
10 menit perjalanan di lalui dan tidak ada perbincangan di antara Bella dan Devan. Bella sibuk dengan pikirannya sendiri dan Devan asyik memperhatikan jalanan.
Sampai di sebuah warung makan Devan menghentikan mobilnya.
“Turun.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya seraya melepas seat belt-nya.
“Gue gak selera makan Van. Langsung ke kantor aja.” tolak Bella. Ia enggan beranjak dari tempatnya.
“Lo lupa yang nyokap lo tadi bilang? Lo mau bikin gue ngerasa bersalah karena gak nurutin amanat beliau?” rupanya seperti ini cara Devan memaksa Bella.
Tidak ada bujukan manis tapi dengan mengingatkannya pada realita yang ada.
Bella hanya menghembuskan nafasnya kasar. Tanpa menimpali ia melepas seat belt yang melingkari tubuhnya dan bergegas turun. Devan hanya memandangi Bella yang bergerak dengan malas, ternyata cara seperti ini cukup ampuh untuk meminta Bella yang hobi menghindari perdebatan.
Mereka masuk ke dalam sebuah warung soto. Warungnya tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati makan malamnya. Ya tidak terasa, sekarang sudah hampir jam 7 malam.
Bella lebih dulu duduk di salah satu sudut sementara Devan memilih memesan menu. Saat menghampiri Bella, di tangannya ia membawa sebuah toples.
Di taruhnya toples tersebut di hadapan keduanya.
“Buat gue?” tanya Bella.
“Hem, anggap aja ini pengiburan.” Timpal Devan.
Bella jadi tersenyum sendiri. Rupanya laki-laki ini masih ingat kalau Bella sangat suka dengan soto yang di beri banyak bawang goreng.
Dulu saat kecil dan Devan masih tinggal di rumah Bella, kalau Bella susah makan, Ozi akan membawa mereka ke warung soto. Soto ayam bening tepatnya. Masing-masing makan satu porsi dan setengah telurnya mereka berikan pada Bella. Tidak lupa Ozi memberikan taburan bawang goreng ke atas sotonya dan Bella makan dengan lahap.
Hal yang sama kini dilakukan Devan. Saat soto tiba di hadapan mereka, ia mengambil telur bulat utuh dari mangkuknya dan hendak memberikannya pada Bella.
“Gak usah, 1 telor cukup. Nanti gak di makan malah mubazir.” Tolak Bella, menahan telur masuk ke mangkuknya.
“Okey.” Penolakan Bella masuk akal menurutnya.
Devan membukakan tutup toples berisi bawang dan mengarahkannya pada Bella. Sementara ia tidak memakai bawang goreng sama sekali, mungkin khawatir Bella kekurangan.
Di aduknya soto itu dengan nasi dan satu suapan segera meluncur masuk ke mulut Devan. Sementara itu Bella hanya mengaduk-aduk makanannya sambil memandangi Devan.
“Lo udah tau?” tanya Bella tiba-tiba.
Ia menduga hal ini karena sudah beberapa kali ia melihat Ozi dan Devan saling berkirim kabar di belakang Bella. Sempat satu kali ia memergoki layar laptop Ozi yang belum tertutup dan menampilkan percakapan Ozi dengan Devan. Dari situ Bella menyimpulkan kalau Ozi dan Devan masih saling bertukar kabar, membahas banyak hal tentang otomotif walau tidak pernah sekalipun Devan membalas surat atau menjawab teleponnya.
Entah mengapa Ozi tidak pernah bercerita atau Devan tidak pernah menghubunginya. Jujur, Bella sangat marah saat Devan tiba-tiba pergi namun Devan tidak pernah berusaha memperbaiki semuanya. Bella di biarkan tetap marah dengan prasangka yang tidak-tidak di benaknya.
Dengan mulut penuh makanan, kunyahan Devan terhenti. Ia terperangah menatap Bella. Melihat sudut bibir Devan yang menyisakan kuah soto, Bella memberikan selembar tissue dan menaruhnya di samping tangan Devan.
