
“Hey, kok ngelamun?” ujar Saras saat mendekat menghampiri Bella yang terduduk sendirian di rooftop rumah mereka.
Sudah beberapa hari ini Bella sering terlihat melamun dan memegangi ponselnya yang sering kali ia tatap dengan gusar.
Ia duduk di samping Bella, di atas ayunan yang kemudian berayun pelan.
“Hay mah,” sambutnya yang tersenyum tipis.
“Udah makan sayang?” ditangkupnya satu sisi wajah Bella dengan tangan kanan lantas ia usap dengan lembut.
Ia perhatikan lingkar mata Bella masih hitam dan sendu.
“Nanti aku makan mah.” Ia memegang tangan Saras yang mengusap wajahnya lantas memejamkan mata menikmati usapan lembut penuh kasih sayang dari sang ibu.
“Mamah mau bicara sesuatu nak. Boleh?” tanyanya hati-hati.
“Hem,” Bella mengangguk kecil lantas membuka matanya dan menatap Saras penuh atensi.
Wanita itu tersenyum, memandangi wajah Bella dengan seksama.
“Sabtu ini, mamah mau ngajak kamu, abang dan nak Devan makan di luar. Kamu bisa?”
“Emmm, bisa mah. Aku gak ada janji kok. Tapi ngomong-ngomong, ada apa kok tumben mamah mau malem mingguan di luar?” tanya Bella penuh selidik.
Biasanya Saras lebih suka diam di rumah, katanya malam minggu bikin malas, sering macet.
Diguyarnya rambut Bella dengan lembut tanpa mengalihkan tatapannya dari dua netra kecoklatan milik sang putri.
“Mamah mau merayakan pertambahan usia mamah bareng kalian.” Ujarnya tersenyum gemas.
“Ya ampuunnn…. Astaga mamah, aku hampir aja lupa mamah ulang tahun minggu depan. Sorry… Mamah mau kado apa?” ekspresi Bella berubah dengan cepat, sepertinya ia mulai teralihkan.
“Eemm… Gak usah sayang…” di bawanya Bella ke pelukannya, membuat gadis itu bersandar manja di dada Saras.
“Mamah udah makin tua. Sekarang mamah udah gak pengen apa-apa. Mamah cuma mau menikmati banyak waktu sama anak-anak mamah. Koleksi banyak foto, ngobrol hal-hal kecil yang bikin kita ketawa.” Ujar Saras dengan penuh harap.
Mendengar ujaran Saras, Bella jadi menengadahkan wajahnya menatap wajah Saras yang berada di atasnya. Wanita itu tersenyum kecil lantas menyentuhkan hidungnya ke hidung Bella.
Saras benar, belakangan mereka sudah jarang sekali quality time. Sejak Saras menjadi orang tua tunggal, fokus mereka lebih ke bekerja untuk mengamankan kondisi ekonomi masing-masing agar tidak saling membebani.
Hidup di zaman sekarang sangat sulit, segala sesuatu harus selalu bersentuhan dengan uang. Tidak ada salahnya kalau sekarang mereka meluangkan waktu untuk menikmati kebersamaan mereka. Kebahagiaan tidak selalu melulu tentang uang.
“Tapi, mamah mau mengundang nak Rangga juga.” Imbuh Saras tiba-tiba.
Sontak Bella menegakkan tubuhnya dengan cepat.
“Maksud mamah?” seperti ada kilat yang tiba-tiba mengagetkannya.
Saras tersenyum kecil.
“Adek masih berhubungan kan dengan nak Rangga?” di tatapnya Bella dengan lekat, membuat gadis itu gelagapan.
Sudah sejak lama ia mengatakan pada Saras kalau hubungannya dengan Rangga sudah berakhir. Hal ini ia lakukan agar Saras tidak mencemaskannya karena menganggap hubungan mereka tidak berkembang.
“Iya mah.” Ini waktunya untuk ia jujur.
“Heeemmm,… Baiklah." Saras tersenyum dengan bijak.
"Mamah mau mencoba mengenal lebih dekat laki-laki yang kamu cintai. Bisa kamu memintanya untuk datang nak?” tanya Saras dengan sungguh.
