
Beberapa hari ini Bella di sibukkan dengan pengerjaan project film-nya. Pembahasan script dengan tim, rapat dengan departemen lain dan tentu saja pembuatan POA pengerjaan film dalam waktu dekat.
“Lusa gue mulai ngegarap casting pemain. Mudah-mudahan kita bisa langsung dapet pemain yang cocok buat gabung di project kita.” Ujar Intan selaku casting director.
“Munculkan orang-orang baru yang kualitas acting-nya bagus biar penonton gak bosen dan kita bisa bikin citra tersendiri.” Sahut Jihan selaku produser.
“Kita juga punya manajemen, mungkin gak ada salahnya kita ngeliat orang-orang yang masih ada di naungan PH kita.” Eko ikut bersuara.
“Okey, siap bos.” Sahut Intan dengan cepat.
“Gue sama tim udah bikin penjadwalan buat proses syuting. Semoga ini bisa di akomodir sama departemen casting.” Devan menyerahkan jadwal syuting pada Intan.
Intan membacanya beberapa saat sebelum akhirnya ia menyetujui. “Okey, kita usahakan minggu depan udah reading bareng pemain. Gimana soal lokasi?”
"Ada beberapa tempat yang mau gue survey ulang, gue harap tim lo bisa ikut ya. Buat nyocokin sama ceritanya." Pinta Alan pada Devan.
"Tentu, kabarin gue kapan kita bisa sama-sama pergi survey tempat." tegas Devan.
“Okey semua udah termapping dengan baik yaa.. Tinggal masing-masing departemen ngelaksanain tugas sesuai rencana kita. Sekarang, ayok kita ngumpul dulu.” ajak Eko.
Mereka mengelilingi meja tempat rapat, mengulurkan tangannya masing-masing lantas bersamaan bersorak, “SUKSES!!!” seru mereka bersamaan.
Suara tepukan pun menjadi akhir pertemuan sore ini.
Keluar dari ruang rapat Bella berjalan bersisian dengan Devan. Keduanya tampak asyik berbicara sambil sesekali tertawa.
Dari kejauhan terlihat Melisa dan Rini yang memperhatikan keduanya.
“Gue makin yakin deh kalau mereka itu ada hubungan.” Ujar Rini, sedikit berbisik pada Melisa.
“Ya biarin aja kalau punya hubungan juga, apa urusannya sama kita?” timpal Melisa.
Ia mengambil gelas yang sudah terisi air minum lantas membawanya ke meja kerja.
“Ya jadi masalah laaahh. Kalau suatu waktu mereka berantem, yang kena imbasnya kita satu departemen. Itu sebabnya satu tempat kerja gak boleh ada hubungn asmara. Lagian apa kata orang kalau di departemen kita ada yang kumpul kebo.” Ujar Rini dengan suara lantang.
“Hush!” desis Melisa saat Bella dan Devan melintas di depan mereka.
Langkah Bella langsung terhenti, begitu pun dengan Devan.
Rini yang membelakangi keduanya masih terus bergosip dengan asyik. Sementara Melisa yang menghadap ke arah Bella dan Devan, susah payah memberi kode meminta Rini berhenti bicara. Tapi sepertinya Rini tidak paham.
“Dia tuh udah punya cowok. Pacarannya aja udah hampir delapan tahun. Kemaren aja sok alim bilang ogah liat cowok-cowok casting telanjang dada, eh ini tau-taunya malah tinggal serumah sama temen sekantor. Gak tau malu emang. Sok suci! Dasar miss center of attention!” cerocos Rini.
Lawan bicara Rini yang terdiri dari rekan kerja di departemen lain hanya mengangguk-angguk mengiyakan ucapan Rini. Tidak terdengar jelas seperti apa komentar mereka.
“Sorry, lo ngomongin siapa ya? Asyik banget kayaknya!” Bella menepuk bahu Rini.
“Astaga!” Rini langsung terperanjat.
“Elu sih!” Melisa memukul bahu Rini dengan lumayan keras.
“Tadi lo ngomong apa? Di departemen kita ada yang kumpul kebo padahal punya pacar dan udah pacaran 8 tahun. Maksud lo itu ke gue?” seru Bella seraya menatap tajam pada Rini.
“Emang iya!!! Kenapa, bener ya omongan gue?!” Tidak di sangka Rini mendorong tubuh Bella menjauh darinya. Sungguh respon tidak terduga dari Rini.
