Bella's Script

Bella's Script
Setiap sesal



Seorang laki-laki terlihat berlari mengelilingi taman apartemen di hari selarut itu. Siapa lagi kalau bukan Rangga yang terlihat terengah-engah sedang menghabiskan satu putaran terakhirnya.


Sambil menjajaki jalanan beraspal halus ini, pikirannya terus tertaut pada kejadian hari ini.


Jujur ia sangat lelah hari ini walau tidak ada scene yang berhasil di selesaikannya. Bukan lelah secara fisik, melainkan secara mental dan emosi menghadapi sikap Amara yang begitu kekanakan menurutnya.


“Bego semua emang orang-orang di sini. Gak bisa menghargai sama sekali posisi kita sebagai pemain utama. Nyesel gue ngambil kerjaan ini.” Gerutu Amara setelah berdebat dengan Inka dan stafnya.


Rangga jadi serba salah menghadapi Amara. Di satu sisi, permintaan Amara mungkin terlihat wajar karena Ia merasa sebagai pemain utama wanita di film ini sehingga  meminta banyak hal yang bisa mendukung penampilannya.


Namun di sisi lain ia merasa kecewa melihat sikap Amara yang bisa sekasar itu pada orang lain. Ia bahkan tidak menyangka kalau tangannya bisa dengan ringan terangkat untuk menyakiti orang lain saat keinginannya tidak terpenuhi. Apakah memang seperti ini sikap asli Amara?


“Kamu gak ngedukung banget sih sama aku. Sekalinya komen malah bilang aku kekanakan. Nyebelin!” Dengus Amara siang tadi seraya mendorong tubuhnya menjauh.


Terlihat jelas kekesalan Amara pada Rangga karena merasa tidak di bela.


“Aku minta maaf Ra, aku gak bermaksud gitu. Cuma menurutku kamu jangan terlalu kasar sama crew. Kita juga butuh mereka. Kita bagian dari mereka.” Rangga berusaha menengahi namun ternyata hanya berbuah delikan kasar dari Amara.


Seharian ini pula ia dibuat lelah membujuk Amara yang selalu morang-maring tidak karuan.


“Ra, makan yuk. Kamu mau makan apa?” Tawar Rangga yang berusaha menebus kesalahannya.


“Makan ja sendiri. Gak usah mikirin aku.” Cetus Amara yang langsung memalingkan wajahnya dari Rangga.


Dan seharian itu Rangga di diamkan. Seperti orag bodoh yang bengong dilokasi setelah puas membujuk Amara dan berulang kali membaca script. Sementara Amara, Ia asyik dengan benda pipih di tangannya, bertelepon curhat ke sana kemari hingga video call dengan Jihan dan mengadukan semuanya.


Aaarrgghh Rasanya kepalanya mau pecah kalau mengingat semua tingkah Amara hari ini. Ia tidak terbiasa menghadapi sikap Amara yang meledak-ledak. Sangat jauh berbeda dengan Bella yang selama ini dihadapinya.


Bella, mengapa sosok ini kembali hadir di pikirannya dan membuat ia memperbandingkannya dengan Amara?


Bella yang selalu tenang, bersikap dewasa bahkan saat ia sedang marah. Hal yang tidak ia dapati dari Amara.


“Yang, maaf ya kalau sikap aku kurang menyenangkan hari ini. Aku lagi capek banget ngejar deadline. Tapi aku akan berusaha untuk tidak membuat kamu merasa tidak nyaman. Sorry ya…” Suatu waktu ia mendengar kalimat itu dari Bella saat mereka sedang makan malam.


Bella memang terlihat lebih banyak diam padahal biasanya ia sangat ceria dan cerewet. Tanpa di duga, gadis ini sudah memberikannya penjelasan lebih dulu bahkan meminta maaf tanpa di minta.


Tidak, ini tidak boleh terjadi. Alam bawah sadarnya benar-benar memperbandingkan Amara dan Bella.


Rangga memilih untuk menghentikan langkahnya. Tubuhnya sudah bercucuran keringat dengan hawa panas yang menyeruak dari dalam tubuhnya.


