Bella's Script

Bella's Script
ARA!!!



Suara petikan gitar terdengar jelas dari ruang apartemen Rangga.  Laki-laki itu tengah menghabiskan waktunya untuk menciptakan melodi yang pas untuk soundtrack filmnya. Sesekali nada mi loncat ke fa yang terdengar namun sekali lalu juga nada re loncat ke mi dan di susul nada sol yang berulang. Rupanya Rangga masih mencoba menemukan notasi yang tepat untuk bagian reff lagunya. Sesekali ia bergumam lirih melafalkan notasi yang berhasil ia buat dan mencatatnya di buku musik.


“Pada hati yang pernah luka, izinkan ku coba tuk mengobati.”


“Jangan lelah untuk berbagi, cinta untukmu ini suci…”


Begitu bunyi sepenggal lagu yang di gumamkan Rangga.


Ia kembali menuliskan not yang ia buat di atas bait lagunya.


“Ting tong!” Suara Bell tiba-tiba menjeda pekerjaannya.


Ia berhenti sejenak sambil berpikir siapa yang bertamu malam-malam begini. Amara kah? Bukankah tadi ia bilang mau tidur lebih cepat?


Rangga segera beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu. Saat melihat tamunya di doorviewer, ekspresi wajahnya langsung berubah. Cepat-cepat ia membuka pintu.


“Surpriseeee……….” Seru 4 orang yang ada di hadapannya.


Adalah kedua orang tuanya yang datang beserta adik kembar kesayangannya, Yaya dan Nana.


“Kak Rangga…” Dua anak itu langsung berhampur memeluk Rangga yang di rindukannya. Mereka bergelendot manja pada sang kakak.


“Loh, kok tumben ke sini malem-malem mah, pah.” Cepat-cepat Rangga meraih tangan kedua orang tuanya untuk ia salimi bergantian.


“Iyaa, kami habis dari rumah om Ivan, kebetulan lewat sini jadi mamah mutusin untuk mampir. Kami gak ganggu kan?” Tanya Lina.


“Nggak lah. Ayo masuk.” Rangga membuka pintu lebih lebar.


“Kalian udah tinggi aja. Perasaan kemaren-kemaren masih segini tingginya.” Ledek Rangga pada dua adik yang masing-masing memegangi tangan kiri dan kanannya. Mereka baru berusia 13 tahun tapi sudah cukup tinggi. Pertumbuhan anak sekarang memang sangat cepat.


“Iya lah.. Kan kita rajin olah raga, ya Na?” Timpal Yaya si energik.


“He em. Lagian kak Rangga jarang pulang, makanya gak tau kalau kita tambah tinggi.” Nana ikut menimpali.


Rangga tersenyum kecil mendengar ucapan Nana.


“Rumahnya enak Ga. Luas banget untuk ukuran tinggal sendiri.” Ucap Muslih, papah Rangga.


Laki-laki itu duduk di atas kursi roda yang di dorong Lina.


“Iya pah, lumayan luas.” Mereka sudah sampai di ruang tamu.


"Sesekali mamah sama papah pada nginep aja di sini." Tawarnya.


"Iyaa,, Lain waktu kami nginep. Tapi jangan sekarang-sekarang yaa, toko lagi lumayan rame, sayang kalau tutup. Nanti pelanggannya pindah ke toko sebelah." Timpal Lina.


"Iya mah, pah." Rangga bisa memaklumi, persaingan di dunia usaha saat ini sangat ketat walau kedua orang tuanya hanya buka toko kelontongan kecil-kecilan namun selama ini usaha itu cukup menopang perekonomian keluarga mereka.


“Kak, itu pacar kak Rangga yang baru ya?” Perhatian Yaya langsung tertuju pada foto Rangga bersama Amara yang terpajang di dinding. Foto lumayan besar itu adalah foto saat mereka melakukan foto shoot untuk promosi film yang saat ini sedang di garap.


“Iya. Namanya Amara.” Rangga jadi ikut memandangi foto ia bersama Amara. Padahal sudah lama ia tidak memperhatikannya.


“Cantik banget. Aku pernah nonton beberapa FTV nya, tapi dia lebih cocok mainin peran lucu-lucuan, soalnya mukanya cantik banget, cute gitu.” Nana ikut menanggapi.


“Heem, iya. Kakak coba telpon ya, mudah-mudahan dia belum tidur.” Rangga segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Baginya ini kesempatan langka mempertemukan Amara dengan keluarganya. Selama ini setiap kali Rangga mengajak Amara ke rumahnya, Amara pasti menolak dengan alasan belum siap untuk di kenalkan pada orang tua Rangga.


