
“Plak!!”
“Plak!!”
“Plakk!!!”
“Brug!”
Tamparan bertubi-tubi di terima Jihan hingga ia jatuh terhuyung di lantai. Setelah Bella, sekarang Wijaya yang melayangkan tangannya pada Jihan.
Jihan menahan tangisnya dalam hati sambil memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Ternyata, tamparan Wijaya jauh lebih menyakitkan di banding tamparan Bella. Tidak hanya melukai wajahnya tapi juga hatinya.
Perlu kalian tahu, ini adalah pertama kali Wijaya menampar putri yang sangat ia sayangi dan banggakan. Kemarahannya memuncak setelah ia menerima berkas tuntutan yang dilayangkan pihak Devan dan Amara, surat pemutusan kontrak serta surat panggilan dari kepolisian.
Pengacara Nadine pun menghubungi Wijaya untuk membawa Jihan datang sebagai saksi yang kemungkinan akan berbuntut sebagai tersangka.
Wajah Wijaya merah padam dengan mata membola seperti ingin menelan putrinya sendiri.
Hati ayah mana yang tidak kecewa saat tahu bahwa putri semata wayang yang menjadi kebanggannya sekarang malah melakukan hal-hal di luar batas. Ia tidak menyangka kalau seorang anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang dan etika yang terpuji, ternyata malah menjadi seorang wanita yang tega menghancurkan hidup orang lain.
“Apa kamu memang sebrengsek ini di belakang saya?!” Teriak Wijaya sambil melemparkan berkas tuntutan yang menjadi beberapa bukti kejahatan Jihan yang ia terima dari orang kepercayaannya.
“Apa serendah ini harga diri kamu, hah?”
“JAWAB SAYA!!!!!” Teriak Wijaya yang berteriak tepat di depan wajah Jihan. Ia mencengkram dagu Jihan dengan kuat membuat leher jenjang wanita cantik itu terangkat memanjang dengan paksa.
“Pa-Papah…” Jihan terengah di antara tangisnya. Otot di lehernya bergerak baik turun saat ia menelan salivanya kasar-kasar.
“Sa-kit.” Ia meraih tangan Wijaya yang mencengkram dagunya terlampau kuat. Tapi Wijaya urung melepaskannya.
“Sakit kamu bilang?” Wijaya menyeringai dengan mata membulat menatap putrinya.
“SAKIT MANA DENGAN YANG KAMU LAKUKAN PADA ORANG-ORANG ITU, HAH?!” Lagi Wijaya berteriak pada Jihan sambil mengguncang-guncang dagu putrinya.
Rambut Jihan yang tersisir rapi sekarang sudah berantakan dan menutupi wajahnya. Hanya mata sebelah kirinya yang masih sedikit terlihat merah dan basah.
“Kamu tau Jihan, hati saya hancur melihat bukti-bukti yang menunjukkan kejahatan kamu. Kamu melakukan penganiayaan pada seorang wanita hamil padahal kamu tau sendiri, mamahmu meninggal karena gagal berjuang saat melahirkan kamu.”
“Kamu juga memerintahkan orang untuk memukuli seorang ayah, padahal kamu tau bagaimana sulitnya saya menghadapi banyak hal seorang diri.”
“Dan kamu, merusak kepercayaan orang lain terhadap perusahaan kita, terhadap kinerja kita padahal saya membangun semua ini dari nol. Dengan susah payah, dengan keringat dan air mata bahkan dengan ejekan yang harus saya terima dari banyak orang.”
“Apa kamu lupa semua itu, hah?” Kali ini Wijaya menatap Jihan dengan sendu. Matanya ikut memerah dan basah.
Besarnya kekecewaan Wijaya benar-benar tidak bisa di utarakan hingga nafas lak-laki itupun terdengar berat dan sesak.
“Maaf, pah…” Suara lirih Jihan begitu mengganggu bagi Wijaya.
Wijaya melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar. Lantas berdiri tegak seraya meninjukan kepalan tangannya ke atas meja dengan sangat keras hingga Jihan terhenyak.
Kekecewaannya terlampau besar dan ia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Jihan dari jerat hukum.
“Kamu bisa memilih pengacara sendiri untuk membela kamu tapi saya, tidak akan membiarkan kamu mengelak dari konsekuensi hukum yang harus kamu terima. Saya beri kamu kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan jangan membuat saya malu lagi.” Tegas Wijaya tanpa memandang wajah putrinya sedikitpun.
Ia memilih pergi meninggalkan Jihan yang menangis di tempatnya. Wijaya berpindah ke ruang kerjanya dan terduduk di kursi besarnya lalu menuangkan segelas anggur untuk menemaninya menghabiskan waktu. Ia memainkan gelas di tangannya, membiarkan minuman berwarna merah itu bergelombang saling beradu satu sama lain di dalam gelas.
“Maaf, karena saya gagal mendidik putri kita.” Ucapnya lirih.
