Bella's Script

Bella's Script
Sup Lao hua tang



Kemerawutan sedang terjadi di dapur, dimana nyonya Devan sedang memasak untuk makan pagi. Wadah-wadah bertebaran, talenan, wajan, pisau, kulit bawang dan sisa sayuran juga bumbu-bumbu yang belum kembali ke tempatnya.


Sesuai janji, Bella akan memasak untuk ayah mertuanya. Dan tiga orang itu, Ozi, Saras dan Amri sedang duduk di meja makan menunggu makanan itu siap di santap.


“Perlu bantuan mamah sayang?” Tawar Saras yang sudah khawatir melihat Bella berkeringat dan berantakan.


Sarung tangan untuk memasakpun satu di pakainya dan satu ia masukkan ke dalam saku celemek.


“Gak usah Mah, adek bisa kok.” Sahut Bella yang berusaha tersenyum.


Di sampingnya ada buku resep yang terbuka dan sedang ia ikuti petunjuknya.


“Mah, mamah yakin itu nanti jadinya makanan? Kita gak harus ber-acting pura-pura enak kan kalo makanannya gak enak?” Bisik Ozi pada sang ibu.


“Husshh! Abang. Nanti adek kamu denger, marah dia. Udah bagus dia mau belajar masak, jangan di patahin semangatnya.” Saras mencoba mengingatkan.


Bella yang masih mendengar bisikan ibu dan abangnya itu hanya tersenyum kecil. Entah mengapa ia malah makin semangat untuk memasak.


“Sabar yaaa,… Ini tinggal aku masukin jamur enokinya. Jangan terlalu lama supaya masih kriuk.” Ucap Bella sambil membaca buku menu.


“Jamurnya yang banyak ya Bell, itu enak banget.” Amri malah justru menyemangati. Ia sudah tidak sabar untuk mencoba sup buatan Bella, cita rasa yang sangat di rindukannya.


“Siap pah. Ini aku tambahin yang banyak.” Timpal Bella, memasukkan lagi jamur enoki hingga panci yang digunakannya penuh.


“Eeh e eh…” Bella segera mengaduk supnya saat hampir meleber karena mendidih.


“Hati-hati sayang,…” Saras jadi khawatir.


“Tenang mah, semua terkendali. Tinggal taro sendok kuah sup di atasnya, maka dia gak akan meleber.” Ucap Bella yang berusaha tenang. Padahal ia sudah khawatir dengan bunyi krenyees akibat lelehan air yang terbakar api.


“Assalamu ‘alaikum… ” Ucap seseorang yang baru datang dan tidak lain adalah Ibra.


“Wa’alaikum salam,…” Sahut keempat orang di dapur.


“Pagi, mah, om abang. Wah ada bidadari turun ke dapur nih.” Sapa Ibra pada keempat orang tersebut. Ia menyalimi mereka kecuali Bella.


“Pagi,…” Timpal keempatnya bersamaan.


“Wihhh, masak apa kak Bell? Wanginya enak banget,…” Tanya Ibra yang peasaran.


“Bikin soup Lao hua tang!” Sahut Bella dengan semangat.


“Wiihhh mantap tuh. Aku mau yaakk.”


“Tenang, aku bikin satu panci penuh. Pasti aku bagi.” Bella mengacungkan jempolnya yang bersarung tangan masak.


“Hem,… Jadi gak sabar.” Ungkap Ibra.


“Kalo gak enak, siap-siap lo yang ngehabisin.” Bisik Ozi.


“Loh, emang kak Bella gak bisa masak?” Timpal Ibra yang terkejut.


“No! Big no!" Ozi menyilangkan tangannya dengan yakin.


"Mie kuah aja pasti terlalu lembek atau belum mateng. Telor dadar juga gosong. Lo siap-siap aja nampung isi panci itu di perut lo.” Hasut Ozi yang terkekeh gemas.


“Abang, gue denger yaa gunjingan lo!” Ucap Bella dari depan kompor. Ia sudah mengarahkan sendok supnya pada Ozi.


“Hehehehee… Siapa yang gunjingin lo? Gue cuma ngasih honest review masakan lo sebelumnya. Itu aja kok.” Ozi mengendikkan bahunya acuh. Ia segera meneguk jus buatan Bella sambil menghindari tatapan tajam sang adik.


“Honest review apaan? Udah jelas masakan gue gagal, masih aja di review!” Keluh Bella dengan kesal.


“Haisshh tuh kan meleber lagi gara-gara sendok sopnya aku angkat!” Gerutu Bella yang segera mundur karena takut nyala api yang memerah.


Secepat kilat sebuah tangan kokoh mematikan kompor. Adalah Devan yang baru datang dan tidak ubahnya seperti pangeran penyelamat.


“Kamu gak apa-apa kan? Gak ada yang sakit?” Tanyanya dengan panik. Ia segera memeriksa tangan Bella


“Beuh beuh beuh si bucin dateng.” Ledek Ozi yang membuat seisi meja terkekeh geli.


“Sirik wle!” Bella menjulurkan lidahnya pada Ozi.


“Badan sih gak ada yang sakit. Tapi hati aku sakit banget dari tadi abang ngeledekin aku terus. Keseel,…” Adu Bella Pada suaminya.


“Udah, nanti kalo mateng, gak usah di bagi.” Kesal Devan dengan sesungguhnya.


