Bella's Script

Bella's Script
Mana yang lebih cepat?



Di lokasi Devan dan Indra sudah mulai mem-briefing para pemeran pembantu dalam film ini. Adegan yang akan di ambil hari ini di dominasi oleh peran pemeran pembantu. Devan memberikan pengarahan detail hingga berjalan mondar mandir memperagakannya di depan para pemain.


“Kalian keluarin emosi kalian di scene ini. Walaupun lo second lead dalam hal acting lo tetep harus nunjukkin kualitas kerjaan yang maksimal di peran lo.” Ujar Devan, memberi pengarahan.


“Nah bagian yang ini, tunjukkin kesungguh-sungguhin lo. Lo harus berusaha meyakinkan para penonton kalau lo yang seharusnya di pilih sama pemeran utama wanita. Okey kita coba.” Lanjut Devan.


“Scene pertama lo ngadep sini. Anggap gue pemeran utama wanita.” Indra berdiri berhadapan dengan pemeran pembantu pria.


“Okey bang.” Laki-laki itu tampak bersiap, mengumpulkan emosinya dalam beberapa tarikan nafas lalu menghembuskannya.


“Minara, kamu gak perlu menjelaskan apapun pada Michael. Dia udah gak peduli!!”


“Kamu lihat aku, lihat aku baik-baik.” Laki-laki itu mencengkram kedua lengan Indra yang menempati posisi Minara.


“Kamu akan lebih bahagia tanpa Michael. Hem?” Laki-laki itu menatap Indra dengan tajam.


“Okey, emosinya dapet.” Sahut Indra seraya melepaskan tangan laki-laki itu. Merinding juga di tatap selekat ini oleh sesama laki-laki.


“Dapet kan bro?” Indra pun bertanya pada Devan.


“Yak, dapet. Lakukan kontrol emosi yang pas untuk part-part berikutnya. Gue percaya lo mampu. Sekarang kita bersiap dulu. Setelah ini lo take pertama.” Ujar Devan seraya menepuk bahu pemain.


"Thanks bang." Sahut laki-laki bertubuh tegap itu.


Mereka pun kembali bersiap untuk pengambilan gambar lengkap. Latar sudah okey, begitupun dengan para pemain.


Sementara di tempatnya Bella masih anteng menyimak beberapa scene yang di tunjukkan Kemal. Hasil pengambilan gambar saat di Bogor ternyata banyak yang bagus. Ia sampai bingung harus memasukkan part yang mana untuk di jadikan prioritas scene untuk trailer dan teaser.


“Rekomendasi gue yang ini sih. Ekspresi mikronya lebih menjual Bell..” Terang Kemal pada satu scene yang ia tunjukkan.


“Iya, gue setuju. Tapi nanti bisa di edit dikit buat pencahayaannya kan bang? Gue ngerasa ini terlalu redup.”


“Bisa. Nanti gue kasih liat lo setelah di edit ya.” Kemal menyanggupi.


“Ngomong-ngomong, gue persiapan take dulu. lo silakan lanjut.” Pamit Kemal.


“Okey bang. Thanks!” Bella mengacungkan jempolnya pada laki-laki berjenggot tebal itu.


“Sipp!” Sahut Kemal.


Ia menghampiri crew lainnya untuk menyiapkan kamera, sementara Bella melanjutkan menonton beberapa scene. Di tangannya juga ada sebuah buku catatan yang mencatat nama dan nomor scene yang akan ia tandai.


“Bell, udah mau take. Lo gak ikut?” Tanya Rini yang menghampirinya.


“Em,, Lo dulu yang gabung ya Rin. Gue masih mau ngecek ini.”


“Oh okey. Gue tinggal ya.” Sahut Rini seraya menepuk bahu Bella,


“Iya Rin, thanks.” Bella kembali memasangkan headset-nya. Ia melanjutkan menonton scene yang tengah ia review.


Menjelang makan siang, seluruh pengambil scene sudah selesai. Hanya tinggal pengambilan satu scene utama dari pemeran utama.


Ponsel Bella berdering, dengan notifikasi pesan masuk.


“Lo dimana Bell?” Pesan itu di kirim oleh Devan.


“Di ruang property. Makan dulu Van.” Ajak Bella. Ia tengah menyiapkan makanan yang tadi di siapkan Saras untuk mereka.


