
“SUKSES!!!” Seru seluruh crew film saat mereka melakukan first bumps sambil mengelilingi nasi tumpeng di tengah-tengah mereka.
Mereka tertawa bersama sambil mengangkat gelas masing-masing, bersulang merayakan hari dimana project film akan resmi di mulai.
Suasana ballroom pun berubah riuh oleh suara obrolan dan tawa penuh antusiasme. Banyak tetamu hadir selain crew film juga para sponsor dan media yang sengaja diundang untuk membantu promo film.
“Finally, project kita akan di mulai Bell.” Ungkap Eko seraya menatap Bella dengan penuh rasa syukur.
Terlihat kilatan semangat di mata Eko yang beberapa hari lalu terlihat sayu. Ia bisa tertidur nyenyak terlebih setelah Bella resmi menandatangani kontrak exclusive script yang ia buat dengan pihak PH.
“Iya pak. Semoga project bisa berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang baik.” Sahut Bella penuh harap.
Setelah beberapa tahun tidak merasakan euphoria menyambut project baru, kali ini ia bisa merasakan kembali semangat menggebu itu. Batu sandungan yang menghalangi jalannya satu per satu ia singkirkan dan Bella siap untuk mewujudkan mimpinya menjadi penulis yang profesional dan semakin di kenal banyak orang.
“Terima kasih banyak ya Bell,..” Eko menatap Bella penuh haru. Ia tidak menyangka Bella bersedia berbesar hati untuk bekerja sama secara professional dengan mantan kekasihnya dalam project ini.
“Sama-sama pak.” Hanya itu sahutan Bella lantas meneguk minuman yang ada di tangannya.
“Emm sebentar lagi kita ada press conferences, kamu udah siap?” pertanyaan Eko memang patut di tanyakan, mengingat Bella akan duduk sejajar dengan Rangga dan Amara.
“Baik pak, saya siap.” Dengan penuh keyakinan Bella mengangguk.
Eko memandangi gadis ini dengan laman. Tentu bukan hal mudah menangani situasi ini terlebih saat Amara, Rangga, Lisa dan Jihan menghampiri mereka.
Devan yang berdiri di kejauhan pun memperhatikan benar ekspresi Bella dan gesturenya. Ia sangat khawatir Bella tidak nyaman.
“Waaahhh… Pemain utama kita sudah sangat siap sepertinya.” Sambut Eko saat Amara dan Rangga menghampiri.
“Terima kasih pak Eko. Saya sangat senang akhirnya bisa benar-benar bergabung dalam film ini.” Ungkap Amara yang terangguk takzim.
Ia pun melirik Bella yang tampak tenang di samping Eko juga Rangga yang berusaha bersikap normal di hadapan mantan kekasihnya.
“Gimana kabar lo Bell?” tanya Amara berbasa basi.
“Baik Ra, sangat baik.” Bella mengangguk-angguk yakin atas jawabannya sendiri.
Tentu ia harus baik-baik saja saat menangani situasi ini.
“Saya harap, kita bisa bekerja sama dengan baik ya Bell… Perhatian penulis script terhadap pemain itu penting banget lo.” Jihan ikut berbicara.
“Tentu mba Jihan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.” Timpal Bella tanpa ragu.
Dari sudut matanya ia melirik Rangga yang menatapnya dengan ragu. Laki—laki ini masih saja membuatnya merasa gundah.
“Baguslah. Oh iya pak Eko, saya udah ngundang awak media special untuk film kita. Mereka akan fokus menunjukkan sisi komersil dari film yang kita garap. Salah satunya kedekatan antar pemain.” Jihan fokus berbicara pada Eko.
Rupanya kehidupan asmara dari pemain utama akan dijadikan sorotan untuk mendapatkan perhatian lebih dari calon penonton yang di targetkan.
Bella masih mendengarnya namun ia tidak terlalu tertarik untuk terlibat. Lihat saja Amara yang begitu antusias saat mengeluarkan idenya terkait sisi komersil yang akan di tampilkan.
Tinggal lah Rangga dan Bella yang saling mematung tanpa berani memulai pembicaraan. Rangga masih memandangi Bella yang beberapa hari lalu gagal ia temui di rumah sakit.
“Pasien tidak di kamarnya. Segera telepon keluarganya.” Ujar seorang perawat yang panik melihat ruangan Bella kosong sore itu.
Rangga memilih bersembunyi di sisi tiang ruangan sambil menyembunyikan wajahnya yang di tutupi topi.
“Bukannya ada CCTV? Coba putar CCTV nya.” Sahut perawat lainnya mencoba menenangkan.
Rangga semakin merekatkan tubuhnya ke sisi dinding sambil mencuri dengar. Sepertinya ia memang tidak bisa melihat Bella saat ini. Namun kemana perginya Bella?
