
Ini pertama kalinya, Saras melihat kondisi Ozi secara langsung. Kepalanya terbungkus perban dan matanya masih terpejam. Tubuh jangkungnya tergolek tidak berdaya.
Saras menahan tangisnya dalam-dalam saat mendapati sosok Ozi yang terlihat semakin kurus saja. Wajahnya yang tirus serta lingkar matanya yang celong membuat dada Saras terasa sesak.
“Pasien belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun namun beberapa tanda-tanda vital sudah berfungsi dengan normal. Hasil lab pun menunjukkan kalau kondisinya stabil.”
“Kami sudah memberikan obat untuk mengurangi pembengkakan di otaknya dan kami observasi ketat dari waktu ke waktu. Saya harap, keluarga bisa bersabar.”
Penjelasan dokter Anthony tadi kembali terngiang di telinga Saras. Feeling seorang ibu memang tidak pernah meleset, saat merasa ada yang salah dengan anak-anaknya, seperti halnya yang terjadi pada Ozi saat ini.
Dengan tangan gemetar, Saras meraih tangan Ozi. Menyentuhkan telunjuknya dengan telunjuk Ozi yang lunglai.
“Aaaahh…” Saras hanya bisa menengadahkan kepalanya untuk menghalau air mata yang turun saat mendapati ujung telunjuk Ozi yang terasa dingin. Ia tak kuasa menahan tangisnya yang hampir pecah.
“Nak….” Lirihnya perlahan, saat kemudian ia memilih mengganggam tangan Ozi.
Ia mendekatkan kursi yang di dudukinya pada bed Ozi lalu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mendekat ke telinga Ozi.
“Assalamu ‘alaikum anak mamah….” Bisiknya dengan terbata-bata. Susah payah ia menahan tangisnya agar tidak pecah.
Ia sudah berjanji untuk tidak menangis di hadapan Ozi. Seperti yang dikatakan dokter, Ozi memang tidak sadarkan diri namun bisa saja Ozi mendengar apa yang ada di sekitarnya, terutama suara orang-orang terkasihnya. Maka dari itu, Saras harus bertahan. Ia menyeka air matanya sebelum semakin membasahi pipinya.
“Gimana kabar abang hari ini nak? Apa sudah lebih baik?” Saras melanjutkan kalimatnya.
Ia mengusap pipi Ozi lantas mengecup tangan sang putra cukup lama. Ia berharap Ozi merasakan kasih sayangnya untuk sang putra.
“Dokter bilang, kondisi abang sudah stabil secara pemeriksaan laboratorium. Mamah harap, abang bisa segera bangun. Abang kangen kan sama mamah dan adek? Hem?” Nafas Saras tercekat, ia menatap wajah Ozi yang begitu tenang, seperti sedang tertidur.
“Tolong, bersemangatlah juga untuk sembuh. Untuk bertemu lagi dengan mamah dan adek. Abang pasti penasaran kan, bagaimana raut wajah adek sekarang? Dia sangat bahagia bang, mamah bisa melihatnya.”
“Jadi,, bangun ya nak. Abang tidak perlu takut, walau di ruangan ini abang sendirian tapi, mamah ada di depan sana. Memperhatikan abang dari jendela.” Saras memandangi jendela tempat biasa ia berada. Ternyata sangat jelas terlihat dari dalam.
“Mamah ingin segera menemani abang tidur. Membacakan doá dan menceritakan banyak hal sampai abang ngantuk dan terlelap. Tapi kata dokter, tidak bisa di ruangan ini. Harus di ruangan perawatan biasa yang bisa di temani kapan saja.”
“Mama kangen sama abang.” Saras mentautkan jemarinya di antara jemari Ozi.
“Cepet bangun ya nak, mamah dan adek menunggu abang.” Dikecupnya punggung tangan Ozi dengan dalam. Ia ingin Ozi merasakan kalau kerinduannya sangat besar.
Di luar sana, Bella bisa melihat kedekatan yang terjalin antara Ozi dan sang ibu. Saat kecil dulu, ia kerap iri karena merasa kalau Saras lebih sayang pada Ozi di banding dirinya. Ozi adalah kebanggan keluarga yang sering kali menjadi bahan Saras untuk ia banggakan di hadapan banyak orang.
Tapi setelah melihat semuanya, ia sadar bahwa kasih sayang seorang ibu itu paling adil. Adil dalam porsinya masing-masing. Lantas untuk apalagi ia merasa iri?
“Sayang, lihat…” Suara Devan menarik pikiran Bella kembali dari lamunannya.
“Detak jantung Ozi bertambah cepat tapi stabil. Seperti yang dokter bilang, dia sedang berusaha untuk bangun. Dia tahu, adik dan ibunya sangat menunggunya untuk sembuh.” Devan melingkarkan tangannya di bahu Bella.
Ia mencengkram bahu sang istri dengan sangat erat dan lembut lalu mengusapnya.
“Iyaa,, abang orang yang kuat. Dia pasti akan segera bangun.” Timpal Bella seraya menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Devan. Di saat seperti ini, memang hanya bahu yang ia butuhkan untuk bersandar dari semua rasa gelisah.
“Iya, dia akan segera bangun.” Tegas Devan, sekali lalu mengecup pucuk kepala Bella dengan sayang. Harapannya sama, ia ingin Devan segera terbangun dari kondisi kritisnya.
*****