Rangga mencoba menghubungi Amara namun beberapa kali di hubungi tidak di jawab.


“Udah istirahat kali dia sayang. Udah, gak usah di ganggu.” Lina menepuk bahu Rangga yang tampak tegang.


“Iya mah.” Rangga memutuskan berhenti menghubungi Amara.


Namun tiba-tiba sebuah pesan masuk.


“Yang sorry gak bisa jawab telponnya. Aku lagi di rumah Lisa, treatment manggil orang salon dan ini lagi maskeran. Jadi gak jawab telpon takut maskernya retak.” Terang Amara dalam pesannya.


Rangga hanya membacanya dan tidak membalas. Bagaimana Amara bisa tiba-tiba ada di rumah Lisa sementara tadi ia bilang mau tidur lebih awal?


Akh, memikirkan Amara membuat ia jadi menduga hal yang tidak-tidak.


“Mau minum apa nih? Aku punya soda dan jus buah.” Rangga memilih memasukkan ponselnya ke dalam saku. Urusan Amara ia lupakan dulu sebentar.


“Aku mau jus buah!” kompak Yaya dan Nana. Mereka asyik melihat satu per satu ruangan di apartemen Rangga.


“Mamah bantu yah..” Izin Lina.


“Iya mah.” Rangga dan Lina pergi ke dapur sementara itu Yaya mengajak sang ayah berkeliling.


“Pah, kita liat balkonnya yuk!” Ajaknya dengan antusias.


“Ayo..” Muslih mengikut saja saat kedua anaknya mendorong kursi roda mendekati jendela yang menghadap ke balkon.


“Hati-hati yaa.. Jangan terlalu pinggir.” Seru Lina dari dapur.


“Iya mah.” Nana dan Yaya kompak menimpali.


Lina dan Rangga melanjutkan pekerjaannya di dapur. Menyiapkan minuman dan makanan kecil. Beruntung Rangga sudah membeli stock makanan jadi bisa ia sajikan.


“Bella apa kabar Ga?” Tanya Lina tiba-tiba. Sudah lama ia tidak mendengar kabar gadis manis itu. Terakhir ia melihat Bella saat gadis itu tampil di televisi untuk conferensi pers filmnya.


“Baik.” Rangga tampak tertegun. Ia memandangi gelas yang sedang ia isi dengan jus buah.


“Kalian pasti sering ketemu ya?” Selidik Lina.


Rangga terangguk kecil. “Kami satu project, hampir tiap hari ketemu.” Terang Rangga apa adanya.


Lina jadi memandangi wajah putranya yang tampak melamun. Entah mengapa Rangga jadi terlihat gelisah.


Hampir 8 tahun Rangga dan  Bella bersama, Lina tentu cukup mengenal seperti apa Bella. Ia mengenal Bella sebagai gadis yang riang, pandai berbaur, tidak neko-neko, sangat perhatian padanya dan keluarganya. Dulu Bella sering berkunjung dan menelpon hanya sekedar untuk bertanya kabar Muslih yang masih menjalani terapi pasca terkena serangan stroke ringan. Kala itu, Bella bahkan tidak sulit untuk turun tangan membantu keuangan keluarganya setelah Muslih di PHK dari tempat kerjanya. Dan bertanya kabar Bella menjadi sesuatu yang dirasa penting oleh Lina.


“Boleh kan kalau sesekali mamah menghubungi Bella?” Lina bertanya dengan serius. Ia merindukan gadis itu namun tidak ada salahnya meminta pandangan Rangga.


Rangga tersenyum kelu. Ia menata minumannya di atas nampan lantas beralih menatap Lina.


“Boleh, Bella masih sama kok seperti dulu. Baik dan ramah. Cuma Rangga minta, mamah jangan bahas masa lalu Rangga depan Amara ya.” Pesan Rangga.


“Kenapa? Dia cemburuan?” Selidik Lina.


Rangga hanya tersenyum. Ia membawa nampan ke ruang tamu dan diikuti Lina.


“Temuin mamah sama Amara dong sekali-kali, biar mamah kenal. Mamah juga kan perlu tau gimana kepribadian wanita yang jadi pacar kamu. Kamu serius kan sama dia?” Lina terus berbicara sambil menaruh satu per satu gelas di atas meja beserta makanan kecil.


“Iyaa mamah paham. Mamah juga pernah muda kok.” Timpal Lina.


Rangga hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya. Tanpa sadar, ia jadi memandangi fotonya bersama Amara. Jauh, ya cukup jauh dari pandangannya. Dan entah mengapa, ia merasa Amara pun terasa mulai jauh di hatinya.


