Bella's Script

Bella's Script
Real Bella's Script



Rencana untuk berbulan madu sepertinya harus di tunda untuk sementara. Semua harus dilakukan demi menjaga keselamatan sang ibu hamil dan jabang bayinya.


Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, usia kehamilan Bella berusia sekitar 5 minggu dan dalam keadaan sehat. Kendati demikian, dokter tidak menyarankan Bella untuk bepergian jauh apalagi menggunakan pesawat. Jadi rencana bulan madu di tunda dulu sampai batas waktu yang tidak di tentukan.


Untuk merayakan kebersamaannya, Devan tidak kehabisan akal. Ia mengajak Bella berlibur ke pulau seribu dengan menggunakan mobil Van yang menjadi mas kawinnya saat menikahi Bella.


Walau sudah memesan penginapan tapi saat ini mereka masih ingin menikmati pemandangan malam di tepi pantai dari dalam mobil. Devan menutup semua pintu dan membuka tirai yang menutupi kaca mobilnya. Ia bisa melihat deburan ombak yang saling menggulung satu sama lain hingga pecah di tepi pantai. Sangat menenangkan dan menyenangkan.


Devan terduduk di atas tempat tidur, sementara Bella membaringkan tubuhnya dengan kedua kaki Devan sebagai bantalan. Di tangannya, Bella masih memegang sebuah buku catatan yang ia pergunakan sejak ia SMA. Tepatnya sejak kematian sang ayah.


Semua hal penting yang ia alami tercatat di sana. Buku ini tidak ubahnya seperti teman berbagi Bella dari waktu ke waktu. Curahan penting Bella baik dari pikirannya atapun perasaannya.


Di mulutnya ia masih mengigiti ballpoint yang ia gunakan untuk menulis.


“Ada yang lagi kamu pikirkan?” Tanya Devan, yang sejak tadi memperhatikan Bella yang tampak berpikir serius.


Satu tangannya mengusap perut Bella dengan lembut. Entahlah, ini menjadi hobby baru Devan yaitu mengusap-usap perut Bella penuh sayang.


“Em,… Aku kepikiran sesuatu sejak beberapa bulan lalu. Tapi aku belum yakin, ini langkah yang tepat atau nggak.” Timpal Bella.


Ia menengadahkan kepalanya demi menatap wajah sang suami.


“Perlu masukanku?” Tanya Devan sambil mengusap dahi Bella yang berkerut karena serius berpikir.


“Iya.” Bella berusaha untuk bangun dengan di bantu Devan. Mereka duduk berhadapan.


“Okey, apa yang bisa aku bantu.” Devan menatap Bella penuh atensi.


“Jadi gini,” Bella menutup buku catatannya dan menaruhnya di hadapan ia dan Devan.


“Sejak aku memutuskan untuk setuju menikah, aku mulai berpikir mungkin akan lebih baik kalau aku berhenti bekerja di PH.” Bella menggantung kalimatnya menunggu perubahan ekspresi Devan. Tapi laki-laki itu tidak bergeming, seperti tidak terpengaruh.


“Aku merasa kalau banyak hal yang harus aku pelajari setelah menjadi seorang istri.” Lanjutnya.


“Apa pernikahan kita membuat kamu merasa terbebani sayang?” Devan berrespon dengan cepat. Ia menangkup satu sisi wajah Bella dan menatapnya dengan khawatir.


“No, bukan gitu.” Bella mengambil tangan Devan untuk ia genggam.


“Aku merasa kalau aku harus belajar banyak hal setelah menikah. Dan aku, bukan orang yang pandai membagi fokus. Saat aku bekerja, aku selalu terlalu fokus pada pekerjaanku. Aku bisa mengabaikan banyak hal karena selalu merasa kalau aku harus melampui target yang diberikan tempat kerjaku.”


“Dan aku, gak mau kalau keluarga kecil yang baru kita mulai malah terabaikan.” Bella tersenyum kelu. Ia sadar benar kekurangannya dalam membagi fokus.


“Tapi menulis bukan hanya pekerjaan kamu melainkan juga passion kamu. Apa kamu benar-benar bisa  melepaskannya?” Devan menatap Bella dengan cemas. Ia tahu benar, secinta apa Bella pada dunia menulis.


“No, aku bukan mau berhenti menulis. Hanya saja, aku mau belajar mengatur target dan waktuku sendiri tanpa tekanan dari manapun.”


