Bella's Script

Bella's Script
Mas Kawin



Tiba di tempat yang di tuju, ternyata Bella ketiduran. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh tapi karena terlalu nyaman mendapat usapan lembut di tangannya dari Devan membuat ia kemudian tertidur.


Devan membiarkan saja Bella tertidur beberapa saat sambil ia pandangi wajahnya yang tenang saat terlelap.


Tubuhnya yang condong pada Bella, membuat jarak mereka cukup dekat. Devan baru tersadar kalau ternyata bulu mata Bella sangat lentik. Pipinya merona alami serasi dengan lengkungan hidungnya yang cantik juga bibirnya yang tersungging senyum tipis, membuat Devan enggan mengusik tidurnya.


Betah sekali ia menatap wajah cantik Bella yang polos meski tanpa sapuan make up.


Anteng memandangi wajah Bella, Devan segera menegakkan tubuhnya saat terlihat mata Bella mengerjap pelan seperti hendak terbuka.


“Ekhm!” Devan berdehem untuk menetralisir perasaannya.


Pura-pura melihat ke depan sambil mencengkram stirnya kuat-kuat. Entah mengapa ia gugup sekali jika sampai Bella tahu sedari tadi ia memandangi kekasihnya yang tertidur.


“Kita dimana Van?” Bella bertanya dengan suaranya yang terdengar serak membuat jantung Devan berdebaran mendengarnya.


Gadis itu sudah benar-benar terbangun, berusaha menegakkan tubuhnya walau matanya masih memincing, menyesuaikan dengan cahaya senja sore ini.


Ia melihat jam di tangannya sudah lebih dari jam 5 sore.


“Di Pantai..” Devan menurunkan sedikit kaca jendela agar Bella bisa melihat langit sore yang kekuningan.


“Waaahhh... Cantik bangeeettt...” Seru Bella dengan mata membulat sempurna. Sangat cantik menurut Devan.


“Kita makan malam di sekitar sini?” Lagi ia bertanya, menoleh Devan yang terpukau di belakangnya.


“Ya. Kita turun yuk.” Ajak Devan.


Pikirnya akan menyenangkan berjalan-jalan di tepi pantai di hari senja seperti ini.


“Ayok!!!” Bella berseru dengan semangat. Ia segera melepas seatbelt-nya yang baru akan Devan bantu lepaskan lalu turun dari mobil dengan tergesa-gesa.


Tangan Devan yang tergantung di udara akhirnya hanya bisa mengusap rambutnya sendiri sambil menahan senyum. Saat antusias terkadang Bella memang sangat terburu-buru.


Dan di tempatnya Devan hanya tersenyum melihat tingkah Bella yang begitu bersemangat. Ia melepaskan sandalnya dan memilih bertelanjang kaki.


“Ayookk Van, buruan!!!” Ajaknya, menampakkan wajahnya di jendela.


“Okey!” Devan ikut melepas seatbelt-nya. Keceriaan Bella membuatnya ikut bersemangat.


Walau dalam hatinya Ia harap-harap cemas memikirkan apa Bella akan suka dengan kejutannya atau tidak.


Usai mengajak Devan turun, Bella segera berlari menuju gais pantai. Seperti anak kecil yang kegirangan melihat deburan ombak yang pecah membasahi kakinya. Ia mendekat pada bibir pantai namun kemudian berlari menjauh saat air laut mengejarnya ke tepian. Bibirnya tidak henti tersenyum bahkan sesekali tertawa girang.


Devan memperhatikan Bella dari kejauhan. Lucu sekali tingkahnya, membuat ia ikut tertawa.


Puas berlarian kemudian Bella terdiam sejenak seraya bersidekap. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang merinding dingin karena hembusan angin laut. Rambutnya yang tidak terikat di biarkan melambai-lambai terkena hembusan angin.


Sejenak ia memejamkan matanya. Menghirup udara dalam-dalam dan membiarkannya mengaliri aliran darahnya. Hem… Wangi angin pantai memang selalu menyejukkan dan menenangkan.


Matanya terbuka saat tiba-tiba seseorang meletakkan jaketnya di bahu Bella. Ia menoleh dan ternyata ada Devan di sampingnya. Laki-laki dengan postur tinggi dan tegap itu tengah tersenyum memandanginya. Siluete keduanya terlihat indah di permukaan pasir yang basah.


“Thanks.” Lirih Bella atas usaha manis Devan terhadapnya.


Laki-laki itu hanya tersenyum seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia ikut memandangi senja yang menghibar di atas lautan. Warna jingganya memberi ketenangan tersendiri.


