Bella's Script

Bella's Script
Pembelaan calon suami



Siang itu, Inka masih bergelut dengan kesibukannya. Mereka tengah menyiapkan acara gala premier untuk film yang akan naik tayang.


“Bang Hendrik udah lo hubungin? Tanggal berapa kita fiksasi acaranya? Katanya Amara cuma bisa hadir di beberapa acara aja.” Inka masih membuka-buka kertas rundown yang di buat oleh departemen promotor.


“Lusa pagi, kita live di acara bang Tedy. Jam 11 siang kita ke bioskop pertama dan kedua, di bagi dua tim. Mereka udah tanda tangan kontrak juga sama pihak bisokop.” Terang Melisa yang ikut bergabung.


“Oh ya?” Inka menatap Melisa tidak percaya.


“Cepet juga yak?” Ia bertanya sambil tersenyum simpul.


“Gak berasa yaa.... Padahal perasaan baru kemaren kalian syuting.” Ucap Melisa yang ikut tersenyum kecil.


“Iyaa,... Hari-hari promo itu emang cepet banget. Tau-tau udah mau gala premier aja.” Inka jadi mengenang perjalanan syuting yang tidak mudah.


*“Animo calon penonton tinggi banget makanya mending sekarang kita up* kejar tayang. Toh filmnya juga udah siap. Malahan gue denger dari Aline, banyak fans bersedia pre-order tiket. Gilak aja, ini sih pasti meledak.”


“Iya gue sampe gak nyangka. Setelah hujan badai, angin ribut topan dan badai, akhirnya ada aurora yang indah.” Inka tersenyum sambil memandangi rundown di tangannya. Kesuksesan sudah ada di depan mata.


Di sela perbincangannya dengan Melisa, suara deringan ponsel mengalihkan perhatian Inka. Inka segera mengecek ponselnya dan ternyata panggilan tersebut dari orang kepercayaan Andra.


“Selamat siang nona muda,...” Sapa suara di sebrang sana.


“Selamat siang pak.” Inka masih berpikir tumben orang kepercayaan Andra menghubunginya.


“Mohon maaf mengganggu waktunya. Apa nona bersedia datang ke resto raflesia saat ini?” Pinta laki-laki itu dengan sopan.


“Em,... Ada apa ya pak?” Inka sedikit menjauh dari Melisa setelah memberi kode untuk pamit.


“Tuan Andra ingin bertemu.” Jelasnya.


Inka berpikir untuk beberapa saat. Ia sedang mempertimbangkan apa ia akan pergi atau tidak, karena sejujurnya ia sudah malas untuk ribut dengan Andra yang hanya membuang-buang energinya.


“Baik.” Tapi kemudian ia menyetujuinya. Ia berpikir, kalau ada masalah, bukankah harus di selesaikan dengan segera?


Sambungan telepon pun terputus. Inka segera menuju ruangannya untuk bersiap-siap dan mengambil tas tangan miliknya.


“Lo mau pergi?” Tanya Roni yang baru datang.


“Iya. Kakak gue ngajak ketemu.” Inka sempatkan diri untuk memakai bedak. Ia tidak mau terlihat pucat dan takut di hadapan Andra.


“Mau gue anter?” Mendengar Inka akan bertemu dengan sang kakak, membuat Roni siaga satu.


*“Gak usah.” Inka memoles bibirnya dengan lipstick* yang sedikit terang. Merapatkan bibirnya untuk meratakan lipstick-nya.


“Gue pucet gak?” Inka berbalik pada Roni, meminta penilaian atas penampilannya.


“Hem,... Nggak.” Roni menatap lekat wajah Inka lalu menempatkan tangannya di kedua bahu Inka.


“Hadapi abang lo dengan berani. Gak perlu nangis, biar make up lo gak luntur. Nanti muka lo malah mirip kue ladu.” Entah menghibur atau apa yang dimaksudkan oleh Roni, yang jelas ia mengusap kedua bahu Inka untuk menyemangati gadis tersebut.


Bisa-bisanya kalimat Roni membuat Inka tersenyum.