“Kalau di kantor, aku selalu di kejar deadline. Ya walaupun itu bagus untuk perkembangan pekerjaanku tapi aku sering kali tidak cukup puas dengan hasil pekerjaanku kalau tergesa-gesa. Aku mulai ingin menikmati setiap moment baru dalam hidupku."


"Kapan aku mengurus keluarga kita kapan aku menjalankan hobiku menulis. Aku ingin menikmati setiap detik yang aku habiskan untuk menulis satu per satu kata yang muncul di pikiranku.”


“Dan setelah tau kalau aku hamil, aku merasa ada mimpi baru yang ingin aku raih.” Bella mengalihkan perhatiannya pada perutnya yang masih rata.


“Aku mau nulis untuk anak-anak."


"Aku ingin membuat setiap anak yang melewati masa kecilnya dengan kurang beruntung, merasa tetap bisa menikmati masa-masa pertumbuhan psikologis mereka. Mental mereka harus tetap sehat dan terperhatikan. Dan aku berencana untuk bertemu psikolog untuk riset apa yang bisa aku tulis untuk anak-anak.” Terang Bella, dengan mata penuh binar.


“Gimana menurut Mas?” kali ini binar mata itu tertuju sepenuhnya pada Devan.


Devan bisa melihat semangat Bella yang menyala-nyala saat mengungkapkan keinginanya.


“Bagaimana mungkin aku menolak rencana yang indah itu? Tentu saja aku menyetujuinya.” Jawab Devan dengan yakin.


“BENARKAH?” Bella sampai terlonjak senang dengan apa yang di dengarnya.


“Hem,… Tentu saja.”


“Pikiran kamu yang seperti ini yang selalu membuatku merasakan jatuh cinta lagi dan lagi. Kamu tidak pernah mau melewatkan masa untuk bertumbuh Bell. Aku bangga sama kamu.” Ungkap Devan sambil mengusap kepala Bella dengan sayang.


“Eeeem,… Terima kasih. Dukungan Mas berarti banget buat aku.” Bella Berhampur memeluk Devan. Ia membenamkan kepalanya di dada Devan dengan kedua tangan yang melingkari tubuh tegap itu.


“Sama-sama sayang,… Mana mungkin aku gak mendukung pilihan kamu yang selalu membuat jantungku berdebar kencang lalu kemudian berdetak lebih tenang namun kuat.”


Devan membalas pelukan Bella dengan erat. Di usapnya punggung Bella seraya memberikan kecupan-kecupan singkat di kepala Bella lalu mengecupnya sedikit lebih lama dengan penuh perasaan.


“Kamu manis banget sih Mas. Sayang banget aku sama Mas.” Ungkap Bella dengan penuh kesungguhan.


“Aku juga sayang kamu dan tentu saja sayang anak kita.” Balas Devan.


Bella terkekeh kecil mendengar ucapan suaminya.


“Kalau gitu, aku akan mencatatnya di sini. Ini moment penting buat aku.”


Bella melepaskan pelukannya dari Devan dan mengambil buku yang semula berada di tengah-tengah mereka.


“Aku boleh ngintip?” Goda Devan.


“Boleh dong. Mulai hari ini, gak cuma aku yang nulis di sini, tapi juga mas.” Bella membuka buku itu lebar-lebar.


“Oh ya? Apa yang harus aku tulis?” Devan jadi penasaran.


“Em,… Apapun yang menurut Mas menjadi moment sangat penting. Pokoknya, aku harap catatan ini bisa membantu mengingat apa yang udah kita lewati selama ini. Jadi kalo nanti kita tua, kita bisa mengingat banyak hal dari catatan ini. Seperti sekarang, aku mau nempelin hasil UGS kemarin.” Bella mengambil hasil USG yang ia simpan di dalam dompetnya.


“Unchhh, baby aku gemes banget sih.” Cicit Bella dengan gemas sambil mengusap-usap hasil USG di tangannya.


“Okey, kita tempel sama-sama. Lem-nya ada?” Devan ikut antusias.


“Ada di tas aku.” Bella celingukan mencari tasnya.


“Okey, di sini. Izin aku ambil ya sayang.”


“Silakan papa Devan.” Jawab Bella dengan suara yang menggemaskan.


Devan tersenyum gemas mendengarnya.


Ia mengambil lem dari dalam tas Bella lalu mengoleskannya di halaman belakang hasil USG.


“Pasang di sebelah mana nih?” Devan mencoba mencari titik yang tepat untuk menempelkan hasil USG.


