Bella's Script

Bella's Script
Pagiku cerah



Yang mau pergi honeymoon sudah mulai bebenah. Bella menyiapkan baju-baju yang nanti akan mereka bawa sementara Devan masih konfirmasi sana-sini, untuk konfirmasi ulang akomodasi.


“Benar, kami akan tiba di sana tanggal 28. Dan tinggal di hotel selama kurang lebih,…” Jari Devan yang sedang menunjuk angka-angka di kalender tiba-tiba terhenti. Ia menoleh Bella yang sedang melipat baju Devan dan memasukkannya ke dalam koper.


“Tunggu sebentar, ada yang harus saya cek dulu.” Ucap Devan yang malah mengakhiri panggilannya.


“Kenapa mas?” Tanya Bella yang penasaran.


“Sayang, perasaan bulan ini aku gak beliin kamu sesajen deh. Apa kamu gak kedatangan tamu bulanan?” Devan beranjak dari atas tempat tidur dan menghampiri Bella.


Sesajen yang dimaksud adalah jamu menstruasi dan berbagai macam coklat.


“Hah, iya kah?” Bella ikut melirik menoleh kalender yang ada di atas meja riasnya.


“Iya ya, kok tanggalnya gak aku lingkari ya?” Bella menaruh baju yang sedang di lipatnya dan mengambil kalender yang ada di atas meja rias.


Devan segera menghampiri, ikut mengecek kalender yang ada di tangan Bella.


“Bulan kemaren sih aku lingkari, tapi bulan ini nggak. Jadwal aku dapet kan harusnya dua hari setelah gala premiere.” Gumam Bella.


Keduanya terdiam beberapa saat, kompak sama-sama beralih memandangi perut Bella lalu kemudian saling menatap penuh tanya.


“Apa kamu hamil yang?” Tanya Devan dengan ekspresi yang entah. Antara terkejut dan menahan rasa  bahagia yang menyeruak di dalam dadanya.


“Aku tanya mamah ya?” Devan yang bingung langsung teringat untuk bertanya pada sang ibu mertua.


“Ikh entar dulu. Mas mau nanya apa emang sama mamah? Kalo mamah nanya balik kapan kita hubungan terakhir kapan, mas mau jawab apa?” Bella segera menahan tangan Devan agar tidak pergi.


“Ya aku jawab semalam. Eh maksudnya tadi pagi.” Jawab Devan polos.


“Ikh, bukan itu! Maksud aku kalau nanya mamah kapan kita berhubungan sebelum aku jadwal mens, mas mau jawab apa?” Bella mengubah pertanyaannya.


“Ya, tinggal hitung aja. Kita kan dua hari sekali, itupun kalo akunya kuat nunggu.” Jawab Devan dengan tatapan polos.


“Ahahahahahaha… Astaga!!! Emang mas gak malu jawab gitu sama mamah?” Bella sampai terbahak melihat tingkah dan ucapan Devan yang begitu polos.


“Hehehehehe,… Malu ya? Eh tapi mending aku ngejelasin ke dokter deh daripada ngejelasin ke mamah.” Wajah Devan berubah merah dengan cepat. Ia menggigit bahu Bella dengan gemas karena malu sendiri.


“Ikhh, hahahaha… Malah maen gigit-gigit aja. Yang ada juga harus aku yang gigit mas. Gemesin dah!” Bella mencubit perut sang suami yang sebenarnya malah tidak tercubit karena ototnya yang padat.


Devan menarik tubuhnya menjauh karena geli. “Hehehehe…. Iya, iyaa…. Boleh deh kamu gigit aku, aku kan emang gemesin.” Devan menarik tubuh Bella untuk ia peluk dari samping.


Bella ikut terkekeh dan mengecup dada sang suami.


“Tapi mas, bentar deh, aku penasaran.” Bella melepaskan dirinya dari pelukan Devan.


“Kenapa?”


Bella tidak lantas menjawab, melainkan mengangkat bajunya dan melihat pantulan perutnya di kaca.


“Masih rata kok perut aku. Aku juga gak ngerasain apa-apa.” Bella memandangi perutnya yang masih rata.


“Coba ke atas lagi dikit, pasti gak rata.” Bujuk Devan penuh harap.


“Isshh, itu sih emang gak bakalan rata kali. Mas, ikh lagi serius malah becanda.” Bella menyikut suaminya kesal.


“Ahahahaha…. Aku juga serius kok. Kan katanya kalau lagi hamil, dua kesayangan aku itu pasti membesar. Coba di intip dikit. Biar aku ukur juga, beneran gak ukurannya membesar.” Devan sudah mengarahkan kedua tangannya yang siap menangkup dada Bella.


“Ikh gak mau akh! Masa sengaja di pegang buat ngukur doang! Mending kita test pack aja.” Bella segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Eh iya juga ya. Kan bisa test pack. Kenapa aku gak kepikiran?” Devan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Gak kepikiran lah, orang ingetnya si kembar kesayangan doang!” Decik Bella yang malah membuat Devan terkekeh malu.


“Ya udah, aku ke mini market dulu bentar beli test pack. Kamu tunggu yaa, duduk-duduk aja di sini. Jangan keluar kamar sebelum aku pulang.” Devan membawa Bella duduk di pinggiran tempat tidur.


“Segitunya, aku gak boleh kemana-mana?” Bella menatap Devan penuh tanya.


“Iya. Takutnya kamu beneran hamil, nanti malah keguncang-guncang.” Devan dengan wajahnya yang serius.


“Mas lupa ya, tadi pagi kan Mas yang ngeguncang badan aku.” Bella menjulurkan lidahnya pada Devan.