“Udah lama banget gue gak ke pantai.” Ujar Bella membuka perbincangan.


“Terakhir gue ke pantai bareng temen-temen kantor. Waktu itu gue masih di departemen art. Hemm.. Gak kerasa, udah hampir dua tahun lalu.” Imbuh Bella yang tersenyum mengingat kenangannya bersama teman satu timnya.


Ia masih mengingat jelas bagaimana suara tawa ceria teman-temannya yang saling berkejaran di pantai.


Wangi ikan bakar yang tertiup angin.


Pasrahnya Roni yang di kerjain iseng di kubur di bawah pasir pantai oleh teman-temannya.


Romi yang di lempar ke laut karena tidak mau berenang dengan alasan dingin.


Dan Inka yang kesulitan menyeimbangkan tubuhnya saat belajar berselancar.


Semua itu seperti baru kemarin tapi ternyata sudah cukup lama.


“Lo tau Van, air selalu membuat gue berhasil untuk berhenti berpikir. Tidak ada kecemasan, memberi ketenangan dan melupakan beberapa saat kerumitan dalam pikiran gue.” Lanjut Bella seraya memandangi deburan ombak yang saling bergulung lalu pecah menjadi buih.


“Ya, laut selalu memberi apa yang kita butuhkan. Salah satunya ketenangan.” Timpal Devan.


Ia ikut memejamkan mata sambil mengingat kembali kenangan terakhir ia bersama kedua orang tuanya di pantai ini.


“Mah, Pah,, Devan kembali ke sini. Tempat yang selalu menjadi favorit kita bersama.” Batin Devan, mengenang sesaat senyum cerah kedua orang tuanya ia lihat untuk terakhir kalinya.


“Dan kali ini, Devan datang bersama wanita yang akan segera Devan nikahi dalam 2 hari ke depan.” Ia membuka matanya lantas menoleh Bella yang juga tengah memandanginya.


Mereka saling melempar senyum, saling mengungkapkan rasa membuncah di dalam dadanya lewat tatapan mata.


Devan mengulurkan tangannya pada Bella, “Ada yang mau gue tunjukkin sama lo.” Ujarnya.


“Oh ya? Apa?” Bella jadi penasaran.


“Lo bersedia ikut gue?” Ia melirik tangannya yang terulur pada Bella.


“Why not?” Tanpa Bella yang meraih uluran tangan Devan.


Mereka berjalan menyusuri bibir pantai dan sesekali membiarkan ombak menyentuh kakinya. Mereka berpegangan tangan dengan erat. Sesekali Devan mengecup tangan Bella dengan lembut membuat gadis itu tersipu.


“Van, ada orang lain juga di pantai.” Ujar Bella saat melihat sebuah mobil Van traveling atau RV (Recreational Vehicle) terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada.


“Kita ke sana.” Ajak Devan dengan yakin.


“Eeehhh Jangaaann… Nanti orangnya ngerasa ke ganggu.” Bella berusaha menahan tangan Devan agar tidak menuju ke sana.


Walau ia sangat penasaran, Bella tahu kalau ia harus menahan diri.


“Nggak akan lah.” Devan bersikukuh menarik tangan Bella.


“Issshhh Van…” Desis Bella saat melihat dua orang laki-laki berjalan menghampiri mereka.


“It’s okey Bell..” Devan tetap membawa Bella mendekat.


Akhirnya Bella hanya bisa pasrah sambil menutup wajahnya karena malu dengan tatapan dua laki-laki berpakaian santai itu.


“Apa sudah siap?” Tanya Devan pada dua laki-laki itu.


Bella jadi menoleh saat mendengar Devan bertanya pada dua orang itu.


“Devan mengenal dua orang ini?” Batin Bella penasaran.


“Sudah tuan, silakan.” Jawaban salah satu dari laki-laki itu membuat Bella menurunkan tangan yang menutupi wajahnya dan menatap laki-laki yang mengarahkan tangannya mendekat pada mobil tersebut.


“Van?” Bella menatap Devan penuh tanya. Wajahnya yang melongo membuat Devan tersenyum gemas.


“Kita makan di sini ya…” Devan mengajak tanpa ragu.


Ia menarikkan satu kursi untuk Bella duduk.


“Astaga, ini lo yang nyiapin Van?” Bella masih terkejut, melihat ke sekeliling. Melihat dua orang laki-laki itu begitu sigap, Bella yakin ia dan Devan tidak datang ke tempat yang salah..


“Hem.” Devan mendudukan Bella di kursi. Dan Bella hanya menurut saja walau wajahnya masih tidak percaya.


