
Sebuah langkah panjang dan cepat di ambil Rangga berurutan sambil memegangi tangan Amara yang ia tarik keluar dari kantor ini. Ia sudah tidak memperdulikan banyak pasang mata yang memperhatikan langkah cepat dan sikap kasar dirinya pada Amara.
Mukanya yang merah padam tidak memberi sedikitpun kesempatan bagi orang-orang untuk bertanya atas alasan Rangga yang setengah menyeret Amara keluar.
Ia bahkan lupa kalau wanita ini sedang mengandung dan berjalan dengan kesusahan.
“Rangga, lepasin aku Rangga. LEPASIN!” Amara terus berontak berusaha melepaskan tangan Rangga yang mencengkram pergelangan tangannya dengan erat.
Tapi semakin kuat Amara berontak semakin kuat juga Rangga memeganginya.
“Rangga, ini sakit!” Amara sampai meringis.
Tapi Rangga tetap tidak peduli. Pikirannya masih tertaut pada bayangan Bella yang bernafas terenga-engah setelah Amara mencekiknya. Semakin jelas bayangan wajah Bella yang tersiksa semakin besar kemarahannya pada Amara.
“Pergi! Kalian berdua sudah bukan urusanku lagi.” Seruan Bella seraya mengibaskan tangannya saat Rangga berusaha menyentuhnya, lebih terasa seperti tamparan keras yang membuat kepalanya berdengung.
Baru saja ia mau mengucapkan terima kasih pada Bella karena tetap berusaha menjaga nama baiknya dan Amara. Tapi siapa sangka kejadian buruk ini malah terjadi yang berakibat pada Bella lebih memilih mengabaikannya dan tidak ingin berurusan lagi dengannya.
Hatinya hancur melihat Bella seperti itu namun ia tidak bisa melakukan apapun. Menyesalpun rasanya tidak ada artinya lagi.
“BUK!!” Rangga membanting pintu mobil dengan keras sesaat setelah mendorong Amara masuk ke dalam mobil lalu menguncinya. Ia sengaja mengurung Amara di dalamnya, karena wanita ini sangat berbahaya pikirnya.
Ia berhenti beberapa saat, membiarkan Amara meronta-ronta meminta keluar dari mobil. Ia perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak bertindak lebih kasar pada Amara.
“Rangga!! Keluarin aku Rangga!!!” teriak Amara sambil menggedor-gedor pintu mobil tapi Rangga tidak menanggapinya. Kemarahannya masih terlampau besar pada Amara hingga memutuskan untuk menenangkan dirinya di luar.
"Rangga! Kamu gila! Di sini pengap Rangga!" Lagi Amara berteriak dan Rangga lebih memilih menyalakan sebatang rokok untuk mengalihkan pikirannya.
*****
Beberapa saat lalu, Devan mendapat telepon dari seseorang kalau Amara menyerang Bella. Devan yang masih berada di dalam studio dan tengah membahas hal penting dengan rekan-rekannya pun segera keluar dari studio.
"Kenapa pintunya terkunci hah, kenapa?!" seru Devan yang mulai panik.
"Nggak ada yang ngunci Van!" sahut Inka yang ikut menarik gagang pintu, namun benar ternyata pintunya terkunci.
"Siapa yang tadi terakhir keluar?" Indra bertanya pada kawan-kawannya.
"Amara!" sahut Roni.
"Brengsek!" dengus Devan seraya memukul pintu dengan keras.
Rupanya wanita itu sengaja mengunci ruangan studio agar tidak ada satupun yang bisa keluar dan menolong Bella.
"Kita dobrak aja!" Kemal sudah mengangkat kursi di tangannya hendak menghantam pintu besi itu.
"Iya di dobrak aja!" Seru Indra.
Mereka mendobrak pintu dengan tubuh mereka, lalu dengan kursi dan tetap saja pintu tebal yang terbuat dari besi ini tidak mau di buka.
Di tengah kekalutannya, Inka menelpon seseorang.
"Bawa kunci cadangan studio sekarang. BURUAN!!!" seru Inka tidak memikirkan volume suaranya lagi.
