
Persiapan syuting berjalan seperti biasanya. Masing-masing crew sibuk mengerjakan tugasnya untuk menyiapkan apa yang mereka butuhkan selama proses syuting berjalan. Bella masih mengatur setting latar dengan Roni, Devan briefing dengan cameramen dan assistant-nya sementara Inka sibuk bertelepon dengan vendor rekanan.
“Gimana dong mba, dia gak mau pake baju yang udah kita siapin.” Keluh salah satu staff Inka yang kebingungan menghadapi sikap Amara.
"Mas bentar yaa, saya sambung lagi nanti." Inka terpaksa menghentikan beberapa saat obrolannya dengan seseorang di sebrang sana. Sambunganpun terputus.
“Ada apa lagi sih? Tadi make up, sekarang baju."
"Bajunya bikin dia gatal? Atau ukurannya gak cocok?” Inka mulai pusing sendiri menghadapi banyaknya komplain Amara.
Mulai dari mau memakai make up artist sendiri, menu makanan harus ia yang pilih dengan alasan sedang diet dan sekarang masalah baju. Seharian ini sudah 4 stafnya yang mengeluh karena sikap Amara yang mengesalkan.
“Katanya mau dari brand langganannya dia.”
“Emang apa brand langganan dia?” Inka jadi kesal. Banyak sekali maunya Amara.
“Ini mba. Brand luar lagi.” Staf Inka menunjukkan nama salah satu brand pakaian terkenal yang ia tampilkan di layar ponselnya.
"Katanya baju-baju dari brand ini yang selalu nyaman buat dia. Model dan ukurannya juga selalu pas. Padahal udah gue bujuk, gue bilang kualitas baju yang kita sediain buat pemain juga kualitasnya bagus. Tetep aja ngeyel." Gadis muda ini tampak putus asa dengan usahanya membujuk Amara.
“Aduuuhhh... Mesti budget berapa buat baju doang. Tekor gue.” Inka sampai menepok jidatnya pusing.
“Tar dulu deh, nanti gue pikirin lagi. Ini gue nerusin dulu ngobrol sama vendor. Kasian dia udah nunggu lama.” Di tekannya kembali tombol panggil di ponselnya.
Terpaksa ia meninggalkan stafnya yang mematung bingung.
“ Iya mas."
"Barangnya nanti titip aja ke security, saya lagi di lokasi. Dan tolong kirim invoice-nya ke email saya ya. Setelah pengurangan barang yang return kemaren.” Terangnya.
Ia menghampiri Roni yang sibuk memasang partisi untuk mengatur tata ruangan.
“Apaan?” Roni menoleh saat merasakan Inka yang menarik-narik bajunya.
“Pinjem laptop lo. Gue ada perlu. Mesti cek email.” Terangnya tergesa-gesa.
“Noh di tas. Ambil aja.” Laki-laki itu masih harus memasangkan partisi yang sudah ia ukur tepat pada jalurnya.
“Di password gak?” Inka tidak lantas pergi.
“Di password lah. Tunggu bentar, nanggung nih. Gue pasang dulu bautnya.” Ia mengambil obeng untuk memasangkan baut partisi.
“Buruaaann!!” Hasut Inka.
“Iyaaa, sabar akh!
"Bell, gue ke sana dulu ya!” Pamit Roni pada Bella yang sedang memperhatikan penempatan beberapa properti.
“Iya bang.” Ia mengacungkan jempolnya.
“Bentar ya Bell, gak lama kok.” Inka ikut pamit dan di angguki oleh Bella.
Mereka meninggalkan Bella yang masih mengatur letak properti untuk scene berikutnya.
“Nih!” Ujar Roni setelah membuka laptopnya.
“Wifii, mana wifii...” Inka berusaha mengkoneksikan jaringan di laptop Roni. Wajahnya tampak serius.
“Bisa gak?” Roni jadi penasaran.
“Bisa."
"Eh tunggu,” Mata Inka langsung membulat, saat melihat aplikasi messanger Roni yang langsung menerima banyak pesan saat jaringan internet terhubung.
