Bella's Script

Bella's Script
Gossip yang beredar



“Rapatnya udah di mulai?” tanya Bella saat melihat Rini kembali ke ruangan.


Gadis itu tampak terkejut melihat Bella di ruangan. “Hem,” hanya itu jawaban singkatnya.


Bella jadi berpikir, apa Rini masih sangat membencinya karena pertengkaran kemarin. Entahlah, yang jelas wanita itu melengos begitu saja dari hadapannya.


“Gue, minta maaf soal kejadian beberapa hari lalu.” Ujar Bella yang tiba-tiba. Rini yang sedang mengambil beberapa dokumen di mejanya pun kontan menghentikan aktifitasnya.


“Gue harap, kita bisa bekerja sama baik di project sekarang dan mengesampingkan masalah pribadi kita.” Imbuh Bella seraya menatap Rini yang masih memunggunginya.


Saat ini Rini sebagai assistent-nya dimana suka atau tidak suka, ia akan banyak berinteraksi dengan Rini. Ia tidak ingin masalah pribadi menjadi penghambat project ini. Bagaimana pun mereka di tuntut untuk bersikap professional.


“Lo di tunggu di ruang rapat.” Hanya itu ucapan Rini tanpa memandangnya.


“Hem, makasih.” Sahut Bella yang tersenyum kecil. Semoga ini awal baik untuk hubungannya dengan Rini.


Berjalan dengan cepat menuju ruang rapat, sayup-sayup ia mendengar suara Eko di ruangannya. Dari jendela yang tidak tertutup sempurna dengan tirai, Bella bisa melihat kalau laki-laki itu tegah berbicara dengan tiga orang dihadapannya, Jihan, Devan dan Febby.


“Kenapa harus di permasalahkan dengan dua orang ini? Mereka sudah mengikuti prosedur casting yang seharusnya.” Ujar Jihan yang terdengar jelas, membuat Bella penasaran untuk mendekat.


Bersandar pada dinding ruangan, entah mengapa kali ini ia sangat penasaran dengan pembicaraan di dalam sana.


“Calon aktrisnya ada di manajemen kita dan terbukti, beberapa FTV nya cukup laris. Dia juga sudah melewati screen test oleh casting director. Lalu calon actornya, dia juga sudah melewati casting tahap dua. Nilainya cukup bagus. Dan lebih dari itu, pasangan ini sudah memiliki fans couple sendiri.”


“Jadi tidak masalah bukan?” tanya Jihan dengan menggebu-gebu, membela pemain yang di pilihnya.


“Ya, mereka memang sudah melewati beberapa tahap casting tapi, kualitas pemain ini tidak terlalu unggul.” Devan mendorong salah satu foto ke hadapan Jihan.


“Ya, gue setuju sama Devan. Ada satu lagi pemain yang menurut gue lebih cocok memerankan peran utama laki-laki. Yang ini.” Berganti Febby yang memilih satu foto dan menyodorkannya pada Jihan.


Wanita itu tersenyum simpul. “Sorry, sebagai produser di film ini, saya tidak setuju.” Jihan bersikukuh pada pilihannya.


“Walaupun actor ini baik tapi, secara komersil pasangan ini lebih dapet. Ini film pertama yang saya produseri dan saya berhak bukan memilih mau seperti apa arah film ini?” Jihan mulai menggunakan kekuasaannya untuk kukuh pada pendapatnya.


“Jujur, kualitas pemain bagi saya saat ini ada di urutan kedua, yang pertama buat saya adalah, segi komersilnya. Anda bisa memahami itu kan pak Eko?” beralih Eko yang kini mendapat tatapan serius dari Jihan.


Laki-laki itu tampak berpikir. Tanpa menunggu jawaban Eko, Bella memilih untuk pergi menuju ruang rapat.


Terduduk sendiri di ruang rapat, Bella mulai menata dokumen yang sudah ia siapkan. Sesuai janji ia akan bertemu dengan para pemain hari ini. Beberapa buah potongan script sudah ia siapkan. Script untuk pemain utama wanita dan pemain utama laki-laki. Begitu juga dengan pemain pembantu wanita dan pemain pembantu laki-laki.


Suara gaduh terasa mendekat menuju ruang rapat. Bella segera berdiri untuk menyambut timnya.


“Sore Bell, mereka udah dateng.” Suara Eko yang terdengar lebih dulu.


“Iya pak.” Sahut Bella dengan senyum simpulnya.


Beberapa orang memasuki ruangan. Di mulai dari Febby, Jihan, Devan dengan wajah dinginnya, lalu calon para pemain dan ada dua orang yang dikenalnya.


“Hay Bell,” sapa seorang wanita yang tidak lain adalah Lisa, manager Amara.


“Hay,” sahutnya setengah terkejut. Untuk apa ada Lisa di ruangan ini, pikirnya.


Rasa pensarannya terjawab saat seorang wanita di belakangnya ikut masuk, ya dialah Amara. Ia menggandeng tangan seorang laki-laki yang tidak lain adalah Rangga.


“Hay Bell,” sapanya.


