
Pada akhirnya, memang hanya Bella dan Devan yang masuk ke studio 2 untuk menonton aksi Keanu Reeves. Mereka duduk bersisian di barisan kursi yang sudah di pilih. Rupanya David pandai memilih tempat yang tepat agar suasana menonton menjadi nyaman dengan fokus layar yang tepat.
Keduanya tampak kikuk menunggu film mulai di putar. Entah apa yang harus mereka bicarakan untuk mengisi waktu. Kejadian kemarin menjadi alasan keduanya terlihat canggung. Cara Devan yang pergi tiba-tiba membuat Bella bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan laki-laki ini?
Saat lampu teather mulai di padamkan, barulah keduanya bisa menghela nafas lega. Mereka duduk bersandar dan mengatur posisi senyaman mungkin.
“Minuman lo yang ini.” Bisik Bella yang menunjuk minuman di sampingnya.
Laki-laki itu sedikit membungkuk untuk mendekat.
“Gue gak minum soda.” Sahutnya.
“Ini isinya coklat anget.” Timpal Bella.
Devan mengangguk setuju dan kembali duduk bersandar di tempatnya.
Film pun mulai di putar. Diawali dengan banyaknya iklan dari berbagai brand terkenal hingga nama PH pembuat film ini pun tampil di layar. Bella jadi tersenyum sendiri melihat logo rumah produksi yang membuat karya apik ini. Ia selalu bermimpi andai suatu hari ia bisa bekerja di rumah produksi sebesar dan seterkenal itu, tentu akan sangat menyenangkan.
Perlahan lampu teather mulai di padamkan. Suasana berubah sunyi dan gelap.
“Gue ada di sini.” Bisik Devan seraya menyalakan ponselnya. Ia ingat benar kalau Bella sangat takut gelap.
“Gue tau.” Bella menurunkan ponsel Devan agar tidak menyorotinya. Jangan sampai mereka di protes oleh penonton lain.
“Oh iya, Sorry.” Timpalnya yang kemudian mematikan flashlight miliknya dan memasukkannya ke dalam saku.
Aksi aktor asal Kanada ini pun di mulai. Suasana sangat hening karena setting layar malam hari. Sedikit tegang, Bella mengambil minumannya yang ternyata ada tangan Devan di sana.
“Gak usah takut.” Bisik Devan yang segera memegangi tangan Bella. Ia pikir Bella ketakutan hingga mencari pegangan.
“Gue mau ngambil minum.” Protes Bella yang merasakan tangan Devan sangat erat menggenggamnya.
“Oh okey.” Devan segera melepaskan genggamannya berganti memegangi dadanya yang berdebar tidak karuan. Beberapa kali ia menghembuskan nafasnya untuk membuang rasa tegang di hatinya.
Bella hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Devan yang random hari ini.
Film terus di putar dan Bella terlihat serius menonton. Matanya melotot memandangi layar dan sesekali dahinya berkerut. Sementara tangannya tetap mengambil satu per satu butir pop corn dari dalam tempatnya.
Tanpa sengaja Devan meliriknya tepat di saat bias cahaya kekuningan dari layar menyinari wajah Bella. Ia jadi bisa melihat bagaimana ekspresi Bella saat kesal, tegang dan kesal. Gadis ini pun tersenyum saat melihat adegan manis di layar kaca.
Entah mengapa ia jadi lebih betah memandangi Bella dari pada menonton film yang sedang di putar.
Maka selama film di putar, hanya wajah Bella yang ia pandangi dengan perasaan yang tidak karuan. Beberapa kali ia memandangi tangannya yang tadi menggenggam erat tangan Bella. Rasa hangatnya masih terasa dan debaran di jantungnya semakin kuat saja.
Ia jadi tersenyum sendiri sambil mencuri-curi pandang memperhatikan jemari Bella yang lentik. Bisakah ia berpura-pura lagi?
Iseng ia mencobanya, berusaha menggapai tangan Bella yang berada di atas sandaran tangan. Namun saat ia baru akan menyentuhnya, ternyata lampu malah menyala dengan terang.
“Sht!” dengusnya dalam hati. Badannya sampai melorot. Ia menutup wajahnya yang malu sendiri saat melihat layar yang sudah menampilkan credit tittle* yang berarti film selesai di putar. Benarkah pemutarannya selama 2 jam? Mengapa rasanya hanya 10 menit saja?
“Minuman lo gak lo minum?” Tanya Bella yang kini menatap Devan bingung.
“Oh iya, lupa.” Sahutnya dengan wajah tegang. Ia segera menegakkan tubuhnya.
Entah tadi Bella menyadarinya atau tidak kalau ia berusaha menyentuh kembali tangan Bella dan mengulang merasakan sengatan listrik yang terasa menjalar di aliran darahnya, saat mereka bersentuhan.
“Kenapa?” Tanyanya saat ia melirik dan Bella sedang memandangnya. Sedotan minuman masih ada dimulutnya padahal minumannya sudah habis hingga berbunyi “SROOOKKK!!!”