“Di sini aja, yang simetris. Biar nanti kiri sama kanannya aku gambarin.” Bella menunjuk kertas di tengah-tengah.


Devan patuh memasangkan hasil USG di sana.


“Waahh, keren.” Ungkap Devan setelah hasil USG terpasang.


“Sebentar aku gambari dulu.”


Bella mulai menggambar sesuatu di sana dan menuliskan kata-kata. “My baby bola ubi.” Gumamnya yang serius menggambar dan menulis.


“Kenapa namanya Baby bola ubi?” Devan menoleh penasaran.


“Karena bentuknya masih bulat sempurna. Dia juga gemoy banget. Makanya aku kasih nama My baby bola ubi.” Bella terkekeh sendiri dengan ucapanya begitupun Devan.


“Okey, udah selesai.” Lanjut Bella setelah puas menggambari dan menulisi buku catatannya. Devan kembali berbalik dan melihat hasilnya.


“Hahahaha,… Lucu banget sih. Aku juga mau nulis dong.”


“Boleh. Nih.” Bella memberikan bukunya pada Devan lalu berbalik dan menepuk punggungnya agar Devan menulis di sana.


Tanpa ragu Devan menulis beberapa baris kalimat. Sementara itu Bella tertawa geli sendiri saat goresan tangan Devan cukup terasa di permukaan punggungnya.


“Mas nulis apa sih, kayaknya panjang banget.” Bella menoleh penasaran.


Alih-alih meminta istrinya berbalik, Devan memilih melingkarkan tangannya di tubuh Bella. Ia membuka lebar-lebar buku itu hingga ia dan Bella bisa sama-sama membacanya. Bella menyandarkan tubuhnya dengan nyaman pada Devan.


“Hihihi,… Ini maksudnya aku, ini mas Devan dan ini anak kita?” Bella menunjuk gambar yang di buat Devan dengan lingkaran bulat di tengah-tengah antara gambar ia dan Devan.


“Iya. Emang gak mirip ya?”


“Nggak lah. Rambut aku kan cenderung lurus, kenapa jadi kayak singa begini?” ejek Bella yang kemudian terkekeh.


“Ya udah, gambarnya di hapus aja deh.” Devan putus asa. Gambarnya memang sangat buruk karena ia tidak bisa menggambar.


“Eh, jangan. Yang ada di buku ini gak boleh di coret dan di hapus, sekalipun itu tulisan bodoh atau gambar payah seperti ini.”


“Jadi maksudnya, gambar aku payah?” Devan menatap Bella tajam.


“Hahahaha,… Emang mas gak sadar? Masa bentuk badan mas kayak spongebob gini? Hahahahaha,…” Puas sekali Bella tertawa membuat Devan ikut tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Anak kita harus banget nanti liat gambar ini, aku mau tau reaksinya.” Bella begitu sulit menghentikan tawanya.


“Jangan dong yang. Aku kan malu. Aku gak bisa bayangin kalau dia tau bapaknya sepayah ini dalam menggambar.” Tolak Devan.


“Tapi dia juga harus tau, kalau do’a bapaknya setulus ini.” Bella menunjuk bagian lingkaran yang berisi kata-kata yang Devan tulis untuk anaknya kelak.


“Heheheh,… Iya juga ya.” Sepakat Devan pada akhirnya.


“Ngomong-ngomong, buku ini gak ada judulnya. Mau di tulisin apa nih di bagian depannya?” Devan memperhatikan sampul buku yang polos.


“Diary? Akh tapi terlalu sok remaja. Apa buku catatan? Tapi kesannya kayak buku catatan hutang.” Bella berbicara sendiri sambil berpikir.


“Mas, bantuin cari ide nama dong buat bukunya.” Bella melirik sang suami yang hanya diam sambil senyum-senyum melihat setiap perubahan ekspresi Bella.


“Em,… Gimana kalau namanya Bella’s Script?” Saran Devan.


Bella langsung menoleh pada suaminya. “Kenapa namanya harus Bella’s Script?” ia mengernyitkan dahinya tidak paham.


“Ya karena buku ini milik kamu. Semua orang yang kamu ceritakan di sini, tidak ubahnya seperti para toko di script yang kamu buat dengan rapi. Aku pun bagian dari script di sini hanya saja, aku berperan sebagai pemeran utama.”


"Istilahnya samaan sama script buatan aku dong?"