“Bisa aja kerak telor. Okey, ganbate!!” Inka mengepalkan tangannya dengan semangat.


“Okey. Gih berangkat. Kalo pulangnya perlu gue jemput, lo telpon aja.”


Inka tersenyum mendengar ucapan Roni yang mencemaskannya.


“Boleh peluk?” Pinta Inka yang berusaha tersenyum agar terlihat baik-baik saja.


“Manja lo!” timpal Roni seraya memeluk Inka. Inka seperti adik kecil untuknya. Adik kecil yang sangat mengharapkan kasih sayang dari kakaknya, terlebih saat ia tidak baik-baik saja seperti ini.


Hanya beberapa saat mereka berpelukan. “Bawa payung, takut ujan!” pesan Roni.


“Djegardah vanas bray!” Inka menonjok lengan Roni dengan kesal dan membuat keduanya tertawa.


Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan, “Makasih bang. Gue akan balik lagi dalam keadaan baik-baik aja.”


“Ya udah gih. Hush!” Roni mengusir Inka seperti mengusir anak kucing. Inka tidak menimpali, ia hanya mengacungkan jari tengahnya pada Roni sebelum ia benar-benar pergi.


“Lo harus bahagia Inka.” Gumam Roni sepeninggal Inka.


*****


Sebuah resto yang menjadi tempat makan siang yang di pilih Andra, sudah di depan mata. Laki-laki angkuh itu berada di dalam sebuah ruang VIP yang luas dengan satu meja di tengah dan empat kursi yang mengelilinginya.


Inka menghentikan langkahnya sejenak, saat ia tiba di mulut pintu. Bukan karena melihat Andra yang ada di hadapannya melainkan ada seorang laki-laki yang duduk berhadapan dengan Andra. Dan tak lain adalah Ozi.


“Silakan masuk nona muda.” Ucap assistant Andra mempersilakan.


Bersamaan dengan itu, Ozi pun menoleh ke arah pintu. Ia bisa melihat wajah terkejut dan heran Inka seperti sedang bertanya, sedang apa di sini?


Ozi bangkit dari tempatnya, menarikkan kursi untuk Inka di sampingnya.


“Terima kasih.” Ucap Inka lirih, saat mereka bertemu pandang.


Ozi hanya tersenyum, melihat wajah bingung Inka.


“Gimana kerjaan lo, lancar?” Tanya Andra tiba-tiba.


Inka sempat menatap Andra dengan heran karena biasanya laki-laki ini tidak pernah peduli dengan kondisi Inka.


“Apa maksud kakak manggil aku sama mas Bima ke sini?”


Inka lebih suka menjawab pertanyaan Andra dengan pertanyaan. Terlihat sekali sikapnya yang waspada, khawatir Andra mengatakan hal yang tidak menyenangkan pada Ozi.


“Gak sengaja ketemu?” Inka tersenyum sinis pada Andra. Ia mengambil segelas air mineral di hadapannya, lalu meneguknya. Entah mengapa ia jadi haus.


Tatapannya masih tetap tertuju pada Andra yang ia curigai.


“Makanlah. Lo pasti belum makan siang kan? Lagi pula gue rasa lo jarang makan makanan mewah seperti ini. Apalagi setelah lo keluar dari rumah keluarga Wibisono.” Tawar Andra dengan sarkas.


Inka sudah hampir mengangkat tangannya untuk menggebrak meja setelah mendengar ucapan Andra. Ia sangat yakin kalau sebelum ia datang, Andra pasti sudah menyampaikan banyak hal yang tidak-tidak pada Ozi. Namun sayangnya, Ozi menahannya. Ia menggenggam tangan Inka dengan erat.


“Kakak mau ngajak aku makan atau cuma mau pamer kalau kakak bisa menjamu kamu dengan makanan mahal?” sinis Inka tidak suka. Melihat makanan mewah di hadapannya, perut Inka mendadak mual saat membayangkan kalau makanan ini di pesan Andra untuk merendahkan ia dan Ozi.


