
Tangan Amara masih gemetaran dengan air mata yang terus meleleh padahal sudah beberapa kali ia usap kasar namun tidak juga berhenti menetes. Di tangannya ia masih memegang ponsel yang baru ia nyalakan dan menunggu benda pipih itu siap di gunakan.
Rasanya sangat lama Ketika ia menunggu ponselnya siap digunakan padahal ia sudah tidak sabar untuk menghubungi seseorang.
Tampilan layar ponselnya mulai menyala, Amara menghela nafas dalam dan berusaha meneteralisir suaranya dengan berdehem. Menarik dan membuang nafasnya beberapa kali di lakukan Amara untuk menenangkan dirinya. Bagaimana pun ia harus tenang saat menghubungi seseorang.
Beberapa angka di tekan Amara. Tangannya bergerak dengan lincah menekan keypad ponselnya untuk menghubungi seseorang yang tidak pernah ia simpan kontaknya. Tanpa rasa ragu, ia menghubungi nomor itu, nomor milik Keith.
“The number you’re calling is not available.” Sahut suara operator yang membuat ekspresi wajah Amara berubah dingin seketika.
“No, ini gak mungkin. Apa gue salah ya? Gue ingat persis kok nomor Keith.” Gumam Amara yang mulai panik.
Ia melihat lagi layar ponselnya, mengetik ulang nomor Keith sambil mengejanya agar tidak ada angka yang terlupa. Lalu ia coba hubungi kembali.
“The number you’re calling is not available.” Lagi suara itu yang terdengar.
“S**t!” dengus Amara dengan kesal.
Walau nomor Keith tidak pernah ia simpan namun ia sangat yakin kalau nomor yang tadi ia hubungi adalah nomor Keith. Kenapa sekarang nomornya tidak aktif?
Amara tercenung beberapa saat sambil berpikir dalam. Keith adalah orang pertama yang ia hubungi karena ia merasa yakin kalau Keith yang harus bertanggung jawab atas dirinya.
Keith, adalah laki-laki yang di perkenalkan oleh agensi lamanya saat mendapat undangan peluncuran produk underware milik perusahaan Keith. Itu sekitar beberapa bulan lalu.
Saat itu, Amara di perkenalkan oleh manager lamanya pada Keith, yang dipandang sebagai seseorang yang bisa mendongkrak popularitasnya saat ia berhasil bekerja sama dengan perusahaan besar itu.
Sejak pertemuan pertama, Keith memang langsung tertarik pada Amara. Pandangannya terlihat berbeda pada wanita cantik bertubuh indah yang berhasil menarik perhatiannya. Keith iseng melakukan cat calling pada Amara. Ia pikir Amara akan menghindarinya tapi siapa sangka gadis itu malah penasaran pada sosok miliarder muda yang menjadi idola banyak wanita ini.
“Buktiin kalau pesona lo lebih kuat di banding perempuan lainnya.” Bisik manager Amara seraya menepuk bokong Amara dengan gemas.
Dan Amara merasa tertantang oleh ucapan managernya. Siapa sih yang tidak takluk oleh seorang Amara?
Singkat cerita, Amara berhasil mendekati Keith. Keith menjamunya di sebuah ruangan khusus yang sengaja di sediakan oleh secretaries nya untuk menyenangkan Keith malam itu. Sebotol anggur tersaji di atas meja dengan dua gelas yang di sediakan khusus untuk keduanya.
Keith menuangkan khusus minuman untuk Amara dengan tatapan penuh ketertarikan pada wanita yang ada di hadapannya.
“For the beauties girl in this world.” Sanjung Keith seraya menyodorkan gelas yang sudah ia isi wine setengahnya.
“Thank you.” Timpal Amara yang tidak menunggu lagi untuk menerima gelas special itu.
Mereka bersama-sama meneguk minuman tanpa melepaskan pandangan dari satu sama lain.
“I want to show you something,” ujar Keith yang berjalan mendekat pada sebuah tirai yang ada di salah satu sudut.
“Okey.” Amara mengikuti langkah Keith dan berdiri sejajar dengan lelaki eropa tampan itu. Penasaran juga apa yang sebenarnya ingin Keith perlihatkan padanya.
