
Matahari pagi masih di selimuti kabut tipis pegunungan. Bella menggeliat kecil, merasakan hawa dingin yang menelusuk masuk dari ujung kaki membuatnya segera menarik selimut hingga ke batas bahunya. Ia pun menutup kepalanya dengan hoodie. Aaahhh rasanya ia masih ingin tertidur. Matanya sangat rapat dan sulit terbuka.
Sayup-sayup ia mendengar suara titik-titik air yang menetes di atas tendanya. Mungkin embun pagi yang berjatuhan dari ujung dedaunan yang bergerak tertiup udara pagi.
Matanya yang semula terpejam, kini mulai terbuka. Ia meraih ponsel yang tidak jauh dari jangkauannya, ternyata sudah hampir setengah 6 pagi.
“Ya ampun, gue belum subuh.” Lirihnya dengan mata yang kemudian terbuka lebar.
Ia segera bangun walau rasanya masih ingin tertidur. Hawa dingin memang sangat cocok untuk rebahan dan tidak melakukan apapun.
Ia terduduk sebentar untuk mengumpulkan kesadarannya. Dengan malas tangannya mengikat rambut yang terurai lalu ia cepol. Ia menggeliat mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meregangkan sela sendi di tubuhnya, rasanya nikmat sekali.
Setelah kesadarannya cukup penuh, ia mengambil handuk kecil dari dalam tas beserta sikat dan pasta gigi.
Perlahan ia membuka resleting pintu tendanya. Angin dingin langsung berhembus menerpa wajah dan tubuhnya.
“Awawawawa….” Gumamnya seraya menggeretakkan giginya menahan dingin.
Ia melihat ke sekitar, lampu-lampu tenda masih menyala yang berarti penghuninya masih tertidur. Ia mematikan lenteranya dan bergegas pergi menuju tempat pemandian.
Bella membersihkan tubuhnya di sana. Hanya sekedar gosok gigi, cuci muka dan berwudhu. Lantas ia pergi ke tenda yang lebih besar di dekatnya, untuk menunaikan kewajiban muslimnya.
Cukup lama ia di sana, berdo’a untuk kebaikan orang di sekitarnya lantas tersenyum menyambut hari baru di hadapannya.
“Tuhan begitu baik. Ia ngasih gue ketenangan yang luar biasa saat di tempat ini.” Batin Bella.
Ia memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya merasakan setiap sensasi yang menghampirinya.
Rasa dingin, pegal di tengkuk, sakit di pergelangan kaki, semua ia rasakan dan ia coba terima. Ia berusaha menerima semuanya. Menarik nafasnya dalam-dalam dan dalam hatinya ia berkata,
“Aku sudah melakukan banyak hal terbaik yang seharusnya aku lakuin. Yang tidak bisa aku lakuin adalah hal di luar kendaliku. Semua orang bisa datang kapanpun ke hidupku dan kalaupun mereka mau pergi, itu hak mereka. Aku hanya bisa melakukan hal terbaik saat mereka ada di dekat aku. Menghargai keberadaan mereka dan menghormati setiap keputusan mereka. Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan.” Batin Bella.
Perlahan ia memeluk tubuhnya sendiri, lantas mengusap-usapnya. Ia berusaha menyemangaati dirinya sendiri dan menerima apa yang sudah terjadi bahkan sejak satu detik lalu dan waktu-waktu ke belakang.
Psikolog nya benar, bahwa cara terbaik untuk menghadapi segala gejolak perasaan adalah dengan menerima dan menghadapinya seperti usaha yang sedang Bella lakukan saat ini.
Setelah merasa lebih tenang, Bella memutuskan untuk kembali ke tendanya. Dalam perjalanan, ia melihat beberapa orang yang baru bangun. Satu orang yang begitu di kenalnya, sedang terduduk di depan monitor kamera. Siapa lagi kalau bukan Devan.
Laki-laki itu sudah mengenakan pakaian olah raga lengkap dengan sepatunya. Perhatiannya fokus pada monitor tersebut. Sesekali Bella melihat Devan tersenyum dan sesekali mengigiti jarinya dengan gemas. Apa sebenarnya yang sedang ia tonton. Apa ia sudah bekerja sepagi ini?
Bella memutuskan untuk menghampiri.
“Pagi Van..." Sapa Bella.
Laki-laki itu terperanjat mendengar suara Bella.
"Hay, pagi." Matanya membulat penuh keterkejutan.
"Lo udah mulai kerja?” Tanya Bella dengan penasaran.
"Hah, enggak." Devan segera menekan salah satu tombol di keyboard.
“Lo habis liat apa sih, kok senyum-senyum segala?” Bella jadi penasaran. Ia sedikit mengintip layar yang sedang dipandangi Devan.
"Emm ini, gue cuma, liat hasil take." Mulutnya menghembuskan nafas kasar karena berhasil memberi alasan pada Bella walau entah di terima atau tidak.