Ozi tidak tahu saja, bagaimana usaha Bella yang sepanjang jalan menghapal nama-nama bahan yang harus ia beli dan mana yang harus di masak duluan. Sampai ia tertidurpun masih bergumam,


"Daging tanpa lemak, ikan, brokoli, jamur, tempe, eh tahu deng." Gumamnya, yang membuat Devan terkekeh gemas. Sebesar itu usaha Bella untuk menyenangkan ia dan ayah mertuanya yang sedang merindukan masakan mamah Anggita.


“Iya-iya sorry. Udah mateng belum, nih Ibra gak sabar mau nyobain duluan.” Ozi menepuk bahu Ibra dengan semangat.


“Lah, kok gue?” Semangat Ibra yang tadi menggebu-gebu mulai kendor.


“Iya udah.” Devan mengangguk pasti. Dari tampilannya sih sangat menggiurkan, tapi entah dengan rasanya.


“Ya udah, cobain dulu. Nanti kalo ada yang kurang, baru koreksi rasa.” Saran Saras.


“Okey!” Bella mengambil mangkuk sup, lalu mengisinya hingga setengah penuh.


“Sini dek, lo cobain dulu.” Tawar Bella pada Ibra.


“Lah, gak kak Bella aja yang cobain?” Nyali Ibra sudah menciut lebih dulu.


“Udaahh, buruan sini! Giliran tadi lo semangat banget.” Bella tidak menerima penolakan.


Terpaksa Ibra pun mendekat. Bella memberikan mangkuk itu pada Ibra sementara ia mengambil mangkuk lain untuk dirinya dan Devan.


“Mas, bantu Cobain yaa,… Aku mau liat first impression-nya.”


“Okey,…” Devan menyanggupi.


Ibra Bella dan Devan mulai mencicipi sup itu. Dahi Ibra langsung mengernyit saat rasa sup Bella tidak tentu arah. Entah memang seperti ini rasa dari sup aneh itu atau ini makanan yang gagal, Ibra pun tidak tahu.


Ozi hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi Ibra. Sementara Devan mengangguk-angguk kecil.


“Gak enak ya mas?” Bisik Bella yang segera menaruh sendok dan mangkuknya. Wajahnya terlihat panik, padahal ia sudah membuat orang-orang menunda sarapannya demi mencoba sup buatannya.


“Enak kok. Tinggal koreksi rasa dikit. Aku bantuin ya.” Bisik Devan seraya menggulung lengan kemejanya.


“Eemmmm,… Suami aku keren banget.” Bella jadi terharu.


“Makasih supnya kak, gue duduk dulu yak…” Pamit Ibra dengan segera.


“Ya udah sana!” Sengit Bella, kesal.


Ibra pun segera kembali ke kursinya. Dan menggeleng saat di tanya Ozi soal rasanya.


“Udah gue duga.” Ucap Ozi seraya terkekeh.


Tangan kekar Devan mulai bekerja. Ia memasukkan beberapa bumbu untuk mengoreksi rasa sup buatan Bella. Mulai dari kecap ikan, sedikit gula, dan tentu saja garam. Ia mengaduknya dan Bella hanya bisa terpesona melihat suaminya yang keren saat memasak.


Beruntung saat di Singapore dulu ia sering membuat makanan sendiri, sehingga tidak terlalu asing dengan bumbu dapur apalagi makanan favoritnya.


Tidak berselang lama, sup pun jadi. Tanpa mencicipinya Devan segera menyajikan sup itu di atas mangkuk.


“Waahh,… Wanginya persis buatan mamah.” Ucap Amri dengan antusias.


“Cobain pah.” Tawar Devan.


Ia merangkul Bella dari samping. Sangat ironis, Devan yang terlihat rapi dan tampan sementara Bella yang masih berpenampilan upik abu dengan keringat di wajahnya yang tegang.


“Waahhh,… Enak bangeettt!!!” Seru Amri.


“Beneran pah?” Bella melotot tidak percaya.


“Ya, cobalah.” Hasut Amri.


Bella segera mengambil mangkuknya dan mulai mencicipinya. Dan benar saja rasanya sangat enak. Rasanya jauh dari yang ia buat tadi.


“Iya mas, enak.” Bella menyendok untuk ke sekian kalinya sambil menatap Devan penuh kekaguman.


Devan tersenyum kecil sambil mengusap pucuk kepala Bella.


“Aku cuma nambahin bumbu, kamu yang hebat karena melakukannya dari awal.” Ucap Devan sekali lalu mengecup dahi Bella, memberi apresiasi atas usahanya.


“Emmm,,…. Aku kan jadi tambah cinta. Semua hal bisa mas lakuin, apa sih yang nggak bisa mas lakuin?” Rengek Bella iri.


“Yang gak bisa aku lakuin cuma satu, bernafas tanpamu.” Ucap Devan sambil menjawil hidung Bella.


“Eaaakkk!!! Di pake juga rayuan papah buat mamah dulu.” Amri begitu semangat menimpali.


“Mas ihh,… aku kan jadi malu.” Bella menyembunyikan wajahnya di dada Devan dan Devan hanya terkekeh. Ia melakukan tos dengan sang ayah.


Dulu Amri di kenal sebagai sosok yang romantis pada mendiang istrinya dulu, itulah yang diam-diam di contoh Devan dan ia lakukan pada istrinya. Ia sangat suka ketika melihat ibunya merona karena gombalan sang ayah tapi ternyata ia lebih menyukai ekspresi Bella yang malu-malu saat ia menggodanya.


“Akhh, pasti ada yang pengen cepet nikah nih!” Ledek Ibra pada Ozi.


“Pasti ada yang pengen cepet nyaris pacar nih!” Balas Ozi pada Ibra.


“Pasti ada yang mesem-mesem nih!” Dari otor buat yang baca.


*****