
Pagi hari ini terasa sangat berat untuk Amara membuka mata. Suara deringan ponsel sudah beberapa kali ia abaikan. Ia mengambil bantal dan menutup telinganya dengan bantal itu. Ia hanya ingin menghabiskan waktu liburnya seharian untuk tiduran, kenapa sulit sekali?
“Ting tong, ting tong!” Kali ini suara bell yang berbunyi nyaring, memekakan telinga.
“Aaarrgghh!!!” Amara mengeram kesal sambil berguling-guling di kasur.
Ini hari libur, kenapa begitu banyak orang yang mengganggunya?
“SIAL!!!” Dengusnya.
Ia melempar bantal yang menutupi wajahnya dan “Brang!!!” suara benda jatuh membuat ia benar-benar harus membuka matanya.
Dengan matanya yang masih menyipit, ia memperhatikan lingkungan sekitarnya. Baju terserak di mana-mana, bekas make up yang masih berantakan di atas meja rias, sepatu yang tidak pada tempatnya dan tentu saja botol parfum yang pecah dan berserakan di lantai terkena lemparan bantalnya.
“SIAL!!! HUWEK!!!” Amara segera bangkit saat tiba-tiba rasa mual datang karena wangi parfum yang menyengat. Sepagi ini mencium wangi parfum favoritnya membuat asam lambung langsung naik ke tenggorokan.
Ia berlari menuju wastafel. “HUWEK!! HUWEKK!!!” sisa pencernaan di perutnya termuntahkan semua.
Ia sampai terengah-engah kelelahan dan lemas. Ia berusaha berpegangan pada kran air yang ia jadikan tumpuan. Titik-titik keringat membasahi wajahnya yang kini ia pandangi di cermin. Pucat sekali wajahnya, seperti mayat hidup. Rambutnya pun berantakan karena sisa hair spray yang semalam tidak ia cuci. Lingkar matanya tampak hitam karena sisa maskara dan eyeliner yang tidak ia bersihkan.
“Ada apa sebenarnya sama badan gue?” Amara bertanya pada dirinya sendiri.
Dengan tubuhnya yang ringkih ia berusaha kembali ke kasurnya untuk membaringkan tubuh. Ia tidur menyamping sambil memeluk guling untuk membebat perutnya. Saat rasa mual itu kembali, ia segera mengambil bantal untuk kemudian ia gigit.
“HUW!!!” Suaranya teredam. Syukurlah tidak jadi muntah.
Sambil terengah-engah Amara mencoba mengatur nafasnya. Mulutnya masih terasa asam namun ia coba tahan agar tidak kembali muntah. Matanya sampai berkaca-kaca dan merah. Ia berpegangan pada pinggiran tempat tidur saat berusaha untuk bangkit dan duduk.
Susah payah, akhirnya ia berhasil untuk bangkit dan duduk bersandar pada headboard tempat tidur. Nafasnya mulai tenang walau kepalanya masih pusing berputar.
Nyala ponsel dan dering telepon membuat Amara memincingkan matanya. Entah mengapa ia benci sekali dengan cahaya dan deringan ponselnya. Menurutnya menambah pusing saja.
Ia meliriknya sedikit, ternyata nama Lisa yang muncul di layar.
“Tit.” Ia menekan tombol jawab dan loud speaker berurutan.
“Araaaa…. Kamu kemana aja sih?!” Belum sempat berkata apapun, suara Lisa sudah terdengar lebih dulu.
“Hem,,” Amara menyahuti pendek. Ia tidak punya tenaga hanya untuk sekedar berbasa basi.
“Kamu baru bangun? Jam berapa ini Ra?”
Pertanyaan Lisa membuat Amara melihat jam di dindingnya. Sudah hampir jam 11 siang.
“Untung lagi libur. Dari tadi Rangga ngehubungin kamu susah banget. Aku juga berapa kali nelponin kamu susah banget. Udah berapa kurir yang nganterin makan dan akhirnya milih di gantung di pintu makanannya.”
“Nanti aku ambil.” Jeda Amara lemah. Ia berusaha bangkit dari tempat tidur untuk pergi ke dapur mencari segelas air. Tenggorokannya kering dan pahit.
“Rangga berpesan, dia mau ke rumah orang tuanya. Papahnya sakit. Tadinya dia mau ngajak kamu tapi kamu susah banget di hubungi. Passcode apartemen juga kamu ganti ya?” Amara membiarkan Lisa terus menyerocos. Lumayan juga, menemaninya hingga sampai ke dapur.
