
Langkah kaki Bella terlihat gontai menapaki satu per satu ubin lorong rumah sakit menuju ruangan Ozi. Otaknya berputar dengan banyaknya suara yang membuat pikirannya bising. Banyak hal yang muncul di benaknya dan berusaha ia urai satu per satu.
Penjelasan dokter tadi masih terus terngiang di kepalanya becampur dengan suara kecemasan, rasa tidak percaya dan suara lainnya yang terdengar berisik di rongga kepalanya. Seperti mendapat pukulan keras yang tidak hanya menghantam hatinya tapi juga mentalnya.
“Pasien menderita tumor otak.” Kalimat pertama itu membuat Bella tercengang.
“Jika dilihat dari medical record-nya, pasien terdiagnosa sudah sejak 4 bulan lalu. Apa pasien tidak pernah mengeluh sakit kepala atau pusing saat di rumah?”
Pertanyaan itu terasa begitu sinis masuk ke telinga Bella. Benarkah? 4 Bulan?
4 bulan sudah Ozi sakit dan Bella tidak tahu apapun. Ia tidak bisa menjawab, hanya menggelengkan kepala seraya mengepalkan tangannya di atas paha seraya meremas kain celana yang menutupi kakinya. Kemana saja ia 4 bulan ini?
Dokter paruh baya itu tersenyum kecil. Ia melihat dengan jelas keterkejutan dan kecemasan yang bercampur di wajah Bella. Namun ia tetap berkewajiban menyampaikan yang sebenarnya.
“Mohon maaf saya harus menyampaikan ini,” dokter itu mencondongkan tubuhnya pada Bella, berusaha mengikis jarak agar Bella tidak merasa terlalu asing saat mendengar penjelasannya.
“Silakan dok,” suara Bella bergetar. Ia masih dalam keadaan tidak percaya namun di paksa untuk menerima.
Dokter itu menyalakan flat panel detector yang ada di sampingnya. Terlihat gambar hitam putih hasil pencitraan CT Scan kepala Ozi. Bella tidak paham benar arti dari gambar itu hanya ada beberapa gambar yang sudah di tandai oleh dokter tersebut.
“Posisi tumor memang cukup berbahaya. Ia berada nyaris menempel pada batang otak dengan ukuran yang terus membesar.”
Aahh Rasanya jatung Bella bergetar, beralih dari berdetak cepat seperti meminta berhenti. Membuat perutnya mual.
“Pada pemeriksaan sebelumnya memiliki diameter 4 cm dan sekarang sudah bertambah menjadi 5,27 c1m. Hal itu yang membuat pasien hilang kesadaran dan jatuh pingsan.”
Serasa habis naik roller coaster dan dijatuhkan dari ketinggian dengan paksa, jantung Bella seperti jatuh ke dasar perutnya sendiri. Lebih dari sekedar terhenyak kaget.
“Prognosa pasien memang kurang baik dan pergerakan tubuh serta fokusnya pun mulai berubah.”
“Apa pasien terlihat gemetar saat memegang benda-benda di rumah semisal gelas saat akan minum atau sendok dan garpu?”
Bella hanya menggeleng. Bukan karena ia tidak melihatnya, tapi tidak menyadarinya.
Beberapa kali ia mendengar Ozi menjatuhan gelas dan serpihannya mengenai kakinya. Sesekali pula ia melihat Ozi menjatuhkan sendok dan garpu yang sedang ia gunakan saat makan. Dan terakhir, Bella tahu Ozi berhenti menjadi photographer dan beralih menjadi desain graphis d perusahaan lain. Tentu bukan hal yang wajar namun baru terpikir sekarang oleh Bella.
“Apakah ini mengganggu penglihatannya juga?” tanya Bella penasaran.
“Ya, tentu. Pasien bisa melihat segala suatu objek menjadi ganda.” Terang dokter.
Bella hanya bisa membuang nafasnya kasar. Ia menjatuhkan tubuhnya bersandar pada sandaran kursi. Rasanya sangat lemas seperti tulang belulangnya melunak. Sekarang ia tahu, mengapa belakangan ini Ozi sudah tidak pernah memamerkan lagi hasil jepretannya yang brilian. Rupanya karena ia telah meninggalkan salah satu hal paling berharga di hidupnya, yaitu memotret.
“Apa kakak saya bisa sembuh dok?” suara Bella nyaris tidak terdengar saking lemasnya.
Dokter itu tersenyum tipis. “Selalu ada kemungkinan untuk sembuh.” Tegasnya.
“Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan namun atas dasar kondisi pasien, kami menyarankan pasien untuk dilakukan tindakan operasi.”
“Untuk kondisi pasien saat ini bisa dikatakan 30% dan 70%. Kemungkinan pasien pulih dengan baik 30% dan kemungkinan mengalami efek samping pasca operasi 70%. Efek samping tersebut bisa berupa kelumpuhan, gangguan koordinasi alat gerak seperti tangan dan kaki juga penglihatan. Lebih dari itu, kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk saat di meja operasi.” Terang dokter.
Kaki Bella benar-benar lemas. Ia jatuh berjongkok seraya bersandar pada dinding rumah sakit. Ia menangis tertahan di tempatnya sebelum masuk ke ruangan Ozi yang berada beberapa langkah lagi dari tempatnya.
