
Beberapa saat lalu
“Wiihh Mas Ozi, apa kabar? Lama gak ketemu. Gimana, udah sehat?” Sapa Roni yang baru kembali dari membeli kopi.
Di tangannya ia membawa secangkir kopi yang masih mengepulkan asapnya.
“Baik Ron, Alhamdulillah udah sehat. Lo apa kabar?” Ozi menjabat tangan Roni lantas menepuk bahunya akrab.
“Alhamduliilah baik juga. Sorry nih mas, waktu lo sakit gue gak sempet nengok lo.” Roni terlihat penuh sesal.
“Gak usah lo pikirin. Gue malah yang makasih, lo sama temen-temen di sini udah bantu gue, bersedia donorin darah kalian buat gue. Gue gak tau ngebalesnya harus gimana.” Ungkap Ozi dengan penuh haru.
“Ya ampun,, Gak usah di bales kali. Do’ain aja biar kita-kita selalu sehat. Mas Ozi juga cepet sehat, nanti kita mancing bareng lagi.”
Roni dan Ozi memang akrab sejak dulu, sejak pertama kali Bella bekerja di PH ini dan semakin akrab saat bergabung di departemen artistik. Ozi yang sering antar jemput Bella, membuat ia mengenal hampir sebagian besar karyawan di PH ini.
“Aamiin... Makasih Ron..”
“Sama-sama mas.”
“Ngomong-ngomong, lo mau ketemu Bella?”
“Dia masih d luar, sama Devan. Beuh, makin deket aja mereka, Mas. Kemaren aja datang ke kantor pegangan tangan. Gak tau dah, gak sengaja apa gimana...” cerocos Roni, laporan pada Ozi.
Ozi hanya tersenyum, rupanya Roni belum tahu kalau love bird itu sudah menikah.
“Bagus lah kalau Bella bisa deket sama laki-laki lain. Paling nggak gue tenang, karena berarti adek gue gak trauma sama cowok kan?”
“Hahaha iya bener. Gue liat Devan baik kok, cocok juga sama Bella, kalo ngobrol mereka nyambung, kayak satu pemahaman gitu. Ngobrolin apa aja pasti seru.” Cerocos Roni.
Ozi hanya tersenyum sambil sesekali mengangguk.
“Ngomong-ngomong, kalau Inka masuk gak hari ini?” Tiba-tiba saja Ozi bertanya tentang Inka.
“Oh, ada masuk. Mas Ozi mau ketemu?”
“Iyaaa... Ada perlu.”
“Ada kok anaknya. Tadi lagi di studio, nyiapin buat konser musik nanti malem. Soalnya bentar lagi artisnya pada GR.” Dengan polos Roni menerangkan.
“Studionya di sebelah mana?” Ozi jadi penasaran.
Entah seperti apa Inka saat sedang bekerja, dia hanya tahu kalau Adiknya dan Inka di kenal sebagai duo energic di PH ini.
“Mas Ozi lurus, nanti mentok belok kanan. Nah ada pintu keluar, masuknya dari situ. Pintunya depan-depanan sama backstage.” Terang Roni runtut.
“Okey, makasih yaa...” Ozi dengan semangat menepuk bahu Roni dan bergegas menemui Inka.
Tiba di pintu studio, Ozi mendengar suara keras seorang laki-laki dari dalam ruangan.
“Sekali lagi gue denger atau liat lo datang ke rumah gue, gue pastiin kaki lo gak akan bisa melangkah lagi kemanapun. Lo paham?” suara laki-laki yang menggema itu terdengar penuh intimidasi.
Mengingat Inka sedang berada di ruangan itu, Ozi segera masuk. Dan benar saja, ia melihat Inka sedang memohon pada seorang laki-laki berperawakan tinggi yang sedang menjambak rambutnya.
“Aku mohon…” Inka memohon dengan berurai air mata.
“Cuma papah satu-satunya yang aku punya, aku gak mungkin gak ketemu papah. Aku,”
“DIAM!” teriak laki-laki itu, membahana.
Laki-laki itu mengangkat tangannya ke udara. Ozi bisa melihat kalau ia akan melayangkan pukulan pada Inka. Secepat kilat ia berlari, melewati satu deret kursi, dan “Grap!”
Tangan laki-laki itu berhasil di tahannya.
Rasanya ia ingin mematahkan tangan laki-laki yang berani melayangkan tangannya pada Inka. Inka yang meringis kesakitan karena rambutnya di jambakpun hanya ia lirik dengan sudut matanya. Laki-laki macam apa yang di hadapi Inka, sungguh memancing emosi Ozi.
Di tangan Ozi, sudah memegang plester dan kapas serta obat luka. Ia membersihkan luka Inka dengan telaten dan pelan-pelan. Sementara Inka, ia masih melelehkan air mata di sudut matanya yang sipit. Bukan karena lukanya terlalu sakit tapi karena kejadian tadi begitu menakutkan baginya.