“Gimana kabar kamu Bell?” tanya Rangga penasaran.
Wanita ini terlihat baik-baik saja berdiri di hadapannya. Tidak banyak yang berubah selain tubuhnya yang kurusan dan wajahnya yang terlihat berseri setelah di poles make up minimalis.
Bella yang sejak tadi pura-pura mengabaikan Rangga pun akhirnya menoleh. Dalam benaknya, seolah di ruangan seluas ini hanya ada dua orang yaitu ia dan Rangga. Lampu sorot mengarah padanya dan Rangga, dan laki-laki itu kini berbicara padanya.
“Baik, seperti yang kamu lihat.” Ujarnya lantas memalingkan wajah.
Di matanya, Rangga masih tetap sama. Tampan dan hangat sekalipun ia sudah melihat sisi lain Rangga yang membuatnya kecewa.
Bella memperhatikan, Rangga sudah tidak lagi memakai cincin couple mereka. Tangannya polos, hanya ada jam tangan branded yang kini melingkar di pergelangan tangannya. Penampilannya rapi dengan gaya semi formal dan wangi parfumnya tidak asing di hidung Bella. Rupanya setelah perpisahan mereka, Rangga tidak jauh berubah. Kenyataan saja yang berubah 180 derajat, membuat mereka menjadi asing untuk satu sama lain.
“Cincinnya udah aku lepas.” Ucap Rangga tiba-tiba. Ia tahu benar Bella sedang memperhatikan jari manisnya.
“OH?” Bella cukup terkejut.
“Bukannya emang udah gak harus di pake kan?” Cepat-cepat ia menyembunyikan tangan kirinya yang masih memakai cincin mereka. Kenapa ia sampai lupa untuk melepasnya?
“Kamu masih memakainya?” Terlambat, Rangga sudah melihatnya.
“Hem. Sebelumnya susah di lepas karena jari saya yang gemukan. Tapi sepertinya sekarang udah bisa.” Ia menyembunyikan tangannya yang mengepal di balik tubuhnya.
“Iya, kamu kurusan.” Sahut Rangga. Memandangi Bella dengan seksama.
Bella tidak lagi menanggapi. Ia memilih meneguk minumannya hingga habis. Berbicara sedikit saja dengan Rangga ternyata membuat kerongkongannya kering.
“Em, saya permisi. Mau,” ia asal menunjuk saja dan tepat pada Devan yang sedang memandanginya.
Ini bantuan dari tuhan, pikirnya.
“Menyiapkan konfrensi pers.” Lanjutnya.
“Hem, silakan.” Sahut Rangga. Ia ikut menatap ke arah Devan yang menaruh gelasnya. Seperti laki-laki tu sudah siap menyambut Bella.
Cepat-cepat Bella pergi menghampiri Devan. Di tempatnya Rangga masih memandangi Bella yang berlalu pergi dengan langkahnya yang buru-buru.
“Saya.” lirih Rangga seraya menghela nafas dalam. Bella bahkan sudah merubah panggilan dirinya.
Benarkah Bella sudah berubah seutuhnya?
*******
Kilatan lampu blitz kamera membuat silau seisi ruangan. Wartawan siap mengabadikan setiap moment terutama kedekatan para pemain. Pilihan sisi komersil yang di ambil Jihan benar-benar menjadi sorotan. Awak media begitu antusias merekam setiap gesture dan ekspresi Amara dan Rangga.
“Halo, saya Amara memerankan tokoh Minara.” Ujar Amara yang penuh percaya diri.
“Saya Rangga, memerankan tokoh Michael.” Sambung Rangga.
Wartawan pun langsung riuh melihat Amara dan Rangga yang secara sadar saling berpegangan tangan.
“Jadi kalian memang pasangan di dunia nyata juga ya?” seorang wartawan langsung bertanya.
“Eh ya ampun, maaf….” Amara pura-pura refleks melepaskan genggaman tangannya dari Rangga sambil tersipu malu. Secara sengaja ia melemparkan bahan komersil yang di setting Jihan.
“Iya, kalian beneran pacaran ya?” wartawan lain ikut penasaran bertanya.
“I-Iya…” sahut Amara seraya tersipu. Ia pun menutup sebagian wajahnya yang merona karena malu.
Dengan segera wartawan mengabadikan moment tersebut. Kilatan lampu blitz semakin semangat menyemarakan konfrensi pers ini.
“Genre filmnya apa nih? Spill dong sedikit.” Pinta wartawan lainnya.
“Ini film bergenre romantis dan pastinya mendebarkan dan bikin baper..” lagi Amara menyahutii dengan semangat.
“Cieee…. Cocok dong yaaa sama real life-nya?” seru wartawan menggoda Amara.
Amara hanya tersenyum malu lengkap dengan wajahnya yang memerah.
