
“Papah perlu sesuatu?” Tanya Devan setelah ia bisa melepas masker oksigen yang menutupi mulut Amri. Laki-laki itu sudah tidak tergantung pada oksigen yang diberikan lewat nasal.
Menurut dokter, cedera kepala Amri dapat tertangani dengan cepat sehinga tidak sampai menyebabkan perdarahan di otaknya.
Beberapa alat bantu sudah di lepas dan di ganti dengan yang lebih kecil.
“Papah mau minum.” Suara Amri begitu serak dan kecil.
“Sebentar Devan nanya suster dulu ya.” Devan segera menekan tombol untuk memanggil perawat dan tidak lama seorang perawat masuk.
“Ayah saya mau minum, apa boleh?” Tanya Devan dalam bahasa Inggris.
“Boleh tuan. Saya akan coba menaikan sedikit bagian kepala, supaya pasien tidak tersedak.” Perawat itu segera menekan tombol untuk menaikan sandaran kepala Amri.
“Untuk minum, anda bisa menggunakan ini.” Ia juga memberikan sebuah gelas dengan sebuah sedotan kecil.
“Baik, terima kasih.” Timpal Devan yang menerima gelas tersebut.
Selesai dengan tugasnya perawat itupun pergi meninggalkan Devan dan Amri. Ia berpesan kalau perlu sesuatu agar tidak perlu sungkan untuk memanggilnya.
“Minumnya pelan ya, Pah.” Devan mendekatkan sedotan ke mulut Amri dan Amri mulai menyeruptnya. Beberapa kali ia berhenti dan menelan air tersebut dengan cukup usaha.
“Sudah cukup Van, terima kasih.” Amri kembali membaringkan tubuhnya yang masih lemah.
Gelas itu di simpan Devan di meja samping tempat tidur Amri.
“Gimana perasaan papah sekarang, bagian mana yang sakit?” Tanya Devan dengan khawatir. Melihat beberapa luka di wajah Amri, membuat ia bisa merasakan sakitnya.
“Papah udah lebih baik. Kamu gimana? Ini pasti sakit kan?” Amri menunjuk pipi Devan yang lebam.
Devan menggerakkan lidahnya menyentuh rongga mulutnya yang luka di dalam akibat pukulan Alwi.
“Om Alwi udah makin tua. Pukulannya gak sekuat dulu.” Devan tersenyum miring setelah berucap.
“Anak papah memang jagoan.” Ucap Amri seraya mengusap lengan putranya.
Kedua saling melempar senyum.
"Pah, papah kenapa nemuin mamah gak ngajak Devan?" Devan menatap Amri dengan segaris kekecewaan.
"Kalau papah mau ke tempat mamah, papah bisa ngajak Devan. Gak perlu pergi sendiri seperti sekarang." Imbuhnya.
Mendengar pertanyaan Devan, Amri terlihat menghela nafasnya dalam. Ia menyadari kalau ia terlalu sembrono mengambil keputusan.
"Papah merindukan mamah dan papah merasa kalau papah harus menemui mamah. Lagi pula, sebelumnya papah gak dateng sendiri. Papah datang dengan seorang wanita yang papah temui saat perjalanan pulang dari rumah Bella. Katanya, dia sangat mengidolakan mamahmu." Amri tersenyum kecil.
Ia masih mengingat jelas bagaimana wanita itu bercerita kalau ia sangat mengidolakan Anggita. Ceritanya yang luas membuat Amri seperti melihat kembali istrinya dari sudut pandang yang berbeda. Hal itu yang membuat Amri semakin ingin menemui Anggita.
"Pah, kenapa papah lebih bisa percaya untuk pergi sama orang lain di banding Devan? Papah tau kan kalau Om Alwi pasti memantau kita berdua dan nunggu kesempatan buat nyerang kita?" Devan menatap Amri tidak percaya.
"Iya, papah tau. Untuk itu papah minta maaf karena udah bikin kamu khawatir dan berada dalam kondisi seperti ini. Sekarang, papah sangat yakin kalau dendam Alwi sama papah masih begitu besar. Dia tidak bisa membiarkan kita gidup tenang." Amri menggenggam tangan Devan yang ada di dekatnya.
"Sejujurnya, papah sangat memahami kemarahan Alwi. Dia sangat menyayangi mamahmu dan kehilangan mamahmu, tentu menjadi hal tidak bisa dengan mudah untuk dia terima. Papah paham itu."
“Papah minta maaf ya Van. Karena kelalaian papah, kita harus kehilangan mamah dan kamu harus menanggung semua kesalahan papah. Padahal seharusnya papahlah yang melindungi kalian.” Amri dengan penyesalannya yang dalam. Ia bahkan tidak berani menatap mata sang anak.
“Pah, udah Devan bilang, mamah pergi bukan sepenuhnya kesalahan papah. Kita semua menyayangi mamah tapi tuhan lebih sayang sama mamah. Kita bisa apa? Kita cuma bisa menerima takdir kita.” Devan menggenggam tangan Amri yang tergolek lemah.
Amri mengangguk-angguk sementara air matanya mulai menetes.
