
Entah berapa jam hari ini, rasanya sangat panjaaaaaang sekali untuk Bella. Apa masih tetap 24 jam atau ada pengecualian? Kenapa lama sekali hari ini berakhir?
Selesai dengan banyak banyak pekerjaan, ia harus kembali ke ruang rapat dan menyaksikan kemesraan yang di tunjukkan oleh Amara dan Rangga di hadapannya.
“Kamu bisa bersikap professional kan Bell?” pertanyaan Jihan itu yang membuat Bella masih harus menahan dirinya.
Berpura-pura tidak merasakan apapun, berusaha memposisikan Rangga dan Amara sebagai dua orang asing, mengingat mereka hanya sebagai rekan kerja dalam project filmnya, membuat perasaannya tidak menentu.
Hati dan pikirannya terus berdebat. Beberapa kali Bella melakukan kesalahan selama rapat dan memancing rasa canggung di ruangan serta decikan dan senyum sinis dari Jihan dan Amara. Entah sejak kapan mereka mulai satu frekuensi.
Terduduk seperti orang bodoh yang melihat para pemain reading, Bella memutuskan untuk keluar ruang rapat. Tempatnya bukan di sini.
“Mau kemana?” tanya Devan yang khawatir.
Sejak tadi laki-laki ini terus duduk di samping Bella.
“Ke toilet? Lo mau ikut?” sinis Bella setengah berbisik.
Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala lantas kembali fokus dengan script di tangannya.
“Silakan part 2 C.” ujar Indra sang assisten sutradara, meminta Amara untuk memerankan bagian tersebut.
Bella tidak menyimak lebih lanjut. Ia memilih ke toilet, lagi-lagi untuk menghindar.
Hah, hari ini ia benar-benar pengecut.
Berdiri di depan wastafel, seraya memandangi dirinya yang berantakan. Matanya masih sedikit bengkak dan Bella coba massage.
“Lo yakin projectnya bakal bertahan? Kalau gue sih udah ngibrit. Hahahaha…” ujar sebuah suara wanita dari dalam toilet.
Entah mengapa, Bella menjadi sangat peka kalau kalimat itu di tujukan untuknya.
“Ya gue gak tau. Gue cuma harus kerja sesuai tugas gue. Itu aja.” suara sahutan di dengar Bella dan suaranya familiar.
Benar saja, saat pintu toilet terbuka, ia melihat pantulan sosok Rini dari kaca yang di tatapnya.
Rini tampak terkejut, mungkin ia pun tidak menyangka kalau Bella ada di toilet.
“Buruan, gue mau ke ruang rapat lagi.” Ujarnya sambil menggedor toilet temannya.
“Iya bentar!”
“ASTAGA!” seru wanita itu saat membuka pintu dan melihat Bella tengah mencuci mukanya.
Ia melirik Rini dan memberi kode untuk pergi dari tempat ini.
“Gue duluan.” Ujar Rini seraya menarik tangan temannya.
Yang di tarik hanya tersenyum kelu sambil melambaikan tangannya pada Bella.
Bella tidak menghiraukannya. Ia kembali membasuh wajahnya dan merasakan rasa dingin yang masuk ke pori-pori kulitnya. Sejenak ia tertunduk, membiarkan bulir air menetes dari wajahnya.
“Gue gak bisa gini…” lirihnya sambil mengepalkan tangannya dengan kesal.
Ia ingin menangis, tapi tidak bisa menangis. Ingin marah tapi entah pada siapa ia harus marah. Pada orang-orang yang bergunjing di belakangnya? Pada Rangga? Pada Amara? Atau pada dirinya sendiri?
“ARRRGGHH!!!” Bella hanya bisa mengeram dalam hati.
Di pandanginya kembali wajahnya yang sembab di depan cermin. "Jangan begini Bell, ini bukan lo." gumamnya.
Ia menepuk-nepuk wajahnya, mencubit pipinya. Lantas ia mulai membuka mulutnya untuk bersuara.
"HA!"
"HA HA!!"
"HA HA HA!!"
"HA HA HA HA HA!!"
Ia mengeja tawanya beberapa kali untuk merubah mood-nya. Tidak banyak membantu tapi cukup memberi efek.
Dengan cepat ia keluar dari toilet namun langkahnya terhenti saat di pintu toilet ia bertemu dengan Amara.
Gadis itu tersenyum dan berjalan mendekat menghampiri Bella.
“Hay,” sapanya. Ia memperhatikan wajah Bella yang masih basah.
“Akhirnya, mimpi kita kesampaian ya Bell, bisa ada dalam satu project yang sama. Gimana perasaan lo? seneng dong…” ujar Amara tanpa rasa bersalah. Ia mengambil selembar tissue lalu melapkannya dengan lembut ke wajah Bella.
Bella mengibaskannya, membuat tissue itu terjatuh menjadi sampah. Amara hanya tersenyum sinis pada Bella.