“Gue kok pengen pulang yaaa….” Lirih Inka yang berjongkok di pojokan di temani si kembar Roni dan Romi.
Ia sampai menitikkan air mata melihat Bella yang berusaha bertahan di tengah gempuran pertanyaan romantisme pemeran utama ini.
“Gilaaa!! Orang yang udah ngancurin mental orang lain, kok bisa ya sebahagia itu?” gumam Romi yang ikut kesal.
Melihat air muka Bella yang berusaha tenang dengan senyum tersungging malah membuat hatinya miris.
“Boleh gak sih gue narik Bella turun? Sakit hati gue bang.” Rengek Inka yang benar-benar menangis. Matanya sampai merah dan basah.
“Udeh lo diem di sini. Udah ada yang jagain dia tuh.” Tunjuk Roni pada Devan dengan sudut matanya.
“Jagain apaan, ngeliatin doang!” protes Inka.
“Akh susah ngomong sama cewek akhil baligh kayak lo!” dengus Roni.
Sepertinya hanya Roni dan Romi yang paham arti tatapan Devan pada Bella.
“Lagian si Bella kenapa diem aja sih?!” Rini ikut gremet melihat Bella yang hanya terdiam di tempatnya dan bercerita sedikit tentang film yang di tulisnya. Masih sempat-sempatnya gadis itu tersenyum walau tatapannya kosong.
“Emang lo ngarepin Bella ngapain? Ngamuk di situ? Apa ngambil pisau terus mau nusuk si Amara?” Tanya Romi, ikut kesal dengan komentar Rini.
“Ya ngapain kek! Ngomong gitu kalau si Rangga tuh sebenernya pacarnya dia yang di rebut sama si Amara! Dua tahun coba dia si selingkuhin terus tenang-tenang aja gitu duduk sebelahnya Amara. Kalau gue sih, udah gue jambak tuh rambut pirangnya si Amara!” Tangan Rini sampai mengepal kesal.
“Kalau mau jambak si Ara, lo gue bantuin Rin!” Inka langsung semangat.
“Eehhh ini cewek dua berisik amat yak! Diem lo pada! Lo mau wartawan denger ocehan lo berdua?!” Roni jadi kesal.
“Iissshhh..,, Ya habisss….. Si Bella bukan lagi syuting ku menangis, tapi kok diem mulu sih!” lagi Inka protes dengan sikap sahabatnya.
“Lo kagak ngerti ya!” Roni langsung mengulti.
“KAGAK!!! Makanya gue protes sama lo!!!!” Mata Inka langsung menyalak kesal.
“Ish, elu ya!” Roni jadi mengeram kesal pada Inka.
“Lo kagak liat Bella lagi usaha banget?” tanya Romi dengan tenang.
Tangan dan mulutnya sudah gatal sebenarnya ingin menyesap sebatang rokok, tapi ia masih ada tugas untuk memperhatikan Bella dari kejauhan.
“Dia lagi berusaha bersikap dewasa dan profesional. Bocah kayak lo mana ngerti!” imbuh Romi.
“Maksud?!” sahut Rini dan Inka bersamaan.
“Haisshh!!” Romi mendengus putus asa.
“Mana ada sih semut yang gak gigit kalau dia di injek!”
“Itu maksud gue!” Inka langsung memotong kalimat Romi.
“Ya makanya, si Bella bukan semut yang pikirannya kerdil!” Romi langsung nyolot.
“Dia masih berpikir panjang. Dia berusaha ngelindungin apa yang masih bisa dia lindungin.”
“Dua orang itu udah ngambil kesempatan buat ngancurin mentalnya Bella. Makanya kali ini dia gak akan ngasih kesempatan dua orang itu buat ngancurin harga diri dan script yang dia buat.”
“Kalau dia koar-koar Rangga adalah mantannya yang nyelingkuhin dia, yang ada dia bakal ngancurin film yang mau kita bikin. Orang-orang bakalan illfell duluan sama para pemain dan sisi komersil film bakalan hilang. Lo mau produksi kita gagal sebelum di mulai?” Romi menatap Inka dan Rini dengan tajam.
Dua gadis itu hanya menggeleng.
“Ya makanya diem! Bella lagi belajar ngadepin masalahnya. Kita cukup menyimak, kalau dia udah angkat tangan, keliatan butuh bantuan kita, baru kita maju. Paham kagak lo?!” tukas Romi.
Dan kali ini kedua gadis itu akhirnya diam. Mereka sama-sama berjongkok memandangi Bella dari kejauhan.
“Bell, lo bertahan yaaa…” lirih Inka yang kemudian bersandar di bahu Rini.
Rini hanya mengangguk saja. Semakin lama ia mengenal Bella semakin banyak hal yang kadang tidak ia pahami dari Wanita ini.
Benar adanya bahwa kita tidak bisa menilai sebuah buku dari sampulnya.
******