Satu bangku ia tuju. Ia melepaskan hoodie yang menutup kepalanya dan duduk dengan lemah di bangku itu. Ia mengambil air mineral yang sudah ia siapkan lantas meneguknya hingga tandas. Hah, rasanya lega. Dahaganya benar-benar terhapuskan.


Satu hal yang masih belum bisa ia pahami, di saat seperti ini mengapa ia malah mengingat Bella? Mengingat semua sikapnya yang kalau ia pikirkan sekarang, sangat menenangkannya. Tidak banyak effort yang harus ia lakukan untuk berada pada hubungan yang nyaman bersama Bella. Lantas mengapa ia malah memilih untuk berpaling?


Dirogohnya ponsel yang ia simpan di saku celananya. Folder rahasia kembali ia buka. Ia melihat-lihat foto Bella dan videonya. 8 tahun bersama Bella memberinya banyak kenangan manis. Sampai saat ini, ia masih belum bisa menghapus folder yang ia rahasiakan dari Amara.


“Kamu apa kabar Bell?” Gumamnya, bertanya pada foto Bella yang ceria.


Foto yang mereka ambil saat merayakan pergantian tahun, tahun lalu. Bella tersenyum dengan lebar sambil menyuapinya daging yang sudah matang ia bakar. Tapi Rangga menunjukkan wajah yang tidak terlalu antusias. Karena saat itu ia merasa, kalau hal yang mereka lakukan terlalu biasa dan membosankan.


Melewati pergantian tahun bersama-sama, barbeque-an, bercerita tentang hal-hal yang berkesan di tahun sebelumnya dan tentu saja membuat harapan baru. Semua sudah menjadi rutinitas tahunan mereka.


“Make a wish yang… Sambil kita tulis di sini. Semoga harapan kita jadi kenyataan.” Bella memberikan selembar kertas polos yang biasanya mereka tulisi lalu di masukkan ke dalam balon. Balon-balon itu akan mereka terbangkan saat jam 00, dini hari.


Tapi saat ini tidak ada lagi moment-moment manis seperti itu. Bahkan tidak ada yang bertanya, bagaimana kabarnya hari ini di jam-jam ia akan menjelang tidur. Kenapa sangat menyedihkan menurutnya? Apa seperti ini yang dinamakan kesepian?


Sebuah suara langkah kaki terdengar mendekat membuat Rangga dengan segera mengakhiri lamunanya tentang Bella.


“Rupanya lo ada di sini.” Ujar sebuah suara yang tidak lain adalah milik Niko.


Laki-laki itu duduk di samping Rangga dan ikut memandangi nyala pijar lampu taman di hadapan mereka.


“Ada apa lo nyari gue?” Tanya Rangga tanpa memalingkan wajahnya pada Niko.


Niko mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan menunjukkannya pada Rangga. Sebuah kunci.


Rangga jadi memandangi benda berwarna silver di telapak tangan Niko.


“Gue mau ngembaliin ini sama lo.” Ujarnya dengan yakin.


Di raihnya tangan Rangga lalu ia benamkan kunci itu di sana. Hah, ternyata rasanya sangat lega. Seperti ada beban yang kini ia lepaskan.


“Kenapa di kasih ke gue?” Tanya Rangga penasaran.


Niko tersenyum kecil. “Sayang kalau masih ada di tangan gue. Toh gue sama anak-anak udah sepakat buat bubarin band ini dan fokus sama apa yang bisa kami lakukan masing-masing. Lo juga gak usah repot buat bayar sewa bulan depan. Itu udah gak jadi beban lo lagi.” Terang Niko dengan tenang.


Rangga terangguk paham. Sejak mereka pindah tempat berlatih, belum sekalipun mereka berlatih sama-sama. Rangga sibuk dengan pekerjaan yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pikiran pada hal lain, termasuk bermain band. Padahal dulu ini adalah nyawanya. Band adalah segalanya bagi Rangga. Tapi sekarang semuanya harus berakhir seperti ini.


Entah mengapa ia merasa kalau satu per satu hal yang ia miliki benar-benar pergi meninggalkannya. Berpisah dengan mimpinya dan mungkin tidak akan kembali.


“Apa yang mau lo lakuin sekarang?” Rangga bertanya dengan penasaran.