"BUK! BUK! BUK!" 5 orang laki-laki itu terus berusaha mendobrak pintu hingga satu sisi tubuhnya terasa sakit
Devan berinisiatif untuk mendobrak pintu itu bersamaan. Dan, "BRAK!!" Pintupun terbuka.
Devan segera berlari menghampiri Bella yang berjalan sempoyongan dengan dipapah oleh salah satu rekan kerjanya. Dibelakangnya ada Inka, Roni, Indra dan crew lainnya yang ikut berhambur menghampiri Bella.
Dua orang itulah yang menjadi saksi saat Amara mencekik Bella tanpa rasa ragu.
“Sayang!” seru Devan yang segera berhampur menghampiri Bella yang nyaris terkulai tidak sadarkan diri.
Tubuhnya gemetaran dan ketakutan dengan wajah pucat pasi.
“Heeyy Beell, ini aku Bell, sayang…” Devan menepuk pipi Bella yang menatapnya kosong dan tubuhnya yang lemas. Beberapa saat saja sampai kemudian mata bulat itu meredup dan Bella jatuh terkulai di pelukan Devan.
Usahanya sudah berakhir sesaat setelah orang yang ditunggunya tiba di hadapannya. Bella ambruk tidak sadarkan diri.
"BEL!!!" Panggil Devan, namun Bella benar-benar tidak bergeming.
“CEPAT PANGGIL DOKTER, CEPAT!!!” seru Devan entah pada siapa.
Wajahnya panik dan ia segera menggendong Bella dengan kedua tangannya.
“Bell, bertahan Bell…” Berulang kali Devan mengatakan hal itu sambil menggendong Bella dan membawanya berlari menuju ruangannya.
Inka dan Roni yang masih terkejut tampak melongo. Sementara Indra segera menghubungi dokter.
“Susul mereka Ka!” sentak Indra sambil menunggu panggilan tersambung. Mereka tidak kalah kaget dan cemas melihat kondisi Bella barusan.
Inka dan Roni yang baru tersadar, mereka segera menuju ruangan Devan.
Bella di baringkan di atas sofa dan Devan menyelimutinya dengan jaket yang ia kenakan. Ia masih setia memegangi tangan Bella yang dingin dan pucat pasi.
“BRENGSEK!” umpatan Devan saat itu sama dengan umpatannya dalam hati saat ini.
Dadanya panas seperti mau meledak melihat Bella yang lemah seperti ini.
“Akh sial!” dengus Devan.
Kemarahannya masih menggunung mengingat apa yang Amara lakukan pada kekasihnya. Terlebih saat ia melihat tanda merah di leher Bella serta jejak kuku tajam yang mengoyak kulit leher Bella.
Devan terkulai, terduduk di hadapan Bella yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Ia tidak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.
Mengingat Amara, Devan hanya bisa mengepalkan tangannya. Ia baru tahu kalau ada wanita yang bisa sejahat itu pada istrinya.
“Van, dokternya udah datang!” seru Inka yang datang bersama seorang dokter.
“Tolong periksa istri saya dok.” Sambut Devan dengan segera. Dokter itu segera memeriksa Bella.
“Istri?” Bisik Roni pada Inka.
“Devan kok manggil Bella istri?” Ada kebingungan di sela kecemasannya.
Inka hanya mendelik, ia tidak berniat menjawab rasa penasaran Roni saat ini. Ia hanya mencemaskan Bella yang ada di hadapannya.
“Bagaimana dok? Apa istri saya baik-baik saja?” Lagi Devan bertanya setelah dokter menyelesaikan pemeriksaannya.
“Secara fisik, kondisi pasien baik. Dia memang sempat kekurangan oksigen, tapi sepertinya sudah pulih dengan sendirinya. Saya rasa, pasien pingsan karena shock.” Terang dokter seraya menaruh kembali tangan Bella yang semula ia periksa di bagian ujung jarinya.
Tidak ada tanda membiru disana.
“Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang? Apa kita harus membawanya ke rumah sakit?”
“Tidak perlu pak. Bapak tenangkan diri terlebih dahulu, tidak lama lagi pasien akan siuman.”
“Huh.. syukurlah..” Nafas Devan berhembus pelan walau kecemasannya tidak lantas berkurang.
