Bella's Script

Bella's Script
Kangeenn Ayaaang 1



“Hey bro, sorry nunggu lama. Gue baru selesai mandi.” Ucap Indra seraya menepuk bahu seseorang yang duduk di kursi tunggu, teras rumahnya.


Ia baru keluar dengan handuk yang setengah basah karena ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


“Tumben lo mampir?” Tanya laki-laki itu pada seseorang yang tidak lain adalah Devan.


Walau tinggal dalam satu cluster apartemen, mereka memang jarang sengaja bertemu untuk berbincang. Kebersamaan mereka sudah cukup lama saat di lokasi syuting, membahas banyak hal yang sebagian besar adalah tentang pekerjaan. Sementara di rumah adalah kehidupan pribadi masing-masing yang tidak ingin saling mengusik.


“Lo tinggal sendiri?” Devan penasaran dengan kehidupan pribadi rekan kerjanya.


Seperti halnya dirinya, rumah hanya sebagai tempat beristirahat dari rasa lelah.


“Yaa.. setelah bercerai setahun lalu, gue milih hidup sendiri di sini.” Indra melihat-lihat ke sekeliling rumahnya yang sepi. Selalu sepi.


“Sorry kalau pertanyaan gue bikin lo gak nyaman.” Devan melihat jelas perubahan raut wajah indra walau masih berusaha santai.


“Santai aja kali, itu udah setahun lalu. Gue udah mulai terbiasa. Lagian posisi pernikahan gue sama rasanya dengan gue hidup sendiri. Bukan cuma karena LDR tapi karena gak memprioritaskan satu sama lain. Ya begitulah kalau nikah tanpa cinta.” Indra berusaha bersikap santai. Menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri lalu bersandar dengan santai pada sandaran kursi.


Secara sadar ia membuka dirinya pada Devan.


“Ngomong-ngomong, ada apa lo tiba-tiba ngajak ketemu gini?” Perhatian Indra kini berfokus pada sahabatnya.


Ia bisa melihat kegundahan yang Devan coba sembunyikan di balik wajahnya yang berkarakter dingin itu.


“Gue mau minta lo jadi saksi gue?” Jawab Devan tanpa ragu.


“Hem, saksi?"


"Berantem sama siapa lo sampe ada urusan ke polisi segala?”


Indra menurunkan kakinya dan mencondongkan tubuhnya pada Devan. Ia tidak pernah berpikir kalau Devan bisa keras juga di luaran sana sampai berurusan dengan pihak berwajib.


“Bukan ngadepin polisi tapi walinya Bella.” Devan tetap dengan raut wajahnya yang tenang.


“Ohhh Hahahahha… Walinya Bella.” Indra tertawa acuh mendengarnya.


“Hah, walinya Bella? Maksud lo Ozi?” Raut wajah Indra berubah dengan cepat, rupanya ia baru sadar.


“Hem. Gue mau nikahin Bella.” Devan benar-benar tidak peduli dengan raut terkejut Indra.


“Lo serius bro?”


“Nikahin Bella?”


“Emang Bellanya mau?”


Pertanyaan itu bertubi-tubi di lontarkan dengan wajah tidak percaya.


Devan berdecik sebal mendengar pertanyaan Indra. Alih-alih menjawab, Ia malah mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi chat dan memutar sebuah voice note.


“Ayaaaang dimana ayaaaang… Udah makan beluuummm?” Rupanya suara Bella yang ia putar.


Devan tersenyum dengan bangga karena berhasil membuat Indra melongo kaget.


“Ajig! Lo serius man?” Dengan mulut terbuka menahan tawa, Indra tetap dengan raut terkejutnya memandangi Devan.


“Perlu bukti lain?” Tantang Devan.


“Ini baru deket seumur jagung\, anjj***ng!" Indra mengusap wajahnya kasar\, benar-benar tidak habis pikir\,


"Lo emang bener-bener ya. Pake ramuan dukun mana lo sampe bisa dapetin Bella secepat itu?” Indra masih tidak habis pikir.


