
Pagi di hari sabtu ini Saras tetap menjalankan rutinitas yang sama. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, merapikan dapur dan menyiram tanaman. Sisanya adalah bersantai karena ia pun tidak pergi ke toko jahitan miliknya.
Baru sekitar pukul 8 pagi, ia melihat Devan keluar dari rumah dengan memakai kemeja berwarna hitam yang rapi membungkus tubuhnya yang kekar. Ia segera menaruh selang semprotan tanaman dan menghampiri Devan.
“Nak Devan,” panggilnya, yang membuat langkah kaki Devan terhenti.
“Pagi tan,” sapa Devan. Walau tidak terlihat murung, wajahnya tidak setenang biasanya.
“Mau pergi sekarang?” tanya Saras.
Devan hanya terangguk dengan segaris senyum.
“Tunggu sebentar, tante udah buatin makanan untuk nak Devan bawa.” Ujar Saras yang bergegas pergi ke dapur.
Devan tidak bisa menahannya, karena Wanita itu langsung pergi tanpa menunggu persetujuan Devan.
Sebuah keranjang makanan rotan yang di bawa Saras kemudian.
“Gak perlu repot-repot tante, Devan hanya sebentar.” Ujarnya.
“Walaupun sebentar, sempatin untuk mengajak beliau makan. Barangkali beliau kangen dengan makanan rumahan.” Saras membenamkan pegangan keranjang di tangan Devan.
Devan memperhatikan keranjang di tangannya, cukup berat seperti terisi penuh oleh makanan. Dari wanginya yang enak, sudah pasti Saras memasakkan makanan favorit keluarganya dulu.
“Makasih tan,” lirihnya penuh sungguh.
“Sama-sama. Hati-hati di jalan ya, salam untuk beliau.”
“Iya tan,” Devan tersenyum kecil di ujung kalimatnya.
Saras masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Devan yang masuk ke dalam mobilnya, lantas menyalakan mobilnya. Ia hanya melambaikan tangan sesaat sebelum kendaraan beroda empat itu keluar dari halaman rumahnya dan meninggalkan Saras yang mematung sendirian.
“Anak yang baik.” Lirih Saras seraya tersenyum haru.
Beragam ingatan muncul di benaknya dan Saras hanya tersenyum saat mengingat beberapa kenangan manis yang terlintas di pikirannya. Saat menoleh, ia melihat Bella yang masih berpiyama keluar dari pintu samping.
“Pagi sayang,” sapanya pada sang putri.
“Pagi mah. Udah selesai ya nyiram bunganya?” ia menghampiri bunga mawar kuning yang sedang mekar dengan butiran embun pagi di sela kelopaknya. Ia menciumnya dengan lembut, wangi pagi yang nyaman menyapa syaraf di hidungnya.
“Udah sayang, yuk kita sarapan.” Ajak Saras.
Bella memperhatikan sekitaran rumahnya dan tidak terlihat keberadaan mobil Devan di halaman rumah.
“Devan lagi pergi mah?” ia mengikuti langkah Saras yang masuk ke rumah.
“Iya, katanya ada urusan.” Saras menghidangkan beberapa menu sarapan yang biasa dinikmati oleh anak-anaknya.
“Katanya dia mau pindah, lo udah tau?” suara Ozi terdengar jelas di belakang Bella.
“Hem, dua hari ke belakang dia bilang sama gue.” Bella mulai melahap roti bakar buatan sang ibu.
“Lo berdua gak berantem kan?” Ozi mengambil tempat di samping Bella.
“Makasih mah,” imbuhnya saat Saras menyodorkan nasi goreng untuk Ozi.
“Lo pikir semua keputusan yang diambil sama Devan, itu gara-gara gue?” timpal Bella, tidak nyaman juga jadi tertuduh alasan pindahnya Devan.
“Gue gak nuduh, cuma nanya. Gak usah sensi gitu dong.” Ozi membalasnya dengan senyuman. Gemas sendiri kalau sudah melihat Bella yang kesal seperti tadi.