“Buseett banyak banget ya wa lo bang.” Protes Inka dengan wajah terkejut.
Ada sekitar 18 pesan masuk juga ratusan pesan yang belum Roni baca di obrolan groupnya.
“Eehhh privasi itu.” Roni berusaha menutup layarnya.
“Entar dulu!!!!” Bukan Inka namanya kalau langsung menurut. Cepat-cepat Inka menepis tangannya.
“Para bapak-bapak di PH juga punya group wa?” Tanya Inka yang menahan tawa geli karena menurutnya lucu. Ia menoleh Roni yang terlihat kaget wa groupnya ia buka.
“Kagak bapak-bapak semua lah. Ada anak mudanya juga. Salah satunya gue.” Protes Roni. Tidak terima kalau statusnya sudah jadi bapak-bapak
“Hahahahaha anak tua kali akh bukan anak muda.” Ledek Inka. Roni hanya melengos mendengar ledekan Inka.
“Wih apaan ini? Gila!!” Serunya yang langsung menatap tajam pada Roni, penuh selidik.
“Apaan?” Tanyanya bingung. Ikut memandangi layar laptopnya. Apa yang aneh pikirnya.
Inka menoleh Roni dan menatapnya dengan wajah kesal.
“Astagaaaa,,, lo baca obrolan cowok? Gak boleh heh!! Anak perawan mana ngerti?!” Roni hendak menutup laptopnya namun dengan cepat Inka menahannya.
“Group lo ngebahas Bella?” Sinis Inka.
Roni langsung menghembuskan nafasnya lega.
“Gue kira apaan…” ujarnya, akhirnya ia bisa duduk tenang di samping Inka.
“Gilla, nama Bella 427 kali di sebut di group ini. Kalian pada bahas apaan sih? Ghibahin Bella? Cowok kok ghibah!” Ia jadi kesal saat tahu kelakuan crew laki-laki di belakang Bella.
“Akh elah, maen melotot aja lo!” Roni mengusap wajah Inka dengan tangannya yang besar.
“Noh liat, mereka pada nanyain kabar Bella. Baca dong!” Terang Roni asal. Ia sudah tidak aneh dengan para pejantan jomblo yang ada di group ini.
Karena penasaran akhirnya inka membaca satu per satu kalimat yang mengandung nama Bella.
“Neng Bella hari ini cakep banget ya?”
“Pake rok gitu keliatan manis banget.”
“Dia di jemput pacarnya, songong banget tuh anak.”
“Bella tipe cewek ideal gue. Andai ajaaaa….”
“Apaaan? Andai gak punya pacar? Sebelum lo, gue dulu yang maju.”
“Tonton acara gossip pagi ini, katanya pacar Bella punya pacar baru.”
“Anjirr mereka putus? Akhirnyaaa….”
“Ron, gimana kabar Bella? Gue boleh dateng jenguk gak? Gak bisa tidur gue..”
Dan masih banyak baris pesan lainnya yang di baca Inka terus hingga ke bawah. Ia hanya menggelengkan kepala tidak menyangka.
“Mereka pada suka sama Bella?” Itu kesimpulan Inka setelah membaca obrolan para pejantan ini.
“Ya begitulah. Noh di David nanyain mulu kabar si Bella.” Roni menunjuk chat paling atas yang di kirim oleh seseorang yang di beri nama David Finance.
“Gue Gak nyangka. Gue kira cowok-cowok yang suka ngeliatin gue di kantin itu naksir gue, tau-taunya ngeliatin Bella yaa… Gue patah hati anjirr." Inka melengos sedih.
"Sekarang gue tau, gimana rasanya jadi tuh pelakor.” Sinis Inka sambil memperhatikan Amara yang masih mengerucutkan bibirnya karena keinginannya tidak dituruti.
Rangga ikut membujuk pacarnya agar tidak terus marah-marah. Tapi sepertinya usahanya sia-sia.
“Terus lo mau jadi kayak dia?” Roni langsung ancang-ancang. Tidak bisa membiarkan kalau dua orang sahabat ini berakhir seperti Bella dan Amara.