“Enak aja pake dukun! Lo sendiri yang pernah bilang kalau gue tulus, Bella pasti membuka hatinya. Dan emang kebukti kan?” Devan dengan gayanya yang jumawa, berasa jadi pemenang.


“Hahahaha… Brengsek lo emang! Itu gue cuma ngutip salah satu kalimat di script-nya Bella. Bener-bener lo lakuin rupanya.”


Devan jadi tertegun. Kutipan itu pun pernah ia baca dengan deskripsi yang menyayat di lukiskan oleh Bella.


“Gue serius minta bantuan lo, buat jadi saksi pernikahan gue besok. Lo bisa?” Devan mengulang permintaannya tanpa ragu.


“Anjir lo ya! Besok segala lo bilang!” Indra melemparkan bantal di kursi pada Devan dan laki-laki itu menangkapnya sambil tersenyum lebar.


“Jadi itu yang bikin lo memutuskan buat break syuting besok?” Indra menegaskan rasa penasarannya.


“Ya. Gue akan melangsungkan akad besok pagi dan hanya beberapa orang yang di undang."


"Setelah itu, gue sama Bella harus ke rumah sakit nganter Ozi untuk menjalani operasi.”


“Wanjaaayy.. Malem pertama di rumah sakit dong lo? Kuat gak tuh nahan si kancil gak e*a-e*a dulu?” Goda Indra dengan tawanya yang lebar.


“Brengsek lo!” Devan hanya membalasnya dengan lemparan bantal pada sahabatnya.


“Hahahaha…” Indra tertawa dengan puas melihat wajah sahabatnya yang memerah.


Bagaimana pun ia ikut bahagia atas keputusan besar yang di ambil Bella dan Devan. Satu hal yang tidak ia sangka, selain ia bisa membuka dirinya untuk bercerita masalah pribadinya pada Devan, nyatanya Devan pun sudah menganggapnya sebagai teman dekat. Bukan hanya rekan kerja yang memiliki satu visi dan misi dengannya. Mungkin karena rentang usia mereka yang tidak terlalu jauh yang membuat mereka bisa saling memahami walau tidak banyak berkata-kata.


“Lo gak berniat nyembunyiin ini dari yang lain kan bro?” Tiba-tiba saja Indra bertanya.


Mengingat tertutupnya pernikahan Bella dan Devan, tentu tidak semua orang tahu kalau dua orang ini resmi mengikat janji suci.


“Gue sama Bella sepakat untuk menjaga privasi kami walau gak sepenuhnya menutupi. Buat sekarang, cukup gue dan Bella serta orang-orang terdekat yang ikut merasakan kebahagiaan kami. Setelah Ozi sehat, gue sama Bella baru akan menggelar resepsi.” Terang Devan dengan mantap.


“Okey, gue setuju. Gue akan jadi saksi di pernikahan lo sama Bella besok.” Indra beranjak dari tempatnya dan menghampiri Devan.


“Thanks bro!” Timpal Devan seraya membalas rangkulan Indra.


"Gue ikut bahagia buat lo sama Bella. Tapi ngomong-ngomong, udaah persiapan apa aja nih si kancil" Indra sengaja menepuk perut bawah Devan dengan iseng.


"Sialan lo!" cepat-cepat Devan mendorong tubuh sahabatnya agar menjauh.


"Hahahaha..." Indra hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Devan.


Pada akhirnya, walau tanpa keluarga yang mendampingi, ada sahabat yang menjadi saksi di hari pentingnya nanti.


*****


Sebelum lanjut, jangan lupa untuk like, komen dan vote-nya yaa…


Sambil nunggu aku nyiapian bang Dev sama Neng Bella akad,


Silakan mampir ke karyanya Kak "Arion AlFattah" Yang berjudul Talak Aku!