
Mata Devan mengerjap pelan, saat sayup-sayup ia mendegar suara berisik dari bawah kamarnya.
“Breng!” Di susul suara benda jatuh yang membuat ia membuka matanya lebar-lebar.
Ia menyentuh dahinya dan ternyata ada handuk kompres di sana. Ia juga merasa sedikit dingin saat ternyata ia tidur dengan bertelanjang dada.
Ia menaruh handuk kompresnya di meja samping tempat tidur. Saat menoleh ternyata ada sebuah sendok dengan gelas minum besar yang biasa ia pakai. Tidak hanya itu, ia juga mendapati ponselnya yang bersebelahan dengan ponsel berwarna rose gold yang sangat ia kenal.
Ponsel Bella, ya itu ponsel milik Bella yang masih melakukan panggilan aktif. Sepertinya ia menggunakan handsfree.
“Dia di sini?” Devan menerka-nerka.
Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuat kepalanya sedikit pening. Ia duduk beberapa saat untuk menyesuaikan tekanan di rongga kepalanya. Rupanya isi kepalanya cukup kaget karena ia bangun tiba-tiba.
Ia pun mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Yang terakhir ia ingat adalah saat samar-samar melihat bayangan Bella menghampirinya ketika ia keluar dari kamar mandi. Semalam ia memang merasakan tubuhnya yang tidak sehat. Ia muntah beberapa kali di kamar mandi hingga tubuhnya terasa lemas.
Saat ia keluar dari kamar mandi, ia merasa tubuhnya akan segera ambruk. Namun samar-samar ia melihat sosok Bella yang berlari menghampirinya. Bibirnya terasa berat menyebut nama Bella, untuk memastikan kalau yang dilihatnya bukan imajinasinya saja.
“Iya Van, ini gue. Bella.” Ujar suara yang terasa jauh di ujung pendengarannya.
Semuanya mulai meredup, berwarna-warni lalu gelap. Sedetik kemudian ia merasa tubuhnya sangat ringan hingga tidak dapat bertahan di atas kakinya yang kokoh. Ia tidak lagi mengingat apa yang terjadi semalam.
Lalu, siapa yang membawanya ke sini? Bella kah?
Devan segera tersadar saat melihat bajunya yang terserak di atas tempat tidur. Sweater yang ia pakai karena merasa kedinginan, lalu kemeja berwarna hitam dan tentu saja kaos singlet yang tergeletak begitu saja.
“Mah, ini kayaknya agak kekentelan. Adek tambahin air lagi gitu?” Suara di bawah sana terdengar jelas. Devan tersenyum kecil, kini ia sangat yakin kalau itu suara Bella.
Ia segera beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil kaos dari dalam lemari dan memakainya. Ia pun membuka gorden yang menutupi jendela kamarnya. Tampaklah cahaya matahari yang bersinar dan membuatnya refleks memincingkan mata karena silau.
Setelah beberapa hari, baru kali ini lagi ia membuka gorden dan jendela untuk membiarkan udara segar masuk ke kamarnya. Biasanya ruangan ini selalu tertutup dan hanya mengandalkan cahaya lampu untuk meneranginya. Tapi kali ini semua berbeda. Lebih terang dan cerah.
Setelah merasa penampilannya lebih rapi, Devan segera turun. Bella yang mendengar suara langkah kaki Devan pun segera berbalik.
“Hay! Sorry, dapurnya berantakan.” Ujar Bella yang tampak terkejut.
"Udah baikan?" Bella masih memperhatikan Devan yang berjalan mendekat.
Gadis itu masih berpiyama, dengan celemek kebesaran yang menutupi tubuhnya. Di tangannya ia mengenakan sarung tangan memasak seraya memegang sendok sup. Entah apa yang sedang di lakukannya. Memasakkah?
“It's okey. Gue udah baikan.” Sahut Devan seraya tersenyum. Ia mendekat pada Bella untuk mencari tahu apa yang sedang gadis itu lakukan.
“Lo duduk aja. Gue selesai sebentar lagi. Oh iya, itu minum lo. Minum yang banyak supaya gak dehidrasi.” Bella menunjuk gelas berisi air yang ia siapkan di atas meja berbentuk mini bar.