“Emang Devan jadinya tinggal dimana? Kenapa gak tinggal sama keluarga papahnya aja?” selidik Saras yang ikut penasaran.
Bella hanya mengendikkan bahunya.
“Keluarga papah sama mamahnya kan gak terlalu baik mah hubungannya. Devan beli apartemen tipe studio yang deket kantor. lo tau tempatnya de?” Ozi balik bertanya pada Bella yang sibuk menguyah makanannya.
Gadis itu menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab Ozi.
“Iya, cuma sekitar 15 menit dari kantor. Beberapa anak artistic juga ada yang tinggal di sana, tapi biasanya cuma di jadiin tempat istirahat kalau lagi males balik ke rumah. Soalnya unit-unitnya gak terlalu besar.” Terang Bella.
“Ya, Devan kan masih bujang juga. Buat apa ngambil rumah yang besar, kasian beres-beresnya.” Komentar Saras.
“Oh iya, kalau gue gak salah inget, mamah Devan kan udah meninggal, kalau papahnya dimana sekarang bang?” tanya Bella yang penasaran.
Ozi tidak lantas menjawab. Ia melirik Saras lebih dahulu dan Saras hanya menggelengkan kepala.
“Lo tanya aja sama Devan nya.” Sahut Ozi.
“Dih, kalau lo bisa jawab sendiri, ngapain nyuruh gue nanya Devan segala. Gak niat aja lo ngasih tau gue!” dengus Bella kesal.
Ozi hanya tersenyum tanpa merasa terganggu dengan kemarahan adiknya.
Di tempat lain, Devan masih berdiri di depan sebuah bangunan dengan pengamanan ketat. Di tangannya ia membawa keranjang makanan yang diberikan Saras pagi ini.
Ia hanya terpaku, sedang mempertimbangkan apakah ia akan benar-benar masuk atau memilih pulang.
Ada rasa bimbang yang membuatnya bingung untuk mengambil keputusan, meneruskan langkahnya atau diam saja di sini.
******
“Daerah mana bang?” balas Bella. Kalau sudah begini, ia harus segera bersiap.
Mandi sebentar, memakai baju yang nyaman di kenakan dan membawa barang-barang keperluan cek lokasi.
“Bogor. Kalau bisa, kita kumpul di kantor jam 10 pagi ini.” Lumayan jauh rupanya.
“Okey, ketemu di kantor jam 10 yaa…”
“Sip sip. Thanks Bell.”
Bella segera menghubungi Devan. Namun hingga dua kali di telpon, Devan tidak menjawabnya. Tumben menurutnya. Akhirnya ia hanya meninggalkan pesan.
“Lo gak jawab telpon gue. Gue mau ke Bogor cek lokasi sama anak-anak. Jam 10 berangkatnya, kalau lo mau ikut, gue tunggu di kantor. Kalau gak ikut, nanti gue kirim foto lokasi. Kabari gue setelah lo baca pesan ini.” Tulis Bella dalam 1 baris pesan.
“Kamera,” gumamnya. Ia mengambil kamera yang tergantung di dinding, berdampingan dengan kamera mainan kado dari Devan dulu.
Ia urung mengambil kameranya dan malah mengambil kamera mainan. Bella mencoba menyalakannya dan ternyata masih berfungsi, hanya gambarnya saja yang mulai kabur. Ada gambar-gambar princess dari Disney bersama pangerannya. Ia jadi tersenyum sendiri melihat gambar-gambar ini. Devan kecil, memang tahu benar apa yang ia sukai.
Hanya beberapa menit ia mengagumi gambar-gambar ini dan fokusnya di alihkan oleh suara deringan telpon.
“Panjang umur.” Gumam Bella saat melihat nama Devan ada di layar ponselnya.
“Sorry, tadi gue lagi di jalan. Gimana?” tanyanya tiba-tiba.
Hah, Bella menghembuskan nafas lega. Ia baru ingat, saat Devan sedang mengendarai mobil, tidak mungkin laki-laki ini akan menjawab teleponnya.