“Udah habis kali. Masih aja lo sedot. Kayak bocah.” Bella hanya menggeleng melihat tingkah Devan. Tidak jelas sekali kelakuannya hari ini.
Ia memilih beranjak lebih dulu karena sebagian besar orang sudah keluar dari ruangan.
“Eh tunggu.” Dengan cepat Devan menahan langkah Bella. Ia memegang lengan Bella dengan kuat.
“Astaga!” Namun dengan cepat juga ia melepaskannya saat merasakan kembali aliran listrik tadi. Waktunya tidak tepat.
“Lo kenapa sih?” Bella jadi bingung melihat tingkah Devan.
“Gak apa-apa. Gue mau ngambil sampah lo. Sini gue buang barengan.” Ia menunjuk bekas minuman yang ada di tangan Bella.
“Nih.” Bella memberikan bekas minuman dan pop corn yang ia bawa.
“Makasih.” Sahut Devan sambil takut-takut membalas tatapan Bella yang tengah keheranan.
“Aneh lo. Di kasih sampah malah bilang makasih.” Cetus Bella yang memilih berjalan lebih dulu.
“Hehehe iya juga yaa..” Gumam Devan yang menahan tawa dalam hati sambil mengikuti langkah Bella di belakangnya. Apa yang membuatnya terlihat bodoh hari ini.
Mereka bersamaan keluar dari teather. Bella celingukan mencari teman-temannya. Tidak ada satupun yang ia kenal di loby bioskop.
“Lo dimana Rin?” Satu pesan ia kirim pada Rini.
“Gue masih di dalem Bell. Marathon nonton film hantu.” Balas gadis itu dengan cepat.
“Bareng yang lain?” Bella jadi penasaran.
“Iyaaa… Kata bang Roni lo duluan aja. Soalnya ada satu film lagi yang mau kita tonton. Kecuali lo mau ikutan nonton, hehehe…” Mereka benar-benar marathon, sampai 3 film yang di tonton.
“Gak usah deh. Gue duluan yaaa… See you on Monday.” Balas Bella.
“Haaallaahh malah ngingetin senin lagi. Ya udah, lo duluan. Hati-hati di jalan.” Bella tersenyum kecil membaca balasan Rini. Entah sejak kapan mereka bisa sedekat ini.
“Mereka masih nonton. Marathon katanya.” Bella menyadarkan laki-laki yang mematung di sampingnya.
“Ohhh..” Devan hanya mengangguk-angguk saja.
“Terus kita mau kemana? Mau pulang aja?”
“Jangan!!” sahut Devan dengan cepat.
“Gue laper.” Timpalnya yang menyelonong pergi lebih dulu. Andai Bella bisa melihat bibirnya yang tersenyum tanpa alasan. Kesampaian juga menghabiskan waktu lebih lama bersama Bella.
Akhirnya mereka berjalan bersisian. Baru kali ini mereka berjalan berdua di mall. Bella menoleh Devan yang berjalan di sampingnya, tinggi sekali laki-laki ini.
"Awas!!!" Tiba-tiba saja Devan menarik tangan Bella hingga menabrak tubuhnya.
Devan bahkan membawa Bella ke pelukannya dan memegangi kepala Bella dengan tangannya yang besar. Bella bisa mencium wangi parfum Devan yang lembut dan maskulin. Wajah tenang Devan berada tepat di atas wajahnya.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Devan sekarang. Nafasnya sampai menggebu dan cepat merasakan Bella berada di rangkulannya dengan jarak sedekat ini.
"Duk!" Scooter itu menghantam kaki Devan dengan pelan.
Seorang ibu menatap dengan aneh dua orang yang berlebihan ini.
"Maaf ya mas, mba... Gak sakit kan kakinya?"
Ibu itu menanyakan kondisi kakinya yang terhantam scooter sang anak yang hampir menabrak Bella.
"Em, enggak bu." Cepat-cepat Devan melepaskan pelukannya.
"Ya sudah saya permisi. Maaf yaaa..." Lanjut ibu tadi seraya beranjak pergi.
Bella dan Devan sama-sama teranguk.
"Lebay banget ya cowoknya, padahal kena scooter doang." Ujar gadis lebih muda yang berjalan bersama ibu tadi. Suara mereka masih terdengar jelas oleh Devan dan Bella.
"Ehh itu namanya sigap. Kakak kamu juga dulu gitu sama mba, waktu awal-awal pacaran. Saking sayangnya sampe gak mau liat mba lecet sedikitpun. Harusnya kamu fotoin tadi, lumayan buat wallpaper di hape." Timpal ibu tadi yang masih di dengar oleh Devan.
"Gak mau. Mending foto aku sama pacarku." Sahut gadis muda itu yang menoleh kembali ke belakang dan terlihat Devan dan Bella membenamkan topinya untuk menutupi wajah mereka dari pandangan orang-orang yang tersenyum ke arah mereka.
