
Di depan ruang perawatan Ozi kini Bella dan Devan berdiri. Mereka mendengar suara lirih Saras yang sedang mengaji. Bella menghentikan langkahnya beberapa saat sebelum sampai di pintu dan sedikit mengintip dari kaca pintu ruangan. Ia mendapati Ozi sedang terbaring di tempat tidurnya dengan Saras yang duduk di sampingnya sedang mengaji.
Bella berusaha melepaskan tangannya yang sedari tadi di genggam Devan.
“Kenapa?” Tanya Devan, terkejut karena Bella tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya.
“Jangan ngomong apa-apa dulu ya sama abang dan mamah. Soalnya gue gak tau harus mulai jelasinnya dari mana.” Ujar Bella yang tampak bingung.
Devan tersenyum kecil saat melihat wajah Bella yang tegang.
“Sini, duduk dulu.” Devan mengajak Bella duduk di kursi tunggu yang berada di sebrang ruang tempat Ozi di rawat.
Bella ikut saja, duduk bersisian dengan Devan.
“Apa yang lo khawatirin sekarang? Cara ngomong ke Ozi?” Terka Devan.
Bella mengangguk kecil. Ia tampak tegang sementara Devan, tidak terlihat sedikit pun keraguan Devan saat kelak berhadapan dengan sang kakak. Padahal sudah pasti Ozi akan mengintrogasinya.
Melihat respon Bella, Devan bisa memahami itu. Untuk menenangkan Bella, ia perlu menunjukkan ketenangannya sendiri lebih dulu. Ia menghela pelan lantas menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia memejamkan mata, menikmati sensasi bergemuruh di dadanya yang tidak juga habis.
“Lo kok tenang aja Van? Lo udah nyiapin kata-kata kalau nanti abang nanya banyak hal?” Bella menatap Devan penasaran. Apa laki-laki ini selalu setenang ini dalam situasi apapun?
“Tidak ada hal khusus yang harus gue siapin. Ozi udah tau semuanya.” Sahut Devan seraya membuka matanya yang semula terpejam. Ia melirik Bellla yang memandangginya cemas.
“Hah, tau gimana?” Bella menatap Devan penasaran.
Devan menegakkan tubuhnya. Ternyata, yang ia lakukan dulu benar-benar berguna saat ini.
“Gue udah pernah ngomongin niat gue buat lo, sama Ozi.” Sahut Devan yang tersenyum penuh keyakinan.
“Hah, beneran?! Kapan emang?” Bella menatap Devan tidak percaya.
“Gue serius. Gue udah nemuin Ozi, sepulang dari Bogor.” Devan mengatakan yang sesungguhnya. Ia mengingat persis bagaimana ekspresi Bella saat melihat kedatangannya hari itu.
Dia terkejut namun dia juga malu-malu bersembunyi di belakang Saras.
“Tepatnya, di sore hari yang indah saat seorang bidadari merawat tanamannya. Dia terlihat cantik walau rambutnya hanya di cepol asal pake karet yang ada aksesoris bintangnya dengan roll rambut besar di poninya.” Lanjut Devan yang tersenyum gemas.
“Astaga, hari itu?” Bella menatap Devan dengan terkejut. Lihat saja wajahnya yang merona di waktu yang bersamaan.
“Iya. Lo sangat manis di hari itu.” Puji Devan seraya mencolek hidung Bella.
“Iiihhh... Udah ah jangan di terusin! Gue kan jadi malu.” Dia langsung berrespon dengan sangat menggemaskan.
Pipinya yang memerah ia tutup dengan kedua tangan. Ia pasti malu mengingat penampilannya saat itu.
“Lo tetep cantik kok Bell.” Puji Devan.
“Nggaaakkk, gue maluuuu!!!” Hahahaha dia berseru kesal.