“Pamer apanya? Ini gue yang di jamu sama pacar lo. Selera pacar lo memang cukup berkelas. Dia tahu cara menjamu orang penting seperti gue.” Timpal Andra yang melirik Ozi dari tempatnya.


“Mas,...?” Inka menoleh Ozi tidak percaya. Sementara Ozi hanya mengangguk dan tersenyum.


“Makanlah, kamu suka capcay kayak gini kan?” Ozi mendekatkan makanan favorit Inka.


Inka hanya mengangguk. Ia tidak menyangka kalau Ozi akan menjamu Andra dengan makanan mewah seperti ini. Sudah pasti harga makanan di tempat ini sangatlah mahal. Walaupun Inka percaya Ozi bisa membayarnya, tapi ia merasa tidak nyaman karena jamuan seperti ini tidak akan membuat Andra balas bersikap baik pada Ozi.


Ia melirik Andra yang ada di hadapannya dan laki-laki itu hanya tersenyum sinis.


“Sepertinya, gue gak perlu khawatir karena keliatannya setelah kalian menikah nanti suami lo gak akan bikin lo kelaparan.” Sinis Andra yang terdengar pedas di telinga Inka. Ozi terlihat tenang saja, padahal Inka tahu kalau ucapan Andra sangatlah menyebalkan.


“Saya tidak terbiasa menyia-nyiakan seseorang yang saya sayangi. Jadi anda bisa tenang, karena saya akan memperlakukan adik anda dengan sangat baik.” Ucap Ozi, tanpa melepaskan tangan Inka.


Genggamannya bahkan sangat erat dan hangat, seperti tidak ada keraguan sama sekali atau ketakutan menghadapi Andra.


“Baguslah!” Andra menaruh sendoknya dengan kasar.


“Tapi gue penasaran, kenapa lo mau nikahin Inka? Dia ini berisik, pembawa sial dan sangat mengganggu. Lo gak ada pikiran buat nyari yang lain gitu?”


“Atau, lo mau nikahin dia karena lo pikir dia pewaris kekayaan keluarga Wibisono?” Andra bertanya dengan penuh penekanan. Ia bersidekap di depan Ozi, seperti sedang menantang kesabaran laki-laki di hadapannya.


“Cukup ya kak! Jaga ucapan kakak.” Sahut Inka dengan kesal. Matanya menyalak menatap sang kakak yang begitu menyebalkan menurutnya.


“Waahh slow dong, gue kan cuma nanya.” Andra tersenyum meledek seraya mengangkat tangannya.


“Lo liat sendiri kan, emosinya juga labil.” Tambah Andra sambil terkekeh.


Mendengar ucapan Andra, Ozi hanya tersenyum kecil. Ia menggaruk dahinya yang sebenarnya tidak gatal.


“Melihat suasana di meja makan ini, saya merasa kalau saya justru beruntung bisa mendapatkan hati adik anda.” Ucap Ozi, seraya menatap Andra. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Tidak kah anda menyadari, kalau hati adik anda sangat luas. Ia masih bisa mencintai orang lain walau sepertinya anda sering memperlakukannya dengan tidak baik. Tidak semua orang bisa melakukan itu.”


“Atau anda sendiri, pernahkah anda mendapatkan perhatian yang besar dari Inka? Emmm saya rasa pernah, tapi anda mengabaikannya.” Ucap Ozi yang menatap Inka dan Andra bergantian.


Dari wajahnya, laki-laki itu tampak mengeram kesal. Ia tidak menyangka kalau Ozi akan membela Inka seperti ini.


“Biar saya luruskan. Permintaan saya untuk mengajak anda makan siang bersama, karena saya merasa kalau saya berkewajiban mengenal anda sebelum meminta restu.” Ozi membawa tangan Inka ke atas meja dan menggenggamnya.


“Saya mungkin tidak bisa memberikan materil yang bergelimang seperti yang diberikan keluarga Wibisono pada wanita yang saya cintai ini tapi, saya bisa memberinya kasih sayang yang tulus dan akan menjaganya lebih baik dari saya menjaga diri saya sendiri.”