Mereka berusaha berjalan seperti biasa walau malunya setengah mati.
“Kenapa?” Devan penasaran kenapa gadis ini memandanginya tanpa berkata apapun. Wajahnya sampai menghangat melihat tatapan lekat Bella.
“Cerita, pemain, kualitas crew, budget film sama promo, mana yang menurut lo ada di urutan pertama?” Tanya Bella tiba-tiba. Entah pertanyaan ini benar-benar ingin Bella tanyakan atau hanya sedang mengalihkan perhatiannya.
Ia memandangi Devan dan menunggu dengan tidak sabar dari laki-laki jangkung ini. Benarkah gadis ini mau membahas tentang Film yang sedang mereka garap di saat seperti ini?
“Gak ada yang urutan pertama.” Sahut Devan singkat. Ia berusaha menguasai dirinya dan perasaannya.
"Kalau lo wajib milih satu, mana yang paling penting?” Bella semakin penasaran.
“Semuanya penting. Karena tanpa salah satunya, usaha lo gak akan ada hasilnya.” Devan menyahuti dengan yakin.
Bella mengangguk-angguk setuju. Asyik dengan pikirannya, ia jadi mengikut saja saat Devan membukakan pintu sebuah resto yang di pilihnya. Pikirannya benar-benar sudah teralihkan.
Mereka duduk di salah satu sudut dekat kaca dan mendapat pencahayaan yang baik.
"Lo tau prinsip peselancar?" Devan melanjutkan obrolan mereka.
"Apa?" Bella memandangi Devan dengan dagu tertopang oleh tangannya.
"Saat mereka akan berselancar, mereka akan memilih pantai yang indah, matahari yang terik dan lautan yang tidak banyak memiliki karang. Karena dengan begitu, mereka akan mendapatkan ombak yang indah dan kemilau air laut yang cantik. Dari semuanya itu, tidak ada yang lebih penting salah satunya. Semuanya sama-sama penting sehingga dia bisa berselancar dengan penuh kebahagiaan." Terang Devan yang membuat Bella terangguk paham.
“Sore kak. Silakan ini menunya.” Seorang waitress menghampiri mereka dan menjeda obrolan keduanya.
“Makasih." Sahut Bella. Keduanya membuka buku menu dan langsung memilih menu yang mereka inginkan.
“Tenderloin steak.” Ujar keduanya bersamaan. Ternyata soal makanan juga mereka kompak. Mereka menoleh satu sama lain untuk beberapa saat.
“Minumnya kak?”
“Saya limun aja. Lo?”
Devan masih memilih minuman. “Orange juice.” Sahutnya.
“Baik kak, di tunggu.” Waitress itu pun pergi.
“Silakan lo lanjut,” Devan menyilakan Bella yang masih asyik berpikir.
“Okey, Gue selalu mikir, kenapa film-film bagus selalu di tunggu-tunggu banget kehadirannya. Apa karena pemainnya atau karena cerita filmnya?"
"Kalau film yang sequel okeh lah ya, karena penonton sebelumnya udah tahu kualitas film tersebut tapi kalau film baru kayak kita, apa lagi dengan pemain baru yang belum begitu terkenal, gimana cara ngambil perhatian penontonnya?” Bella bertanya dengan serius.
“Di promo. Itu titik awal kita, yaitu promosiin film."
"Itu kenapa biasanya film besar udah nyediain teaser jauh sebelum film di rilis. Supaya mancing animo penonton dulu.”
“Gue udah jadwalin ketemu sama editor kita minggu depan. Lo bisa bantu nentuin mau kayak gimana teaser-nya itu di buat.” Terang Devan dengan yakin.
“Okey. Kita juga belum meeting sama tim promotor. Peer kita masih banyak ya Van?” Bella tampak tercenung.
“Iya, tapi kan sedang kita proses. Kita coba evaluasi dulu progress awal kita dulu supaya bisa keliatan peer kita masih segimana lagi.” Jawaban Devan memang selalu menenangkan. Seperti di kepalanya sudah ada perencanaan yang sangat matang.
“Silakan kak.” Waitress datang membawakan makanan pesanan mereka.
Devan mengambil terlebih dahulu makanan Bella. Memotong steak hingga menjadi bagian kecil siap makan. Bella jadi memandangi Devan yang bersikap sangat baik saat ini.
“Ini punya lo.” Setelah selesai ia menaruh kembali piring Bella.
“Thanks Van.” Hanya tinggal menyiramnya dengan blackpapper sauce.
“My pleasure.” Timpal Devan yang mulai menikmati makanannya.
Bella mengunyah dengan nikmat steak di mulutnya, rasanya sangat enak. Dan Devan hanya tersenyum melihat cara makan Bella yang menurutnya lucu. Sambil mengangguk-angguk dan tersenyum. Suasana makan yang menyenangkan menurutnya.
*****