2 tahun lalu Bella mengatakan kalau hubungannya sudah berakhir dengan Rangga. Tepatnya saat sebuah kejadian tidak menyenangkan dilakukan oleh Rangga. Meski katanya tidak sengaja, hal itu tetap membuat Saras marah dan meminta mereka untuk berpisah.
Tapi Waktu yang berjalan, menunjukkan bahwa Bella tetap bertahan dengan laki-laki itu walau seringkali membuatnya berselisih paham dan berdebat dengan sang kakak.
Air muka Bella tidak bisa disembunyikan, ia sampai tidak mampu berkata-kata. Permintaan Saras benar-benar mengejutkannya. Ia hanya mengangguk dengan bibir terkulum menahan tangis haru.
Saat ini hubungannya dengan Rangga memang sudah membaik sejak insiden beberapa hari lalu, namun tidak sebaik sebelum insiden. Entah apa yang menahannya untuk tidak terlalu sering menghubungi Rangga. Entah rasa takut atau perasaan canggung.
Namun Saras sudah mencoba memberi mereka kesempatan yang tidak mungkin ia lewatkan.
“Coba adek telepon, mamah mau bicara dengan nak Rangga.” Saras melihat keraguan di mata Bella.
“Iya mah.” Dengan segera Bella menyalakan benda pipih di tangannya. Mencari nama Rangga dan melakukan panggilan.
Beruntung dua kali deringan Rangga langsung menjawabnya.
“Ga,” sapa Bella dengan ragu.
“Ya Bell,” suaranya terdengar lembut, beda dari biasanya.
“Loud speaker aja.” bisik Saras. Bella mengangguk paham.
“Kamu lagi sibuk ga?”
“Nggak terlalu. Ada apa yang?” rasanya jantungnya berdebar kencang mendengar Rangga memanggilnya seperti itu di hadapan Saras. Malu sendiri jadinya.
“Eeem ini, ada mamah mau ngomong sama kamu. Bisa?” Bella bertanya dengan hati-hati. Malu-malu ia menatap Saras.
Beberapa saat tidak terdengar suara, seperti di mute. ”Ga,” panggil Bella lagi.
“Oh iya Bell, bisa.” Akhirnya suara Rangga kembali terdengar. Mungkin tadi Ranggapun kaget karena mendengar Saras yang ingin berbicara langsung.
“Assalamu ‘alaikum nak Rangga….” Sapa saras dengan lembut.
“Wa’alaikum salam tante… Apa kabar tan?” manis sekali suara Rangga terdengar di telinga Bella. Ia merasa seperti jatuh cinta lagi pada laki-laki yang selalu memberi kejutan tidak terduga dalam hari-harinya.
“Baik nak. Maaf tante ganggu waktunya. Tante mau ngundang nak Rangga hari sabtu besok. Kita makan malam bersama.”
“Nak Rangga bisa?” Ujar Saras tanpa ragu. Ia melirik Bella yang menghembuskan nafasnya beberapa kali sambil mengipasi wajahnya yang memerah.
“Oooo bisa tante.”
"YASS!!!" Bella bersorak dalam hati.
“Alhamdulillah,, makasih ya nak. Nanti tante minta Bella ngabarin nak Rangga lagi buat waktu dan tempatnya yaaa…”
“Baik tante. Terima kasih atas undangannya.” Tukas Rangga.
“Makasih maaahh…” Bella langsung memeluk Saras sesaat setelah panggilan terputus.
Ia sampai tidak bisa berkata-kata, rasanya bahagia sekali.
“Sama-sama sayang… Mamah juga seneng ada kesempatan mengenal nak Rangga lebih dekat.” Harusnya ia melakukan ini sejak lama. Sebelum hubungan Bella terlanjur berjalan tanpa arah.
Tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya kan?
Bella memeluk Saras dengan sangat erat. “One step closer, restu mamah udah di tangan.” Gumam Bella.
*****
Membayangkan wajah Rangga di pelupuk matanya membuat Bella tersenyum-senyum sendiri. Ia berguling-guling di atas tempat tidur sambil membayangkan kebersamaan mereka di meja makan nanti.
Perbincangan apa yang akan mereka bicarakan, seperti apa suasananya dan bagaimana akhir dari hari itu seperti sedang Bella tata dalam benaknya, layaknya membuat sebuah kerangka cerita.