“Lo tinggal serumah kan sama bang Devan, ngaku aja deh lo!” lagi Rini menyalak keras membuat orang-orang menghampiri untuk melihat pertengkaran Rini dan Bella.
“Heh, lo gak tau apa-apa ya soal gue, jadi gak usah sok tau deh. Lagian ya, gue semenarik apa sih buat lo sampe lo suka banget ngurusin hidup gue? Luang banget kayaknya waktu lo sampe ngurusin hidup gue!” Bella balas menyalak.
Entah dari mana asal kabar ia dan Devan tinggal serumah. Mungkin karena tidak mengurusi masalah pribadi di kantor sehingga ia tidak terlalu peka terhadap perhatian orang-orang secara pribadi terhadapnya. Tapi sepertinya, dugaannya salah. Masalah pribadinya di perhatikan oleh orang banyak.
“Udah Bel. Bell udah!” Devan berusaha menahan tangan Bella namun dengan tegas Bella mengibaskannya.
“Lo liat kan, bang Devan perhatian banget sama dia. Liat kan kalian semua?” Rini tidak mau kalah. Ia menghasut orang-orang di sekitarnya.
Orang-orang berbisik dengan tatapan sinis pada Bella.
“Kenapa, lo sirik? Lo suka ya sama Devan tapi gak punya nyali dan gagal nyari perhatian dia jadi lo lampiasin ke gue?!” Bella tersenyum sinis.
“Bellaaa udah Bell.” Devan masih berusaha menahan.
“Lo gak usah ikut campur Devan!” Bella kembali mengibaskan tangannya namun kali ini di tahan dengan kuat oleh Devan.
“BELL UDAH!!!!” suara Devan kali ini terdengar begitu keras, membuat semua orang terhenyak dan terdiam.
“Apa lo bilang?” Bella menatap Devan dengan sinis. Lagi, ia mengibaskan tangannya yang di genggam kuat oleh Devan.
“Maksud lo gue harus diem aja gitu dia ngomong sembarangan?”
“Lo liat, cewek ini suka sama lo. Dan gara-gara lo deket gue, bacotannya jadi sembarangan.” Tunjuk Bella pada Rini.
Rini hanya mengerlingkan matanya. Merasa tidak bersalah membuat amarah Bella terpancing. Sementara orang-orang tidak menyangka kalau Bella yang tenang dan fokus dengan pekerjaannya, bisa sangat murka saat masalah pribadinya di usik.
“Kalau lo ada urusan perasaan sama Devan, silakan lo omongin sama orangnya. Gak usah bawa-bawa gue.” Seru Bella. Di dorongnya Devan mendekat pada Rini dan Bella pergi begitu saja.
Devan mengusap wajahnya kasar, ia tidak menyangka dengan sikap Bella. Di tatapnya Rini dengan tajam, namun entah apa yang harus ia katakan saat ini. Yang paling mendesak adalah menghadapi Bella.
“BELLA! BELL!!” panggil Devan.
Namun Bella tidak memperdulikannya. Ia memilih pergi meninggalkan orang-orang yang memandanginya dengan tatapan yang beragam.
*****
Suasana ruang kerja Bella cukup sunyi. Hanya ada suara keyboard yang di tekan dengan penuh tenaga oleh Rini sambil sesekali mendelik pada Bella. Emosinya masih belum reda setelah pertengkaran tadi dengan Bella.
5 menit lagi menjelang jam pulang, Bella sudah merapikan mejanya. Ia mencoba menghubungi Rangga lewat aplikasi messangernya dan sudah lebih dari 1 jam tidak ada balasan.
"Ga, bisa kita ketemu?" tulis Bella yang belum di baca Rangga.
Lantas ia mencoba untuk menelpon Rangga, namun hingga beberapa kali panggilan, tidak ada satupun yang di jawabnya.
Huft, sungguh kebiasaan yang tidak pernah membuat Bella terbiasa. Ia sedang membutuhkan teman untuk berbicara ataupun hanya sekedar menemaninya saat ia merasa sendiri tapi sayangnya Rangga tidak selalu bisa diharapkan keberadaannya.
Akhirnya Bella memutuskan untuk membuka aplikasi ojek online untuk membawanya pulang.
Entah langsung pulang ke rumah atau pergi ke tempat lain untuk menenangkan pikirannya.
Satu tempat yang akhirnya ia pilih.
Suara hingar bingar musik terredam oleh dinding setebal 10 cm. Di dalam ruangan seluas 5m x 6m itu Bella memilih daftar lagu sendirian dan menyanyikannya.