Ia memegangi lagi tangan Bella yang ia genggam dengan erat. Melihat semua kecemasan Devan yang tidak biasa, membuat Roni berpikir keras.
“Ka, mereka beneran udah nikah? Apa Devan lagi halu?” Lagi Roni bertanya.
Namun bukannya jawaban yang ia terima, melainkan sebuah sikutan di perutnya.
Ada yang bisa jelaskan pada Roni situasi saat ini?
*****
“RANGGA!!!! BERHENTI RANGGA!!!” seru Amara yang sejak tadi berteriak-teriak karena Rangga memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Entah kemana arah yang dituju Rangga yang jelas ia ingin membawa Amara sejauh mungkin agar tidak lagi menyakiti Bella.
“RANGGA, AKU BILANG BERHENTI! Kamu bisa membunuh aku dan bayiku!” Amara masih saja protes sambil berpegangan erat pada sabuk pengaman dan handling grap di sisi kiri kepalanya. Melihat cara menyetir Rangga yang sembarangan membuat hatinya ketir. Ia tidak mau mati sekarang.
“DIAM! AKUBILANG DIAM!!” Rangga tidak kalah menyalak. Ia melirik Amara dengan tatapan tajam melalui spion mobilnya sementara tangannya masih mencengkram stir dengan kuat.
Satu lagi mobil di salip Rangga dari kanan, putaran setir yang cepat membuat mobil nyaris menabrak pembatas jalan.
“RANGGA! KAMU GILA!! AKU MAU PULANG!” Amara panik setengah mati.
“KAMU YANG GILA RA! KAMU YANG GILA! KAMU HAMPIR MEMBUNUH BELLA!” bentakan Rangga terdengar bergetar bercampur dengan tangisnya yang pecah tanpa ia tahan.
"BRENGSEK!! BRENGSEK! BRENGSEK!!" Ia memukul-mukul stir di tangannya membuat suara klakson mobilnya terkesan memprovokasi kendaraan di depannya.
Ia mengguyar rambutnya dengan kasar lantas mengusap wajahnya. Ia masih tidak habis pikir dengan semua yang terjadi.
dari tempatnya. ini kali pertama Amara melihat Rangga menangis untuk seorang wanita dan itu Bella. Saat berpisah dengan Bella, laki-laki ini bahkan dengan mudah ia rayu tapi saat ini, ia seperti tidak mengenali Rangga lagi.
“Aku mau pulang Ga, aku mohon.” Rengek Amara pada akhirnya. Ia tahu ia tidak bisa terus bersikap keras pada Rangga.
“Silakan kalau kamu masih mau marah sama aku, tapi tolong antar aku pulang dulu. Jangan di mobil kayak gini.” Amara setengah memohon. Ia juga sengaja mengusap perutnya di depan Rangga agar Rangga iba.
Tidak menimpali ucapan Amara tapi kemudian Rangga membanting stirnya ke kanan. Ia memang tidak memiliki arah yang jelas untuk ia tuju dan saat melihat perut Amara, ia jadi tidak tega. Ia tahu, ia tidak bisa sekeras ini pada bayi di kandungan Amara.
“Aku akan mengurung kamu di apartemen dan jangan pernah berpikir untuk kabur apalagi menemui Bella. Aku bisa saja bertindak nekad dengan melaporkan kamu ke polisi kalau kamu masih bertingkah dan mengancam keselamatan Bella.” Tutur Rangga dengan penuh kemarahan.
“Apa, laporin aku ke polisi? Kamu setega itu sama aku Ga? Aku lagi hamil Rangga!” lagi Amara menggunakan kehamilannya untuk membuat Rangga iba.
“Polisi pasti tau cara memanusiakan kamu. Tapi tidak dengan aku.” Tegas Rangga tanpa bisa di bantah.
“RANGGA!” bentak Amara tidak terima dan Rangga memilih tidak menimpalinya.
Keputusannya sudah bulat, ia tidak segan melaporkan Amara ke polisi kalau Amara masih berbuat jahat pada Bella.
“Brengsek!” dengus Amara dalam hati. Entah pada siapa kemarahan itu ia tujukan.
****