Bella melihat sekilas, rupanya behind the scene syuting mereka.
“Lo suka nontonin BTS?” Bella semakin penasaran. Ia pikir Devan hanya tertarik pada scene yang mereka ambil.
“Yap! Sesekali menontonnya, lumayan juga.” Akunya yang berusaha tersenyum tenang.
“Ohhh…” Bella terangguk percaya.
“Banyak yang lucunya ya?” Lagi ia bertanya.
“Lumayan. Lo mau liat?”
“Em, nggak deh.” Bella mengendikkan bahunya acuh.
“Lo mau olah raga?” Ini pertanyaan ke tiga Bella.
“Iya. Mau Jogging sekitar sini.” Devan segera beranjak. Mematikan layar monitor dan menurunkan hoodie di kepalanya.
“Lo mau ikut? Kita explore sekitar sini dulu kalau lo masih penasaran.” Ajaknya. Semoga saja Bella mau.
“Okey, gue ikut. Lo tunggu bentar, gue nyimpen ini dulu.” Bella menunjukkan peralatan yang di bawanya.
“Okey.”
Bella pergi untuk bersiap-siap. Sementara Devan kembali menyalakan monitornya. Ia menghubungkan ponselnya dengan kabel USB yang tersambung.
Tayangan yang tadi sempat di tontonnya, ia putar kembali. Ternyata yang ia tonton adalah beberapa rekaman acara semalam. Saat Bella bernyanyi, lalu mengajaknya menari.
Ia kembali tersenyum saat melihat dirinya sendiri yang bergerak begitu kaku di hadapan Bella. Ia melakukan beberapa kali Zoom in, terutama saat kamera menangkap ekspresi Bella yang tertawa renyah. Gadis itu tampak cantik dan menggemaskan di waktu bersamaan.
Jantungnya kembali berdebar kencang, saat ia melihat adegan Bella meraih tangannya lalu berputar di bawah tangannya.
“Astaga, kenapa gue jadi malu sendiri.” Lirihnya saat melihat ekspresinya sendiri yang begitu terpesona pada Bella.
Dari kejauhan ia mendengar suara Bella. Cepat-cepat ia mentransfer video itu ke ponselnya. Beberapa adegan yang tersimpan ia hapus agar tidak di tonton orang lain. Dan dalam beberapa menit semuanya selesai. Kenangannya bersama Bella, kini tersimpan rapi di dalam ponselnya.
******
Berolahraga di sekitar lokasi syuting ternyata memang cukup menyenangkan. Mulai dari berlari kecil yang membuat tubuh berkeringat hingga melihat pemandangan yang indah di ketinggian seperti ini seolah menjadi paket yang lengkap.
Devan berlari di samping Bella, ia memperhatikan Bella yang sudah terengah tapi belum juga menyerah.
“Lo udah capek?” Tanyanya yang berlari di depan Bella lebih cepat lantas berbalik. Ia sengaja berjalan mundur agar bisa melihat Bella.
Bella melambatkan langkahnya lalu berhenti dan membungkukkan tubuhnya. Ia atur kembali nafasnya yang memburu.
Devan jadi tersenyum melihat Bella di hadapannya. Keringat yang bercucuran, wajah yang memerah, hidung yang kempis kembung, hingga rambutnya yang berantakan, membuat wanita ini terlihat begitu istimewa. Entah mengapa ia lebih suka melihat Bella dengan tampilan polos seperti ini.
“Di sana ada warung, kita istirahat di sana aja yuk.” Ajak Devan.
Bella melihat arah yang di tunjuk Devan dan benar saja, ada warung kecil di sana.
“Iya, ayo.” Bella mengangguk menyanggupi. Ia berjalan perlahan di samping Devan sambil mengatur nafasnya.
“Perlu tumpangan?” Tawar Devan seraya menepuk punggung kirinya.
“ISK!!” Bella berdecik sebal. Ia memukul punggung Devan dengan kesal.
“Lo pikir gue anak umur 8 tahun? Sekarang gue udah 24.” Kesal juga di anggap anak kecil oleh Devan.
Dulu memang kalau ia pergi berolah raga bersama Ozi dan Devan, ujung-ujungnya Bella pasti minta di gendong.
Ozi sudah pasti selalu menolak untuk menggendong Bella, memilih berlari lebih dulu meninggalkan Bella. Katanya Bella cengeng. Dan hanya Devan yang biasanya tiba-tiba berjongkok dan membiarkan Bella naik ke punggungnya.
Devan jadi tersenyum saat ingatan yang sama melintas di pikirannya. Dulu saat ia menggendong Bella, Bella akan asyik berbicara, bercerita tentang banyak hal dengan semangat. Hingga sampai di rumah biasanya telinganya masih berdengung seolah suara Bella masih memenuhi rongga telinganya.
“Malah senyam-senyum,” Bella membungkukkan tubuhnya dan melihat wajah Devan dari bawah.