Lagu pertama yang ia nyanyikan adalah lagu rock. Lengkingan suaranya membuat sound berderit hingga Bella menutup telinganya sendiri. Ia sempat terengah-engah kehabisan nafas. Sebotol air mineral di minumnya hingga habis setegah.
Lagu kedua di pilihnya, lagu dangdut yang biasanya di nyanyikan bersama teman-teman satu departemennya dulu. Teman-temannya asyik berjoget sementara ia bernyanyi walau sering kali suaranya fals karena sambil tertawa. Tapi ia menikmati masa-masa itu. Masa dimana ia bisa tertawa bersama teman satu team, bukan malah bersitegang seperti tadi.
Selama 6 tahun bekerja di PH, baru kali ini ia bertengkar dengan rekan kerja. Entah apa alasannya hingga dengan mudah Rini mengucapkan kata-kata yang tidak pantas untuk di dengar.
Tidak seru rasanya ia bernyanyi dangdut sendiri. Ia memutar playlist lain. Lagu POP Indonesia yang sangat sering ia dengar.
Ia terduduk di tengah kursi, menunggu layar menampilkan kalimat pertama untuk ia nyanyikan.
“Aku tak percaya lagi dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini tersudut menunggu mati.”
“Kenapa ada derita bila bahagia tercipta?
Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan?”
Suaranya tidak sampai malah serak dan tidak terdengar. Hanya ada pekikan tangis yang membuat ia mengusap kasar air matanya. Ia terengah-engah dalam tangisnya sementara bibirnya perlahan melafalkan barisan kalimat yang dibiarkan berlalu begitu saja.
Lantas suaranya kembali lirih,
“Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita.”
Dan akhirnya ia tidak melanjutkan lagunya. Ia membiarkan musik berjalan tanpa vokal. Ia tertunduk bertumpu pada kedua lengannya sendiri. Ia menangis lirih, kenapa belakangan ini begitu sulit. Ozi yang sakit, hubungannya dengan Rangga yang tidak menemukan titik temu dan sekarang masalah di tempat kerja. Rasanya ia lelah.
Setelah merenungi semua masalahnya, Bella berusaha berpikir dewasa. Ia mengepalkan tangannya untuk menguatkan dirinya sendiri.
“Lo bisa Bell. Seperti sebelumnya juga lo bisa.” Bella berujar pada dirinya sendiri.
Semua memang terasa berat saat ia merasa tidak punya teman untuk berbagi. Namun sayangnya, tidak ada waktu untuk ia terpuruk. Ia harus tetap berdiri tegak seperti sediakala.
Akhirnya ia bangkit. Satu lagu terakhir yang ia nyanyikan soundtrack film AADC. Ia melonjak-lonjak sendiri sambil bernyanyi. Di usapnya air mata dan ia berusaha tersenyum lebar.
“Lo bisa bell, LO BISAAA!!!!” teriaknya di tengah-tengah lagu.
Setelah lagu selesai, ia memilih menyudahi karaokenya. Waktu yang rencananya ia habiskan selama 2 jam, ternyata ia sudahi begitu saja.
Keluar dari bilik karaoke, perasaannya sudah lebih baik. Ia membeli minuman manis untuk meningkatkan moodnya.
Sambil memegang minuman manis bersoda di tangannya, ia berjalan di trotoar, menikmati pemandangan sekitar. Kendaraan hilir mudik dan orang-orang berlalu lalang, entah kemana tujuan mereka. Yang jelas, ia tidak lagi sendirian walau rasa sepi itu ada.
Dari kejauhan, ia melihat seseorang menunggunya di sebuah mobil. Laki-laki gondrong yang bersandar pada mobilnya sambil asyik memainkan ponselnya.
“Ngapain tuh anak di sini?” pikir Bella. Ia terus melanjutkan langkahnya hingga melewati Devan.
“Ngapain lo di sini?” sinis Bella.
Devan pun tersadar, ternyata Bella sudah ada di hadapannya.
“Lo gak baca chat gue?” tanyanya.
“Ngapain lo nge-chat? Gue bukan bocah kali. Gue tau jalan pulang. Lagian, gue belum mau pulang. Lo duluan aja.” ia memilih meninggalkan Devan.
Tidak ada perdebatan, Devan akhirnya mengikuti langkah kaki Bella yang entah menuju kemana.
Ia mengeluarkan sebatang rokok yang hendak ia sulut dengan korek di tangannya.
“Lo gak bisa baca?” sinis Bella, sambil melirik tulisan di cangkang rokok.