“Jadi, saya harap anda dan kedua kakak Inka lainnya, bisa merestui kami. Kami ingin segera menghalalkan hubungan kami di mata hukum dan agama.” Tegas Ozi yang menatap Andra dengan penuh keyakinan.


Inka yang duduk di samping Ozi, hanya bisa menatap Ozi dengan penuh haru. Janjinya pada Roni kalau ia tidak akan menangis, ternyata tidak bisa ia tepati karena saat ini bulir bening itu menetes di sudut matanya yang sipit.


“Hahahaha...” Andra tertawa miring.


Ia tidak menyangka Ozi berani masuk ke dalam keluarganya yang kacau. Ia bahkan meminta Inka dengan terang-terangan tanpa rasa ragu.


“Yaaa,... Gue akui lo laki-laki yang bernyali. Tapi harus lo tau, Inka gak punya apa-apa. Semua warisannya sudah dia kembalikan pada kami. Jadi mungkin lo cuma bisa menambahkan perempuan ini sebagai beban. Silakan saja kalau lo gak keberatan menambah beban hidup lo dengan memperistri dia.” ucapan Andra benar-benar sarkas dan membuat rongga dada Inka seperti mendidih.


“Terima kasih. Saya menganggapnya ini sebagai restu dari anda dan keluarga Wibisono.” Ozi mengangguk takjim. Ia bahkan tidak bergeming dengan ucapan sarkas Andra.


“Mulai sekarang, izinkan saya untuk menjaga Inka sepenuhnya. Dan saya harap, kedepannya saya tidak akan mendengar lagi kalimat-kalimat sarkas yang anda tujukan pada calon istri saya. Saya tidak akan menerima apapun bentuk dan cara buruk yang anda lakukan terhadap wanita yang saya cintai.” Tegas Ozi dengan penuh keyakinan.


Andra hanya terdiam menatap Ozi yang begitu percaya diri di hadapannya. Sepertinya ia tidak menyangka kalau akan ada laki-laki yang mencintai Inka sebesar ini.


Sementara itu, Inka segera mengusap air mata di pipinya. Baginya, sudah tidak alasan lagi untuk ia menangis. Seperti yang dikatakan Ozi tempo hari kalau hanya Ozi yang boleh melihat air matanya dan itupun air mata kebahagiaan.


“Terima kasih atas waktu anda. Saya permisi lebih dulu.” Ozi beranjak lebih dulu dan mengulurkan tangannya pada Andra.


Andra menatap tangan itu dengan segaris senyum yang entah apa artinya. Lantas ia balas menjabat tangan Ozi. Mereka berjabatan tangan untuk beberapa saat sebelum kemudian Ozi memutuskan untuk membawa Inka pergi dari hadapan sang kakak.


“Kita makan bakso yuk.” Ajak Ozi sambil berjalan.


Inka tidak menimpali. Ia melepaskan genggaman tangan Ozi dan membiarkan Ozi berjalan lebih dulu di hadapannya. Ia mematung beberapa saat memandangi tangannya yang sedari tadi di genggam Ozi. Baru sekarang ia merasa kalau dirinya amat berarti bagi seseorang.


Mendapati Inka berada di belakangnya, Ozi pun menghentikan langkahnya lantas menoleh.


“Kenapa, ada yang lupa?” Tanya Ozi.


Inka menggeleng dengan air matanya yang kembali menetes. Dengan langkahnya yang cepat, tiba-tiba Inka menghampiri Ozi lalu memeluk laki-laki itu dengan erat. Ia membenamkan wajahnya di dada Ozi. Ozi bisa merasakan kalau Inka sedang menangis tanpa isakan.


Tidak ada yang dilakukan Ozi kemudian, selain mengusap kepala Inka dengan sayang lalu mengecupnya lembut. Ia membiarkan Inka selesai dengan tangisnya agar perasaannya lega. Ia dengan setia menunggu Inka menuntaskan semua perasaannya.


Bagi Ozi, ini terakhir kalinya ia melihat dan mendengar Inka di perlakukan dengan tidak adil. Ke depannya, ia yang akan membela Inka di hadapan siapapun termasuk ketiga kakaknya.


*****