“Terima kasih Van. Terima kasih karena sudah sangat berbesar hati mau memaafkan papah.” Suara Amri terdengar bergetar. Badannya berguncang karena tangisnya. Ia menekan sudut matanya agar tidak terus meneteskan air mata.
Devan terangguk. Walau hatinya bersedih tapi tidak ada pilihan lain selain menerima kenyataan yang ada. Anggita memang sudah pergi lebih dulu meninggalkan ia dan Amri. Lalu kali ini, Devan akan berusaha dengan kuat untuk menjaga dan melindungi orang-orang yang ia sayangi agar tidak lagi kehilangan mereka dengan cara yang tragis.
“Sekarang kamu sudah menikah. Pesan papah, jaga istri kamu baik-baik. dia Wanita yang baik dan mencintai kamu dengan tulus. Papah bisa merasakan ketulusannya.” Pesan Amri seraya menangkup tangan Devan dan menepuknya perlahan.
Devan tertunduk di hadapan Amri. Ia meresapi benar ucapan sang ayah.
"Iya pah. Devan akan menjaga Bella dengan baik." Janji Devan dengan penuh kesungguhan.
Di luar sana, ada Bella dan Ozi yang memutuskan untuk tidak masuk ke ruangan Amri. Sepertinya ayah dan anak itu membutuhkan waktu lebih banyak untuk mereka habiskan bersama.
****
Tidak ingin mengganggu Devan dan Amri, Ozi mengajak Bella untuk pergi keluar. Mereka memesankan penginapan untuk Saras dan sudah mereka antar untuk beristirahat. Sementara itu, Bella dan Ozi berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit untuk mencari makanan yang bisa mereka beli untuk Devan dan Saras.
“Lo mau makan apa? Lo belum makan dari kemaren malam.” Tanya Ozi yang berjalan bersisian dengan Bella.
“Terserah lo, yang penting bisa ngeganti energi.” Bella pasrah saja mengikuti langkah Ozi yang panjang sambil memegang tangannya.
“Ke food court aja ya, biar banyak pilihan.”
“Iyak.”
Mereka masuk ke sebuah food court dengan banyak menu yang bisa mereka pilih.
“Mau seafood?” Tawar Ozi tanpa melihat buku menu yang ada di atas meja. Ia tahu benar makanan favoritnya Bella.
“Boleh. Buat Devan bebek aja, dia suka banget bebek bakar. Biar makannya lahap.” Bella masih memikirkan Devan yang hanya berjarak beberapa kilo saja dari tempatnya berada.
“Okey, gue pesenin.”
Ozi pergi untuk memesan makanan sementara Bella menunggu di tempatnya. Sambil memesan, Ozi masih memperhatikan Bella dari tempatnya. Adiknya terlihat begitu resah walau ia berusaha terlihat baik-baik saja. Ozi tahu, pikiran Bella sedang tidak karuan setelah mengetahui kondisi Devan dan perselisihannya dengan Alwi. Terlebih kondisi Amri belum sepenuhnya membaik.
Tapi paling tidak, ia harus memastikan kalau saat ini Bella ada dalam jangkauannya.
“Makanan siap…” Ujar Ozi seraya menaruh makanan di atas meja.
“Wiihh, cepet banget.” Bella dengan matanya yang membulat.
“Cepet karena lo sibuk ngelamun.” Ozi mencubit pipi Bella dengan gemas.
“Kabarin dulu Devan, biar lo gak keselek.” Ozi menyodorkan ponselnya pada Bella karena ia tahu ponsel sang adik mati kehabisan baterai.
“Iya,..” Bella mengambil alih ponsel sang kakak dan ia mulai menghubungi Devan melalui pesan singkat.
Ia mengetuk-ngetuk ponsel Ozi menunggu Devan membalas pesannya.
“Makasih sayang… Makan yang banyak yaa… Kamu juga kan harus jaga kondisi.” Bella tersenyum cerah melihat pesan balasan Devan.
“Iya mas,… Sebentar yaa, aku gak lama kok. Mas nikmati dulu waktu mas sama papah.”
“Terima kasih sayang. I love you.” Balas Devan yang membuat wajah Bella merona.
“Lo hapus lagi pesannya. Gue gak mau geli sendiri liat Devan kirim pesan mesra sama gue.” Ledek Ozi yang mulai melahap makanannya.
“Ish, lo apaan sih. Gue forward dulu pesannya ke nomor gue, baru gue hapus.” Ucap Bella tidak mau kalah.
“Terserah lo dah. Buciiinnn buciiinnn…” Ledek Ozi.
Bella hanya berdecik dan mengembalikan ponsel Ozi setelah melanjutkan pesan Devan ke nomornya.
*****
Setelah makan, perasaan Bella dan Ozi jauh lebih baik. Mereka berjalan bersisian menuju rumah sakit. Ozi melingkarkan tangannya di leher Bella sementara satu tangan lainnya membawa keresek makanan.
Mereka berbincang santai dalam perjalanannya.
*“Nanti kalau kita ke sini tujuannya harus buat healing* ya bukan visiting patients.” Canda Ozi pada Bella.