Niko hanya mengendikkan bahunya acuh. “Mungkin ngisi additional player di café-café. Atau hal lain yang menyenangkan.” Ungkapnya dengan santai.


Rangga tidak menimpali. Keduanya sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya, pada akhirnya mereka akan memilih jalan masing-masing yang belum mereka tahu akan dimana berakhir. Entah menyenangkan atau tidak yang jelas setiap pilihan memiliki konsekuensi logis yang harus mereka hadapi, baik siap ataupun tidak.


*****


Rawon, menjadi menu utama makan malam kali ini. Kuah hitam dengan wanginya yang menggoda membuat Bella dan Ozi sudah bersiap dengan sendoknya.


“Makannya pelan-pelan yaa, ini masih panas.” Ucap Saras saat melihat kedua anaknya sibuk mengaduk nasi dengan kuah rawonnya.


“Hemhhh… Enak mah. Masakan mamah memang the best deh!” Ungkap Bella dengan mulut penuh makanan.


“Hahahaha… Habisin ya sayang, besok mamah masak yang lain lagi.” Sahut Saras dengan senang hati.


“Siap! Noh, makan yang banyak bang.” Tidak lupa ia menyikut sang kakak yang duduk di sampingnya.


“Iyaaakk,,, Nih telor asinnya.” Ozi menaruh telur asin yang sudah ia kupas dan menempatkannya di sisi piring Bella,


“Makasih abang sayang…” Dikecupnya pipi Ozi dengan penuh kasih.


“Adekkkk kebiasaan deh!” Ozi mendorong dahi Bella agar menjauh. Alih-alih ungkapan sayang, ini adalah bentuk keisengan Bella untuk menggoda sang kakak yang OCD.


“Hahahahha.. Pipi mulus ini di sponsori oleh kuah rawon mamah Saras.” Ledek Bella saat melihat sang kakak yang langsung melap pipinya dengan tissue.


“Iseng lo!” Dengusnya seraya mencubit cuping hidung Bella,


“Aaakkk, ampuunn… Engap tau!” Bella memukuli tangan Ozi yang mencubitnya dengan gemas.


Melihat tingkah kedua anaknya, Saras jadi tersenyum sendiri. Mereka memang selalu mengisi hari Saras dengan penuh keceriaan.


Timbul pertanyaan dalam benaknya, apakah anak suaminya juga makan selahap ini? Apakah ia seceria ini?


Tiba-tiba saja raut wajah Saras berubah sendu. Ia melirik kursi kosong di sampingnya. Moment seru ini malah terasa kurang lengkap, sekarang.


“Mah, perasaan udah lama ya kita gak makan pepes ikan yang dikasih daun kemangi itu loh.” Ungkap Ozi tiba-tiba.


Saras yang sedang melamun sedikit terhenyak.


“Abang mau?” Tanyanya dengan suara sumbang.


“Jangan di turutin mah. Ini aja belum habis, udah mikirin makanan lain. Nanti rawonnya nangis.” Protes Bella.


“Lah, gue kan cuma nanya.” Sahut Ozi yang membuat Saras kembali tersenyum kecil. Ia mengusap kursi di sampingnya dengan perasaan nelangsa.


“Gak ada nanya-nanya. Ujung-ujungnya lo nyuruh mamah bikinin. Ngerjain orang tua aja lo.” Cetus Bella yang membuat Ozi mengusap wajahnya dengan telapak tangannya yang besar.


Saras kembali tertawa sampai matanya berkaca-kaca dan pecah menjadi bulir air mata. Ia mengusapnya perlahan. Bagaimanapun tidak ada yang boleh melihatnya agar tidak merusak suasana.


Tapi dugaan Saras salah, ia memiliki putra yang sangat peka dan perasa.


Setelah makan malam, Ozi menghampiri Saras di kamarnya. Wanita itu tengah menangis tersedu-sedu sambil memandangi fotonya bersama kedua anaknya dan sang suami. Diusapnya wajah mendiang papah Bella dengan lembut, penuh perasaan.


“Pah,… Mamah kangen.” Ucap Saras dengan air mata berlinang.