Melihat Devan tersenyum kecil seperti ini ternyata menyebalkan juga. Laki-laki ini pasti sedang mengingat kenangan mereka masa kecil mereka dulu.
Devan menoleh Bella yang tengah menatapnya. Wajahnya yang berkeringat ia usap dengan lengannya.
“Susul gue kalau bisa!” Tantangnya yang kemudian berlari lebih dulu dari Devan.
Tanpa menunggu aba-aba, Devan segera menyusulnya. Karena kakinya yang lebih panjang, membuat Devan dengan mudah menyusul Bella. Kini Devan yang memimpin.
“DEVANNN!!! Lo curang!!! Tungguin gue!!!!” Panggil Bella sekuat tenaga.
Devan hanya mengulurkan tangannya yang berkeringat. Siapa sangka, Bella meraih tangan itu dan menggenggam tangan Devan dengan erat.
Devan ikut mengeratkan genggamannya. Ia memendekkan langkah kakinya agar Bella tidak kesulitan mengejarnya lantas ia tersenyum saat melihat tangannya yang di genggam erat oleh Bella untuk kedua kalinya.
“HAH HAH HAH!” Bella masih terengah-engah saat tiba di warung kecil itu. Devan memberikan botol minumnya untuk Bella teguk lebih dulu.
“Thanks.” Bella segera meraihnya dan meneguknya. Sementara Devan masih melenturkan sendi-sendinya setelah tadi berlari.
“Wilujeng sumping neng, aa… Ayo silakan di sebelah sini.” Tawar pemilik warung. Seorang laki-laki paruh baya dengan rambutnya yang mulai memutih, menyambut mereka.
“Terima kasih pak.” Sahut Devan.
Ia mengajak Bella untuk masuk dan duduk di bangku yang menghadap pemandangan yang terbentang di hadapan mereka.
“Waaaahhh indah banget Van,,,” Seru Bella yang terpesona dengan hamparan luas perkebunan teh di hadapannya.
Devan tidak menimpali, membuat Bella menoleh laki-laki di sebelahnya.
Rupanya Devan tengah memejamkan matanya seraya mengatur ritme nafasnya. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Bella jadi tertegun saat melihat wajah Devan yang masih memerah. Titik keringat memenuhi wajahnya dengan satu tetes keringat yang terus berjalan mengikuti lengkuk rahang Devan yang kokoh. Jakun laki-laki itu bergerak naik turun seperti tengah menelan saliva atau air minum di tenggorokannya.
Bella segera tersadar saat ia melihat mata Devan yang perlahan terbuka. Ia pun segera mengalihkan pandangannya ke depan sana.
“Eneng sama aa, ada acara apa ke Bogor? Bulan madu?” Tanya pemilik warung yang menyajikan minuman hangat di depan mereka. Dari wanginya ini bukan teh apalagi kopi karena warnanya yang jernih dan sedikit kekuningan.
“Em enggak pak, kami ada pekerjaan di sini. Makasih pak.” Sahut Bella.
Ia melirik Devan yang hanya tersenyum saat bapak pemilik warung menatapnya penasaran. Belakangan laki-laki ini jadi mudah tersenyum menurut Bella.
“Oohh… Bapak kirain bulan madu. Soalnya rata-rata yang datang ke sini, terus nginep di daerah sini itu yang bulan madu. Mereka biasanya pergi ke kebun bunga, atau telaga di sebelah sana.” Terang bapak tersebut seraya menunjukkan arah.
“Oh, ada telaga pak di sana?” Bella jadi penasaran.
“Iyaaa,,, Ada telaga kecil. Air jernih banget. Tapi harus hati-hati kalau mau ke sana, jalanannya agak licin.” Terangnya lagi.
“Baik, terima kasih pak.” Timpal Bella.
“Berapa lama perjalanannya pak?” Tiba-tiba Devan bertanya. Sepertinya laki-laki ini tertarik.
“Kalau jalan kaki, ada lah setengah jam. Tapi kalau naik motor atau mobil mah sebentar. Keponakan bapak biasanya suka nyewain motor atau mobil offroad gitu buat turis. Sok bisi eneng sama aa mau ke sana, boleh tah hubungi nomor hapenya yang ini.” Bapak tersebut menunjuk kertas yang tertempel di pintu masuk warung.
“Makasih pak.” Sahut Devan seraya memfoto nomor hp tersebut.
“Sami-sami…” sahutnya pelan.
“Lo mau ke sana?” Tanya Bella penasaran.
“Kenapa nggak? Lo masih mau explore kan?” Devan baik bertanya.
“Hem, iya…” Sahut Bella seraya tersenyum. Ia mengambil kembali gelas minumannya lalu meneguknya perlahan.
Aahhh ternyata rasanya manis dan menyegarkan.
*****
Ada yang mau ikut Bella dan Devan?
Sok siapin dulu like komen dan vote-nya, hehehe...
Hatur nuhun...