
"Tak tok tak tok."
Suara steleto terdengar jelas dari langkah kaki ringan nan cepat seorang gadis yang berjalan menyusuri sebuah lorong menuju ruangan direktur utama. Beberapa orang menatapnya aneh namun ia mengabaikannya begitu saja.
Adalah Inka yang berjalan tergesa-gesa tanpa ada keraguan saat menuju ruangan Andra, sang penerus kerajaan bisnis keluarga Wibisono. Di tangannya ia membawa sebuah amplop coklat yang berisi surat pembelian saham dan surat berharga lainnya yang Wibisono wariskan pada Inka.
Sesuai keputusannya semalam, ia sudah yakin untuk mengembalikan semua pemberian sang ayah pada sang kakak.
Benar yang Ozi katakan bahwa memegang surat berharga ini di tangannya, malah membuat Inka semakin tidak tenang. Hampir setiap malam ia mendapat teror dari Andra yang tidak pernah rela kalau Inka mendapatkan bagian dari harta kekayaan ayah mereka, sekecil apapun itu.
Dan hari ini Inka memutuskan untuk mengembalikan semuanya pada Andra. Ia sudah snagat yakin dan memegang penuh janti Ozi bahwa ia tidak akan sampai kelaparan setelah menikah dengan Ozi seklipun ia tidak mewarisi harta kekayaan Wibisono.
Keputusannya sudah bulat, lebih baik mendapatkan segala sesuatu hasil kerja kerasnya walau sedikit dibanding hasil pemberian tapi malah menimbulkan sengketa.
"Selamat pagi Nona muda." Sapaan seorang laki-laki setengah baya menjeda langkah Inka.
Sosok laki-laki yang tidak asing ini merupakan orang kepercayaan Wibisono yang beralih menjadi kaki tangan Andra.
Ia berdiri tepat di depan ruangan sang direktur utama.
"Selamat pagi. Maaf, aku mau bertemu kak Andra." Pinta Inka seraya menunjukkan amplop di tangannya.
"Mohon maaf nona, tuan muda sedang ada janji temu dengan kliennya. Kemungkinan baru akan kembali sore ini. Apa nona bersedia untuk datang kembali sore nanti?" Tawar laki-laki itu, tanpa berani menatap Inka.
Inka hanya menghembuskan nafasnya kasar. Padahal ia sangat ingin bertemu dengan sang kakak sekarang tapi sepertinya ia harus menunda keinginannya untuk menyelesaikan masalah ini.
Sejujurnya, ia sudah lelah dengan semua masalah harta kekayaan peninggalan sang ayah. Ia tidak mau terus menerus di terror dan di cap sebagai wanita yang suka merayu seperti sang ibu, yang ia sendiri bahkan tidak kenal seperti apa sosoknya.
“Kalau begitu, tolong berikan ini pada kak Andra. Sampaikan padanya, kalau tidak perlu memikirkan keberadaanku lagi, karena aku tidak akan pernah mengganggu hidupnya bersama kak Arfan dan kak Afnan. Aku mengembalikan semua yang dia rasa adalah miliknya.” Inka menyodorkan amplop coklat itu pada laki-laki bernama Nugroho itu.
Nugroho hanya memandangi amplop yang terulur padanya. Ia mengenali benar amplop itu, karena ia sendiri yang menyiapkannya saat Wibisono memintanya.
“Nona, sebaiknya anda memberikannya langsung pada tuan muda. Anda mungkin perlu berbicara dengan beliau.” Tolak Nugroho dengan halus. Bagaimana pun kakak beradik ini harus berbicara dari hati ke hati walau pasti sangat sulit.
“Tidak perlu. Sampaikan saja kalau aku akan menikah dan aku tidak akan merepotkannya lagi.” Tegas Inka, kukuh memberikan amplop itu pada Nugroho.
Nugroho memandangi sebentar wajah Inka yang terlihat menyimpan kemarahan. Ia bisa menduga kalau Inka sudah sangat lelah berhubungan dengan sang kakak yang selalu merendahkan dan menghinanya.
“Nona, ini hak anda. Secara hukum warispun, anda berhak mendapatkan apa yang sudah Wibisono berikan. Bahkan lebih banyak dari yang ada di amplop itu.” Nugroho berusaha mengulur waktu, ia ingin Inka merubah pemikirannya.
“Papah sudah tidak ada. Bisakah kamu berhenti mengaturku dan menuruti saja permintaanku? Atau akupun sudah tidak punya hak untuk memerintahmu dan meminta pertolongan kecil seperti ini?” Sinis Inka dengan tidak suka.
“Mohon maafkan saya Nona, saya tidak bermaksud seperti itu.” Nugroho tertunduk penuh sesal.
“Kalau begitu, jangan mempersulitku. Turuti saja permintaan kecilku ini.” Tegas Inka dengan penuh keyakinan.
Sepertinya Nugroho tidak bisa lagi menolak. Walau ia tahu kalau segala sesuatu yang ada di amplop itu adalah hak Inka, tapi nona mudanya terlihat sudah tidak memiliki keinginan untuk memegang wasiat itu lagi.
“Baik nona.” Terpaksa Ia mengambil alih Amplop yang disodorkan Inka.
“Maafkan saya tuan.” Batin Nugroho penuh sesal.