“Heeyy, malu kenapa?” Devan meraih tangan Bella agar tidak menutupi wajahnya. Ia masih mau memandangi pipi kemerahan itu. Ia suka dengan pipi Bella yang tiba-tiba merona karena malu. Gemas menurutnya.
“Muka gue penuh sama totol-totol obat jerawat waktu itu.” Kenangnya. Perlahan ia menurunkan tangannya dan menatap Devan sayu.
Devan jadi tersenyum gemas mendengarnya.
“Buat gue lo tetep cantik.” Devan berujar dengan sesungguhnya. Baginya Bella memang selalu terlihat cantik. Sekalipun ia hanya mengenakan daster dan rambutnya yang di cepol asal.
“Gombal!” Bella berdecik kesal. Ini gombalan petama yang ia dengar dari Devan.
Devan hanya terkekeh di tempatnya.
“Terus abang bilang apa?” Bella masih penasaran dengan kelanjutan cerita Devan.
Mendengar pertanyaan Bella, Devan jadi mengingat kembali pertemuannya dengan Ozi hari itu.
“Sorry Zi, gue rasa gue gak bisa menuhin permintaan lo.” Aku Devan pada Ozi yang sedang terduduk di meja kerjanya.
Ozi langsung berbalik dan menatap Devan lekat.
“Maksud lo?”
Devan terduduk di tepian tempat tidur Ozi seraya memandangi satu titik di hadapannya.
“Gue gak bisa jaga Bella seperti yang lo minta. Gue gak bisa anggap dia sebagai adek gue seperti yang lo harapin.” Tatapannya terlihat nanar.
“Emangnya kenapa? Adek gue ngeselin ya? Ya dia emang suka jutek, resek dan kadang kelakuannya aneh-aneh.” Ozi berjalan menghampiri jendela kamarnya lantas berdiri di sana dengan segelas minuman hangat di tangannya.
Devan menggeleng.
Bayangan kejadian di tepian danau tidak pernah hilang dari ingatannya. Terlebih saat mengingat respon Bella yang tampak kesal.
Melihat Bella pergi bersama Rangga, membuat Devan sadar kalau ia sangat takut kehilangan Bella. Saat itu, ingin rasanya ia mengejar Bella dan memintanya untuk tidak pergi tapi ia menghargai permintaan Bella untuk sementara menjaga jarak darinya.
Harus Devan akui, saat itu ia tersiksa, ya saat itu ia sangat tersiksa.
“Apa yang udah lo lakuin sama adek gue?” Ozi menatap Devan dengan sinis. Terlihat kilatan kemarahan di matanya. Ia yakin Devan mengatakan hal ini bukan tanpa alasan.
“Gue, gue gak sengaja nyium dia.” Devan mengakuinya dengan wajah penuh sesal.
“APA?!!!” Ozi langsung menaruh gelas di tangannya dengan kasar. Dengan langkahnya yang lebar dan panjang ia menghampiri Devan lalu mencengkram kerah bajunya. Matanya yang bulat melotot kesal dan tidak terima.
“Itu kecelakaan Zi. Gue gak berniat melecehkan Bella sama sekali. Gue,”
“Jangan dekati Bella lagi. Gue gak butuh seorang perusak buat ngejagain adek gue.” Ia mengibaskan tangannya dengan kasar hingga tubuh Devan terdorong.
“Zi, gue akan bertanggung jawab. Tapi jangan suruh gue menjauh dari Bella.” Devan setengah memohon pada Ozi.
“Oh ya? Bertanggung jawab seperti apa maksud lo?” Ozi menatap Devan dengan sangsi.
“Gue akan menikahi Bella.” Dengan yakin Devan menjawab. Setelah mengatakan tidak bisa menjaga Bella sebagai adiknya, ternyata ia ingin menjaga Bella sebagai istrinya.
“Brengsek lo! Lo pikir gue bakal bolehin lo nikahin Bella karena lo pura-pura gak sengaja nyium Bella?” Ozi tersenyum sinis.