Kulit kepalanya masih merasakan perih karena jambakan Andra. Saat ia memejamkan mata, wajah garang dan mata menyalak Andra begitu jelas memenuhi semua lapang pandangnya dan membuat jantungnya berdebaran tidak karuan karena ketir.
“Lo suka olahraga gak?” Tanya Ozi di sela usahanya membubuhkan obat luka di telunjuk Inka dan membuat gadis itu meringis perih.
“Suka. Tapi udah lama nggak. Sssttt....” Sahut Inka sambil menahan perih.
“Teman gue ada yang ngajar taekwondo, besok gue daftarin. Lo bisa minta jadwal sesuai hari kosong lo.” Kali ini Ozi membungkus luka Inka dengan plester.
“Buat apa?” Perhatian Inka jadi teralihkan pada Ozi yang begitu tenang mengobatinya.
“Biar lo gak terluka kayak gini lagi. Jadi perempuan jangan terlalu pasrah, jangan kasih kesempatan buat orang lain menindas lo. Kalau di tindas ya lawan.” Iseng ia menyentil luka yang sudah ia balut dengan plester.
“Iisshhhh Mas Bima! Sakit tau!” Refleks Inka memukul bahu Ozi. Dan Ozi hanya terdiam tidak bergeming.
“Astaga! Maaf, aku gak ada maksud mukul Mas Bima. Tapi, tadi itu... Aku refleks.” Inka jadi mengigit telunjuknya kelu, merasa bersalah karena memukul Ozi.
“Pukulan lo bahkan gak akan bisa matiin nyamuk.” Ledek Ozi, walau sebenarnya pukulan Inka cukup keras dan menyakitkan.
“Dih, malah ngeledek.” Inka berdecik sebal.
Sejak tadi, ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk bersikap anggun dan manis di depan Ozi. Entah apa alasannya. Namun ia merasa kalau saat ini ia lebih nyaman bersikap apa adanya.
“Aku kan bukan gak berani ngelawan mas Andra, tapi karena aku menghormatinya.” Lirih Inka pelan, namun masih bisa di dengar Ozi.
“Merendahkan diri sendiri dan membiarkan orang lain mengintimidasi kita, bukan cara untuk menghormati orang lain.” Ozi menimpali dengan santai seraya membereskan obat-obatan yang semula ia pakai.
Mendengar ucapan Ozi, Inka jadi tertegun. Ia menoleh Ozi yang duduk di sampingnya dan tampak sibuk sendiri.
“Makasih banyak ya mas. Mas orang kedua yang belain aku setelah Bella.” Ungkapnya dengan mata berkaca-kaca, haru.
Ia memandangi jarinya yang berbalut plester, gulungannya yang rapi, lipatan ujungnya juga simetris, sungguh mencerminkan seorang Ozi yang apik. Inka jadi tersenyum sendiri, kekagumannya pada Ozi semakin bertambah.
“Gue memang pernah minta lo untuk berhenti ngejar gue, tapi gue gak pernah minta lo untuk berhenti nemuin gue, nyokap apalagi Bella. Lo gak perlu cari perhatian dengan cara apapun, lo biasa-biasa aja pun keluarga gue udah sayang sama lo.” Ucap Ozi setelah menyelesaikan pekerjaannya membereskan kotak obat.
Ia melirik Inka yang mengangguk pelan mendengar ucapannya. Bisa terlihat senyumnya yang terbit setelah mendengar ucapan Ozi. Perasaannya jauh lebih baik melihat gadis ini tersenyum.
Tidak sadar Ozi memandanginya, Inka menoleh laki-laki yang kini ada di sampingnya. Mereka bersitatap untuk beberapa saat dan tidak ingin melepaskan pandangan satu sama lain.
Inka dengan kekaguman pada laki-laki yang ia idolakan sejak dulu dan Ozi yang mulai mencemaskan gadis lemah di hadapannya.
“Kalau tante Saras sama Bella sayang sama aku, bisa gak Mas Bima juga sayang sama aku?” tanya Inka tanpa aba-aba.
Sorot matanya yang polos tampak berbinar dan membuat Ozi silau
“Ehm!” Ozi memilih memalingkan wajahnya, pertanyaan Inka membuat perasaannya tidak karuan.
“Maaf, kalau pertanyaan aku terkesan bodoh.” Inka ikut memalingkan wajahnya dan rasanya ia ingin menggali tanah untuk bersembunyi dari Ozi.
Tanpa menunggu lama, Inka segera berdiri.
“Terima kasih atas bantuannya. Aku permisi.” Pamitnya tiba-tiba. Ia tidak bisa berlama-lama bersama Ozi karena membuat perasaannya tidak karuan.
Antara senang dan malu bercampur menjadi satu.
Ia pun pergi meninggalkan Ozi tanpa menunggu sahutan laki-laki itu. Berlari kecil lalu bersembunyi di balik tiang untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
Ozi hanya tersenyum melihat tingkah Inka.
“Dasar bocah!” ucapnya, seraya mengusap dadanya yang tiba-tiba berdesir hangat dengan degub jantung yang bertambah cepat. Ada apa? Apa ia sakit?
*****