“Itu juga kan alesan kenapa lo pulang?” tanya Bella kemudian.
Dengan kasar Devan menelan makannya yang masih utuh.
“Kalau dugaan lo itu bisa lo terima, ya anggap kayak gitu.” Jawab Devan.
“Yang gue tanya bukan tentang dugaan gue, tapi kenyataannya Van?” suara Bella meninggi dengan tangan mengepal kesal.
"Kenapa sih lo gak pernah jawab telepon gue atau balas email gue?"
Ia menatap Devan dengan tajam dan yang di tatap memalingkan wajahnya ke sisi lain. Baru kali ini Bella menatapnya dengan lekat penuh kekecewaan.
Melihat beberapa pelanggan menatap mereka, membuat Devan akhirnya balas menatap Bella.
“Gue tau, lo gak biasa jadi tontonan kan?” lirih Devan seraya mendekatkan segelas es jeruk pada Bella. Isyarat matanya seperti memberitahu Bella kalau sekeliling mereka tengah memperhatikan.
Bella sedikit melirik ke sisi kanan dan benar saja beberapa orang sesekali melirik mereka lalu bergunjing. Mungkin suara Bella terlalu keras.
“****!” dengusnya pelan namun penuh penekanan. Terpaksa ia mengangkat kepala, melihat ke sekeliling lalu mengangguk seraya tersenyum tipis.
“Maaf,” ujarnya dengan canggung. Orang-orang itu balas mengangguk lalu kembali pada kesibukan mereka menikmati makanan.
Syukurlah, Bella bisa menghela nafas lega.
Melihat itu Devan jadi tersenyum lega.
“Berarti lo udah tau lama kan kalau abang sakit?” lagi Bella bertanya kali ini dengan suara normal.
“Hem,” hanya itu sahutan Devan.
“Dan lo gak ngomong?” badan Bella semakin condong pada Devan.
Kali ini Devan menggeleng.
Bella mendengus kesal. Di taruhnya sendok yang semula ia genggam dengan kuat. Devan memperhatikan itu.
“Gimana lo bisa yakinin abang lo kalau lo gak nyiapin tenaga buat ngebujuk dia?” cetus Devan, acuh.
Seolah kemarahan Bella saat ini bukan hal yang patut di perdebatkan. Ada hal lain yang lebih penting menurutnya.
“Maksud lo?” Bella balik bertanya dengan kedua alis tertaut.
Kali ini Devan yang menghentikan kunyahannya. Ia menaruh sendoknya dan fokus menatap Bella.
“Lo pikir gue diem-diem aja setelah tau Ozi sakit? Lo pikir, usaha gue cuma sekedar pulang gitu buat nemenin dia?” tanyanya beruntun.
Ia jadi teringat saat pertama kali Ozi memberitahunya kalau ia sakit.
“Gue sakit Van,” sepenggal kalimat itu yang di ucapkan Ozi beberapa waktu lalu. Dengan wajahnya yang pucat, ia mengatakan kalau ia habis terkena serangan sakit yang luar biasa di kepalanya.
“Lo udah ke dokter?” tanya Devan yang masih tidak percaya.
Ozi terangguk. Ia menunjukkan sebotol obat di depan kamera lalu di taruhnya dengan kasar.
“Tumor otak, nama penyakit yang bikin gue berasa mau mati.” Tuturnya dengan senyuman pedih. Ia meremas kepalanya sendiri saat bayangan rasa sakit di kepalanya yang kembali muncul.
“Gue sendirian. Gue bahkan gak berani cerita ini sama nyokap dan Bella. Gue juga gak berani ngambil langkah selanjutnya. Gimana kalau gue mati disaat Bella masih butuh gue?” ia menatap Devan dengan putus asa.
“Lo bisa pulang Van?” pintanya penuh harap.
Devan hanya terdiam. Entah ia harus mengiyakan permintaan Ozi atau tidak, karena kondisinya terlampau sulit.