“Jangan mimpi! Gue gak akan nikahin Bella sama laki-laki yang memanfaatkan situasi kayak lo. Lo udah gue kasih kepercayaan buat ada di dekat Bella, ngejagain Bella seperti yang lo minta, tapi balasannya apa? Lo,”
“Gue cinta sama Bella!” Tegas Devan mematahkan kalimat Ozi. Ia sampai terengah menahan gemuruh perasaan di dadanya. Ia ingin segera mengakui ini agar dadanya tidak lagi terasa sesak.
“Cinta?” Ozi tersenyum sinis. Ia mendekat menghampiri Devan.
“Cinta lo bilang? Konyol!” Desisnya.
“Lo yakin itu cinta? Bukan rasa bersalah atau nafsu doang?” Tatapannya benar-benar mengintimidasi. Devan tidak menyangka Ozi akan semarah ini.
“Zi, gue serius. Lo tau, gue suka sama Bella sejak gue kecil. Tapi lo bilang itu cuma cinta monyet. Selama di luar negeri lo ngelarang gue ngehubungin Bella dan lo cuma ngirim foto-foto Bella kalau gue nanyain kabar dia”
“Lo bagiin moment waktu dia pelulusan sekolah. Lo bagiin moment waktu dia dapet hadiah dari lomba nulis. Lo bagiin moment dia lagi sedih dan marah. Dan lo juga bagiin moment dia lagi tertawa.”
“Semua tentang Bella ada di otak gue Zi. Dia memenuhi semua isi rongga dada gue. Dan sekarang lo bilang gue konyol. Perasaan gue gak semain-main itu Zi.” Protes Devan pada Ozi. Ia tidak terima Ozi mengecilkan perasaannya.
Ozi menatap Devan lekat. Ia berdiri dengan tegap menantang laki-laki dihadapannya. Terlihat gurat kecemasan dan kesedihan di wajahnya.
“Bella udah pernah hancur dan gue gak akan biarin siapapun ngehancurin Bella lagi, termasuk lo.” Ozi menunjuk Devan dengan tegas.
“Kalau lo cinta sama Bella, tunjukkin usaha terbaik lo. Kasih liat ke gue kalau lo layak buat jadi suami dia. Buat dia jatuh cinta sama lo. Setelah itu, gue baru mikirin permintaan lo.” Tegas Ozi.
Devan bisa merasakan kalau Ozi memang sangat berusaha melindungi Bella. Ia tidak ingin melihat Bella hancur untuk kedua kalinya.
“Gue akan buktikan. Gue akan melakukan usaha terbaik gue untuk meyakinkan lo dan Bella, kalau gue gak pernah main-main.” Itu janji Devan pada Ozi.
“Okey, go ahead. Gue tunggu pembuktian lo.” Tantang Ozi.
Dan saat ini, Devan memahami benar maksud sahabatnya itu.
“Lo gak cuma komitmen besar dalam hidup gue, Bell. Lo juga janji persahabatan gue sama Ozi. Kita biarkan semuanya mengalir dan Ozi akan tau dengan sendirinya.” Tutur Devan dengan penuh keyakinan.
Mendengar ketegasan Devan, Bella jadi memandangi tangannya yang di genggam Devan. Sangat erat, seolah laki-laki ini tidak akan melepaskannya.
“Makasih Van.” Timpal Bella pada akhirnya.
Devan hanya tersenyum seraya mengusap kepala Bella dengan lembut.
“Yuk, kita temuin Ozi sama tante Saras sekarang.” Ajak Devan yang beranjak lebih dulu.
Bella mengangguk setuju.
Perlahan Devan membuka pintu dan bersiap membuktikan keseriusan kata-katanya pada Ozi.
“Assalamu ‘alaikum…” Ujar Devan dan Bella bersamaan.
*****
Assalamu'alaikumm.....
Jangan lupa like, komen dan votenya yaaa... hehehe...
terima kasih...