Bella's Script

Bella's Script
Sedang apa kamu di sini?



“Sedang apa kamu di sini?” Tanya Jihan pada seseorang yang berdiri di belakang Devan. Tatapan Jihan yang sinis pada orang di belakangnya membuat Devan ikut menoleh.


“Bell?” Ucap Devan dengan penuh keterkejutan. Ia tidak menyangka kalau yang ada di hadapannya kini adalah Bella.


“Hay. Sorry tadi aku gak sengaja liat kalian. Jadi,” Bella menggaruk dahinya yang sebenarnya tidak gatal. Ia bingung harus menjelaskannya seperti apa.


“Dia dateng bareng gue, kenapa, apa ada masalah?” di waktu yang tepat, Inka datang menghampiri.


Melingkarkan tangannya di bahu Bella seraya memandangi dua orang yang menatap bingung.


“Ya, sama Inka.” Bella mengendikkan bahunya berusaha santai.


Ia melirik Devan dan laki-laki itu masih tidak percaya karena melihat Bella di hadapannya dengan penampilan yang cantik dan memukau. Sementara Jihan,


Akh jangan tanyakan soal gadis itu. Ia hanya melongo, menatap tidaak percaya akan keberadaan gadis pengganggu ini di hadapannya. Ya, baginya Bella adalah gadis pengganggu yang mengalihkan perhatian Devan darinya, seperti saat ini.


“Hey, ayolah. Ini bukan pertemuan pertama kali kita kan? Gak usah sekaget itu.” Inka menyenggol Bella dengan kuat hingga Bella terdorong ke arah Devan.


Refleks Devan segera menahan tubuh Bella yang terhuyung dengan lengannya yang kokoh. Untuk beberapa saat mereka saling bertatap dan melempar senyum satu sama lain.


Jihan melihat jelas perubahan ekspresi Devan tadi. Laki-laki itu bahkan tersenyum. Senyuman yang tidak pernah Jihan lihat sebelumnya. Jihan langsung memperhatikan tangan kanan Bella dan benar saja, ada cincin tersemat di jari manisnya, serasi dengan cincin yang dikenakan Devan. Akh, dadanya langsung terasa remuk.


“Tapi saya tidak mengundang anda berdua. Untuk apa kalian ada di sini?” Jihan masih bertahan dengan egonya,berpura-pura bodoh.


Ia tidak terima dua wanita ini hadir di pestanya, membuat banyak pasang mata pria memperhatikannya, tanpa kecuali Devan.


Lihat saja tatapannya yang begitu terpesona melihat Bella mengenakan dress pesta berwarna navy yang simple namun elegan. Ini yang tidak Jihan sukai. Mengakui lawannya lebih unggul dari dirinya.


“Mba Jihan memang tidak mengundang saya, tapi beliau yang mengundang saya.” Inka mengangguk sopan saat seorang laki-laki paruh baya menghampiri mereka.


“Wah rupanya kalian ada di sini.” Ucap Wijaya dengan suaranya yang berat.


“Selamat malam om.” Sapa Inka dengan sopan.


“Selamat malam.” Timpal Wijaya dengan ramah.


“Tunggu, papah mengenal mereka?” Jihan menunjuk Inka dan Bella dengan enggan.


“Oh ya, papah cukup mengenal Inka dan Bella.”


“Kalau Inka, papah mengenalnya dari pak Wibisono, papahnya Inka sekaligus teman golf papah. Beliau juga salah satu pemegang saham utama di perusahaan kita. Kalau Bella, papah mengenalnya dari script yang dia tulis. Papah senang ternyata kalian saling mengenal baik.” Ungkap Wijaya dengan senyum terkembang.


Namun tidak begitu dengan Jihan, ia menatap dua gadis itu dengan tidak suka. Terutama Bella. Lagi, wanita ini mencuri perhatian orang di sekitarnya, termasuk Wibisono.