Devan duduk di sana dengan tenang. “Thanks.” Ujarnya seraya meraih gelas itu dan meneguknya.
“My Pleasure.” Sahut Bella yang melanjutkan pekerjaannya.
Dari tempatnya, Devan masih memandangi Bella yang sedang memasak. Entah apa yang di buatnya hingga membuat dapur berantakan, benda-benda berjatuhan dan pintu kitchen set yang terbuka lebar. Beruntung tubuhnya tidak terlalu tinggi sehingga jaraknya dengan pintu kitchen set cukup jauh.Benar kata Saras, Bella tidak pandai dengan pekerjaan di dapur tapi ia masih saja berusaha.
“Okey, selesai. Sekarang udah gak kekentelan.” Gumamnya seraya melepas sarung tangan memasak.
Ia juga melepas handsfree dan memasukkannya ke dalam saku piyama. Diambilnya mangkuk yang sudah ia siapkan dan membubuhkan beberapa sendok sup makanan yang ternyata berisi bubur.
Rupanya ia membuat bubur untuk Devan.
Devan jadi tersenyum sendiri melihat usaha Bella. Ia berusaha sangat keras padahal ini tentu cukup sulit untuknya.
“Jeng jeng!!!” Serunya saat ia menunjukkan makanannya selesai di masak dan telah di tata dengan cantik di atas nampan. Ia tersenyum dengan cerah membuat Devan ikut tersenyum. Hari ini terasa begitu berbeda di banding hari-hari sebelumnya.
“Lo sarapan dulu ya… Habisin, biar tenaga lo cepet pulih.” Bella menaruh makanan itu di hadapan Devan.
“Thanks Bell.” Sahut Devan seraya memandangi bubur buatan Bella yang tertata cantik di atas nampan. Ia sampai tidak tega untuk memakannya.
“Sama-sama..” Timpal Bella yang masih memandangi Devan.
Devan mengambil sendoknya dan menyendok satu sendok bubur.
“Gimana rasanya?” Bella menunggu dengan tidak sabar di hadapan Devan. Ia bahkan menopang dagunya dengan tangan kanan, sabar menanti komentar Devan.
“Enak.” Ungkap Devan dengan sesungguhnya.
“Yes! Berhasil.” Bella berseru senang.
Terlihat jelas wajahnya yang puas karena berhasil membuat makanan ini walau sudah membuat dapur Devan berantakan.
“Oh iya, gue belum ukur suhu lo.” Tanpa Devan duga, dengan cepat Bella mendekat.
Ia menangkup wajah Devan dengan kedua tangannya seraya menatap wajah Devan dengan dahi mengernyit. Devan bisa melihat wajah Bella dengan sangat dekat. Lingkar matanya yang hitam, bibirnya merah mudanya yang kering dan beberapa helai anak rambut yang basah bercampur keringat. Juga matanya yang bulat menatapnya dengan hangat.
Sedetik kemudian waktu seperti berhenti bagi Devan. Hanya jantungnya yang kemudian berdetak keras dan cepat. Darahnya berdesiran dengan cepat membuat sekujur tubuhnya menghangat dan bulu kuduknya meremang hanya karena Bella menangkup wajahnya.
“Hey, gue bisa pingsan lagi.” Batin Devan dengan nafas tertahan.
“Udah adem.” Lirih Bella yang segera melepaskan tangkupan tangannya. Ia menarik tubuhnya menjauh dari Devan yang masih mematung.
“Semalem lo demam tinggi, sampe 40,2. Untungnya lo bisa nelen obat, jadi lo gak terus-terusan demam.” Tutur Bella seraya membereskan sedikit demi sedikit dapur Devan yang berantakan.
Mendapati Devan yang hanya terdiam, akhirnya Bella berbalik. Ia melihat Devan hanya memandanginya dengan sendok tergantung di tangannya.
“Rasanya ada yang kurang…” Gumamnya, serius berpikir.
“Oh iyaa, kecap! Kenapa gue bisa lupa ya?!” Bella berceloteh sendiri. Ia mengambil kursi kecil di dekatnya. Naik ke atasnya untuk mengecek kitchen set dan mencari keberadaan kecap. Devan sampai kaget melihat tingkah Bella yang serampangan naik turun bangku dengan cepat.
