Bella's Script

Bella's Script
Yang menjadi milikmu akan kembali



Weekend kali ini, Bella habiskan seorang diri. Setengah 7 malam, ia keluar dari rumah dengan sebuah taksi online. Ia sengaja membuka jendela lebar-lebar untuk merasakan hawa dingin angin malam yang membelainya.


Jalanan sangat ramai di dominasi pasangan Muda-mudi yang berkencan menambah panjang kemacetan di malam minggu. Walaupun suasana malam ini cukup hectic tapi tidak mengusik kesenangan sepasang muda-mudi yang asyik berpacaran di atas kuda besi yang terhenti di samping Bella.


“Adeeekkk cinta tidak selamanya indah deeekkk!!!” Goda seorang supir truk yang ikut berhenti sejajar dengan mereka.


Bella jadi menoleh mendengar ujaran tersebut.


“Jomblo lo ya?! Sirik, bilang bos!” Sahut remaja perempuan yang mendelik kesal pada supir truk itu.


“Iya dah, lo nikmatin aja masa-masa lo sekarang sebelum kepala lo mumet sama perkara rumah tangga yang kagak ada habisnya. Sosor aja terooosss!!!!” Timpal supir itu yang hanya di acungi jari tengah oleh remaja laki-laki.


Rasanya ingin tertawa mendengar celetukan supir truk itu. Seperti tulisan di belakang truk yang absurb, pemikiran supirnya pun ternyata segokil itu. Cukup menghibur bagi Bella di sela kemacetan yang biasanya membuat stress.


Sepasang remaja itu memilih pergi, sedikit demi sedikit mencari celah untuk lewat di antara kendaraan lain. Rupanya mereka risih dengan tatapan banyak pasang mata di sekitarnya.


Sopir truk itu hanya tertawa melihat tingkah remaja itu sambil berbicara dengan rekannya yang entah membicarakan apa.


Bella jadi ikut tersenyum. Ia mengingat dirinya yang dulupun pernah seperti itu. Saat bersama orang yang kita sayang, dunia terasa milik berdua dan komentar orang lain tidak lah penting untuknya. Ternyata jika di lihat dari kaca mata sekarang, hal itu sangatlah menggelikan.


Sebuah toko buku yang saat ini Bella tuju. Sudah lama ia tidak mengisi kepalanya dengan tulisan berfaedah sebagai referensinya membuat cerita. Buku-buku karya penulis terkenal ia beli, ia perlu menambah kosakata di kepalanya.


Ada buku yang cukup menarik perhatiannya, yaitu buku psikologi terapan. Ia membaca sampul bagian belakang, ringkasan menarik dari buku tersebut beserta biografi singkat tentang penulisnya.


Menarik pikirnya.


Tidak hanya buku itu yang di ambilnya, buku-buku bertema psikologi lainnya ia pilih juga. Ia butuh kata-kata penyemangat di dalamnnya. Lebih dari itu, ia perlu belajar mengenali apa yang psikisnya butuhkan.


“8 buku ya kak?” tanya penjaga toko saat Bella akan membayar.


“Iya.” Sambil menunggu penghitungan Bella memperhatikan seisi toko. Mungkin saja ada buku lain yang menarik untuk ia baca.


“My first love strory,” bibirnya bergumam membaca judul sebuah novel remaja yang terpajang di depan matanya.


Ia jadi tersenyum kecil, bisa ia tebak pasti ceritanya tentang romantisme anak SMA. Masa remaja yang selalu indah untuk di kenang dan sulit di lupakan. Ia salah satu saksi hidup dari cerita remaja yang indah dan pernah di alaminya.


“Tambah yang itu ya mba.” Tunjuk Bella pada novel yang ada di belakang kasir.


“Oh baik kak.” Dengan cekatan gadis muda itu mengambilkan novel untuk Bella.


“Baik totalnya 9 buku ya kak.” Gadis itu menekan tombol entrer setelah selesai menghitung harga semua buku.


“Iya.” Bella melihat nominal yang tercantum di mesin kasir.


Lembaran uang ia berikan pada kasir dan setelah transaksi selesai ia pun pergi.


Hatinya masih bisa menemukan kebahagiaan kecil setelah mendapatkan bahan bacaan yang bisa ia baca saat mengisi waktunya yang senggang. Paling tidak, ia tidak perlu melamun sendirian.


“Pak, es potongnya satu.” Ujar Bella saat melihat gerobak es potong di depan toko buku.


“Mau rasa apa neng? Coklat, strawberry, blueberry atau kacang ijo?” Tawar laki-laki paruh baya itu.


“Kacang ijo.” Sudah lama Bella tidak menikmati es favorit zaman ia sekolah dulu.