Sayang sekali ia tidak bisa memenuhi amanat Wibisono untuk memastikan Inka hidup dnegan layak setelah kepergiannya.
*****
Di tempat berbeda, Bella dan Devan masih berada di dalam mobil. Mereka masih menunggu-nunggu jarum jam di jam tangannya menunjukkan waktu tepat pukul 10.
Sekitar 15 menit lagi hingga jam 10 pagi itu tiba tapi rasanya sangat lama. Bella bisa melihat Devan yang begitu gelisah dan tidak henti memandangi pintu gerbang Lembaga Pemasyarakatan yang belum juga terbuka dan menampakan sosok sang ayah yang keluar dari sana.
“Mas, apa gak sebaiknya kita turun aja? Kita tunggu di tempat tunggu itu.” Tunjuk Bella pada sebuah tenda payung dengan sebuah bangku panjang sebagai tempat menunggu.
“Apa kita bisa melihat papah keluar kalau kita menunggu di sana?” Tanya Devan yang tampak gugup. Tangannya mencengkram stir dengan kuat hingga stir di tangannya basah karena keringat dingin.
“Iya, akan cukup jelas. Dan tentunya lebih dekat kalau kita menunggu papah di sana.” Terang Bella seraya menempatkan tangannya di atas tangan Devan yang berkeringat. Ia ingin mengingatkan pada suaminya, kalau ia tidak sendiri.
“Baiklah.” Akhirnya Devan setuju.
Susah payah ia mengumpulkan keberaniannya, keberanian dan kesiapan menghadapi kenyataan kalau Amri mungkin tidak mengenalinya dan tidak mau bertemu dengannya seperti selama ini.
Devan dan Bella turun dari mobil. Dalam perjalanan menuju ke tenda payung itu, Bella tidak pernah melepaskan menggenggam tangan sang suami. Ia melihat jelas ketakutan Devan yang tidak bisa Bella bayangkan, sebesar apa ketakutan itu sendiri.
Mereka sudah duduk di bawah tenda. Bella masih memperhatikan ke arah pintu gerbang, sementara Devan tertunduk seraya menopang kepalanya dengan dua tangan yang tertumpu saling menggenggam. Matanya terpejam, bersiap menghadapi detik-detik ia akan bertemu dengan sang ayah.
Seperti apa wajah sang ayah sekarang? Apa masih gagah dan rapi dengan rambut klimis yang menjadi ciri khasnya? Atau sudah tua renta terkikis waktu dan rasa penyesalan?
“Krieettt…” Suara pintu besi berderit begitu jelas terdengar.
Devan sontak menoleh ke arah sumber suara. Suara itu berasal dari pintu Lembaga pemasyarakatan yang kini terbuka lebar.
Di balik bias cahaya matahari yang menyilaukan mata Devan, terlihat bayangan seorang laki-laki yang berjalan dengan terpincang-pincang. Celingukan melihat entah kemana dengan perasaan yang begitu asing. Ia menghirup udara bebas yang selama 15 tahun ini tidak ditemukannya.
Devan segera berdiri dan di susul Bella. Untuk beberapa saat, jantung Devan seperti berhenti berdetak, hembusan angin tidak lagi ia rasakan. Yang terdengar hanya suara langkah laki-laki itu yang semakin mendekat dengan wajahnya yang kebingungan tanpa tujuan.
Devan tidak kuasa menahan perasaannya. Ia mengenal jelas wajah laki-laki yang sudah tdak muda lagi itu. Rambutnya sudah memutih dengan postur tubuhnya yang kurus tinggi hingga terkesan membungkuk.
“Papah,” Suara Devan terdengar lirih dengan tangisnya yang tiba-tiba pecah.
Ia sangat ingin berlari pada laki-laki itu tapi kakinya seperti terpaku, tidak bisa di gerakkan.
Langkah kaki laki-laki itupun terhenti saat melihat sosok pria gagah yang berdiri dihadapannya dengan tatapan yang entah. Kedua mata bulat yang persis milik sang istri, kini menatapnya dengan mata merah dan basah. Amri mengenal benar pahatan wajah yang diwariskan oleh istri tercintanya pada sang anak.
Ia menyadari, sudah pasti itu Devan. Anak tunggal yang terpaksa ia tinggalkan selama belasan tahun karena harus menjalani masa hukumannya.
Dua pasang mata yang saling mengenal itu kini saling bertatapan. Ada rasa harus dan sedih yang datang di waktu bersamaan dan dirasakan oleh keduanya.
Dari tempatnya, Amri kembali melanjutkan langkahnya. Namun, bukannya menghampiri Devan, laki-laki itu malah berbelok. Bersamaan dengan memalingkah wajahnya ia berjalan ke arah lain, bukan ke arah putra yang sedang menunggunya. Ia berjalan dengan perasaannya yang hancur karena tidak cukup keberanian untuk menemui Devan.
Apa yang akan ia katakan nanti? Maaf? Apakah cukup? Pikiran itu yang kini terlintas di benak Amri.
“Pah,…” Suara Devan nyaris tidak terdengar. Dadanya begitu sesak melihat laki-laki itu pergi begitu saja dari hadapannya padahal ia sudah menunggu kesempatan untuk bisa memeluk sang ayah dengan erat.
Apakah masih sebesar itu penyesalan dan rasa bersalah Amri hingga belum berani menemui Devan?
*****