“Bell,..” Panggil Devan.
“Wait Van, gue nyari dulu kecap. Pantesan tadi ada yang kurang, ternyata gue lupa kecapnya.” Bella terkekeh sendiri dengan kebodohannya.
“Nah ketemu!” Serunya dengan girang.
Devan tidak merespon apapun. Ia hanya memandangi Bella dengan perasaan tidak menentu. Jantungnya tidak henti berdetak kencang hanya karena melihat Bella tersenyum karena berhasil menemukan kecap.
“Bell,,,” Lagi Devan memanggilnya.
“Yups! Okey, ini kecapnya.” Bella menaruh kecap di hadapan Devan.
“Menurut gue ini sedikit asin, sengaja sih karena pasti lidah lo pait. Tapi kalau udah di kasih kecap, hmmmmm…. Rasanya must be better. Coba deh!” Terang Bella yang kembali berdiri di hadapan Devan seraya membungkuk menopang dagunya di atas meja menunggu Devan melakukan apa yang ia sarankan.
Devan hanya tersenyum kelu. Laki-laki itu tidak lantas mengambil kecapnya dan malah memandangi Bella.
“What? Lo gak percaya kalau rasanya akan lebih enak?” Bella kembali bertanya.
Devan hanya menggeleng. Ia mengaduk buburnya dengan sendok.
“Bell,..” Lagi ia menyebut nama Bella.
“Yups! Lo mau ngomong apa? Ada yang kurang?” Bella semakin lekat menatap Devan. Entah apa yang diinginkan laki-laki ini.
Sejurus kemudian Devan membalas tatap Bella dengan lekat. Terlihat jelas ia sedang mengumpulkan keberaniannya.
“Nikah yuk.” Ujarnya tiba-tiba namun penuh keyakinan.
Bibir Bella yang semula tersenyumpun kini pudar. Ia menegakkan tubuhnya dan sedikit menjauh dari Devan.
“Hahahaha... Pagi-pagi udah becanda aja lo. Candaan lo gak lucu Van.” Ujarnya seraya tersenyum kelu. Ia melepas celemek yang di pakainya dan menaruhnya di atas meja.
Lantas Devan berdiri dan menatap Bella yang memunggunginya.
“Gue gak lagi becanda Bell. Gue ngomong dengan sangat serius dan sangat yakin.” Tegasnya tanpa bisa di tahan. Tangannya sampai mengepal penuh keteguhan.
“Oh ya? Dalam kondisi seperti ini?” Bella berbalik menatap Devan. Terlihat jelas kalau ia sangsi dengan ucapan Devan.
“Lo yakin ngajak gue nikah dalam kondisi seperti ini?” Ia mengulang pertanyaannya seraya menatap Devan penuh rasa heran.
“Ya! Gue ngajak lo nikah dalam kondisi gini. Apa yang salah? Gue ngajak lo nikah karena gue cinta dan sayang sama lo. What's problem?” Devan balik bertanya namun Bella hanya membuang muka dengan senyuman kelu.
“Gue tau mungkin caranya gak romantis. Gak ada bucket bunga, gak ada makan malam romantis. Gak ada kelopak mawar bertaburan dan gak ada lilin berbentuk hati yang menyala mengitari kita. Tapi, saat ini gue sangat yakin dengan perasaan gue. Dan ini yang mau gue utarakan sama lo. So, with all i have, Bell, will you marry me?” Tanya Devan dengan tegas. Ia menatap Bella penuh keyakinan, menunjukkan kalau ia sangat serius.
Keduanya terdiam sejenak. Bella hanya tertunduk sementara Devan masih memandangi Bella yang berdiri jauh darinya. Gadis itu berusaha menjaga jaraknya.
Sedetik kemudian, Bella balas menatap Devan. Ia tersenyum kecil lantas menjawab, “NO! Big NO!.” Jawab Bella tidak kalah tegas.
“Hah, why?” Tanya Devan. Ia sudah sangat yakin kalau Bella memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Ya, karena gue gak bisa!” Tegas Bella seraya mengendikkan bahunya acuh.