“Gue yakin, Bella udah gak marah lagi. Gue mohon, lo pulang. Bukan buat gue, tapi buat Bella. Kuatin dia kalau gue harus pergi.” Ozi memohon dengan sungguh.
Saat itu Devan hanya terdiam. Namun jelas apa yang ia pilih, seperti saat ini, ia ada persis di depan Bella.
“Kenapa lo gak ngomong kalau abang gue sakit?” lagi Bella yang penuh tanya.
Devan kembali meneguk minumannya hingga tandas. Dahaganya seperti tidak pernah hilang. Atau mungkin perasaannya yang tidak kunjung tenang.
“Kalau dia punya keberanian, dia gak butuh gue buat ngomong. Lo pikir, menyenangkan buat dia harus ngabarin orang terdekatnya soal kondisi dia?”
"Nerima kalau dia sakit aja, itu butuh proses dan menyakitkan buat dia. Apalagi ngebayangin kondisi lo dan nyokap setelah tahu kalau dia sakit. Lo pikir itu gampang?"
Kalimat Devan membuat Bella bungkam. Devan benar, butuh keberanian yang sangat besar untuk mengakui ketidakberdayaan kita pada orang lain. Hal itu pun pasti di rasakan Ozi, hingga ia belum sanggup menceritakan kondisinya.
Mulai terlintas di benak Bella ucapan-ucapan Ozi selama ini. Pikirannya mulai terbuka saat mengingat alasan mengapa Ozi jauh lebih over protective saat ini. Ia sampai menjadikan Inka mata-mata untuknya. Kecemasannya terhadap hubungan Bella dan Rangga yang semakin besar. Dan alasan mengapa Ozi selalu mengatakan,
“Gue gak mau lo ada di tangan laki-laki yang salah."
"Lo pikir gue bisa tenang ngeliat lo pergi sama laki-laki yang gak bisa ngebuktiin apa-apa?” dan kalimat-kalimat lain yang sebenarnya bukan ketidak percayaan pada Bella, melainkan rasa cemas yang tidak bisa Ozi utarakan.
Selesai makan, Bella dan Devan melanjutkan perjalanan menuju kantor. Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan kesibukan isi pikiran masing-masing. Tidak ada perbincangan sama sekali.
Saat turun dari mobil keduanya di sambut oleh Rini dan Melisa yang berdiri di depan pintu masuk.
“Kalian dari mana?” tanya Rini dengan penuh penasaran.
“Gue,” Bella menoleh Devan yang seperti biasa saja mendengar pertanyaan Rini.
“Membeli makan.” Jawab Devan asal.
“Oouuww…” mulut Rini langsung membulat dan menoleh Melisa yang ada di sampingnya lalu saling melempar senyum, seperti ada komunikasi di antara mereka yang tidak Bella dan Devan pahami. Keduanya sedikit sinis mendengar jawaban Devan.
“Ehh nggak gitu. Kalian jangan salah paham. Gue sama Devan. Eh pak Devan,” Bella berusaha mencari penjelasan yang masuk akal. Tapi ternyata tidak semudah menulis script, mencari penjelasan untuk diri sendiri lebih sulit.
“Gue udah lama banget pengen nanya, kalian udah kenal secara pribadi ya? Kok sering banget datang dan pulang kantor bareng? Sekarang beli makan bareng.”
“Ya, gue juga ngerasa gitu?” kali ini Melisa yang irit bicara pun, ikut ambil suara.
“Ah, kalian suka mikir yang aneh-aneh deh. Kebetulan aja kok. Iya kan Van? Eh pak Devan.” Bella menyenggol Devan yang berdiri di sampingnya.
“Hem. Kebetulan. Lagi pula, gak semua hal harus jadi urusan kalian dan patut dipertanyakan,” terang Devan.
“Tapi gue juga penasaran.” Ujar suara di belakang Bella.