“Aarrgghhhh…” Bella memekik gemas sambil menghantam-hantamkan kakinya ke tempat tidur. Rasanya ia jadi tak sabar.
Dua hari lagi, ya dua hari lagi.
Tapi tunggu, tiba-tiba saja pikirannya tertaut pada sesuatu. Perasaan mengganjal karena Feel yang kurang pada script yang ia buat, kali ini ia menemukannya. Ya, ia menemukannya.
Dengan cepat Bella mengambil ponselnya. Menghubungi nomor Devan dan beruntung langsung di jawab.
“Devan, gue kepikiran satu hal!” serunya dengan semangat.
"Iya, gimana Bell?" Devan kebingungan di sebrang sana.
"You will see..." ujarnya dengan yakin sebelum menutup panggilan tanpa aba-aba.
Ia segera mengambil syal miliknya, juga dompet dan laptop. Berjalan keluar kamarpun dengan tergesa-gesa.
“Mau kemana lo?” tanya Ozi yang berada di meja makan.
“Ke tempat Devan. Gue boleh pinjem kunci mobil lo?” tanyanya sambil menyuapkan sepotong buah melon dari piring Ozi.
“Tuh,” tunjuk Ozi ke gantungan di dekat kulkas.
“Pake jaket gue, ini udah malem.”
“Okey, thanks abang!” di kecupnya pipi Ozi tanpa permisi.
“Tumben nih anak.” Gumam Ozi yang memperhatikan Bella berjalan dengan tergesa-gesa.
“Jangan pulang pagi!” seru Ozi menggodanya. Ia tahu kalau berpesan jangan pulang malam, Bella akan membalas “Iya, paling pagi!”
Tapi kali ini Bella tidak menimpali ia hanya mengacungkan jari tengahnya pada Ozi dan membuat laki-laki itu tertawa kecil.
Perjalanan di lalui dengan cepat saat perasaan kita begitu senang. Tiba di rumah Devan, ia langsung mengetuk pintu dengan keras.
“Vaaann,,, buka pintu!!! Jangan lama-lama, nanti darah gue abis di ambilin nyamukkkk!!!” teriaknya.
Devan hanya menggeleng dan terkekeh mendengar suara gaduh Bella yang tidak sabaran. Entah ada apa menjelang malam malah datang ke rumahnya.
“Thanks!” ujarnya saat Devan membukakan pintu.
Ia langsung masuk tanpa permisi duduk di sofa dan menaruh laptop yang ia siap ajak bekerja.
“Ada apa?” membiarkan Bella menata tempatnya sementara Ia pergi ke dapur yang berbentuk mini bar untuk membuatkan minum.
Tempat tinggal Devan memang rumah dengan tipe studio. Dimana ruang tamu dan dapur hanya di batasi oleh sebuah mini bar tempat ia biasa makan. Sementara kamarnya berada di lantai atas yang tangganya tersambung langsung dengan ruang tamu.
Dari tempat Bella, bisa terlihat jelas tempat tidur Devan yang hanya di batasi pinggiran pagar dari kaca tebal serta gorden yang sewaktu-waktu bisa di tutup.
“Gue ada ide!” serunya sesaat setelah ia selesai menata tempat kerjanya di ruang tamu Devan.
Ia membuka file script yang dibuatnya.
“Tentang?” segelas kopi susu di buat untuk Bella dan kopi hitam untuk dirinya. Ia taruh kedua gelas itu di meja kecil terpisah agar tidak mengganggu Bella.
Ia pun duduk di sofa dan ikut memandangi text yang di tunjukkan Bella.
Bella memilih duduk di atas karpet, agar ia tidak terlalu jauh dari laptopnya sementara Devan tetap berada di belakangnya.
“Gue selalu ngerasa ada yang kurang klik sama script gue. Entah itu detail-nya atau vibes yang gue ciptain di script ini. Tapi baru aja, gue nemuin alasan kenapa script gue kerasa gak sempurna. Eeemmm,, gimana ya ngegambarinnya?” mata Bella menerawang mencari kata yang tepat untuk ia sampaikan pada Devan.
“Ada part yang spesifik atau secara keseluruhan?” Devan balik bertanya.
