Bella's Script

Bella's Script
Usaha Rangga



Pulang dari lokasi, perasaan Amara benar-benar tidak baik-baik saja. Di dalam mobil, ia dan Rangga sama-sama saling terdiam. Rangga dengan pikiran tentang lagunya yang akan launching sementara Amara masih dengan pikirannya dengan rencana pernikahan Keith.


Selesainya proses syuting tidak lantas membuat keduanya bisa menghela nafas lega. Hanya seperti ada beban yang lepas saja namun tetap membuatnya belum merasakan ketenangan.


Rangga memperhatikan wanita di sampingnya. Sedari tadi Amara terus melihat keluar dengan ekspresi wajah yang sedih dan kecewa. Apa yang ia pikirkan saat ini? Apa wanita ini masih kesal karena pertengkaran semalam?


Ini tidak nyaman bagi Rangga dan ia ingin memperbaikinya. Bagaimanapun saat ini status Amara bukan hanya sebagai kekasihnya saja, melainkan ibu dari anak yang dikandungnya.


“Kamu mau aku pesenin makanan? Kamu belum makan seharian ini.” Tawar Rangga. Ia melirik perut Amara yang semakin terlihat apalagi saat tidak memakai korset seperti sekarang.


“Gak usah, aku gak laper.” Amara memilih tidak memalingkan wajahnya pada Rangga dan tetap melihat keluar jendela. Dari pantulan kaca bisa terlihat kalau Rangga sedang memandanginya.


“Kamu gak bisa egois kayak gitu. Anak ini juga perlu di kasih makan dan nutrisi yang cukup.” Rangga memandangi janin di perut Amara dengan perasaan khawatir.


“Ini, aku juga beliin kamu baju yang agak longgar. Pake baju ini aja, biar kamu lebih nyaman. Katanya wanita hamil lebih sering gerah, jadi aku pilih baju yang bahannya adem.” Rangga memberikan sebuah paperbag pada Amara dan gadis itu mengambilnya dengan malas. Ia tidak menoleh sama sekali karena sedang berusaha menahan air matanya agar tidak menetes di hadapan Rangga.


Sikap manis Rangga telah menyentuh hatinya walau entah tulus atas tidak. Mungkin yang Rangga cemaskan hanya bayinya, bukan dirinya.


Melihat sikap dingin Amara, Rangga jadi terdiam memperhatikan benar wanita yang duduk membelakanginya. Mungkin salahnya juga sering mengajak Amara bertengkar untuk hal-hal yang kecil.


Harus ia akui, entah mengapa belakangan ini Rangga sering kali gagal menahan dirinya untuk tidak terpancing oleh tingkah Amara. Tingkat permaklumannya pada Amara jauh berbeda di banding dulu.


Mungkin ia harus memperbaikinya mulai sekarang.


“Kamu kapan periksa ke dokter, aku temennin ya...” Rangga mendekatkan dirinya pada Amara, lantas berusaha mengusap perut Amara dari belakang.


"Minggu depan." Sahut pendek Amara.


Rangga tersenyum kecil, ia tidak sabar melihat perkembangan anak di kandungan Amara. Hatinya selalu tergetar saat mengingat kalau ia akan menjadi seorang ayah.


“Apa dia masih bikin kamu muntah-muntah dan gak selera makan?” Bisik Rangga yang menempatkan dagunya di bahu Amara. Di kecupnya pelipis Amara dengan lembut. Rangga juga mengusap perut Amara dengan hati-hati seperti sangat takut kalau ia dan bayi di dalam kandungannya terluka.


Sesak, itu yang Amara rasakan saat ini. Seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya dan membuat ia tidak bisa mengeluarkan suaranya.


“Aku minta maaf ya Ra, kalau aku jarang merhatiin kamu. Aku terlalu egois, padahal aku tau ini pasti berat buat kamu Ra. Maafin aku ya...” lirih Rangga penuh sesal.


Satu baris kalimat akhir Rangga itu lolos membuat Amara meneteskan air matanya. Ia menahan sebisanya agar bahunya tidak bergerak naik turun seirama tangisnya.


“Aku janji, aku akan lebih baik lagi memperlakukan kamu.”


“Aku juga udah memutuskan kalau aku bakal ngasih tau ini ke keluargaku. Mau mereka nerima atau nggak, aku gak akan ninggalin kalian berdua Ra. Lagipula, syuting kita udah selesai, kamu gak usah pake korset lagi, aku tau kalian tersiksa, bayinya juga pasti pengap di dalem.” Usapan di perut Amara semakin intens membuat bulu kuduk Amara meremang karena haru.


“Hey, don’t cry.... Aku akan selalu ada di samping kamu, Ra.” Bisik Rangga seraya mengusap sisa air mata di pipi Amara.


Alih-alih berhenti menangis, Amara malah terisak. Ia tidak kuasa lagi menahan tangisnya. Di peluknya Rangga dengan erat, ia sadar, ia telah membodohi Rangga namun saat ini ia tidak bisa melepaskan satu-satunya laki-laki yang bisa menerimanya dalam kondisi seperti ini.


Untuk beberapa saat mereka saling berangkulan. Mencoba menunjukkan perasaan sayang untuk satu sama lain.


“Nanti aku pesenin makan yaa,, Kamu makan yang banyak, buat kamu sama anak kita. Kamu ada makanan yang lagi kamu mau gak?” Rangga melerai pelukannya dengan Amara, ia menatap lekat wajah kekasihnya.


Amara menggeleng. “Terserah kamu, apapun aku makan.” Sahut Amara. Ia menengadahkan wajahnya seraya menghela nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.


“Ya udah, sekarang kita turun. Ini udah terlalu malem, kamu pasti capek kan?”


“Iyaa..” Amara menurut saja. Rangga melepaskan sabuk pengaman milik kekasihnya lantas turun lebih dulu. Ia pun membukakan pintu untuk Amara dan menunggu kekasihnya turun.


“Biar aku yang bawain.” Ia mengambil alih tas dan paperbag milik Amara.


“Makasih Ga.” Sungguh Amara sangat terharu dengan sikap manis Rangga.


“Hem.. Yuk..” Rangga mengulurkan tangannya pada Amara dan gadis itu membalasnya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, sesuatu yang sudah sangat lama tidak mereka lakukan.


“Besok-besok gak usah pake heels yaa, nanti aku beliin sepatu flat biar kamu lebih nyaman.” Rangga memperhatikan kaki Amara yang tampak bengkak dengan pembuluh darah kaki yang terlihat jelas dan menonjol.


“Iya makasih.”


Mereka masuk ke dalam lift. Apartemen Rangga yang berada di lantai bawah, membuat ia harus turun lebih dulu.


“Nanti aku nyusul yaa, aku mandi dulu.” pamitnya pada Amara.


Gadis itu terangguk setuju sesaat sebelum pintu lift tertutup. Setelah pintu lift tertutup, Amara bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di dinding lift. Ia memilih memalingkan wajahnya. Wajah yang sendu dan sembab itu tidak cocok untuk ia kenal sebagai dirinya.


Tiba di lantai apartemennya, Amara segera keluar dari lift.


Berjalan menyusuri lorong dengan langkahnya yang perlahan membawa Amara tiba di belokan sebelum unitnya. Tidak jauh dari tempatnya berada, ia melihat seseorang yang berdiri bersandar di dinding unit apartemennya. Laki-laki itu menegakkan tubuhnya saat melihat kedatangan Amara.


Sejenak langkah Amara terhenti. Laki-laki berwajah Eropa itu menyambutnya dengan senyuman.


"Keith?"


*****