Satu potong di terima Bella dan ia segera memberikan uang pada penjualnya.


“Makasih pak.” Ia menikmati es itu sambil berjalan kaki di trotoar.


Hah, rasanya menyenangkan berjalan seperti ini. Ada angin yang segar berhembus di antara hiruk pikuknya jalanan dan penjaja makanan yang menawarkan dagangan mereka.


Satu deringan telepon menjeda langkah Bella.


“Niko Irwandi.” Suara penelpon pun terdengar dari notifikasi ponselnya.


Entah ada perlu apa Niko menghubunginya.


“Ya Ko,” jawab Bella sebelum deringan berakhir.


“Bell, lo lagi di rumah?” tanya Niko dengan cepat.


“Gue lagi di luar. Kenapa Ko?”


“Bisa kita ketemu?”


Beberapa saat Bella termenung, apa ia bisa bertemu seseorang hari ini?


*****


Sebuah café di pilih Bella sebagai tempat untuk bertemu dengan Niko. Laki-laki itu sudah datang lebih dulu dengan tampilannya yang rapi dan wangi parfumnya yang maskulin.


Saat Bella tiba, Niko langsung berdiri menyambut Bella dengan senyumnya yang khas.


“Bell,..” Sapanya sungkan.


“Hay!” Hanya itu sahutan Bella sebelum akhirnya duduk berhadapan dengan Niko.


Bella duduk dengan nyaman, ia merasa kalau Niko sedang memperhatikannya dengan seksama.


“Lo dari toko buku?” Niko melihat goodie bag yang Bella taruh di atas meja.


“Hem, udah lama gue gak ke toko buku.” Sahut Bella dengan tenang.


Mendengar sahutan Bella, Niko hanya tersenyum. Ia memperhatikan wajah Bella yang jauh lebih tirus dan tubuhnya yang kurusan.


“Gimana kabar lo Bell?” Tanyanya dengan sedih. Bisa terlihat mata Niko yang menyimpan kecemasan saat bertanya kabar Bella.


“Baik! Seperti yang lo liat.” Sahut Bella dengan wajah seceria mungkin.


Niko hanya tersenyum lantas menunduk. Tentu saja Bella baik-baik saja walau tidak benar-benar baik-baik saja.


“Thanks Ko.” Bella balas menjabat tangan Niko.


Cukup erat mereka berjabatan tangan dan Niko seperti enggan melepasnya. Ia menatap Bella dengan lekat seraya tersenyum kecil.


“Gue bangga sama lo Bell. Gue gak sabar buat duduk, menyaksikan gala premier film lo nantinya.” Ungkap Niko tanpa niatan melepaskan genggaman tangannya.


“Makasih Ko. Nanti gue undang yaa…” Bella berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Niko.


“Oh, sorry.” Sepertinya Niko tersadar kalau tangannya terlalu erat menggengam Bella. Genggaman tangan mereka pun terlepas.


“Ada apa lo ngajak ketemuan?” Bella langsung bertanya.


Malam minggu begini biasanya Niko dan teman-temannya pergi clubbing. Tapi kali ini pakaiannya malah terlampau rapi, tidak seperti Niko yang biasanya.


“Em…” Niko tampak berpikir.


Ia mengambil sebuah paperbag di belakang tubuhnya. Menaruhnya di atas meja.


“Gue mau minta maaf sama lo sekaligus berterima kasih sebanyak-banyaknya.” Niko mengawali kalimatnya.


Matanya yang tajam menatap Bella dengan lekat.


“Lama banget gue sama anak-anak tinggal di rumah itu. Rumah yang selalu bikin gue ngerasa punya tujuan buat pulang dan ngabisin waktu sama lo dan temen-teman.” Mata Niko menerawang, mengingat banyaknya kenangan di rumah itu.


“Makasih ya Bell, lo udah ngasih banyak hal buat gue dan anak-anak. Dan sorry, kalau gue sama anak-anak gak bisa ngasih apa-apa buat lo.” Wajah Niko terlihat sendu. Banyak rasa sesal yang di simpannya.


Ia masih ingat bagaimana dulu mereka mulai untuk bermain band. Bella sang ketua OSIS yang begitu mendukung hobinya bermain band bersama Rangga, Deri dan Irvan.


Awalnya mereka hanya bisa berlatih di studio, sewa seminggu sekali. Namun sejak Bella membeli rumah, Bella mengizinkan mereka untuk menempati rumah itu dan di jadikan studio.


Bella bahkan meminjamkan mobilnya untuk dijadikan kendaraan operasional band mereka.