Devan tersenyum kecil saat membaca tulisan berwarna putih lengkap dengan gambar tenggorokan yang bolong. Akhirnya ia urung menyalakan sebatang rokok itu dan membuangnya ke tempat sampah.
“Sorry kalau gue bikin lo kena masalah.” Ujar Devan lirih.
Bella pura-pura tidak mendengar. Ia asyik menyedot minuman manisnya hingga berbunyi “Srruuutttt” karena sudah habis.
“Gue selalu berpikir kalau saat gue pulang ke sini, gue bakal ketemu sama Ozi yang sama, tante Saras yang sama dan Bella Andini Fauziah yang sama. Tapi sepertinya, gue salah.”
“Gue lupa kalau udah banyak yang kita lewati dan bisa bikin kita berubah.”
Devan melebarkan langkahnya melebihi Bella, lantas berdiri persis di hadapan Bella dengan jarak yang lumayan dekat.
Bella berhenti memainkan sedotan di tangannya dan mulai memperhatikan Devan.
“Gue juga lupa kalau sekarang banyak hal yang harus kita jaga, terutama dari pandangan orang lain. Dan untuk itu, gue minta maaf.” Devan berkata dengan penuh kesungguhan.
“Terus, apa yang mau lo lakuin sekarang? Jaga jarak dari gue?” timpal Bella.
Devan tersenyum simpul.
“Lo emang gak bisa di ajak berbasa basi.”
“Ctak!!” Devan menyentik dahi Bella dengan gemas.
“Adduuuhhhh… Elo yaaa… Belum juga gue maafin, udah bikin salah lagi.” Ia mengusap-usap dahinya yang terasa sakit lantas mengacungkan bogemnya pada Devan.
Devan malah tertawa sambil berlari meninggalkan Bella. Bella menyusulnya dengan cepat dan mereka berlarian.
Tiba di jembatan, Devan menghentikan langkahnya. Ia bersandar pada pagar jembatan dan begitupun Bella. Nafasnya hampir habis karena mengejar Devan.
Melihat Bella yang kepayahan, Devan tertawa kecil.
“Udah hilang kan marahnya?” tanyanya meledek Bella. Wajahnya memerah karena kelelahan.
“Resek lo!” timpalnya.
Ia memang urung memukul Devan karena nafasnya yang hampir habis.
Mereka berdiri bersisian, melihat ke depan sana. Ternyata di depan mereka ada sebuah danau. Riak airnya terlihat indah dan menyegarkan ketika terkena cahaya lampu.
“Gue udah nemuin rumah yang bisa gue tempati.” Ujar Devan tiba-tiba.
Bella langsung menoleh penuh tanya.
“Gak usah sok kaget gitu. Setelah gue pindah, lo gak bakal risih lagi.” Ia bahkan tersenyum, meledek Bella.
“Gue pikir, dengan lo nyuruh gue jangan ngeladenin Rini, itu berarti lo bukan tipe orang yang memperdulikan omongan orang lain.”
Bella menatap lekat wajah laki-laki yang tengah menatap ke depan sana. Terlihat jelas kalau Devan berbicara dengan serius. Ia tidak pernah menyangka kalau Devan akan mengambil langkah ini.
Sepasang bibir merah alami yang di hiasi rambut tipis dari jambang dan kumis itu tersenyum.
“Pengen banget gue Bell kayak gitu.” Ujarnya. Balik menatap Bella.
“Sayangnya, gue gak hidup di script lo, dimana gue bisa minta tolong lo buat memilih orang mana aja yang boleh terlibat dalam hidup gue atau enggak."
"Gue hidup di dunia nyata dimana gue gak bisa mengendalikan pikiran orang lain, melainkan pikiran dan sikap gue sendiri.”
“Jadi ya, memang harus kayak gini. Tapi inget, ini bukan karena gue pengecut jadi milih jauh dari keluarga lo.” tegas Devan dengan tenang.
Bella tidak menanggapinya. Ia hanya menatap lekat Devan, memperhatikan ekspresi wajahnya yang kali ini tidak terlihat datar. Laki-laki ini seperti sedang berpikir banyak.
"Lo gak ganggu hidup gue, hanya saja kita mungkin gak seharusnya ada di tempat yang sama." batin Bella tanpa ia utarakan.
Pada akhirnya ia tidak mengiyakan ataupun melarang pergi. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Salah satu memang mungkin harus sadar diri agar masalah tidak semakin bertambah.
*****