Amara mengambil segelas air hangat lalu segera meneguknya.
“Ra, ara…” Lisa kembali memanggil karena tidak ada jawaban dari Amara.
“Aku habis minum.” Dengan kasar Amara menaruh gelas di atas meja.
“Ambil sekalian makanannya di depan, takutnya nanti basi. Kamu belum sarapan kan?” suara Lisa terdengar jauh.
Amara sudah berada di mulut pintu dan tidak lama terdengar suara pintu terbuka. Benar saja, sudah ada 2 keresek makanan yang tergantung di pintu.
Ia berjalan dengan malas kembali ke meja dapur. Menaruh makanan itu di atas meja dan hanya ia pandangi. Perutnya mual hanya karena mencium bau makanan.
“Mba, obat lambung yang tulisannya apa?” Amara membawa ponselnya mendekat ke kotak obat yang berada persis di samping kulkas.
“Kamu sakit?” Lisa balas bertanya.
“Yang cangkang ijo bukan sih?” Amara memilih menanyakan hal lain alih-alih menjawab pertanyaan Lisa.
“Yang tulisannya antacid. Tinggal kamu kunyah gak usah pake air.”
Amara menurut saja. Ia membuka kemasan obat dan tercium wangi hangat dari obat. Mengendusnya beberapa lama lalu ia makan. Rasanya manis ternyata. Satu kemasan lagi ia buka dan ia makan. Dua tablet kini ia kunyah.
“Mau ke dokter hari ini? Aku coba cek in jadwal dokternya.” Tawar Lisa.
“Gak usah. Aku cuma mau istirahat aja. Aku tutup ya”
“Eh tunggu.” Lisa segera menahan.
Amara tercenung memandangi pintu apartemennya sendiri. Ia memeluk kakinya yang sengaja ia bawa naik ke atas kursi.
“210473. Tanggal lahir nyokap.” Timpalnya pelan. Entah mengapa bulir air mata jadi terkumpul di sudut matanya dan ia biarkan menetes.
Lisa yang ada di sebrang sana sampai termangu mendengar suara Amara. Setelah beberapa lama Amara selalu menghindar saat membicarakan orang tuanya, tapi kali ini ia malah mengganti passcode apartemennya dengan tanggal lahir sang ibu. Ada apa sebenarnya?
“Nanti aku ke sana ya.” Ucap Lisa pada akhirnya.
Amara tidak menimpali. Ia membiarkan panggilan terputus dengan sendirinya. Saat ini, ia hanya ingin menatap pintu rumahnya seraya memeluk kedua kaki yang ia lipat di depan dada. Kunyahan di mulutnya semakin lama semakin melambat hanya bersisa butiran halus yang susah payah ia telan.
Bayangan seorang wanita kini muncul di pikirannya. Wanita yang selalu menghabiskan waktunya untuk bermabuk-mabukkan dan mengkonsumsi obat-obatan. Mungkin hanya beberapa saat saja wanita ini sadar dan bersikap layaknya manusia normal. Sisanya ia teler di bawah pengaruh minuman.
Pernah sekali waktu Amara baru pulang dari sekolah dan mendapati sang ibu sedang terduduk di sofa. Sebuah botol minuman ada di tangannya. Wanita itu tersenyum saat melihat Amara datang lengkap dengan seragam sekolahnya yang kotor.
“Eh anak gue udah pulang. Gimana, ada yang brengsek lagi gak di sekolah? Apa guru matematika lo masih nyebelin? Perlu gue samperin lagi ke sekolah?” Tanya wanita bernama Lauren itu.
Amara tidak menjawab. Ia memilih melempar tasnya ke tempat tidur dan membuka seragamnya yang kotor karena di kerjai genk anak perempuan di sekolah. Hanya tersisa pakaian dalam yang melekat di tubuh kurus nan tinggi Amara.
Lauren tersenyum kecil melihat tubuh anaknya yang indah.
“Mau mamih kenalin sama salah satu temen mamih? Uangnya banyak. Lo gak harus sekolah tinggi buat dapet duit banyak.” Ujar Lauren sekali lalu meneguk minumannya dengan puas.
Amara tidak menghiraukannya. Ia mengambil kaos oblong dari lemari.