Tidak sampai 5 menit, Devan tiba diruang property. Di tangannya ia membawa jus dan air mineral untuk menemani makan siang mereka.


“Gue gak terlambat kan?” Tanya Devan saat Bella tersenyum melihat kedatangannya.


“Nggak. Makanannya baru selesai di angetin.” Sahut Bella.


“Syukurlah.” Laki-laki itu berjalan santai menghampiri Bella. Ia menaruh bawaan yang di bawanya di atas meja. Memberikan satu jus strawberry pada Bella dan satu untuknya. Begitupun dengan air mineral.


Untuk beberapa saat mereka saling terdiam, menatap makanan di depan mereka. Sangat lengkap. Tapi ada yang kurang.


“Oh, piringnya ya?” Bella segera beranjak.


“Gue aja.” Devan menahan bahu Bella agar tetap di tempatnya.


“Okey.” Bella menurut saja dengan kembali duduk sambil memperhatikan Devan yang menuju tumpukan property.


Laki-laki itu mencari piring dan sendok untuk mereka makan.


Bella jadi tersenyum sendiri saat melihat Devan yang celingukan mencari piring dan sendok.


“Di rak atas.” Tunjuk Bella.


“Oh..” Laki-laki itu segera membuka penutup rak atas dan mengambil beberapa alat makan.


“Sorry, gue gak terlalu familiar dengan tempat ini.” Akunya seraya menghampiri Bella.


“Masakan tante Saras selalu enak. Padahal masakan rumahan tapi gak kalah sama menu resto bintang lima.” Puji Devan saat memperhatikan Bella yang menyiapkan makanan untuknya di atas piring.


“Lo bisa sampein langsung, nyokap pasti seneng banget."


"Ngomong-ngomong lo belum nyoba pepes ayam bikinan nyokap kan? Itu enak banget.” Kalimat Bella lengkap dengan ekspresinya yang ekspresif membuat Devan bisa membayangkan seenak apa rasa makanan itu.


“Hem, For your information, sebenarnya gue gak suka sama makanan yang di pepes karena sering kali baunya terlalu bercampur. Tapi kalau menurut lo itu enak, gue siap nyoba.” Dengan senang hati Devan menerima piring yang disodorkan Bella.


“Racun tikus juga enak kalau di makannya sama black forest. Lo mau nyoba juga? Gue loh yang nawarin.” Goda Bella seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Devan karena suaranya yang di buat pelan.


“Kalau lo punya penawarnya, kenapa enggak? Tapi ekspresi lo gak semeyakinkan waktu nawarin pepes ayam. Apa karena gak terlalu enak?” Devan balas mencondongkan tubuhnya pada Bella dengan tatapan yang menggoda, tidak ingin kalah.


“Yaaa.. Yaaa.. Yaa… Bodoh aja kalau lo masih bilang mau. Orang jelas yang gue tawarin itu racun.” Bella segera menarik tubuhnya agar menjauh dari Devan.


Devan tersenyum kecil mendengar jawaban Bella. “Lo selalu cerdik. Pikiran lo rumit tapi menarik.” Ucap Devan. Ia mulai menikmati makan siangnya tanpa melepaskan pandangannya dari Bella.


“Thank you. Gue anggap itu pujian.” Bella mengangguk takjim pada Devan membuat laki-laki itu tersenyum semakin lebar.


Mereka mulai menikmati makan siang mereka. Bella tampak asyik dengan makanannya, melihat ke sekeliling ruang property yang selalu menarik perhatiannya. Sementara fokus Devan saat ini hanya menatap Bella.


Ia bahkan tahu kapan harus membuka penutup botol minuman karena Bella tampak kesulitan menelan. Di ambilnya air mineral yang ada di depan Bella lantas memberikannya pada Bella.


“Thanks.” Tepat sekali Devan memberikannya di saat Bella membutuhkannya.


“My pleasure.” Sahut Devan. Merasa berguna dan dibutuhkan itu ternyata menyenangkan.


Bella meneguk minumannya untuk meloloskan makanan yang terasa berjogol di tenggorokannya. Saat selesai minum, tiba-tiba saja tangan Devan terulur menyentuh wajahnya dan mengusap sisa makanan di sudut bibir Bella.


Dengan cepat Bella menahan tangan Devan. Ia memeganginya dengan kuat.