Kunjungan kedua orang tua dan adik Rangga tidak lama. Hanya sekedar bertanya kabar dan membahas hal remeh temeh juga protes karena Rangga jarang pulang.


Karena sudah malam, Rangga memutuskan mengantar mereka pulang. Rangga bisa melihat wajah bangga kedua orangtuanya saat berada di dalam mobil yang dikendarai Rangga. Tidak henti-hentinya mereka membahas pencapaian Rangga saat ini. Sudah punya rumah dan kendaraan. Namanya pun di kenal banyak orang sebagai artis baru. Tetangga bahkan sering membahas Rangga saat muncul di beberapa iklan. Ini suatu kebanggaan bagi Muslih dan keluarga.


Jarak rumah kedua orang tuanya yang tidak terlalu jauh. Rangga bolak balik dari apartemen ke rumahnya. Di pertengahan jalan pulang, ia mencoba menghubungi Amara. Sudah beberapa jam berlalu harusnya maskerannya sudah selesai bukan.


Berhenti sejenak di tepi jalan, Rangga mencoba menghubungi Amara. Beberapa deringan di abaikan Amara hingga 4 kali di hubungi Amara tidak menjawab sama sekali.


“Apa udah tidur ya?” Gumam Rangga seraya memandangi foto profil Amara di ponselnya. Last seen aplikasi messanger-nya kini non aktif, sejak kapan?


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, ia memutuskan untuk menghubungi Lisa. Pada deringan pertama Lisa langsung menjawabnya. Cepat sekali pikir Rangga.


“Halo Ga, ada apa?” Tanya Lisa, yang seperti sedang mengunyah.


“Mba, lo lagi sama Ara gak?” Rangga bertanya dengan cepat.


Terdengar suara Lisa yang menelan bulat-bulat makananya.


“Nggak, dia gak ada kemari hari ini. Emang kenapa?”


Deg!


Jantung Rangga seperti berhenti berdetak. Ia menyandarkan tubuhnya dengan lemah pada sandaran jok. Matanya terpejam seraya mengguyar rambutnya kasar. Lantas menggeram kesal dalam hati. Hanya wajahnya saja yang terlihat marah karena merasa di bohongi oleh Amara.


“Ada apa Ga? Ada kiriman bunga lagi?” Lisa masih penasaran dengan suara Rangga yang tiba-tiba menghilang.


“Nggak mba. Kira-kira kemana ya Ara?” Rangga benar-benar penasaran. Kenapa lagi-lagi Amara harus berbohong dengan mengatakan ada di rumah Lisa?


“Hem, lo tutup dulu telponnya ya, gue mau cek lokasi dia bentar.”


“Oh iya mba. Nanti tolong shareloc sama gue ya.”


“Okey.” Sahut Lisa.


Beruntung ia memang fitur tracking di ponselnya Amara sehingga ia bisa mendapatkan lokasi Amara dimanapun ia berada selama ponselnya aktif. Hal ini memang sengaja ia lakukan agar tidak kesulitan mencari tahu keberadaan artisnya.


“Ting!” Sebuah pesan masuk.


Pesan dari Lisa yang mengirimkan sebuah lokasi. Rangga melihatnya sebentar, rasanya ia mengenal tempat ini.


Tanpa menunggu lama, Rangga segera tancap gas menuju tempat tersebut. Sebuah resto mewah yang pernah ia sambangi saat menemani Amara Reuni.


Benar sekali, saat tiba di restoran tersebut Rangga segera turun. Ia memperhatikan dari kejauhan Amara yang sedang bersama dua orang yang mengumbar kemesraan di hadapannya. Dari sosoknya Rangga tahu persis siapa mereka. Keith laki-laki Eropa bersama pacarnya yang berambut pirang.


Lalu Amara dengan siapa? Kenapa kursi di sebelahnya kosong?


Rangga semakin penasaran. Ia menaikkan hoodie untuk menyamarkan penampilannya lantas duduk membelakangi kaca  jendela yang ada di samping Amara. Dari tempatnya Rangga bisa mendengar sedikit suara tawa mereka.


“Ya lo tau lah, kalau masalah dress, baju casual gue bisa handle. Tapi kalau swim suit  lingerie, masih harus gue pikir-pikir dulu.” Ujar Amara pada lawan bicaranya yang wanita.


“Okey, berarti lo mau mikir-mikir dulu kan? Jangan kelamaan, tar dia keburu nyari model yang lain.” Sahut wanita itu dengan penuh penekanan.


“Ya okeeyy… Nanti gue hubungin siapa nih buat konfirmasinya?”