Bella tidak menanggapi sedikitpun, ia sudah malas melihat Amara dengan semua tingkah manisnya yang ia lakukan pada Rangga. Mulai dari bersandar di bahu Rangga, menyuapi Rangga, tertawa kecil yang entah menertawakan apa. Semua yang ada di script ia mainkan dengan sempurna dan penuh romansa.
Tapi jujur, itu semua membuat Bella muak.
“Ngomong-ngomong, lo masih bisa kan bersikap professional di kerjaan ini? Bisa kan Bell?” Amara merengek manja, menunjukkan wajah imutnya pada Bella.
Bella hanya memalingkan wajahnya. Tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan bagaimana kesalnya ia pada Amara saat ini.
“Gue sama Rangga juga bisa bersikap professional kok, tapi….” Amara mendekat, persis berada di dekat telinga kanan Bella.
“Gue juga punya kehidupan pribadi yang manis sama Rangga. Lo jangan iri yaaa….” Imbuhnya seraya mengusap wajah Bella.
Terlihat jelas Wanita itu tersenyum manis pada Bella.
"Oh ya? Jadi mimpi lo selama bertahun-tahun tercapai juga ya? Selamat!" Sahut Bella sedikit sinis walau di dadanya ia harus menahan sesak.
Cukup sudah, Bella tidak ingin lagi mengatakan apapun. Ia memilih pergi meninggalkan Amara yang masih tersenyum bahagia karena merasa menang telak dari Bella. Di kibaskannya rambut panjang berwarna coklat itu lantas Amara melanjutkan langkahnya dengan dada membusung.
*****
Perjalanan pulang di lalui dengan hening oleh Bella dan Devan. Sesekali Devan menoleh Bella yang asyik memandang keluar jendela dengan pikiran yang pasti berkecambuk.
Terhenti di lampu merah dan mereka berdiam untuk beberapa saat. Beberapa pedagang asongan hilir mudik bersama para pengamen yang menyanyi di samping jendela setiap mobil. Sudah sepetang ini semangat mereka untuk mencari rejeki ternyata belum juga surut.
Bella merogoh saku celananya. Ada satu lembar uang berwarna biru dan satu lembar berwarna coklat keluar dari sakunya. Ia menurunkan kaca dan memberikan uang berwarna biru itu pada seorang laki-laki tua yang menyanyikan salah satu lagu Ebiet G Ade. Suaranya yang serak dan bergetar memang mengundang iba, namun batasan iba Bella nominalnya tidak kecil.
Devan jadi tertegun melihat apa yang dilakukan wanita di sampingnya. Tidak banyak bicara mengasihani laki-laki tua itu namun ia segera memberikan apa yang ia punya.
Sadar Devan memperhatikannya, Bella segera menaikan kembali kaca jendela setelah pengamen itu pergi.
“Idola lo keliatan jelas dari ini. Cakep banget.” Ujar Bella tiba-tiba. Ia menoleh Devan yang gelagapan karena ke gap terus memandanginya.
“Idola gue?” tanya Devan yang celingukan. Entah siapa yang di maksud Bella.
“Hem, Ralline Syah.” Bella menunjuk sebuah baligo besar yang menampakkan model shampoo itu.
“Cowok memang selektif melihat apa yang mau dia lihat. Pandai menentukan mana yang lebih menarik di matanya.” Imbuhnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Baligo Raline Syah.
“Nggak semuanya. Cantik itu relative, tergantung dari kacamata mana cowok ngeliatnya. Dan yang membuatnya relative adalah rasa syukur.” Timpal Devan sambil mengetuk-ngetukan jarinya di stir, sejak kapan ia menyukai Raline syah? Dan kenapa Bella bisa menyimpulkan demikian.
“Maksud?” tanya Bella, menatap lekat laki-laki di sampingnya.
Devan tidak lantas menjawab, ia memilih untuk melajukan dulu mobilnya sebelum klakson kedua mengingatkannya.
“Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan manusia lainnya, ia akan semakin melihat banyak keindahan dan mulai memperbandingkannya. Itu suatu proses yang alami dan tidak berkesudahan karena akan selalu ada yang lebih dan lebih lagi. Kecuali, lo bersyukur dengan apa yang lo punya saat ini.” Terang Devan dengan serius.
“Jadii menurut lo Raline Syah paling cantik?” Bella mengerucutkan pertanyaannya.
“Cantik, tapi tidak cukup bikin gue bersyukur. Tapi, kenapa lo harus ngebahas dia? Aktris cantik lainnya kan banyak.” Devan jadi penasaran. Berganti ia yang menatap Bella selintas sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.
Bella memilih memalingkan wajahnya dan menggeleng. “Gak cukup bersyukur kok di liatin tiap hari.” Batinnya, sambil memandangi bayangan Devan dari kaca jendela.
Jujur, sejak tadi ia terus memikirkan ucapan beberapa orang di kantor. Ia memperbandingkan dirinya dengan Amara. Amara yang tampak sempurna di mata semua orang. Sementara ia?
Akh, siapa yang gagal paham di sini?
*****