Keith menarik tirai dan langsung terlihat produk premium yang malam ini akan di luncurkan. Berbagai pakaian dalam yang di desain cantik dan menarik terpampang di depan mata. Amara sampai tercengang melihat begitu bagusnya produk unggulan perusahaan Keith.
Keith mengambil salah satu gaun tidur dan menunjukkannya pada Amara.
“Wow, so beautiful.” Lirih Amara yang di buat terpesona.
“Wanna try?” Tawar Keith.
“My pleasure.” Sambut Amara dengan girang.
Dengan senang hati Amara mengambil baju di tangan Keith. Ia pergi ke toilet dan mengganti pakaiannya di sana. Sementara Keith menunggu dengan tidak sabar di tepian tempat tidur.
Sebuah senyuman kecil menggoda di tunjukkan Amara saat keluar dari toilet tersebut. Keith pun segera berdiri menyambut Amara yang berjalan mendekat.
“What do you think?” Tanya Amara seraya berputar di hadapan Keith.
Keith memperhatikan Amara dari atas hingga ke bawah. Sosok Amara memang sempurna menurutnya.
“I don’t like this one.” Keith mendekat lantas melepas satu anting di telinga kanan milik Amara lalu melemparnya ke atas tempat tidur.
“Another one?” Amara sengaja menyingkap rambutnya dan menyelipkannya di belakang telinga. Ia mendekat pada Keith, menunjukkan garis lehernya yang sensual.
“Sure,..” Suara Keith serak tertahan. Laki-laki itu menyentuh telinga Amara, namun bukan untuk melepas antingnya melainkan mengecupnya perlahan.
Dan sejak saat itu semuanya di mulai. Ia sering bertemu Keith hanya untuk melepas hasratnya. Ia selalu menikmati waktu yang ia habiskan bersama Keith hingga tidak pernah menggunakan pengaman apapun saat mereka berhubungan. Sangat jauh berbeda dengan Rangga, sang kekasih yang well prepare.
Semuanya terasa menyenangkan sampai kemudian Amara mendapat undangan reuni dari Nadine yang ternyata adalah kekasih Keith. Amara kecewa namun ia sadar ia hanya teman tidur Keith bukan kekasihnya. Dan sekarang laki-laki itu menghilang. Apa yang harus ia lakukan?
Amara mengusap air matanya sebelum kemudian menjawab telepon Ozi. Dalam hati ia bertanya-tanya, ada urusan apa Ozi menghubunginya?
“Hem,,” Hanya itu kata yang Amara ucapkan di awal perbincangan.
“Sekarang apalagi mau lo, Ra?!” Tanya Ozi yang tiba-tiba menyalak.
“Hah, mau gue? Tumben lo nanya mau gue? Biasanya juga lo yang lebih dulu menekankan maunya lo terhadap gue.” Sinis Amara yang sebenarnya bingung sendiri dengan pertanyaan Ozi yang tiba-tiba dan terdengar marah. Sama persis ketika ia membuat Bella depresi dulu.
“Gak usah pura-pura. Iblis kayak lo, punya rencana apalagi buat nyudutin adek gue? Apa maksud lo upload video begituan di media social? Lo mau playing victim, seolah menjadi perempuan paling menderita di dunia karena adek gue? Brengsek lo emang!” Suara Ozi makin terdengar meninggi.
“Lo apaan sih anjir! Lo masih belum nyadar juga kalau gue emang pengen Bella hancur! Jelas lo sekarang?!” Hanya itu yang Amara katakan untuk menjawab Ozi.
“Oh, jadi video itu emang sengaja lo upload kan? Gue bisa nuntut lo Ra atas semua yang lo lakuin sekarang!” Ancam Ozi tidak main-main.
“Lo ngomong apa sih? Video apa yang lo maksud?” Amara balas bertanya pada Ozi. Entah apa yang dimaksud laki-laki ini.
Tidak lama suara pesan masuk ke ponsel Amara.
“Gak usah pura-pura. Lo liat sendiri akibat perbuatan lo!”
“Lo inget ya, kalau sampai lo ganggu adek gue lagi, lo habis di tangan gue Ara.” Ancam Ozi sebelum menutup panggilannya dengan kasar.