“DUB!!” seperti jantung Bella berhenti berdetak  saat ia melihat Rangga yang menatapnya dengan dingin. Untuk apa laki-laki itu ada di ruangan yang sama dengannya.


Sial, kakinya mendadak lemas sampai membuatnya berpegangan pada sandaran kursi di tangannya. Pikirannya mendadak kosong seperti kehilangan arah. Ingatan akan suara presenter gossip pun kembali terngiang di telinganya.


“Are you okey, Bell?” tanya Lisa seraya meraih tangan Bella.


Bella menatap Lisa yang memandanginya dengan cemas. “I-Iya..” lirih Bella. Lantas ia mendudukan tubuhnya yang kehilangan tenaga dalam waktu yang sangat cepat.


“Ini para cast untuk project film kita, saya harap kita bisa bekerjasama secara professional.” Ujaran Jihan seolah memberi penjelasan atas keberadaan Rangga dan Amara di tempat ini.


Bella menoleh Amara yang tersenyum padanya, senyum penuh kemenangan yang tidak pernah Bella lihat sebelumnya. Sementara Rangga, ia bersikap seolah tidak mengenal Bella. Seperti ini kah yang di sebut professional? Bella tidak bisa berpikir.


Dari tempatnya, Devan memperhatikan ekspresi Bella. Entah mengapa ia merasa sangat khawatir melihat Bella yang berusaha tersenyum kecil seperti itu. Ia pun memperhatikan Jihan yang tampak tenang berbicara dengan Febby.


Entah apa yang tengah di rencanakan wanita ini untuk film mereka.


*****


Proses perkenalan dengan para pemain sudah dilakukan. Masing-masing orang sudah di tentukan akan memerankan peran apa di project film ini.


Selama sesi perkenalan, Bella tidak banyak bicara. Beberapa kali Devan memperhatikannya dan Bella bersikap seolah biasa saja. Menjadi lebih pendiam, hanya itu yang berubah.


“Baik, karena kita berkumpul di sini, silakan masing-masing pemain untuk menikmati waktunya membaca part script yang sudah disiapkan oleh tim. Kalian bisa berdiskusi kalau ada hal yang perlu di tanyakan.” Ujar Eko memecah ketegangan.


“Bell, script-nya udah siapa semua?” ia menatap Bella dengan canggung.


“Untuk part script-nya sudah saya siapkan. Script lengkapnya saya copy dulu kekurangannya.” Ujar Bella. Menaruh tumpukan kertas yang sudah ia siapkan di tengah-tengah mereka.


“Baik, kalau begitu selamat reading, saya dan Jihan permisi dulu.” ujar Eko berpamitan.


“Siap, makasih pak.” Febby menyahuti paling semangat.


Eko dan Jihan pun pergi. Tinggallah para pemain beserta crew film yang akan melakukan sesi reading.


“Gue permisi dulu, mau copy dulu dokumen.” Pamit Bella.


“Iya Bell,” Lisa dan Indra yang menyahuti. Mereka menatap Bella hingga gadis itu keluar ruangan.


“Itu pacarnya Bella kan?” bisik Indra pada Febby.


“Mantan, udah jadi mantan. Tapi gue juga gak tau putusnya kapan.” Sahut Febby, berbisik lirih.


“Lo tau Van?” berganti Devan yang di tanya Indra.


Laki-laki itu tidak menyahuti. Ia hanya menatap Rangga beberapa saat sebelum akhirnya, “Gue permisi sebentar.” Ujarnya, entah mau kemana. Yang jelas pikirannya sedang tidak di sini.


Melewati beberapa ruangan menuju tempat fotocopy-an, Bella mendengar suara sumbang yang sedang menggosipkannya.


Tidak bisa ia hindari, pada akhirnya semua orang tahu kalau Ia dan Rangga sudah putus. Rupanya cepat juga gossip siang tadi di dengar oleh 1 PH.


“8 Tahun anjir, dan ending-nya mereka putus. Nyesek gak tuh?” ujar salah satu wanita yang terdengar di departemen casting.


“Kalau gue sih, udah pasti bakalan nangis sebulan dan ngurung diri di kamar. Lah dia, masih santai aja dateng ke kantor dengan matanya yang sembab. Untung pake kacamata.” Timpal wanita lainnya.


Bella jadi memperbaiki posisi kacamatanya dan tertunduk melewati ruangan yang di lewatinya.


“Giilaaakk, sekarang malah satu ruangan sebagai script writer sama actor. Gue gak kebayang anjir gimana canggungnya.” Suara lain terdengar di Lorong. Beberapa orang sedang berkumpul di depan mesin minuman dingin sambil menunggu minuman yang di pilihnya keluar.


“Kalau gue pilih resign. Ya kali gue milih kerja di tempat yang udah gak kondusif. Lo tau gak produser kita tadi bilang apa?” tanya seorang perempuan lainnya.


“Apaan?!” tiga Wanita lainnya mendekat penuh penasaran.


“Sini gue bisikin.” Meminta teman-temannya mendekat.


“Dia gak peduli sama kualitas film, dia cuma peduli sama sisi komersil dari pemain. Wah kalau gue jadi Bella sih, gue bakalan ngamuk. Di pikir bikin script gampang? Eh ini malah d anggap gak penting.” Terang Wanita itu dengan menggebu-gebu.