“Segala kehormatan yang saya bekalkan untuk putri kita, ternyata tidak bisa membuat dia menjadi manusia yang bermartabat.” Lanjut Wijaya sekali lalu meneguk minumannya hingga tandas. Ia mengerang saat rasa pahit itu mengisi rongga mulutnya.
Dengan pikiran yang kacau, Wijaya memandangi foto ia bersama istrinya puluhan tahun lalu. Ia tersenyum kelu dengan air mata yang menetes di sudut matanya. Ia terisak sambil menekan sudut matanya dengan kuat. Sungguh hatinya sangat hancur.
Sementara di tempatnya, Jihan hanya bisa terduduk lesu. Ia memilih membaringkan tubuhnya di atas lantai marmer. Pantulan wajahnya jelas terlhat dari permukaan lantai yang bersih dan licin. Gadis itu hanya bisa menangis. Bukan menyesali apa yang ia lakukan pada Devan dan teman-temannya melainkan menangisi kekecewaan Wijaya terhadapnya.
Akh, dunianya terasa seperti hancur.
*****
Di tengah perjalanan pulang, ponsel Devan berdering.
“Perlu aku bantu jawab?” Bella yang sigap saat melihat nama pemanggil yang muncul di layar ponsel Devan adalah nama Diego.
“Tolong sambungin Bluetooth-nya ke speaker mobil.” Timpal Devan.
“Okey.” Bella langsung menurut. Rupanya Mr safety drive ini mulai beradaptasi dengan kemajuan zaman.
“Ya Diego?” Sapa Devan saat panggilan terhubung. (Berbicara dalam Bahasa Inggris.)
“Bro, kabar terbaru!” Seru Diego dengan antusias.
“Kabar terbaru apa?” Devan ikut penasaran dengan ucapan Diego.
“Tuan Alwi menghapus semua berita tentang ayahmu di semua kanal beritanya. Semua postingan di internet bahkan sudah di banned. Wow! Ini manipulasi media terhebat yang pernah aku lihat!” Diego malah kagum dengan dengan apa yang dilihatnya.
“Wah terima kasih banyak bro! Ini juga berkat usahamu juga.”
Rasanya Devan ingin melonjak saking girangnya. Ia meraih tangan Bella yang ada di sampingnya lalu merre.masnya dengan semangat. Adrenalinnya melonjak tinggi. Di kecupnya tangan Bella beberapa kali dengan gemas dan penuh haru. Ia tidak memungkiri kemungkinan pandangan Alwi berubah karena berbcara dengan Bella.
“Tentu. Aku senang mendengarnya. Mulai sekarang, hiduplah dengan normal bersama wanitamu dan keluargamu. Kamu sekarang tidak sendirian lagi bukan. Buat kesebelasan seperti yang kamu impikan. Hahahaha….” Tawa Diego membuat Devan menoleh Bella. Bella segera memalingkan wajahnya dari Devan sambil menahan senyum. Ia geli sendiri mendengar ucapan Diego.
Bayangkan saja, seperti apa itu kesebelasan?
Sayangnya ekspresi Bella terlihat jelas di pantulan kaca jendela, membuat Devan gemas saja.
“Aku mengingatnya bro, sampai jumpa. Nanti aku hubungi lagi.” Timpal Devan dengan cepat. Ia mematikan sambungan teleponnya dengan Diego.
“Mas,...” Bella terhenyak kaget dengan apa yang dilakukan Devan, hingga ia menubruk lengan kokoh suaminya.
“Kenapa?” Tanya Devan saat melihat wajah Bella yang merona dengan cepat. Ia menggenggam tangan Bella dengan erat.
“Gak apa-apa. Kaget aja tiba-tiba mas narik aku. Terus ini ngapain kita di pinggir jalan begini?” Bella melihat sekitaran jalan yang sepi dan gelap. Hanya lampu mobil yang menerangi jalan dalam jarak satu meter ke depan.
“Ceklek.” Devan mematikan lampu mobil dan membuat semuanya gelap.
“Aku mau merayakan sebuah pencapaian.” Ucapnya sambil mengecupi tangan Bella.
“Pencapaian apa?” Bella jadi penasaran.
“Pencapaian karena berhasil berduaan sama kamu.” Devan mencolek hidung Bella dengan gemas.
“Isshh, mas apaan sih. Masa berduaan di bilang pencapaian. Dari kemaren kan kita emang berduaan terus.” Bella mengenyitkan dahinya tidak mengerti.
Devan tersenyum kecil melihat ekspresi istrinya. Ia membawa Bella kedalam pelukannya.
“Berduaan yang sebenarnya dong. Bukan cuma sebatas fisik kita aja yang berduaan. Tapi, pikiran kita juga hanya memikirkan satu sama lain. Hem?”
Satu kecupan di daratkan Devan di dahi Bella. Cukup lama dan begitu di resapi.