Amara belum sempat menanggapi dan panggilan sudah terputus. Ia menggelengkan kepala tidak mengerti apa yang sebenarnya Ozi bahas. Ia memang ingin menghancurkan Bella dan selalu gagal. Tapi tentang video, apa maksudnya?
Amara membuka kotak pesannya. Banyak pesan yang masuk salah satunya dari Ozi. Dengan cepat Amara membukanya. Ternyata itu sebuah video dari salah satu akun fans-nya.
“Kuat ya Queen…” Begitu caption yang di cantumkan pada video tersebut.
Amara mengernyitkan dahinya saat memutar video itu. Entah bagaimana caranya video ini bisa tersebar. Ia tidak merasa menyebarkan video ini.
Ia berniat menghubungi Ozi kembali namun kemudian ia urung menekan tombol panggil.
Tunggu, bukankah ini kesempatan untuknya? Kesempatan untuk menghancurkan Bella lebih lagi agar bisa mendapatkan dan mengikat Rangga lebih erat lagi? Bingo, ide yang briliant menurutnya. Satu tembakan dua burung yang akan mati.
Benar sekali, ia masih memiliki Rangga. Laki-laki yang selalu menjadi sosok ideal untuk menjadi suaminya kelak. Lalu untuk apa ia takut? Toh Rangga pun pernah menikmati tubuhnya.
“Rangga,..” Lirih Amara. Sudah tidak ada gunanya lagi ia menangis. Ia merasa mungkin masalahnya akan selesai jika ia berbicara pada Rangga dan memanfaatkan kesempatan ini.
Amara akhirnya bisa menghela nafas lega. Ia meninggalkan kursi di salah satu sudut café yang sedari tadi ia tempati. Rasanya sekarang bebannya sedikit berkurang saat tahu kemana ia harus melangkah.
Di tempat berbeda, Kemal tengah di tatap tajam oleh Devan. Laki-laki gondrong itu masih mempertanyakan bagaimana bisa video BTS saat syuting bisa tersebar tanpa seizinnya.
“Iyaaa, video itu emang sama dengan sudut pandang kamera utama. Tapi gue gak upload bro! Dua hari kemaren kan kita libur, mana ada gue ngurusin kamera, itu waktu gue sama keluarga lah.” Kilah Kemal yang tidak terima di tuduh sebagai penyebar video.
“Terus siapa yang bisa akses hardisk kamera lo? Emang computer lo gak lo password?” Devan masih tidak terima.
“Gue password lah. Ini tuh password-nya aja panjang banget, 16 digit. Enggak tau mahluk kayak apa yang bisa bobol computer gue!” Dengus Kemal yang kesal karena jadi tertuduh.
Devan hanya bisa mengguyar rambutnya kasar tanpa mengalihkan pandangannya dari Kemal.
“Beneran, bukan gue!” Tegas Kemal yang membuat Devan memalingkan wajahnya.
“Bell, lo tau banget profesionalitas gue selama kita kerjasama. Mana pernah gue ngeluarin potongan video satu detikpun buat orang lain tanpa seizin sutradara atau produser. Masa setelah bertahun-tahun kita kerjasama lo gak percaya sama gue?”
“Gue gak ada masalah apa-apa sama lo, gue malah sayang sama lo sebagai rekan kerja. Mana mungkin gue nusuk lo dari belakang. Lo udah seperti adik sendiri buat gue. Lo percaya gue kan?” Kali ini Bella yang di tatap Kemal dengan serius.
Bella hanya menghela nafas dalam kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Kemal. Memang benar adanya, kalau Kemal sangat professional dan selalu menjaga Bella layaknya adiknya sendiri.
“Terus, apa produser ada ngehubungin lo bang?” Kali ini Inka yang bertanya.
“Kagak ada. Bukannya dia lagi cuti ngehadirin pembukaan perusahaan baru bokapnya?” Kemal balik bertanya pada Inka.
Inka hanya mengendikkan bahunya. Satu tertuduh lainnya tidak bisa ia buktikan.
Lalu sebenarnya siapa yang meng-upload video itu?
*****
Sebelum lanjut, jangan lupa 4 sehat 5 sempurnanya.
Terima kasih