Bella's Script

Bella's Script
Kecemasan seorang anak



Malam sudah semakin larut namun Bella masih mendengar samar-samar suara ketikan keyboard laptop. Setengah tersadar, matanya yang begitu rapat berusaha untuk terbuka sementara satu tangannya mengusap permukaan Kasur dan mencari keberadaan Devan yang tadi disampingnya, kosong.


Bella sadar, Devan tidak ada di tempatnya.


Tubuhnya masih polos dan hanya tertutup selimut yang Devan lingkupkan pada tubuhnya yang terbebas tanpa selembar benang pun.


Mata bulat itupun segera terbuka dan sesekali memincing saat cahaya temarang dari layar laptop Devan menyilaukannya. Rupanya Devan belum tidur. Ia masih terduduk di kursi kerja Bella seraya menatap layar laptopnya dengan latar putih. Entah pekerjaan apa yang masih diteruskannya.


Bella beranjak dari tempatnya, lantas memunguti satu per satu piyama yang di lepas Devan. Ia menghampiri Devan yang tertunduk dengan kepala yang tertopang pada kedua tangan yang sedang memijat pelipisnya.


“Mas belum tidur?” Tanya Bella seraya mengusap bahu suaminya.


“Oh, sayang.” Devan terhenyak kaget dan segera menutup layar laptopnya, yang Bella lihat sekilas sedang menampilkan halaman emailnya.


“Aku pasti berisik ya, sampai kamu terbangun?” Devan menarik tangan Bella dan membawa tubuhnya untuk duduk di atas pangkuannya. Satu tangan Bella ia lingkarkan ke lehernya.


Wanita itu menatap Devan dengan khawatir lantas menggeleng. Wajahnya terlihat lelah tapi sepertinya sulit untuk tidur meski sudah berolahraga sebanyak dua ronde dengan Bella.


“Mas kenapa? Ada yang lagi di pikirin?” Tanyanya. Ia menangkup satu sisi pipi Devan lantas mengusapnya dengan ibu jari.


Devan hanya tersenyum, ia mengambil tangan Bella lalu menciumnya dan menyesap wanginya cukup lama sambil memejamkan tangannya. Ia begitu menikmati menyesap wangi setiap bagian tubuh Bella yang selalu berhasil menenangkan kegundahannya.


Melihat sikap Devan, Bella yakin suaminya sedang tidak baik-baik saja. Ia menatap wajah suaminya yang gundah dengan penuh kekhawatiran.


“Mas, Mas tau kan kalau Mas bisa cerita apapaun sama aku?” Tanya Bella dengan suara rendah pada suaminya.


Devan mengangguk lalu menggenggam tangan Bella dengan erat.


“Aku tau.” Sahutnya dengan suara rendah yang membuat Bella bisa merasakan kegundahan suaminya.


“Lalu, apa ada yang mau Mas ceritain sama aku?” Lagi Bella bertanya.


Devan kembali mengangguk. Ia menarik tubuh Bella semakin dekat dan memeluknya. Ia mengecup bahu Bella lalu mengeratkan pelukannya seperti laki-laki ini sedang sangat ketakutan. Bella membalasnya dengan usapan lembut saat ia merasakan hembusan nafas Devan yang terdengar berat.


“Papah, akan dibebaskan.” Ucap Devan dengan suara parau seperti menahan tangis.


Semakin erat saja pelukannya pada Bella. Bella bisa memahami, kondisi seperti ini pasti tidaklah nyaman bagi Devan. Devan pernah mengatakan kalau papahnya pernah menolak Devan untuk menemuinya, lalu bagaimana saat ia bebas nanti?


“Kapan papah akan pulang?” Menggukan kata pulang, terdengar lebih nyaman untuk Bella. Ia masih berusaha menerka bagaimana perasaan suaminya saat ini.


“Besok.” Jawaban Devan nyaris tidak terdengar.


“Lalu kenapa Mas kok kayak sedih, bukankah harusnya Mas seneng? Mas merindukan papah bukan?” tanya Bella yang berusaha melerai pelukan suaminya karena ingin menatap matanya.


Saat pelukannya terlepas, Devan tertunduk di hadapan Bella. Bella mengangkup kedua sisi wajah suaminya dan perlahan mengangkat wajahnya. Bisa Bella lihat kedua mata Devan yang berair.


“Hey, look at me, Mas… Are you okey?” Bisik Bella sembari mengusap air mata Devan dengan lembut. Laki-laki itu menangis.


Perasaan Bella jadi tidak karuan melihat Devan yang sedih begini.


Perlahan Devan membuka matanya dan terlihatlah matanya yang merah dan berkaca-kaca.


Bella tersenyum kecil pada suaminya lalu kembali pipinya dan menyatukan dahinya dengan dahi Devan.


“Aku takut, papah gak mau nemuin aku Bell…” Ucap Devan dengan penuh ketakutan.


Bella segera menegakkan tubuhnya. Ia bisa memahami, setelah beberapa kali usaha Devan gagal untuk menemui sang ayah dan surat-surat yang ia kirim selalu kembali ke rumah, bukan tidak mungkin Devan merasakan perasaan seperti ini.


“Lalu, apa Mas masih mau menemui papah?”


“Ya, tentu saja. Aku sangat merindukan papah. Aku,” Devan sampai tidak bisa melanjutkan kalimatnya mengingat begitu lamanya mereka tidak bertemu. Entah seperti apa wajah laki-laki idolanya yang sudah lama tidak ia lihat.