Bella bisa merasakan kebahagiaan yang coba Devan alirkan kepada dirinya. Ia mendongakkan kepalanya setelah Devan melepaskan kecupannya. Ia menatap lekat sepasang mata tajam yang menatapnya hangat.
“Walaupun banyak hal di sekitar kita tapi, memikirkan kebersamaan kita berdua selalu menjadi prioritas di pikiran aku.” Ucap Bella seraya menangkup kedua sisi wajah suaminya yang mulai kasar di tumbuhi rambut-rambut halus.
“Terima kasih. Aku sempat takut kalau genggaman tangan kita akan terlepas satu sama lain.” Ucap Devan seraya mentautkan jemarinya dengan jemari Bella. Ia menempatkan dahinya di atas dahi Bella membuat ia bisa melihat sepasang netra bening itu menatapnya penuh cinta.
Ia tersenyum saat hembusan nafas Bella yang sempat tertahan kini menghangat di wajahnya.
“Tapi kamu selalu meyakinkan aku, kalau kamu ada buat aku Bell,…” Imbuh Devan.
“Hem, I feel so,…” timpal Bella. Bella memejamkan matanya beberapa saat, merasakan debaran halus yang mengisi rongga dadanya. Ia akui, ia selalu berusaha menjadi orang pertama yang Devan butuhkan seperti halnya Devan yang selalu ada untuknya dalam kondisi apapun.
Saat membuka matanya, Bella mengecup bibir Devan dengan lembut. Hanya sepersekian detik saja.
“Kenapa?” Tanya Devan, yang baru akan menikmati sensasi yang Bella mulai.
“Ini di jalan. Kita pulang dulu yuk. Takut ada yang liat.” Bella tersenyum malu sendiri.
“Sebentar aja ya…. Hem?” Sayangnya Devan tidak melepaskannya.
Usaha Bella untuk mencandai suaminya ternyata berbuntut panjang.
Devan mengecup Bella beberapa kali dan memberinya gigitan sensual yang sulit untuk Bella tolak.
“Mas, jangan di sini. Kita pulang dulu aja.” Ucap Bella saat berhasil melepaskan pagutannya. Pikirannya malah jadi tidak tenang.
“Di sini aja, karena kita harus ke rumah sakit.” Timpal Devan.
Tiba-tiba saja Devan mendekat. Lalu menarik tuas jok Bella hingga jok itu terlentang. Ia mendekat pada Bella, melanjutkan kecupan yang tadi di mulainya.
Satu kecupan, dua kecupan, tiga kecupan dan mereka mulai berpagutan penuh gairah. Bella melingkarkan tangannya di leher Devan sementara Devan semakin buat melum.at bibir Bella. Tangannya menelusur garis leher Bella membuat Bella menggelinjang geli.
Kabin mobil terasa semakin panas. Devan mulai mengecupi leher Bella, menarik kerah bajunya dan meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.
“Mas,…” Bella melenguh terlebih saat Devan mengusap perutnya dengan sensual. Devan tersenyum kecil melihat ekspresi Bella yang begitu menggoda.
Baru akan semakin mendekat tapi, “TET!!!” tanpa sengaja Devan menyikut klakson mobilnya sendiri.
Mereka langsung terhenyak karena kaget.
"Hahahahaha...." Mereka tertawa bersamaan.
“Sepertinya kita kurang pro.” Ucap Devan yang kembali berpindah ke tempat duduknya.
“Ahahahahaha… Iyaa…” Timpal Bella yang tertawa geli.
“Nanti kita lanjutin di rumah aja ya.” Bujuk Devan. Ia menaikkan kembali tuas jok Bella agar terduduk. Sangat terpaksa padahal gairahnya sudah memuncak.
“Iyaa,… Setelah semuanya aman.” Bella mengiyakan.
Devan masih tersenyum kecil, ia merapikan kembali kerah baju Bella yang tadi di tariknya dan mengancingkan beberapa kancing yang terbuka hingga ke dada karena keisengannya.
Sementara Bella memilih merapikan rambutnya yang berantakan karena Devan.
“Udah cukup, cantik.” Puji Devan seraya memandangi wajah Bella.
Lagi ia mengecup bibir dan leher Bella hingga Bella merasakan sensasi berdenyut di perut bawahnya.
“Jangan di terusin Mas. Kan kita mau ke rumah sakit.” Bella terpakai melerai tubuh Devan darinya. Kalau tidak seperti ini, semuanya akan berlanjut.
“Okey, sorry." Akh memang sanga sulit melepaskan diri dari pesona Bella.
"Sekarang kita ke rumah sakit dulu." Devan ikut merapikan dirinya. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca. Beberapa helai rambutnya tampak berantakan.
“Aku bantuin.” Bella mengusap kepala Devan dengan sayang.
“Thank you.” Sahut Devan.
Sayang sekali karena gairah mereka harus berakhir saat ini.
*****