Ia menyentuh tengkuknya yang mendadak terasa dingin. Ia tampak berpikir sejenak lalu berusaha tersenyum pada Devan dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Gue gak ngerasain apapun sama lo Van.” Ujarnya dengan suara bergetar.
“Are you serious?” Devan sampai tidak percaya dengan ucapan Bella.
“Of course! I’m so serious!” Tegas Bella dengan yakin. Ia memalingkan wajahnya dari Devan dan sedetik kemudian air matanya menetes.
“Gue tau, lo sangat baik sama gue. Lo bersikap manis sama gue dan lo bikin gue nyaman. But,” Bella menjeda kalimatnya dengan mengusap air matanya.
“Itu gak berarti apa-apa di hati gue.” lagi Bella tersenyum namun air matanya tetap berlinang.
“Gue bahkan gak tau apa yang gue rasain sekarang. Seneng, sedih, terharu, marah, or what?”
“Ya, gue gak ngerasain apa-apa. Terlebih itu cinta. Itu udah gak ada di hati gue Van.” Tegas Bella seraya mencengkram bajunya sendiri.
“Are you sure?” Devan berjalan mendekat menghampiri Bella. Matanya sudah berkaca-kaca melihat Bella yang sepertinya sangat tersiksa dengan pengakuannya sendiri.
Gadis itu perlahan mundur. Ia berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya yang terasa lemah.
“Gue udah hancur Van. Hati dan mental gue udah hancur. Gue bisa tertawa tapi gue gak pernah bisa lagi merasakan bahagia apalagi tersentuh. Dan seperti sekarang, gue nangis tapi gue gak tau perasaan apa yang gue rasain sekarang.”
“And now, you ask me to marry you, ini terlalu konyol. Lo terlalu menakutkan buat gue Van.”
“Karena, karena gue gak tau harus merasa seperti apa? Gue gak tau apa gue bisa merasakan cinta seperti dulu. Apa gue bisa membalas semua yang lo kasih atau apa gue bisa memprioritaskan seseorang orang di hidup gue seperti dulu?”
“No, I doubt that. Gue bener-bener gak yakin.” Suaranya terdengar sangat lemah dan bergetar.
“So, jangan berharap lebih sama gue. Lo gak usah memprioritaskan hidup lo buat seseorang yang hanya menjadikan lo pilihan dengan segala ketidak yakinannya. No, jangan lakukan itu. Gue tau rasanya dan itu menyakitkan Van.” Tegas Bella dengan air mata berurai.
Devan hanya mematung di tempatnya. Entah mengapa air matanya menetes begitu saja mendengar ucapan Bella. Bukan karena penolakannya tapi lebih pada kesulitan yang Bella hadapi saat ini telah membuatnya ikut sakit.
“Please stop. Jangan menangis buat gue. Gue udah capek di kasihani." Suara Bella terdengar bergetar. Ia mendekat pada Devan lantas menatap lekat netra pekat milik laki-laki di hadapannya.
"Don’t ask me anymore, hemh. All done!” Tegas Bella dengan penuh harap.
Devan hanya termangu, menatap mata bening yang kini berubah merah. Bella bukan pembohong yang baik. Devan melihat jelas ketakutan dan rasa tertaut yang bercampur menjadi satu untuk kemudian ia tahan.
Tanpa menunggu lama, ia beranjak dari tempatnya mengambil kunci mobil yang ada di atas meja ruang tamu. Setelah itu ia pergi. Pergi tanpa pernah menoleh lagi pada Devan. Ia begitu yakin kalau semua yang ia lakukan saat ini adalah yang terbaik untuknya dan Devan.
“Bell,…” Lirih Devan dengan tangisnya yang ia coba tahan.
Ia menekan sudut matanya agar tidak lagi menangis, tapi sepertinya sulit. Ia mengguyar rambutnya kasarnya lantas menengadahkan wajahnya menatap langit-langit luas yang tiba-tiba terasa sempit. Kondisi Bella menjadi pukulan menohok baginya. Gadis yang ia cintai ternyata masih menyimpan traumanya. Sangat trauma untuk menjalani sebuah hubungan yang bukan main-main.
Dan kini, apa yang harus ia lakukan?
Menyerah saja kah?
*****