“Emmm, secara keseluruhan Van. Gue ngerasa kalau engagement antara tokoh utama perempuan sama laki-lakinya terlalu samar. Eh bukan, maksud gue terlalu umum. Eemmm gimana ya jelasinnya?” Bella kini menatap Devan dengan lekat, seperti berusaha memberi penjelasan lewat sorot matanya.
Devan ikut berpikir, ia sudah membaca semua bagian dari script Bella dan rasanya ia memiliki gambaran apa yang Bella maksudkan.
“Maksud lo, alasan why she need him, gitu?”
“Nah itu maksud gue!” sahut Bella dengan cepat. Keduanya sama-sama terangguk.
“Gue selalu berpikiran kalau untuk sebuah cerita romansa apalagi judulnya buat film, engagement tokohnya harus kuat dan terlihat jelas karena film kan gak sedetail sinetron atau mini seri kan. Nah, ini tuh gue ngerasa masih ada yang kurang.” Cerocos Bella dengan semangat.
Devan terangguk paham.
“Menurut lo gimana Van?” Kembali Bella bertanya dengan penuh harap.
Sebagai sutradara Devan harus bisa memvisualkan persepsi apa yang Bella ceritakan agar sampai dan di mengerti penonton. Dan dari sudut pandang Devan, Bella ingin ceritanya ini memiliki engagement juga dengan penontonnya.
“Lo pernah berpikir gak kalau sebuah hubungan antar tokoh itu kayak puzzle?” kali ini Devan yang balik bertanya.
Bella menggeleng pelan.
“Jadi maksud gue gini,” Devan mulai mencondongkan tubuhnya ke arah laptop yang membuat kepala keduanya bersisian.
“Yang namanya tokoh utama, not must be perfect. Tidak harus selalu sempurna untuk memukau penonton. Tapi, antar tokoh utama itu harus bisa saling melengkapi secara cerita supaya menjadi tampilan yang memukau bagi penonton saat mereka kita pasangkan.”
“Konsep puzzle, tidak ada yang bagian kecil-kecilnya itu di buat bentuk kotak semua agar saat di pasangkan lebih mudah. Tapi sengaja di buat ada lengkungan, sudut, adar saat di pasangkan satu sama lain keterikatan emosional mereka kuat. Lebih dari itu, agar setiap bagiannya tidak monoton.”
“Jadi menurut gue, bukan hanya tentang konflik di cerita, tapi karakter setiap tokoh yang di tampilkan.” tutur Devan.
Bella mengangguk-angguk paham. Ia sadar, Devan memang seorang sutradara yang hebat untuk usianya yang masih muda. Ia bisa menangkap kecemasan Bella dan memberi solusi atas keterikatan yang ia ingin tunjukkan pada ceritanya.
“Jadi menurut lo, kondisi tokohnya itu perlu di buat kayak konsep magnet gak sih?”
“YA, itu perlu. Tokoh yang sempurna gak akan bisa di sandingkan lagi sama tokoh yang sempurna lainnya. Secara teori magnet, mereka akan tolak menolak dan itu yang bikin feel cerita kurang dapat. Ini persepsi gue yaaa…” tutur Devan.
Lagi Bella mengangguk paham.
Semakin lama, obrolan mereka semakin berkembang. Mereka terus berbincang tentang script dan begitu menikmati waktu yang perlahan merambat pelan.
Devan yang selalu melihat cerita dari perspektif yang luas tidak hanya dari sudut pembuatan tapi juga sudut persepsi penonton. Dan Bella yang detail dalam menunjukkan emosi tokoh di rasa saling melengkapi untuk menyempurnakan puzzle karya mereka.
“Lo bisa melakukan hal sekeren ini Bell, kenapa lo harus ragu?” batin Devan saat memandangi Bella yang asyik berceloteh sambil sesekali tertawa.
Semakin lama berbicara dengan Bella, semakin ia melihat Bella terdiri dari potongan puzzle yang lengkap saat di kenal. Ia memiliki setiap sudut. Jika puzzle ini di rangkai dengan benar, akan menghasilkan gambaran yang indah. Dan Devan tidak sabar melihat mahakarya itu.
Sebentar, apakah ia sedang berharap?
*****