“Lo berlebihan.” Ia mengibaskan tangan itu.


“Lo gak berpikir ini makan siang pasangan kan? Jadi lo gak perlu seperhatian itu sama gue.” Tegas Bella yang terlihat kesal.


Devan hanya tersenyum. Refleksnya memang terkadang sulit dikendalikan. Entahlah, ia juga tidak mengerti.


“No, untuk saat ini gue gak berpikir kita adalah pasangan.” Ia menaruh sendok di tangannya lantas bersidekap seraya menatap Bella dengan lekat.


“Gue tau Bell, lo emang nolak gue dan gak masalah kalau lo perlu waktu. Tapi, lo udah tau sepenuhnya perasaan gue. Lalu, buat apa gue masih nyembunyiin perasaan gue buat lo? Gue tau segala sesuatu perlu diperjuangankan termasuk buat meyakinkan lo.” Sahut Devan dengan tegas.


Lihat saja matanya yang menatap Bella dengan lekat. Tatapan yang mulai membuat Bella merasa semakin takut. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk membalasnya.


“Sial!” Dengus Bella seraya memalingkan wajahnya dari Devan.


Devan selalu membuatnya gagal untuk bertahan di balik tembok yang ia bangun.


Melihat reaksi Bella, Devan jadi termenung. Ia memandangi gadis yang kini terlihat gelisah.


“Apa cara gue bikin lo gak nyaman?” Kali ini ia bertanya dengan sesungguhnya. Ia pun tidak ingin membuat Bella merasa tidak nyaman.


Bella tidak lantas menjawab. Ia hanya menoleh Devan, menatapnya beberapa saat. Dan,


“Entahlah.” Ujarnya seraya termenung menatap sendok yang di taruh Devan. Helaan nafasnya terdengar berat. Ia bahkan tidak tahu cara mendefinisikan perasaannya saat ini.


Lantas keduanya terdiam. Mereka kembali mencoba menghabiskan makanan di hadapannya. Devan dengan ketenangannya seraya memperhatikan Bella dan Bella dengan kegelisahannya. Mulutnya terlihat penuh dengan makanan namun ia kesulitan untuk menelannya.


Tanpa mereka sadari ada dua orang yang kini memperhatikan mereka. Ya, Inka dan Indra.


Saat akan mengambil property, tanpa sengaja mereka mendapati Bella dan Devan ada di sana. Mereka sengaja menghentikan langkahnya dan membiarkan Bella dan Devan menyelesaikan makan siang penuh kegundahan itu.


“Menurut lo, mana yang lebih cepet. A sama R putus atau B sama D jadian?” Inka iseng bertanya pada Indra.


Indra hanya tersenyum lantas menyandarkan tubuhnya ke dinding ruang property. Ia tampak berpikir sambil menyulut sebatas rokok yang ia ambil dari dalam sakunya.


“Gue udah kalah di taruhan pertama. Sekarang, gue juga gak yakin kalau jawaban gue bener.” Aku Indra yang tersenyum kelu.


Inka ikut tersenyum mendengar ucapan Indra. Dari banyak laki-laki yang ingin mendekati Bella, Indra hanya membiarkan David yang mendekat. Itupun tidak lama. Ia segera meminta David mundur saat ia tahu Bella tidak akan membuka hati untuk siapapun terkecuali mungkin seseorang seperti Devan.


Lihat saja kedewasaan laki-laki itu saat menghadapi Bella yang penuh ketakutan. Bagi seorang laki-laki seperti Indra, ia tahu persis seperti apa arti tatapan dan perhatian yang Devan tujukan pada Bella. Jika saja ia seorang wanita, ia pun akan dengan mudah luluh.


“Yang jelas, yang tulus akan selalu menang.” Imbuh Indra kemudian.


“Lalu siapa yang akan lebih cepet? Yang putus apa yang jadian?” Desak Inka penasaran.


“Haiisshh!! Bisa gak sih lo gak mendefinisikan perasaan seseorang dari kecepatan waktu?” Indra jadi frustasi dengan pertanyaan inka.


“Gak bisa. Karena semuanya perlu kejelasan!” sahutnya tidak mau kalah.


Indra tampak berpikir. Harus sekali sepertinya ia menjawab. Memangnya siapa yang akan lebih dulu?


*****