“Waaahhh kasian juga yaa si Bella…” timpal tiga wanita lainnya bersamaan.


Kali ini pun Bella memilih pergi. Ia tidak ingin lagi mendengar gossip yang sedang beredar seperti bola panas ini.


Masuk ke ruangan fotocopy dan sayup-sayup ia mendengar obrolan beberapa orang di dalam.


“Haha, pinter emang tuh si Rangga.” Ucap sebuah suara laki-laki.


“Dia pinter manfaatin situasi man. Terkenal jalur sensasi. Tapi kalau di pikir-pikir, emang pilihan si Rangga bener. Ya mending Amara lah di banding si Bella. Secara tampang aja, menang Amara. Bella badannya terlalu berisi. Bukan standar gue.” Cerocos laki-laki itu panjang lebar.


“Krieeett..” Bella memberanikan diri membuka pintu ruangan foto copy. Ia harus memberanikan diri menghadapi setiap ucapan orang-orang di sekitarnya.


“Sorry, ganggu.” Lirih Bella dengan suara bergetar.


“Anjiiirr!!!” seru kedua laki-laki itu terhenyak kaget. Mereka tidak menyangka kalau yang masuk ke ruangan adalah wanita yang sedang mereka perbincangkan.


“Oh, silakan Bell. Gue udah selesai kok.” Dengan cepat ia mengambil beberapa lembar kertas yang keluar dari mesin fotocopy-an.


“Yuk bro!” ajaknya pada temannya yang masih mematung kaget di tempatnya.


“Dia denger gak ya tadi?” tanya laki-laki lain setengah berbisik.


“Gak tau anjir. Gue masih kaget.” Cepat-cepat mereka pergi keluar dari ruang fotocopy.


Ternyata seperti ini. Seharian ini Bella menjadi topik pembicaraan di kantornya. Dan sayangnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menghindar, ya menghindar seperti pengecut yang di anggap rendah oleh orang lain.


Entah mengapa tubuhnya jadi gemetaran. Ia membuka mesin penutup fotocopy dan terlihat kertas yang tadi di copy masih ada di sana. Ia mengambilnya dan menaruhnya dengan tangan gemetar. Jangan tanya hatinya, ia hanya bisa meringis tanpa bisa mengeluarkan air mata. Yang tersisa hanya sesak yang tidak bisa ia utarakan.


Memasukkan lembaran script ke dalam mesin foto copy, lantas ia menekan angka sejumlah eksemplar yang ia mau. Start, ia memulai untuk meng-copy dokumen. Sambil menunggu peng-copy-an selesai, ia terduduk di lantai, memeluk kedua kakinya yang ia lipat. Tatapannya nanar, memandangi debu-debu di lantai yang beterbangan tertiup hembusan angin dari AC.


Ia hanya ingin seperti ini. Terdiam seperti orang bodoh yang tidak melakukan apapun.


Devan benar, ia hanya bisa mengatur orang-orang yang ada di dalam script-nya tapi ia tidak bisa mengatur orang-orang yang ada di sekitarnya.


Getaran dari ponsel Bella terasa merambat di saku celananya. Bella mengeluarkan benda pipih tersebut dan tampaklah nama yang muncul adalah nama Inka. Bella menaruh ponselnya di lantai, memandangi nyala layar dengan wajah Inka sebagai personal identity di kontak itu. Matanya berkedip berat dengan kepala yang bertumpu pada kedua kakinya yang terlipat. Ia tidak ingin melakukan apapun termasuk menjawab telepon Inka. Otaknya terlalu enggan berpikir, menambah rumit isi kepala yang tidak pernah sepi.


Di tempat lain, Inka berjalan mondar-mandir ke sana ke mari. Beberapa kali menghubungi Bella namun tidak juga di jawab.


“Masih belum di angkat?” tanya Rony seraya menurunkan property yang di panggulnya.


“IIsshhh kemana sih nih anak. Bikin gue cemas aja!” dengus Inka dengan tidak tenang.


“Gue bilang apa, lo gak usah ikut. Lo percayain semuanya sama gue.”


“Udah, sekarang lo balik, temenin Bella. Nih kata anak-anak Bella lagi copy naskah.” Rony menunjukkan chat dari salah satu temannya di group para laki-laki.


“Ya udah, gue balik. Lo kabarin kalau ada apa-apa.” Dengan tergesa-gesa Inka memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Saat akan beranjak, Rony menahannya.


“Kenapa?” tanya Inka seraya memandangi tangannya yang di tahan Rony.


“Inget, Bella butuh di temenin. Bukan di hakimin.” Tegas Rony dengan sungguh-sungguh.


Inka hanya terdiam. Menengadahkan kepalanya untuk menghalau air mata yang tiba-tiba akan turun. Di sekanya bulir air mata yang lolos menetes. Ia tidak pernah menyangka Bella akan berada pada kondisi terrendah seperti ini.


Akhirnya Inka hanya terangguk, tanpa berkata-kata. Satu langkah di ambilnya seraya berbalik, saat ini ia harus menemui Bella.


******