“Hehehe, itu kan sebelum aku tau kamu telat. Sekarang nggak dulu. Kita periksa dulu aja.”


“Ya udah. Mas beli dulu aja test pack nya. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Takutnya malah kita PHP lagi.”


“Iya. Kamu tunggu bentar ya.” Dengan terburu-buru ia segera pergi.


“Mas, kuncinya.” Panggil Bella.


“Eh iya lupa.” Devan kembali lagi.


Bella yang penasaran mengikuti Devan sampai pintu.


“Mau kemana nak?” Sapa Saras yang melihat Devan terburu-buru.


“Mau ke minimarket mah, beli test pack.” Sahutnya polos.


“Apa, test pack?” Seru Saras.


“Aduh!!!!” Bella hanya bisa menepuk jidatnya pasrah. Dalam hal berbohong Devan memang tidak bisa diandalkan.


“Buat Bellaa?” Amri ikut bertanya.


Tidak terdengar jelas sahutan Devan yang jelas kini penghuni rumah itu semuanya menghampiri Bella.


“Adek hamil?” Tanya Saras di mulut pintu.


“Emm, belum tau.” Jawab Bella dengan wajah yang kaku, bingung berreaksi.


*****


Lima orang kini sudah berkumpul di kamar Bella. Ada Devan, Saras, Amri, Ozi dan si bungsu Ibra yang baru datang. Mereka tengah harap-harap cemas, menunggu kabar dari Bella yang masih ada di kamar mandi untuk memeriksa urinenya.


“Dek, belum keliatan hasilnya?” Panggil Ozi dari luar. Ia bukan tipe orang yang sabar menunggu sesuatu.


Tidak terdengar jawaban dari Bella namun tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka perlahan. Tampak Bella yang keluar dari kamar mandi dan menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya. Jangan tanya ekspresinya, sudah pasti pucat pasi dengan mata berkaca-kaca.


Orang-orang langsung berdiri menyambut Bella dan Saras segera menghampiri.


“Gimana sayang?” Tanyanya harap-harap cemas.


Bella mengangkat tangannya yang gemetar dan menunjukkan hasil test pack pada Saras.


“Ya Allah!” Seru Saras yang langsung memeluk Bella.


Ia tidak kuasa menahan tangisnya, lalu mengecupi kedua pipi dan dahi Bella dengan air mata berurai.


“Kita akan jadi kakek dan nenek Mas Amri.” Ucap Saras yang kembali memeluk Bella dengan erat.


“Alhamdulillah….” Ucap ketiga laki-laki itu bersamaan.


“Wah, selamat bro, lo bakal jadi bapak!” Ozi menepuk bahu Devan dengan semangat lalu memeluk sahabatnya.


Devan tidak bisa berkata-kata, ia malah terpaku saat Ozi memeluknya. Beribu ucapan syukur ia langitkan dari hatinya.


“Sekarang lo gak cuma harus jagain Bella, tapi juga calon bayi kalian. Sayangi mereka lebih dan lebih lagi. Gue percaya, lo akan jadi ayah yang luar biasa dan suami yang hebat buat anak dan istri lo.” Pesan Ozi dengan penuh harap.


“Makasih bro, makasih.” Devan menekan sudut matanya untuk menghentikan laju air matanya.


“Sekali lagi, selamat ya.” Ozi menepuk lengan Devan setelah melepas pelukannya.


Devan mengangguk-angguk tanpa bisa berkata-kata.


Melihat Bella yang berdiri di kejauhan, Devan segera berhampur menghampirinya. Dikecupnya kedua pipi, dahi dan bibir Bella. Di peluknya Bella dengan erat.


“Do’a kita di kabul ya sayang,… Aku janji aku akan semakin baik lagi menjaga kalian berdua.” Ucap Devan dengan penuh kesungguhan.


“Iya Mas, alhamdulillah…”


Baru sekarang Bella bisa berbicara. Setelah sebelumnya ia merasa kalau ia baru bisa menapakan kakinya di lantai. Beberapa saat lalu ia seperti melayang, terbawa rasa keterkejutannya sendiri.


“Tunggu, aku harus menyapa dia.” Devan melepaskan pelukannya. Ia berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan perut Bella.


Dengan tangan gemetar, diusapnya perut Bella dengan perlahan. Ia tersenyum bahagia tapi tetap tidak bisa menahan air matanya.


“Hay, baby,…” sapa Devan parau.


“Tumbuhlah sehat dan sempurna di dalam rahim mama. Kamu berada di rahim seorang wanita hebat. Papa akan menunggu kamu, menjaga kamu dan bersiap menyambut kamu hingga waktunya tiba. Hem?” Gumam Devan seperti sedang berbicara dengan mahluk kecil di dalam tubuh Bella.


Seisi ruangan ikut terharu melihat apa yang dilakukan Devan. Ia mengecup perut Bella dengan sayang lalu mengusapnya dengan hati-hati.


“Jangan menyulitkan mama ya sayang. Makan yang banyak supaya kamu tumbuh dengan sehat dan kuat. Okey?” pesan Devan.


Bella ikut tersenyum mendengar ujaran Devan yang begitu menyentuhnya.


Dari tempatnya, ia juga melihat Amri, Ozi dan Ibra yang menatapnya penuh haru. Bella tidak pernah menyangka, kalau hari ini akan tiba. Hari dimana ia merasa lengkap menjadi seorang wanita. Semoga saja ia bisa menjalani masa kehamilannya dengan sehat dan lancar.


“Terima kasih ya Allah,… Alhamdulillah…” Batin Bella.


****