“Lo ngomong apa sih Ko. Lo sama anak-anak masih temen gue lah. Mana ada itung-itungan jasa dalam pertemanan.” Kilah Bella berusaha menetralisir keadaan.


Niko tersenyum kecil mendengar ujaran Bella.


“Lo emang selalu terlalu baik Bell dan gue bener-bener berterima kasih. Tapi, sejak semula, semuanya punya lo. Dan harus gue balikin ke lo.” Niko mendorong paper bag itu mendekat pada Bella.


Bella hanya bisa membuang nafasnya gusar. Ini seperti pertemuan untuk perpisahan. Ia bisa melihat kalau isi paper bag itu adalah kunci dan beberapa surat-suratan.


“Sama-sama Ko. Maaf karena gue gak bisa nemenin band lo sampe bener-bener sukses. Tapi gue yakin, suatu hari kalian akan memetik hasil dari kerja keras kalian selama ini.” Ungkap Bella dengan sesungguhnya.


Ia masih mengingat bagaimana kesungguhan mereka terhadap band yang mereka rintis sejak SMA. Jalan menuju kesuksesan itu memanglah tidak mudah. Tapi Bella percaya kalau sebuah proses tidak akan menghianati hasil.


“Aaminn,, Makasih Bell…” Timpal Niko dengan sungguh.


“Kalian masih akan lanjutin ngeband kan?” selidik Bella dengan hati-hati.


Niko mengangkat wajahnya yang semula tertunduk.


“Masih. Gue sama anak-anak nyewa tempat deket apartemennya, Rangga.” Niko berbicara dengan hati-hati saat menyebut nama Rangga.


Bella hanya mengangguk-angguk. Ia baru tahu kalau sekarang Rangga tinggal di apartemen.


“Ya dimana pun kalian berlatih dan berusaha, sukses selalu ya Ko. Salam buat anak-anak.” Bella masih berusaha menyemangati. Anggap saja ia tidak mendengar nama Rangga di sebut.


Tidak, ia harus terbiasa sekalipun ia mendengar nama Rangga seribu kali dalam sehari.


“Thanks Bell..” sahut Niko dengan sungguh.


“Sorry Ko, kayaknya gue harus pergi duluan.” Bella melihat jam yang melingkar di tangannya.


“Gue anter ya.” Niko langsung beranjak saat melihat Bella beranjak.


“Em gak usah. Gue masih harus ke tempat lain.” Tolak Bella.


“Oh okey. Hati-hati di jalan ya Bell.” Seperti Biasa Niko masih mengusap pucuk kepala Bella.


“Iya. Lo juga hati-hati.” Cepat-cepat Bella berusaha menghindar seraya melepaskan tangan Niko, membuat laki-laki itu mengepalkan tangannya yang kosong.


Niko melambaikan tangan padanya dan Bella membalasnya beberapa saat. Namun baru beberapa langkah Bella berjalan,


“Bell,,..” suara Niko kembali menjeda langkahnya.


“Ya…” Bella berbalik dengan senyum cerahnya.


“Gue masih boleh ngehubungin lo kan?” tanya Niko dengan sendu.


Bella hanya mengangguk seraya tersenyum. Ia kembali melambaikan tangannya pada Niko dan bergegas pergi.


Dan tempat yang di tuju Bella itu adalah rumahnya. Rumah yang ia beli sebagai investasi.


Lebih dari 3 tahun rumah ini di tempati oleh Rangga dan teman-temannya.


Berdiri di depan gerbang, rumah tampak sepi. Bella tidak ada keinginan untuk mendekat. Ia hanya memperhatikan dari kejauhan.


Dari sini saja, ia sudah melihat kenangan yang selama ini ia lewati berkelebat di kepalanya. Suara musik yang hingar dari dalam studio, tawa Rangga dan teman-temannya. Petikan gitar Niko, dentingan keyboard Deri dan pukulan drum Irvan serta tentu saja merdunya suara Rangga.


Bella juga masih melihat bagaimana Rangga dan teman-temannya berbondong-bondong mengangkut alat musik ke dalam mobil yang kini terparkir di depan rumah. Mereka saling tertawa, bercanda kadang saling meledek. Bella ingat persis bagaimana semangatnya Rangga saat akan manggung.


Di halaman ini biasanya mereka akan melewati banyak moment seru. Barbequean saat merayakan hari besar seperti ulang tahun salah satu anggota keluarga rumah ini hingga bergadang bersama menyambut pergantian tahun. Percikan kembang api yang Rangga dan Bella pegang bersama-sama masih melintas jelas di pikiran Bella.


Semuanya seperti baru kemarin tapi ternyata semua hanya tinggal kenangan.


Lantas masih sanggupkah ia menempati rumah ini nantinya?


*****