Ia duduk di samping Bella dan menopang dagunya sambil menatap Bella yang celingukan. Menarik sekali saat wajah Bella terlihat bingung seperti ini.


“Bentar deh, mobil ini juga lo yang siapin?” Bella masih dengan kebingungannya.


Pintu mobil yang terbuka membuat Bella bisa melihat isi mobil tersebut. Ada sebuah lemari kecil dengan wastafel di atasnya beserta beberapa barang. Sedikit mengintip Bella pun melihat sofa atau kursi dan entah apa lagi yang ada di dalam mobil tersebut. Ini sangat mirip dengan mobil impiannya selama ini.


Devan mengangguk seraya tersenyum melihat wajah Bella yang cantik terkena bias cahaya matahari yang nyaris tenggelam.


“Kita makan di sini?” Lagi Bella bertanya saat melihat dua orang tadi menaruh beberapa menu makanan di atas meja. Makanan khas laut yang mengundang selera. Kepitingnya bahkan sangat besar di tata cantik di atas piring.


“Lo udah laper kan? Jadi kita makan dulu sebelum kita liat-liat mobilnya.” Devan memasangkan serbet di atas pangkuan Bella lalu memberikan sendok pada Bella.


“Van, ini…” Bella masih penasaran walau tetap menerima sendok yang di berikan Devan.


“Ini mas kawin yang bisa gue siapkan buat lo. Gue harap lo suka.” Terang Devan pada akhirnya.


 Tidak tega juga melihat Bella seperti kebingungan berada di tempat asing yang selama ini menjadi impiannya.


“HAH? SUMPAH?!!” Bella menutup mulutnya tidak percaya. Mata bulatnya menatap Devan dengan penuh keterkejutan.


“Ya.” Sahut Devan dengan yakin.


“Ozi bilang, lo pernah cerita kalau lo pengen punya mobil kayak gini. Mobil yang bisa membawa lo kemanapun, nemenin lo berkeliling mencari inspirasi buat nulis.” Devan memperhatikan mobil yang ia siapkan dalam waktu singkat ini.


Bagus juga menurutnya. Warna mobil yang di dominasi dengan warna cream ini, harusnya cocok untuk Bella yang menyukai warna-warna soft.


“Vaaaaannn…. Tapi ini bagus bangeett…” Bella sampai terharu. Matanya berkaca-kaca melihat usaha Devan sebesar ini.


“Why not? Bisa wujudin impian lo adalah kebahagiaan buat gue. Gue harap, lo mau nerima ini.” Tegas Devan seraya menggenggam tangan Bella.


Tatapannya yang dalam seperti mampu menyelami seisi hati dan pikiran Bella.


“Aahhh, Vaaan,,,,” Bella tidak bisa berkata-kata.


“Makasih…..” Lirihnya seraya menitikkan air mata, padahal bibirnya sedang tersenyum.


“Anything for you, Bell.. Gue bersyukur kalau lo suka.” Diusapnya air mata Bella yang lolos meneteskan air mata begitu saja. Ia pun mengusap pipi Bella dengan lembut seraya memandanginya penuh perasaan.


“Gue harap, gue akan selalu menjadi alasan lo tersenyum sepanjang usia lo, sampai maut memisahkan kita.” Tegas Devan. di kecupnya tangan Bella dengan penuh perasaan tanpa melepaskan pandangannya dari wanita yang tengah terisak karena haru.


"Lo keterlaluan." Bella memukul gemas lengan kokoh Devan dan laki-laki itu hanya terkekeh.


Bella tertegun beberapa saat, memandangi Devan dengan garis senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Dengan tangannya yang lain ia mengusap wajah Devan yang selalu membuatnya tenang. Sungguh ia sangat bersyukur memiliki laki-laki ini di sisinya. Seorang laki-laki yang selalu berbuat lebih, jauh di luar dugaannya.


Devan selalu bisa membuatnya tenang, membuatnya tersenyum dan sesekali membuatnya mengeram gemas dalam hati. Dan yang terpenting laki-laki ini mampu menunjukkan kalau Bella layak di cintai dengan cinta sebesar ini.


“I Love you Van…” Lirih Bella penuh kesungguhan.


“I Love you more, my Bella…” Timpal Devan dengan perasaan yang menggebu.


Rasanya hari ini tidak ingin berakhir begitu saja.


****


Lanjut?


Hahahaha... Jangan lupa Like, komen, vote dan tambahkan sebagai favorit yaa...


Terima kasih untuk yang selalu setia nunggu novel ini update walau hanya satu episode per harinya.


Saranghaeyooo, laaff