“Sial.” Dengusnya saat mendapati kaos yang baru di cucinya berbau cairan milik pria. Amara melempar dengan kasar kaos di tangannya.
“Jack memang agak jorok, nanti mamih peringatin dia supaya tidak mengganggu lemari lo.” Ujar Lauren dengan santai.
Enteng sekali pikir Amara. Kemarahan Amara sudah tidak tertahan saat ia melihat ibunya hanya tersenyum kecil melihat kekesalannya. Ia menghampiri Lauren lalu mengambil botol di tangan Lauren namun dengan segera Lauren menahan tangan Amara.
“Mau apa lo?” Tanya Lauren dengan mata membulat merah.
Amara tidak menjawab. Ia memilih memaksa mengambil botol dari tangan Lauren walau harus berebut dengan sang ibu.
“Berhenti menjadi wanita jal**ng!” Hardiknya dengan kesal.
“PRANK!!!” Amara melempar botol itu ke dinding dan pecah menjadi serpihan kecil yang terserak di lantai bersama cairan berwarna kemerahan khas minuman beralkohol mahal.
Wanginya sangat Amara kenali. Minuman berharga fastastis ini selalu menjadi teman Lauren sehari-hari.
“Brengsek!!!” Lauren berusaha bangkit dan meraih rambut Amara untuk ia jambak. Walau sempoyongan, tenaganya cukup besar hanya untuk sekedar menjambak rambut sang anak.
“Awh.” Amara mengaduh lirih dengan mata berkaca-kaca. Ia bisa melihat kilatan kemarahan dari mata Lauren yang menatapnya tajam.
“Apa mau lo hah?!” Tantang wanita itu yang semakin kuat menjambak rambut Amara. Tidak ada niatan untuk ia melepaskan tangannya meski Amara sudah meronta.
“Lo udah gue bolehin hidup, walau adanya lo bikin gue berasa mati. Gue turutin mau lo untuk berhenti menemui para laki-laki yang bisa menghibur gue tapi sekarang lo semakin kurang ajar. Lo juga hancurin satu-satunya benda berharga yang bisa menghibur gue. Mau lo apa, hah?!” Lauren semakin mengeratkan cengkramannya membuat Amara meringis kesakitan.
Amara sampai terengah-engah mencium bau minuman dari mulut Lauren.
“DUG!!” Lauren menghantamkan kepala Amara ke pintu.
“Awh! ****!!!” Dengus Amara yang kembali tersadar dari lamunannya. Ingatan akan sang ibu seperti mimpi buruk yang terus berulang. Ia masih bisa merasakan sakitnya hantaman yang diberikan sang ibu beberapa tahun silam. Namun entah mengapa, untuk beberapa saat sering kali ia merindukan wanita itu. Wanita yang saat tersadar selalu memperlakukan Amara dengan baik.
Membuatkan segelas susu saat Amara sedang belajar atau membuatkan sup ayam saat Amara sedang sakit. Amara terisak di tempatnya.
Ia segera bangkit dan beranjak menuju kamarnya. Ia masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya. Setelah teringat akan ibunya, ia selalu merasa kalau tubuhnya sangat kotor dan menyedihkan di waktu yang bersamaan.
Masih berbalut pakaian, ia membasahi tubuhnya dengan air dari shower. Air matanya kembali menetes. Ia mengambil sabun dan menyabuni tubuhnya. Entah mengapa ia merasa sangat kesal karena tubuhnya masih terasa kotor.
“AARRGGHHHH!!! ***!!!!” Dengusnya seraya melempar botol sabun di tangannya. Ia menangis sesegukan di bawah guyuran air.
“AAAAARRRGGGHHHHH!!!!” Lagi ia berteriak histeris, ia menangis sejadinya. Entah mengapa semua rasa sakit yang pernah ibunya berikan dulu kini terasa di sekujur tubuhnya. Lebih dari itu, hatinya meringis perih saat teringat kalau wanita yang paling ia benci sudah meninggal. Ia bahkan belum puas melampiaskan kemarahannya pada sang ibu.
“AARRGGHHHH!!!!” Lagi Amara berteriak di dalam ruangan berukuran 3x4 meter tersebut.
*****
Lanjut?
Jangan lupa Like, komen dan votenya yaa... Eh iya, jangan lupa juga untuk tambahkan sebagai favorit.
Terima kasih...