“Ya kagak lah. Ngapain gue mikirin para cowok yang naksir Bella? Udah jelas yang gue suka mas Bima. Gak ada pikiran juga gue buat sirik sama Bella. Gue sayang sama dia.” Ungkap Inka sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Ia jadi memandangi Bella dari kejauhan. Tanpa ia ketahui ternyata banyak yang memuja Bella tapi wanita ini seperti tidak tahu apa-apa.
“Tapi mereka kok pengecut semua? Gak ada yang berani nyamperin Bella.” Inka kembali menatap Roni dengan penasaran..
“Mereka bukan gak berani. Tapi mereka ngehormatin Bella. Bella punya pacar dan segitu bucinnya. Mana berani mereka ngedeketin.”
“Lo tau si Hendrik?” Berganti Roni yang bertanya.
“Anak promotor? Yang mobilnya sedan mewah?” Terka Inka.
“He emh!”
“Dia pernah nitip salam terus gue sampein ke Bella. Eh tuh anak jawabnya,”
“Gue cinta sama Rangga. Satu Rangga udah cukup buat gue.”
“Gue cinta sama Rangga. Satu Rangga udah cukup buat gue.”
Inka dan Roni berbicara bersamaan sambil saling menunjuk. Ternyata mereka berada pada satu frekuensi yang sama.
“Sama ternyata.. Hah, emang bucin banget tuh anak sama mantannya. Pantes aja kemaren sampe depresi.” Berganti Roni yang kini memandangi Bella.
“Sepupu gue aja yang notabene pemilik brand minuman kopi terkenal di tolak sama dia. Bener-bener emang si Bella.” Inka menggeleng kepala tidak habis pikir kalau ingat kejadian beberapa tahun lalu.
Bagaimana Bella bersikap acuh pada laki-laki yang ia kenalkan dan kukuh cukup hanya dengan memiliki Rangga.
“Tapi gue yakin suatu hari tuh anak bakalan nyesel milih nona artis itu. Gedek gue sama tuh anak.” Inka mengepalkan tangannya sambil memandangi Amara dari kejauhan.
Wanita itu masih marah dan Rangga tidak henti membujuknya.
“Iyaaa udah jangan di liatin mulu.” Lagi-lagi Roni mengusap wajah Inka. Ia memang selalu tidak bisa menyembunyikan ekspresinya saat tidak menyukai orang lain.
“Pokoknya misi gue sekarang adalah ngebatuin Bella bikin si Rangga nyesel. Gue jamin, di pertengahan project kita, si Rangga bakal minta balikan. Gimana, lo mau bantuin gue?” Semangat Inka begitu menggebu-gebu. Ia sampai lupa kalau ia harus segera mengecek email-nya.
“Bentar,” Roni mengarahkan kepala Inka agar tertuju pada Bella.
“Itu laki dua, ngapain barengan nyamperin si Bella?” Tanyanya saat melhat Devan dan David dari arah berlawan sama-sama hendak menghampiri Bella.
“Hahaha,,, Kesempatan bagus. Taruhan sama gue, menurut lo, siapa yang di gubris Bella?” Inka tersenyum penuh siasat. Jari mungilnya menjentik cantik.
“Emmm… siapa ya?” Roni berpikir dengan serius. Dua laki-laki itu sama-sama tampan. Dan kedua laki-laki itu sama-sama menunjukkan ketertarikannya pada Bella.
"Gue pegang si David. Udah 4 tahun dia naksir dan nungguin si Bella. Gue yakin dia bakal menarik perhatian Bella." Roni bertaruh dengan yakin.
"Kalau gitu, gue pegang Devan. Tuh cowok diam-diam menghanyutkan. Terus mereka juga sering sama-sama. Gue yakin Bella bakal lebih cepet tertarik sama Devan di banding David." Inka sangat percaya diri dengan pilihannya.
Lalu, reader-ku pilih siapa? Kira-kira, siapa yang akan di gubris Bella? David atau Devan? Atau masih aa Rangga yang ada di hati?
*****