
Pulang ke rumah, sesuai saran Ozi, Inka menurutinya.
Sebuah apartemen yang berada di lantai 4 itu sudah Inka tinggali sejak lama. Selama ini ia memang tinggal sendiri, terpisah dari sang ayah. Ia hidup sendirian di apartemen mewah dengan tiga buah kamar kosong dan hanya satu yang ia tempati.
Seperti ini kondisi rumah yang ia tuju untuk pulang setiap harinya. Kosong, lenggang, tidak ada hal lain yang mengisinya selain beberapa furniture mewah untuk memenuhinya.
Sekali lagi, bagi Inka ini bukan sebuah rumah. Ia hanya merasa kesepian setiap kali masuk ke ruangan ini. Tidak ada suara tawa, canda apalagi pertanyaan bagaimana hari ini ia lewati. Hanya udara yang memenuhi ruangan ini yang bercampur dengan bau parfum ruangan.
Sering kali ia menangis sendirian saat ia terbangun dari mimpi buruknya namun kembali membaik dengan sendirinya tanpa ada yang membantu untuk menenangkannya. Semua ia lakukan seorang diri.
Aakkhh… Ini menyebalkan. Rasanya ia ingin mengadakan pesta setiap hari di rumahnya agar selalu ramai.
Seperti saat ini, suasana sepi itu begitu mendominasi. Ia memilih berdiam diri di balkon sementara suara televisi sengaja ia buat sekeras mungkin agar bisa menemaninya. Perasannya sedikit lebih baik saat memandangi hiruk pikuk Jakarta yang tidak pernah benar-benar sepi.
Secangkir teh chamomile menjadi teman Inka menikmati pemandangan malam yang di penuhi lampu-lampu malam dari Gedung menjulang dan kendaraan yang melintas.
Seteguk teh kembali ia nikmati seraya mengingat perbincangannya dengan Ozi tadi.
“Lo gak pulang?” Pertanyaan Ozi yang satu itu kembali menyadarkan Inka kalau keluarga Bella bukanlah rumah baginya.
Padahal ia sangat berharap bisa memiliki tempat di keluarga itu, jadi anak angkat Saras pun tidak masalah baginya.
Yaa, Inka sangat merindukan kehangatan seorang ibu.
Dulu, saat Inka mengetahui siapa ibu kandungnya, ia sempat berpikir kalau ia akan ikut dengan ibunya. Terlebih saat ia beranjak dewasa dan ia merasakan kalau sikap ketiga kakanya semakin tidak bersahabat. Tidak hanya dengan kata-kata, Andra bahkan pernah menyakitinya secara fisik.
Rasa sakit karena tamparan Andra kala itu tidak hanya berbekas di pipinya tapi juga di hatinya.
Sayangnya, sosok ibu yang akan diikutinya tidak ia temukan hingga saat ini. Wanita itu hilang seperti di telan bumi. Sedikitnya petunjuk yang ia miliki selalu membuat Inka akhirnya harus menyerah di tengah jalan. Sampai kemudian ia bertemu dengan Bella, mengenalkannya pada Saras dan Ozi. Inka seperti mendapat keluarga baru.
Pernah satu kali Inka demam tinggi. Ia sendirian di apartemen dan tidak bisa beranjak kemanapun. Tapi kemudian Saras datang bersama Bella diantar Ozi. Ozi menggendongnya di punggung, membawa Inka ke rumah sakit terdekat. Baru kali itu ia merasa di cemaskan oleh orang lain.
Selama beberapa hari Saras dan Bella mengurusnya saat sakit. Seperti seorang ibu dan adik perempuan yang menyayanginya tanpa alasan. Inka tersentuh. Ia sampai menangis sesegukan, bukan karena demamnya yang tidak kunjung turun tapi karena kehadiran Saras dan Bella di saat yang begitu tepat.
Jika kemudian ia mengharapkan keluarga Bella menjadi keluarganya, apakah itu salah?
“Tring!” Sebuah pesan masuk dan membuyarkan lamunan Inka.
Inka segera mengusap air matanya yang tanpa sadar menetes. Di lihatnya ponsel yang sedari tadi ada di dalam saku.
“Saya mau memberitahukan kalau besok tuan Andra akan pergi ke luar kota. Tuan besar berharap nona bisa datang ke rumah.”
Begitu isi pesan yang di terima Inka melalui pelayan di rumahnya.
Demi menghindari perdebatan, memang hanya ini yang bisa Inka lakukan. Setiap kali Inka ingin ke rumah papahnya, ia harus menunggu kabar dari pelayan terlebih dahulu. Jika semuanya aman, maka barulah ia bisa pergi ke sana.
“Iya, makasih bikk.. Sampein sama papah, besok aku ke sana.” Balas Inka dengan perasaan nelangsa.
Entah sampai kapan ia akan seperti ini. Merasa asing dari keluarganya sendiri yang tidak pernah bisa ia dekati.
Di teguknya kembali teh yang masih tersisa di cangkir. Lalu bersiap menutup pintu dan membereskan semuanya dan kembali ke kamar.
Tiba di kamar, suasana sepi semakin terasa. Ia memilih untuk tidur namun langkahnya terhenti saat ia melihat amplop coklat pemberian Wibisono yang belum sempat ia buka.
Diraihnya amplop itu lalu ia bawa duduk di tepian tempat tidur. Penasaran juga dengan isinya dan Inka memutuskan untuk membukanya.
Rupanya amplop itu berisi beberapa lembar kertas rahasia yang berisi bukti pembelian saham. Inka membacanya dengan cermat, isinya adalah pernyataan kalau Inka saat ini menjadi pemilik saham terbesar dari PH milik Eko. Surat lainnya adalah bukti pembelian saham di beberapa perusahaan entertain di Jakarta,salah satu yang ia kenali adalah milik keluarga Jihan.
Sekarang ia paham, mengapa saat Eko cuti, beberapa tugas penting dipercayakan padanya, karena secara tidak langsung 80% kepemilikan PH itu adalah miliknya saat ini.
“Akh sial!” Dengus Inka seraya menaruh surat-surat itu dengan kasar.
Ia tertunduk lesu dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Rasanya ia ingin menangis.
“Bukan ini yang aku butuhkan pah, bukan ini…” Gumam Inka menyayangkan. Rupanya ini yang dimaksud Wibisono dengan membekali dirinya.
Alih-alih surat kepemilikan saham, yang ia butuhkan saat ini adalah orang-orang yang berada pada foto yang terpajang di dindingnya. Foto yang diambil saat ia masih berusia 7 tahun, saat ia belum mengetahui identitasnya yang sebenarnya.
Ia memandangi foto keluarga itu dengan nanar. Lihat, senyumnya sangat bahagia kala itu. Ia merindukan masa itu dan hanya itu yang ia butuhkan saat ini.
“Kapan aku bisa kembali ke tengah-tengah kalian? Kapan aku bisa menjadi bagian dari keluarga Wibisono lagi?” Lirih Inka dengan tangis tertahan.
Sayangnya, gambaran Andra di foto itu hanya tersenyum, tidak bisa menjawab kapan mereka bisa kembali menjadi keluarga.
****