Entah sudah berapa lama ia menaruh foto itu terbalik agar tidak melihat wajah Fauzi. Mungkin selama ia belum bisa menerima kemarahannya sendiri.


Ozi mengetuk pintu kamar Saras dan wanita itu cepat-cepat menyembunyikan air matanya.


“Masuk nak.” Tawar Saras.


Dengan langkah pelan Ozi mendekat. Duduk di samping Saras dan memeluk sang ibu dari samping. Tanpa ragu Saras menyandarkan kepalanya pada Ozi lantas ia kembali terisak. Tidak ada lagi yang perlu ia sembunyikan dari Ozi.


“Abang juga kangen sama papah mah.” Ucap Ozi yang ikut memandangi foto di tangan Saras.


Jemari Saras yang mulai keriput tidak berhenti mengusap wajah sang suami yang tersenyum bahagia di foto.


“Abang tau, mamah sempat sangat marah sama papah, saat tau kalau ternyata papah pergi sama wanita lain.” Suara Saras terdengar lirih dan terbata-bata. Ozi semakin mengeratkan pelukannya, mengusap punggung Saras untuk menenangkannya.


“Mamah tidak habis pikir, bagaimana bisa mamah baru tau papah menghianati mamah justru setelah dia pergi. Aahh,,, hati mamah sakit bang.” Saras mengcengkram kuat juntaian kerudung yang menutupi dadanya. Tangisnya semakin keras terdengar.


Ia masih mengingat persis, bagaimana rasanya tersambar petir saat mendengar apa yang Bella katakan tentang sang suami. Perasaan di khianati, di permainkan dan tentu saja perasaan tidak berdaya karena ia bahkan tidak bisa menuntut apapun dari seseorang yang sudah berlalu pergi selama bertahun-tahun lamanya.


“Mah, kita gak pernah tau apa yang dilakukan orang lain di belakang kita, sekalipun dia adalah orang yang kita cintai. Setiap orang selalu punya ruang yang hanya mereka sendiri yang bisa memasukinya. Termasuk papah.” Ozi berbicara dengan hati-hati, ia harus menenangkan Saras dan dirinya sendiri.


“Papah mungkin melakukan kesalahan tapi, papah tidak pernah berhenti mencintai kita mah. Dia tidak mengabaikan kita. Kita ada di prioritasnya. Dan mamah ingat, papah selalu bilang kalau hal terbaik dalam hidupnya adalah dengan memiliki kita. Mamah, abang dan adek.” Imbuh Ozi.


“Lalu bagaimana dengan anak itu? sampai sekarang kita bahkan gak tau dimana keberadaan anak itu. Apa dia baik-baik saja? Siapa yang menjaganya saat dia sakit? Siapa yang menemaninya saat dia sendirian? Siapa yang membantunya saat dia kesulitan? Siapa yang peduli sama dia bang, siapa?” Isak Saras dengan tangisnya yang semakin pecah.


Ozi tidak menjawab. Ia memilih untuk membawa Saras ke dalam pelukannya. Ia bahkan tidak tau dimana anak itu berada. Hanya Bella, ya hanya Bella yang pasti tahu.


Di balik pintu kamar Saras, ada Bella yang berdiri mematung. Kedua tangannya bersidekap, memeluk dirinya sendiri. Karena kekecewaannya yang terlampau besar pada sang papah, membuat ia lupa kalau Saras dan Ozi pun mungkin memiliki perasaan kecewa yang sama atau justru lebih besar.


Dan tentang Ibra, Saras benar, siapa yang menjaganya saat anak itu sakit dan siapa yang menemaninya saat anak itu kesepian?


Apakah uang ia berikan cukup untuk menggantikan dua hal itu?


Bella hanya bisa termenung. Satu sudut hatinya kini meringis. Ia bahkan meminta anak itu menjauh darinya karena merasa Ibra adalah bentuk nyata dari luka yang dibuat oleh sang ayah.


Lalu sekarang, apakah Saras benar-benar peduli pada anak itu? Bagaimana dengan Bella sendiri, apa alasannya memenuhi semua kebutuhan Ibra selama ini? Merasa ini sebuah kewajibankah? Atau kepedulian yang ia coba sembunyikan?


******