Devan di tinggalkan oleh kedua orang tuanya saat berusia 13 tahun. Atas dugaan kelalaian hingga menyebabkan kematian, Amri di dakwa dengan penahanan selama 17 tahun. Menurut cerita Devan, Amri tidak menyewa satu pengacarapun untuk membela dirinya yang sangat sadar kalau ia bersalah. Namun berkat kelakuan baiknya, Amri mendapat pengurangan masa penahanan, hingga di tahun ke 15 ini ia resmi dibebaskan.


Selama bertahun-tahun lamanya, Devan terus merindukan sang ayah dan kerinduannya semakin menjadi saat ia mengingat bagaimana bahagianya ia dulu bersama kedua orang tuanya. Mereka yang begitu saling menyayangi terpaksa dipisahkan oleh takdir. Hingga Devan harus tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya.


“Kalau begitu, besok kita jemput papah, ya?” Ajak Bella dengan penuh keyakinan.


“Apa papah mau menemuiku? Bagaimana kalau dia mengabaikanku dan terus tenggelam dalam penyesalan dan rasa bersalahnya?” Suara Devan sampai bergetar, membuat hati Bella ikut teriris. Rupanya ini yang dikhawatirkan Devan hingga ia tidak bisa tidur.


“Kalau begitu, kita yakinkan papah. Kita tunjukkan sama papah, kalau sudah tidak adalagi yang perlu papah sesali. Bukankah papah sudah begitu lapang dada menerima hukumannya selama belasan tahun. Maka sekarang, kita yakinkan papah bahwa masa lalu itu sudah selesai dan kita akan menemaninya menjemput hari baru untuk masa depan yang lebih baik.”


“Tapi gak semudah itu Bell… Papah masih sangat merasa bersalah atas kematian mamah. Dia selalu merasa kalau dia sudah membunuh wanita yang sangat ia cintai dengan kedua tangannya sendiri. Dia juga tidak punya keberanian untuk menemui seorang anak yang sudah ia tinggalkan dan ia pisahkan dari ibunya.” Devan dengan segala kesedihan di dadanya.


“I know Mas.” Bella segera memegangi kedua bahu Devan yang mulai terlihat melorot. Seperti keteguhannya nyaris hilang begitu saja.


“Yang dilalui papah itu tidaklah mudah. Kita gak bisa membiarkan papah tetap terpuruk. Mas bisa menunjukkan pada papah, kalau dia masih memiliki seorang anak yang merindukan ayahnya dan menunggu dia kembali. Yakinkan dia kalau tidak ada salahnya memulai hari yang baru setelah kita keluar dari lorong hitam yang terasa menghimpitnya. Mas tunjukkan juga pada papah, kalau Mas gak pernah menyalahkan papah atas kejadian itu dan menerima semua kejadian itu sebagai sebuah kecelakaan yang tidak pernah di sengaja.”


“Yakinkan papah, selain Mas membutuhkan seorang ibu, Mas juga membutuhkan seorang ayah. Ayah yang Mas cintai tanpa ada kekecewaan sedikitpun. Dan aku, akan menyambut papah dengan tangan terbuka. Aku ingin mengenal sosok ayah dari seorang laki-laki hebat yang sekarang menjadi suamiku.” Tandas Bella dengan penuh kesungguhan. Di balik tatapannya yang lembut, ia tengah berusaha menunjukkan kekuatannya untuk mendukung Devan. Ia tidak akan membiarkan suaminya terpuruk dalam kegelisahannya.


Devan tidak bisa lagi berkata-kata. Alih-alih berbicara, ia lebih memilih memeluk Bella dengan erat. Memeluk wanita yang selalu berhasil menghapus setiap gundahnya.


“Mas tau, apa salah satu alasan aku menerima Mas untuk menjadi suamiku?” Bisik Bella di telinga Devan.


Devan menggeleng lantas melerai pelukannya untuk melihat Bella.


Bella mengusap dulu sisa air mata Devan sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Karena aku tau, Mas sangat mencintai kedua orang tua Mas. Mas tidak pernah menyalahkan keadaan yang menimpa Mas apalagi mengingkari kenyataan yang terjadi pada keluarga Mas.”


“Itu semua membuat aku yakin, kalau Mas gak akan pernah menyia-nyiakan orang yang ada di sekitar Mas, termasuk aku dan aku sangat yakin kalau Mas akan mencintaiku dengan tulus. Itulah yang aku lihat dari kedua mata laki-laki yang aku cintai.” Tegas Bella seraya mengusap pipi Devan dengan lembut.


Ia tersenyum penuh kebanggan pada suaminya.


Devan hanya tersenyum kecil. Ia mengecup tangan Bella beberapa kali dengan penuh perasaan. Sungguh wanita ini begitu menguatkan hatinya di saat ia merasa kalau ia akan sendirian menghadapi keputusasaan sang ayah.


“Tolong temani aku jemput papah, hem?” Suara gemetar menahan tangis itu kembali terdengar. Mata merah Devan menatap Bella penuh harap.


“Tentu. Papah Amri adalah papahku juga. Aku akan menunggu kepulangannya dengan senang hati.”


“Terima kasih Bell… Terima kasih.” Lagi Devan mengecupi tangan Bella berulang kali. Dan Bella tersenyum kecil kepercayaan diri suaminya yang mulai bangkit.


*****