruang untuk anda berdua agar ada apa-apa.” Canda Felish sambil terkekeh. Tapi Devan bukan seseorang yang bisa di bercandai. Tatapannya tetap dingin pada ketiga orang itu.


Melihat ekspresi Devan, Felish langsung kikuk karena Devan terlampau dingin.


“Ahahahha… Felish memang kalau becanda suka ada-ada saja. Mohon di maklumi ya Van.” Lagi, Jihan berusaha menunjukkan kedekatannya dengan Devan melalui sentuhannya di lengan Devan.


Devan benar-benar merasa tidak nyaman.


“Permisi, untuk toiletnya sebelah mana?” Devan bertanya hal random itu untuk menghindari Jihan.


“Oh, di sebelah sana.” Jihan menunjuknya dengan sopan.


“Baik, kalau begitu saya permisi.” Devan bergegas pamit dan meninggalkan tiga wanita itu. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Walau kesal pada Jihan, sayangnya ia seorang wanita yang tidak mungkin Devan perlakukan dengan kasar.


“Waw, he is so hot babe,” puji Felish sambil memandangi Devan yang berlalu pergi.


“Iya dong. Kapan sih sasaran gue berkualitas rendah.” Sahut Jihan seraya menyillangkan tangannya di depan dada dengan jumawa


“Tapi dia terlalu acuh babe. Kamu yakin bisa sama laki-laki model begitu?” Wika ikut bersuara.


Jihan mendelik kesal, lantas menatap Wika dengan tidak suka.


“Apa kamu pernah lihat ada laki-laki yang gak bertekuk lutut di kakiku?” Jihan membalasnya dengan pertanyaan.


“Hahaha… Ya enggak ada lah. Wika memang suka asal kalau bicara.” Felish segera mendekat pada Jihan. Ia tahu perkataan Wika tidak ia sukai.


Jihan tersenyum anggun seraya merapikan baju dan helaian rambutnya yang panjang terurai. Baginya, tetap saja ucapan Wika tadi tidak enak untuk di dengar.


“Aku selalu punya cara sendiri untuk menaklukan hati seorang laki-laki, baik itu dengan cara halus ataupun cara yang saaaaaangat halus.” Lirih Jihan seraya menatap Wika dengan tajam.


“Apa pernah lo ngeliat gue gagal ngedapetin apa yang gue mau?” kalimatnya berubah kasar saat ia berbicara dengan Wika.


"Nggak, babe.." Takut-takut Wika menimpali.


Wika menghela nafas dalam, lantas menelan salivanya kasar-kasar, takut dengan tatapan tajam Jihan. Ia sadar ucapannya tadi telah menyinggung Jihan.


Jihan berjalan mendekat, menghampiri Wika. Mengambil helaian lambut yang terjatuh di bahu Wika.


“Inget dear, gue gak pernah gagal ngedapetin apa yang gue mau, termasuk seorang laki-laki. Standar kita beda, selera kita juga beda. Lo memang nikah lebih dulu dari gue tapi lo juga menjanda lebih dulu dari gue. So, watch you mouth, dear…” Lirih Jihan seraya menempatkan telunjuknya di bibir Wika, meminta gadis itu untuk menjaga kata-katanya.


Wika terangguk pelan mendapat tatapan mengintimidasi dari Jihan. Hanya beberapa saat saja telunjuk Jihan di atas bibir Wika.


“So-sorry… Aku gak ada maksud buruk dengan pertanyaanku tadi.” Wika sampai tergagap melihat senyum manis Jihan dan matanya yang tajam merendahkan dirinya.


“No problem. Lo tau kan, gue orang yang baik. Hanya lain kali, tolong lebih berhati-hati.” Jihan menatap Wika dengan laman, sementara telunjuknya mengusapkan sisa lipstick di jarinya pada baju Wika yang berwarna merah muda.


“Lipstick lo murah, dear…” imbuhnya seraya tersenyum sinis.


Wika hanya tertunduk, ia tidak berani menimpali. Ia sadar, satu kalimat salah yang keluar dari mulutnya, akan berbalas banyak pelecehan yang Jihan berikan.


*****