“Ada bedanya sayang. Beda buku ini dengan script yang biasa kamu buat adalah, di buku ini, para tokoh bebas menentukan sikapnya sendiri bahkan bebas memutuskan akan membuat ending seperti apa dan apa mereka akan bertahan di script ini atau nggak. Tugas penulis hanya menceritakan peran dan kesan mereka, bukan takdir mereka. Gimana?” Terang Devan panjang lebar.


“Waahh, keren. Analisanya mantap sekali bapak ini.” Bella bertepuk tangan dengan bangga.


“Hahahaha,… Jadi gimana, kamu setuju?” Devan kembali bertanya.


“Ya, aku setuju. Mari kita namai buku ini dengan nama Bella’s Script.” Tegas Bella penuh semangat.


“Silakan.” Devan memberikan ballpointnya pada Bella.


Bella segera menekuk kakinya yang ia jadikan alas untuk menulis. Ia pun mulai menulis satu per satu huruf dengan apik hingga terbentuk dua kata “Bella’s Script.”


“Kereenn,…” Puji Devan seraya mengecup pucuk kepala Bella. Bella tersenyum dengan bangga memandangi bukunya sendiri.


“Kalau gitu, aku mau nulis satu cerita penting di sini.”


“Oh ya, apa?” Devan yang penasaran, menempatkan dagunya di bahu Bella.


Dengan antusias Bella menoleh dan membuat wajah mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat.


“Mau aku praktekin dulu sebelum aku tulis.” Ucap Bella yang terdengar seperti bisikan.


“Go ahead!” Hasut Devan yang tersenyum kecil.


Dengan lembut, Bella mengusap pipi Devan. Tidak hanya itu, ia pun mendekatkan wajahnya pada Devan membuat jarak mata mereka hanya beberapa senti saja. Hidung mereka bahkan sudah bersinggungan.


Selalu, jantung keduanya berdebar sangat kencang setiap kali mereka merasakan hembusan nafas yang hangat menerpa wajah mereka di padu tatapan lekat dan saling saling menginginkan satu sama lain.


Lantas Bella mendekatkan wajahnya pada Devan. Di kecupnya bibir Devan yang berisi. Devan membalasnya membuat Bella bertambah antusias untuk mengecup dan menggigit bibir Devan. Di taruhnya buku yang ia genggam dan berbalik menghadap Devan.


Ia melakukan pagutannya lebih dalam dan dalam lagi, membiarkan lidah Devan menerobos mengabsen setiap sudut di rongga mulutnya.


Bella terengah saat Devan mengusap lehernya, lalu turun ke dada dan ke perut.


Saat di atas perut Bella, Bella segera menahan tangan Devan agar tidak melanjutkan semuanya. Ia ingat persis pesan dokter untuk menjaga rahimnya agar tidak berkontraksi.


Devan sepertinya paham karena saat ini tangannya berpindah untuk menangkup kedua sisi wajah Bella.


Keduanya terengah nyaris kehabisan nafas. Dengan terpaksa mereka mengakhiri gairah yang sudah berkumpul di ubun-ubunnya. Keduanya sama-sama berusaha menenangkan diri masing-masing agar tidak melakukan hal yang berbahaya bagi janin dalam kandungan Bella.


“I love you Bell,…” Bisik Devan saat menempatkan dahinya di dahi Bella. Nafasnya masih menderu bersahutan dengan Bella.


“I love you Mas,…” timpal Devan.


Dan deburan ombak serta hembusan angin menjadi musik alam yang membuat mereka tenang dalam beberapa saat. Mereka membaringkan tubuh dan saling berpelukan.


Lantas keduanya tersenyum, menikmati moment indah yang akan mereka tuliskan bersama di dalam buku Bella’s Script. Banyaknya lembaran kosong yang tersisa tidak akan cukup menggambarkan bagaimana bahagianya memiliki satu sama lain untuk selamanya.


Devan mengusap wajah Bella, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi dahinya. Tatapannya yang lembut selalu berhasil mengunci pandangan Bella agar tidak beralih ke sudut lain. Ini akhir hari yang indah, dimana mereka bisa memeluk satu sama lain tanpa rasa takut ataupun ragu.


Buku itu di pindahkan Devan ke atas meja kecil. Di tutupnya sebagai pertanda hari ini pun akan ia tutup dan menjadikannya salah satu kenangan yang indah dalam hidup mereka.


Bella's script, akan menjadi buku cerita yang akan menemani mereka sampai tua.


Selamat malam orang-orang terkasih. Jemputlah mimpi indah dan kelak terbangunlah di hari baru dalam keadaan yang lebih baik dan penuh cinta.


*****