“Gue bentar lagi ke kantor. Lo dimana?”
“Gue di apartemen. Kita ketemu di kantor aja.” sahutnya tanpa basa-basi.
“Hem,” Lantas Bella menutup telponnya. Di taruhnya kembali kamera mainan dan mengambil kamera digital yang biasa ia gunakan saat harus survey tempat.
*****
Sebuah taman yang indah menjadi salah satu lokasi yang di pilih tim produksi. Bella dan Devan berdiri di salah satu sudut dan melihat lokasi secara keseluruhan. Beberapa gambar di ambil Bella melalui kameranya.
“Dari sini, cukup bagus buat ngambil gambar.” Ujar Bella sambil mengeker lokasi.
“Rasio gambarnya bagus gak?” tanpa sadar Devan mendekat ke wajah Bella, hendak ikut melihat gambar lokasi dari kamera.
Keduanya sama-sama terdiam, saat tersadar kalau jarak mereka sangat dekat.
“Sorry.” Devan segera menarik tubuhnya menjauh dari Bella.
Bella tidak menyahuti, ia memilih memberikan kameranya pada Devan. “Lo liat sendiri dari sudut pandang lo.”
Di benamkannya kamera itu di tangan Devan lantas ia berlalu pergi.
“Bodoh!” decik Devan pada dirinya sendiri.
Entah mengapa refleksnya begitu cepat untuk mendekat pada Bella.
Setelah berhasil menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdegub kencang, Ia menggunakan kemera untuk melihat ke sekeliling lokasi. Tempatnya memang sangat cocok di jadikan salah satu lokasi dalam film. Sesuai deskripsi Bella.
Puas melihat ke sekeliling lokasi, ia melihat ke sudut lainnya. Tanpa sengaja lensa kameranya menangkap bayangan Bella yang sedang berdiri di bawah pohon. Ia mengipas-kipaskan tangannya untuk menghalau udara panas yang menyengat wajahnya.
Iseng Devan meng-zoom gambar yang di tangkapnya. Terlihat wajah polos Bella di lensa kameranya. Wajahnya yang kemerahan juga keringat yang menetes lambat di pelipisnya mengikuti lekukan rahangnya hingga akhirnya menetes jatuh.
“Cantik,” gumamnya penuh kekaguman.
“Udah gue duga!” seru seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Devan.
“Hah?” Devan jadi gelagapan. Ia segera menurunkan kameranya dan menoleh Indra.
“Udah gue duga, lo pasti suka sama lokasinya. Iya kan?” sergap Indra.
“I-Iya.” Devan sampai tergagap.
Sepertinya fokusnya menurun karena terik matahari. Ia memandangi Bella dari kejauhan sampai tidak sadar ada yang berdiri di sampingnya sedari tadi.
“Gue dapet referensi tempat ini setelah beberapa hari nyari lokasi ke beberapa tempat. Gue tanya Bella, katanya gak pernah ke tempat ini, tapi deskripsinya dia detail banget.” Puji Indra tidak habis pikir.
Devan hanya tersenyum, sambil menoleh Bella di sebrang pandangannya sana. Bella terlihat sedang bertelepon tanpa memperlihatkan ekspresi wajahnya yang membelakangi Devan.
“Isi kepalanya memang unik.” Gumam Devan yang masih bisa di dengar samar oleh Indra.
“Lokasi lainnya lo bakal lebih suka. Tapi harus jadwalin khusus kayaknya, karena cukup jauh.” Timpal Indra.
“Dimana itu?” Devan jadi penasaran.
“Tumpak sewu, jawa timur. Gue pernah ke sana sama temen-temen backpacker gue. Di script memang plot tempatnya itu sebuah dataran tinggi, tapi vibes tempatnya gue rasa ngena banget kalau kita ngambil tumpak sewu.” Terang Indra dengan bangga.
Devan hanya mengangguk-angguk saja, tentu ia hanya bisa setuju dengan pilihan Indra.
Lalu, apakah ia ada kesempatan untuk pergi ke sana dengan Bella?
****