Entah ia mampu bertemu Ozi atau tidak. Seperti apa ia harus bicara nanti? Apa ia akan setega itu membicarakan penyakit Ozi sedang kondisinya sangat lemah?
Bella masih berjongkok dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Satu bulir air matanya menetes dan segera ia seka karena ia tahu, ini bukan saatnya untuk ia menangis. Dengan sekuat tenaga Bella berusaha untuk berdiri, menjadikan dinding rumah sakit sebagai penopang untuk membantunya berdiri tegak.
Setelah mampu berdiri tegak, Bella menghela nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Berkali-kali ia melakukan hal yang sama untuk mengurasi rasa sesak di dadanya.
“Mamah gak usah nginep di sini. Udara di sini gak baik buat kesehatan mamah.” Suara berat itu terdengar jelas.
Kenapa suara itu membuatnya begitu takut? Takut jika kemudian ia tidak bisa lagi mendengar omelan Ozi yang mencemaskannya.
Namun, bertambah satu lagi alasan Bella harus kuat melangkahkan kakinya. Ya, karena ibunya. Ada Saras di sini dan tidak mungkin ia menangis di depannya.
“Itu adek.” Seru Ozi saat melihat Bella masuk ke kamar perawatannya.
Bella berusaha tersenyum. Menghampiri Saras lalu memeluknya dengan erat.
“Mamah sama siapa ke sini?” tanya Bella. Ia mengambil tempat di samping Ozi.
“Di jemput temen abang.” Saras mengambil tangan Bella dan menyatukannya dengan tangan Ozi yang tengah ia genggam erat.
Bella menoleh Ozi seolah bertanya apakah Saras sudah tahu kondisi Ozi, Ozi menggeleng. Ia berharap Bella tidak mengatakan apapun.
“Di hidup mamah saat ini, cuma ada kalian berdua. Setelah kepergian papah, mamah gak mau terjadi hal buruk apapun pada kalian. Tapi kenapa mamah begitu lalai sampai membiarkan abang tiba-tiba pingsan di tempat kerja. Abang pasti capek banget berusaha keras buat mamah. Iya nak?” lirihnya seraya menatap Ozi.
Sepertinya Saras mengira kalau Ozi pingsan karena kelelahan bekerja.
Laki-laki berwajah pucat itu tersenyum. “Nggak mah, ini karena abang aja yang gak bisa jaga kesehatan. Gak nurut sama mamah padahal mamah selalu bilang harus banyak minum dan makan tepat waktu.” Kilah Ozi berusaha menenangkan Saras.
Saras tersenyum kecil. Di usapnya kepala Ozi dengan sayang. “Anak mamah memang suka gak nurut. Lain kali nurut ya nak.” Satu kecupan mendarat di dahi Ozi.
“Iya mamah sayang…. Maafin abang ya mah, suka gak nurut sama mamah.” Timpal Ozi.
Sedikit bisa menghela nafas lega bagi Bella melihat interaksi ibu dan kakaknya. Sepertinya pilihan Ozi benar untuk tidak memberitahukan dahulu kondisinya pada Saras.
Tanpa sengaja, Bella menoleh ke arah sofa, tempat Devan berada. Laki-laki itu tengah tersenyum melihat Saras dan Ozi. Mungkin ia merindukan hal yang sama seperti yang didapatkan Ozi. Mendapat curahan kasih sayang dan perhatian dari ibu yang mereka sayangi.
“Mah, bang, adek ke kantor bentar yaa… Tadi buru-buru ke sini sampe gak bawa hp dan dompet. Gak lama kok.” Pamit Bella setelah melihat kondisi Ozi membaik.
“Iya, lo sekalian beli makan ya. Devan juga kayaknya belum makan.” Pinta Ozi.
“Iyaaa, kalian jangan sampe gak merhatiin Kesehatan kalian juga."
"Van, makasih yaaa udah jagain Ozi sama Bella.” Sambung Saras.
“Iya tante, sama-sama.” Devan berjalan mendekat menghampiri Ozi dan Saras.
“Tante nanti Devan anter pulang aja ya, jangan naik taksi. Udah malem.” Tawarnya.
“Nggak usah, kasian kamu bolak balik nganter adek dan nanti harus nganter tante. Capek nanti kamu Van.” Saras menepuk lembut lengan Devan.
“Nggak kok tan. Keselamatan dan kesehatan tante juga penting. Jadi nanti Devan anter aja.” Tegas Devan.
“Ya ampunnn makasih banyak ya nak. Tante beruntung banget ada Devan di sini.” Pungkas Saras.
Bella jadi memandangi laki-laki bertubuh menjulang di hadapannya. Ia sangat bersyukur melihat Devan ada di antara mereka. Ikut menenangkan Saras. Laki-laki ini memang sangat bisa di andalkan. Ia tidak banyak bicara namun melakukan segala sesuatunya dengan sigap dan cepat. Seperti saat ia menarik tangan Bella beberapa jam lalu.
Dipandanginya pergelangan tangannya yang tadi di genggam Devan dengan erat. Lantas ia tersenyum. Masih teringat jelas bagaimana tergesa-gesanya Devan saat menarik tangannya. Dan sekarang pergelangan tangan itu ia usap.
"Terima kasih sudah peduli." batin Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan.
*****