“Iyaaa,… Lo inget gak kalau lo punya janji buat naik bianglala sama gue?” Bella jadi teringat pada janji Ozi dulu. Sang kakak ketakutan dan enggan untuk naik bianglala.
“Masih aja lo inget. Padahal udah lima apa enam tahun ke belakang kan?”
“Iyaa… Waktu kita sama-sama dapet bonus dari kantor.” Kenang Bella.
Ozi mengangguk-angguk, ingatan Bella memang sangat tajam. Dan kenangan manis membekas begitu mudah di benak Bella.
“Okey, siapa takut! Sekalian kita liat, Devan berani juga gak naik bianglala?” Tantang Ozi.
“Pasti berani laahh… Emang elo, cemen?!” sengit Bella sambil menyikut perut Ozi. Ozi hanya terkekeh melihat tingkah iseng adiknya.
“Bella?!” Panggil sebuah suara yang rasanya tidak asing di telinga.
Tawa Bella dan Ozi langsung terhenti saat melihat dua orang yang berdiri di jalan mereka.
“Mba Jihan? Rangga?” Bella mengernyitkan dahinya tidak percaya. Bagaimana bisa mereka bertemu di sini.
“Haayy... Kamu sama siapa? Kok gak sama Devan?” Jihan menatap curiga pada Bella dan Ozi. Mungkin karena adik kakak ini terlihat mesra berdua.
“Oh iyaa, aku sama abangku.” Bella tersenyum canggung. Ia melirik Ozi yang sedang menatap sinis Rangga yang ada di samping Jihan. Bella menyikutnya, agar Ozi berhenti memandangi Rangga yang jadi salah tingkah.
“Ohhh…. Abang kamu. Aku pikir siapa.” Jihan tersenyum anggun seraya melirik Rangga.
“Bang, Bell…” sapa Rangga dengan kikuk.
"Hem." Sahut Ozi malas. Ia memilih memalingkan wajahnya ke arah lain tanpa melepaskan tangan adiknya. Sementara Bella tersenyum kecil pada dua orang itu.
“Ngomong-ngomong sedang apa kalian di sini? Liburan kah?” Selidik Jihan.
“Hah, oh enggak. Kami sedang mengunjungi keluarga kami di sini.” Aku Bella.
Ia melirik Ozi meminta bantuan menjawab dan sang kakak hanya menggeleng. Memberi isyarat agar Bella tidak terlalu terbuka pada seseorang sepeti Jihan.
“Mba Jihan sama Rangga, ada acara kah di sini?” Tanya Bella basa basi. Ia sebenarnya tidak peduli dengan apa yang dilakukan Jihan dan Rangga di tempat ini.
“Em kami ada meeting dengan salah satu rekanan di sini. Itu kantornya.” Jihan menunjuk sebuah kantor berita terkenal di negara ini.
“Ohh iyaa… Kalau begitu silakan di lanjutkan, kami permisi dulu.” Pamit Bella yang sudah mendapat tatapan sinis dari Ozi. Ia ingin adiknya segera mengakhiri perbincangan basi ini.
“Oh ya, silakan. Sampe jumpa lagi ya Bell…” Jihan melambaikan tangannya pada Bella dan Bella hanya tersenyum kecil.
Bella pun berlalu pergi bersama Ozi.
“Uuhh… Biasa aja dong tatapannya, jangan penuh cinta gitu. Nanti dia tambah besar kepala.” Sinis Jihan pada Rangga yang masih memandangi Bella dari kejauhan.
Tapi Rangga tidak menanggapinya. Ia malah asyik memandangi Bella.
“Kamu membosankan Rangga, pantes aja Amara berpindah hati.” Decik Jihan yang tidak suka di abaikan. Ia pergi lebih dulu meninggalkan Rangga.
Melihat Bella berlalu, Rangga mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Lo publish sekarang.” Ucap Rangga perlahan namun penuh ketegasan.
Matanya tampak berkaca-kaca saat ia sadar Bella semakin jauh darinya dan tidak mungkin ia raih.
Di kejauhan sana ponsel Ozi ikut berdering dan Ozi segera menjawabnya.
“Iya Inka? Video?”
“Sebentar aku cek dulu.” Ozi terpaksa menjeda panggilannya dan membuka pesan yang di kirim Inka padanya.
"Ada apa?" Tanya Bella yang melihat Ozi begitu tergesa-gesa.
"Gak tau, katanya Inka ngirim video penting."
Benar saja, sebuah video di terima Ozi dan Ozi segera memutarnya.
“Berikutnya adalah kabar terbaru dari dunia hiburan."
"Seorang sutradara muda berinisial D, dikabarkan merupakan anak dari seorang mantan napi kasus pembunuhan. Apakah benar? Siapa sih sutradara muda yang beritanya sedang viral in?.” Tanya presenter gossip yang langsung di jeda oleh Ozi.
Ozi dan Bella sama-sama terdiam, setelah menyaksikan Video tersebut. Siapa sebenarnya yang membuat berita ini? Bagaimana bisa berita itu menyebar dengan cepat?
Akh sial, entah darimana sumber berita ini dan Bella sampai merinding mendengar headline berita itu.
****