Mata Bella langsung membulat saat ia mengenal suara di belakangnya. Kontan ia segera berbalik. Dan benar saja, yang berdiri di belakangnya adalah Rangga, kekasihnya.
“Ga?” Bella segera menghampiri.
“Kamu dah lama yang?” salah tingkah, yang terjadi pada Bella saat ini.
Bella mulai berbasa-basi. Ia mengibas-ibaskan tangan di belakang tubuhnya. Memberi isyarat pada Melisa, Rini dan Devan untuk pergi dan memberi ruang. Tapi sepertinya hanya Melisa dan Rini yang paham dan segera pergi sementara Devan masih berdiri tegak di tempatnya.
“Cukup lama buat sekedar ngeliat dua orang turun dari mobil yang sama.” Tegas Rangga seraya menatap sinis Devan.
Yang di tatap tidak bergeming, merasa tidak punya salah sedikit pun.
“Ohhhh sayang, kenalin… Ini pak Devan, sutradara baru di tim aku. Dan pak Devan, kenalin ini pacar saya, Rangga.” Ujar Bella. Ia melihat dua orang itu hanya saling bertatapan tanpa niatan untuk saling berjabat tangan.
Dengan cepat Bella mengangkat tangan Rangga dan Devan bersamaan, lalu membuat mereka berjabat tangan. Bodoh memang, harusnya biarkan saja.
“Ya, saya PACAR Bella.” Tegas Rangga penuh penekanan pada kata pacar. Penuh arogansi.
“Ya, saya tau.” Sahut Devan acuh saja.
“Bell, lo mau ngambil hp sama dompet kan? Jangan lama, kita harus balik lagi ke rumah sakit.” Lagi Devan berbicara dengan santai.
“ASTAGA DEVAAAANNNNN!!!!!!” rasanya Bella ingin berteriak seperti itu.
“Kita? Maksudnya kita bertiga atau hanya anda dan Bella? Kenapa anda berbicara sesantai itu dengan pacar saya?” cerocos Rangga tidak terima.
Devan hanya tersenyum sinis. Ia jadi teringat ucapan Ozi beberapa waktu lalu,
“Adek gue ada di hubungan yang toxic. Lo bisa bantuin dia keluar dari hubungan itu kan? Gue gak tau harus kayak gimana ngasih tau dia Van,” Hanya itu yang diingat Devan dan saat ini ia melihat jelas rupa laki-laki yang membuat sahabatnya cemas.
Dan sepertinya ucapan Ozi benar. Rangga terlalu berapi-api saat berbicara di depan Bella.
“Ka,”
“Cukup pak Devan.” Sela Bella saat Devan baru membuka mulutnya.
“Saya permisi sebentar, ada yang harus saya bicarakan dengan pacar saya.” lanjut Bella seraya menarik tangan Rangga.
“Ka-mi.. Gue mau bilang kami Bell…” gumam Devan saat melihat Bella pergi menarik tangan Rangga untuk menjauh.
“LEPASIN!!! Apaan sih?!” Rangga langsung mengibaskan tangannya saat sudah berada di tempat sepi.
“Kamu ada hubungan apa sama laki-laki itu? Kenapa harus pulang pergi sama-sama. Terus makan juga sama-sama. Dan sekarang ke rumah sakit sama-sama. Apa kalian udah sama-sama di belakang aku?” cerocos Rangga tidak terima.
“Yaaang,, kok panjang banget nanyanya. Aku masih ngelag.” Protes Bella.
“Kenapa ngelag? Kaget karena ke gap, hah?!” seru Rangga dengan nada tinggi. Untung orang-orang di kantor sebagian besar sudah pulang.
“Ngg- nggak yang…” jantung Bella serasa di copot paksa dari tempatnya. Ngilu karena berdebar sangat kencang.
“Jangan marah dulu, aku bisa jelasin.” Bujuk Bella. Ia meraih tangan Rangga untuk ia genggam dan ia ajak duduk di pinggiran kolam renang. Tempatnya menenangkan diri.