“Ya ke Keith langsung juga boleh. Soalnya dua minggu ini gue ada trip sama temen-teman, mau ke New Zealand.”


“Oh dia gak ikut?” Amara menunjuk laki-laki di hadapannya dengan sudut matanya yang seksi.


“Nggak lah. Katanya dia banyak kerjaan di sini. Iya kan babe?” Wanita itu mengusap pipi Keith dengan lembut.


Keith hanya tersenyum. Ia cukup paham apa yang kedua wanita ini bicarakan walau belum bisa merespon dengan lancar pembicaraan ini menggunakan bahasa Indonesia.


“Okey, kayaknya gue udah harus pulang deh, siap-siap buat berangkat penerbangan pagi besok. Babe, can you take her home, please?” Pinta wanita itu pada Keith.


“Hem, why not?” sahut Keith dengan semangat.


Rangga sedikit mengintip ekspresi Amara dan Keith. Laki-laki itu tersenyum pada Amara yang sedang meneguk minumannya dengan elegan. Cukup menggoda menurut Rangga.


Kecurigaan Rangga semakin besar kalau Amara ada sesuatu dengan pria itu. Ia terus mengikuti Amara, diam-diam menjaga jarak di belakang Amara sambil bersembunyi di bawah hoodie-nya. Ia ingin tahu lebih jelas apa yang akan dilakukan Amara kemudian.


Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu beranjak dari tempatnya. Rangga segera menuju ke mobilnya dan memantau Amara dari sana. Wanita berambut pirang itu masuk ke mobil sport mewahnya yang berwarna jingga sementara Amara masuk ke dalam mobil sedan mewah bersama Keith.


Mereka melaju masuk ke jalanan dan Rangga tetap mengikutinya di belakang. Jalan yang dilalui Amara memang jalan yang seharusnya menuju arah pulang. Tidak tahu apa yang terjadi di dalam mobil dalam waktu sekitar setengah jam itu. Yang jelas mobil melaju tidak terlalu cepat padahal jalanan tidak terlalu ramai.


Dengan sabar Rangga mengikutinya di belakang.


Masuk ke Kawasan apartemen, mobil itu memasuki basement. Keith memarkir mobilnya persis di sebelah mobil Amara dan Rangga di sebrangnya, sedikit menjauh agar Amara tidak sadar.


Keith turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Amara. Gadis itu tersenyum tipis dengan kerlingan matanya yang menarik saat mengucapkan terima kasih. Tidak ada yang aneh sampai kemudian tiba-tiba Keith melingkarkan tangannya di pinggang ramping Amara, bahkan mengusap punggung Amara dengan sensual dan Amara tidak menolak.


Rangga pun tersadar. Ia segera turun dari mobilnya dan memperlebar langkahnya untuk mengejar Amara.


Amara tersenyum saat Keith menarik tubuhnya mendekat ketika memasuki lift.


“ARGHH!!! SIAL!!” Dengus Rangga yang terlambat.


Lift sudah tertutup lebih dulu, membawa Amara dan Keith di dalam sana. Terpaksa Rangga menggunakan tangga darurat menuju lantai dua dimana ada lift lain yang bisa ia pergunakan. Rangga sampai terengah-engah menaiki satu per satu anak tangga untuk sampai di lantai 2.


Tiba di lantai 2, nafasnya nyaris habis. Ia menekan tombol lift dan menunggu seraya bersandar pada dinding untuk mengatur ulang ritme nafasnya.


“Ding!” Pintu lift terbuka dan dengan tergesa-gesa ia masuk ke lift dan menekan tombol beberapa kali dengan kasar. Sangat tidak sabar.


Dalam pikirannya ia harus segera sampai ke lantai 9 dan melihat apa yang kemudian Amara lakukan dengan Keith.


Lift terasa berjalan sangat lambat. Rangga melepas hoodie-nya karena kegerahan dan mengacak rambutnya yang berantakan. Bisa ia lihat pantulan bayangan wajahnya yang lusuh dan kelelahan. Namun rasa penasaran jauh lebih besar.


“Ding!” pintu lift kembali terbuka. Rangga segera keluar dan berjalan cepat melewati lorong menuju unit milik Amara.


“Bingo!” Langkah Rangga langsung terhenti saat melihat Amara yang sedang berada di depan pintu unitnya bersama Keith.


Mereka berdiri berhadapan dan saling tatap dengan lekat. Tangan kanan Keith berada di bahu Amara dan seperti sedang mengusapnya. Gadis itu tersenyum kecil dengan begitu menggoda.


“ARA!!!” Seru Rangga dari tempatnya.


******