“Terima kasih om masih mengingat saya. Ada titipan salam dari papah. Maaf beliau tidak bisa hadir karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.” Inka sengaja berbasa basi di hadapan Jihan. Ia ingin menunjukkan kalau tidak hanya Jihan yang berada di kalangan ini. Jihan tidak seistimewa itu.


Jihan berdecik sebal melihat interaksi Inka dan papahnya. Cari perhatian sekali pikirnya.


“Baik om, nanti Inka sampaikan.” Inka tersenyum senang penuh kemenangan.


“Jujur, dulu saya sempat kecewa karena Bella menolak tawaran dari PH kami untuk bergabung. Sangat disayangkan sinopsis yang pernah saya lihat, tidak bisa di produksi di PH ini. Tapi, siapa sangka ternyata putri saya yang menjadi rekanan kalian sekarang dan memproduksi film itu.” Ungkap Wijaya seraya mengulurkan tangannya pada putri semata wayangnya.


Dengan terpaksa Jihan mendekat dan pura-pura tersenyum dengan ramah. Meski, ia gagal menyembunyikan ekspresi mikro kekecewaan yang terbaca oleh Devan.


Belum selesai kekesalannya karena Devan tidak meminum minuman yang ia buat, sekarang harus di tambah dengan melihat keakraban Wijaya dengan para musuhnya. Hari indah yang ia susun rapi berubah menjadi hari yang paling mengecewakan untuknya.


“Saya mohon maaf pak Wijaya, karena saya menolak kesempatan baik dari pak Wijaya. Semoga di lain waktu kita bisa bekerjasama untuk script lainnya.” Timpal Bella.


“Tentu, saya berharap kesempatan itu ada. Talenta Bella dalam hal menulis script itu bagus, saya berharap film yang kalian buatpun bisa menunjukkan kualitasnya.” Wijaya menepuk bahu Devan penuh harap.


“Terima kasih pak, saya harap bapak bisa hadir untuk menyaksikan gala premier film kami nantinya.” Undang Devan, dengan sengaja di hadapan Jihan.


Ia ingin Jihan tahu bahwa akan sangat buruk hasilnya jika ia merusak produksi film hanya karena keegoisannya. Sang ayah ikut memantau, mana mungkin wanita ambisius yang ingin menunjukkan kemampuannya di hadapan banyak orang ini, akan membiarkan karya pertamanya hancur oleh gossip murahan.


“Tentu, saya akan menunggu undangannya. Ngomong-ngomong, sekarang sudah sampai mana tahap produksinya?” Wijaya jadi penasaran dengan progress kerja tim yang di produseri putrinya.


“Akan memasuki tahap promosi om. Hanya saja, kami menemui beberapa kendala.” Dengan sengaja Inka membuat kalimatnya menggantung. Ia menunggu respon Jihan.


“Oh ya, apa kendalanya? Barangkali om bisa bantu.” Wijaya menatap Inka dan Jihan bergantian.


Devan tersenyum kecil, begitupun Inka. Rupanya rencana yang mereka susun nyaris mendapatkan hasil.


“Oh maksud Inka masalah promo film pah.” Jihan segera memotong kalimat Inka sebelum gadis itu membeberkan masalah yang ia buat.


“Promo film? Ada apa dengan promonya?” Wijaya semakin penasaran.


Bella perhatikan, Inka begitu berusaha menahan senyumnya. Ralat, bukan senyum yang ia tahan. Kalau dari ekspresinya, gadis itu sedang menahan tawanya.


Ada apa sebenarnya?


“Gak ada apa-apa pah. Aku akan mengurusnya.” Ucap Jihan agar sang ayah tidak bertanya lebih lanjut.


Ia sangat khawatir kalau Inka akan membeberkan masalahnya begitu saja dan membuat kepercayaan Wijaya padanya hancur.


“Bingo!” Rasanya Inka ingin mengajak Devan tos jarak jauh. Jihan sudah benar-benar tidak berkutik. Rencana yang Devan susun baik bersama crew ternyata membuahkan hasil. Mereka tinggal menunggu buah dari usaha mereka dan memetik hasilnya


*****