“Mau ngomong apa kamu Bell? Mau jelasin kalau kamu selingkuh? Iya?!” meski sudah di ajak duduk di tempat tenang, Rangga masih berapi-api.
“Kamu ini, aku hubungin dari siang, gak ada jawab. Aku telpon juga gak di angkat. Seneng-seneng kamu sama laki-laki itu sampe lupa sama aku?!” kemarahannya benar-benar belum reda.
“Ga,… Aku jelasin bentar yaa….” Bella kembali meraih tangan Rangga untuk ia genggam. Di tatapnya mata Rangga yang membulat karena marah.
“Abang sakit.” Suara Bella sedikit tertahan.
“Aku memang habis dari rumah sakit dan beli makan sama pak Devan karena dia pun dari rumah sakit.”
“Em, jadi pak Devan itu, temen lama abang jadi dia juga nengokin abang. Itu aja Ga, gak ada yang lain.” Terang Bella se-simple mungkin.
Jika ia harus menjelaskan secara detail, ia tidak bisa membayangkan bagaimana respon Rangga nanti. Tubuh dan pikirannya sudah sangat lelah, untuk saat ini ia tidak mau berdebat lagi terutama dengan Rangga. Ia perlu waktu untuk memikirkan cara yang tepat untuk menjelaskan semuanya.
“Kamu yakin cuma itu?” Rangga belum percaya sepenuhnya. Tatapannya penuh selidik.
“Ya, cuma itu. Pacar aku cuma ada 1, kamu doang. Lagian aku gak kepikiran buat selingkuh. Punya kamu aja udah cukup buat aku. Kamu hidup aku Ga.” Tegas Bella dengan sesungguhnya.
“Kamu gak bohong kan sama aku?” Rangga menatap Bella dengan laman, seperti belum percaya sepenuhnya.
“Nggak lah, mana bisa aku bohong sama kamu. Aku emang gak ada hubungan apa-apa aku sama pak Devan.” Tegas Bella.
Ia jadi teringat ucapan Ozi, “Lo kalau udah fokus suka lupa kanan kiri.”
Harus Bella akui, Ozi benar kali ini. Bella selalu terlalu fokus pada satu hal sehingga tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya. Fokus pada menulis, hingga ia lupa kalau rekan-tekan kerjanya melihat gerak-geriknya walau tanpa di minta. Bukan salah mereka juga kalau mereka berasumsi ia memiliki kedekatan lebih dengan Devan, karena Ia lupa menjaga sikap.
“Maafin aku ya, udah bikin kamu mikir yang nggak-nggak.” Lirih Bella dengan sungguh.
“Hem,,, Aku cuma mau ingetin kamu. Kamu pacar aku Bell, jangan membuat jarak yang terlalu dekat sama laki-laki manapun.” Tegas Rangga.
“Iya aku ngerti,”
Keduanya terdiam dan saling melempar senyum. Beruntung karena kesalahpahaman ini bisa terselesaikan.
“Yang, besok bisa ke rumah sakit gak? Nemuin abang…” tiba-tiba Bella memikirkan hal itu. Ia ingin membuktikan pada Ozi, kalau Rangga peduli pada keluarganya.
“Sayaang… Bukan aku gak mau. Tapi kamu tau kan kalau aku trauma sama rumah sakit? Nyium baunya aja bikin aku pengen pingsan.” Kilah Rangga. Cepat sekali ia menjawab.
Rangga memang sangat tidak suka dengan rumah sakit. Waktu sakit parah saja, ia memilih di rawat di studio di banding tidur di blankar RS.
“Iya sih. Tapi nanti kalau kondisi abang membaik, kamu mau kan main ke rumah buat jengukin abang? Siapa tau abah luluh sama kegigihan kita.”
“Aku usahain yaa…” janji Rangga.
Ya, kalimat ini sudah sering Bella dengar. Semoga saja kali ini Rangga benar-benar mengusahakannya.
*****