
Suara dering telepon saat ini menjadi musuh terbesar bagi Rangga. Dari tempatnya ia memandangi dengan frustasi ponselnya yang tidak berhenti berdering. Ia mengguyar rambutnya kasar lantas tertunduk seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
“AARRGGHH!!!” Berteriak seraya berdiri dengan tiba-tiba saat ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya.
Tangannya mengepal kuat dengan rahang yang berubah keras.
Berulang kali ia berpikir, semakin ia tidak mengerti apa yang sebenarnya di pikirkan Amara. Apa maksud wanita itu membagikan foto-fotonya bersama Bella dulu, jauh sebelum ia dan Amara menjalin hubungan.
Tidakkah ia takut kalau ini berakibat buruk bagi project yang sedang mereka kerjakan?
Perasaan di buru, sangat jelas di rasakan Rangga.
Para awak media terus menghubungi dan meminta janji temu untuk wawancara exclusive dengannya. Hingga saat ini Amara memang belum memberikan pernyataan apapun namun usahanya membagi foto ia dan Bella di masa lalu lewat orang lain, membuat Rangga kesulitan melangkah.
Citra buruk kini melekat pada dirinya sebagai laki-laki tidak tahu diri, panjat sosial dan tentu saja tukang selingkuh. Ia berada pada posisi sebagai laki-laki jahat yang menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya.
Selingkuh, memang pernah ia lakukan. Ia mengkhianati Bella dan memilih bermain api dengan Amara. Namun yang beredar saat ini, Bella lah yang menjadi selingkuhannya. Candaan gila macam apa ini?
Mengingat Bella, ia jadi ingin menghubungi gadis itu. Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja setelah di pojokan oleh orang-orang dunia maya?
Rangga hanya memandangi ponselnya. Ia membiarkannya berdering sampai kemudian berhenti dengan sendirinya.
Satu hal yang ia lakukan sekarang, ia pergi keluar dan mencari toko ponsel terdekat. Penampilannya sangat tertutup dengan topi, kacamata dan masker. Ia yakin, banyak orang yang akan mengenalinya sehingga ia memilih menutupi dirinya.
“Cari handphone apa kak?” tanya seorang pelayan toko ponsel yang Rangga datangi.
Rangga tidak menjawab, ia hanya menunjuk salah satu ponsel yang ada di etalase.
“Oh baik. Pembayarannya mau cash atau kredit?” Wanita itu mengambil ponsel yang di tunjuk Rangga namun perhatiannya tetap penuh selidik pada sosok yang berusaha menutupi dirinya itu.
“Kalau kredit kakak akan mendapatkan cash back dan hadiah menarik. Kami juga,”
“Tuk tuk!” Rangga mengetuk kaca etalase, tempat ia menaruh kartu debit-nya di sana.
Usaha wanita itu untuk memperpanjang percakapanpun terhenti.
“Baik kak, di tunggu sebentar saya buatkan dulu invoice-nya.” Ucap wanita itu.
Ia menghampiri salah satu temannya dan berbisik lirih.
“Liat deh orang yang pake topi, masker dan kacamata itu. Kok mencurigakan banget ya?” bisik gadis itu.
“Kenapa emang, dia ngancam kamu?” Rekannya ikut memberikan perhatian.
“Nggak, cuma dia bener-bener tertutup.”
“Ada gelagat mau ngerampok gak?”
“Ya udah, layani aja dulu. Ada petugas keamanan di depan yang akan aku suruh bersiap-siap kalau ada gelagat dia mau kabur.”
“Oh ya udaah. Aku kasihin dulu invoice ini.” Pelayan itu kembali menghampiri Rangga dengan takut-takut.
“Ini ya kak, invoice-nya. Saya izin pake kartu debit-nya yaaa.” Ia mengambil kartu debit Rangga dari atas etalase dan Rangga hanya mengangguk.
Transaksi di lakukan dan Rangga menyelesaikannya dengan cepat. Ia ingin segera pergi dari sini, ia tahu kalau seisi ruangan ini memperhatikannya.
“Transaksinya sudah selesai ya kak dan ini kartu debit kakak.”
“Kami juga memberikan kartu garansi, jadi kalau ada masalah dengan ponselnya kakak bisa kembali lagi ke sini.”
“Kartu garansinya mau di tulis atas nama siapa?”
“Tidak perlu.” Hanya itu sahutan Rangga.
Ia mengambil ponsel dan kartu debit-nya dengan cepat. Lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
“Ba-baik kak…” Gadis itu terduduk lesu. Suara Rangga benar-benar membuatnya terhenyak kaget.
“Kenapa?” Beberapa temannya langsung menghampiri.
“Dia penjahat apa mafia? Kok tertutup banget?” salah satu wanita ikut penasaran dan bertanya.
“Nggak tau. Tapi dari suaranya aku yakin dia ganteng banget. Jantung aku sampe lemes.”
“Oh yaaa… Duh aku jadi penasaran. Nanti liat di CCTV akh.” Mereka bahkan terpesona pada sosok misterius yang sudah pergi itu.
Kembali ke apartemen dan Rangga sudah membeli ponsel baru lengkap dengan sim card-nya. Tidak perlu waktu lama sampai kemudian ia bisa menggunakan ponsel itu. Satu nomor langsung ia hubungi, nomor yang selalu tersimpan kuat di ingatannya.
“Hayoowww, *B*ella’s speaking!”
“Mohon maaf, gue gak lagi di tempat. Kalau ada pesan, silakan tinggalkan di kotak pesan setelah bunyi beep. Have a nice day…”
Begitu suara mesin penjawab yang akhirnya membuat Rangga tertunduk lesu. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa lantas menengadahkan kepalanya menatap ke langit-langit rumahnya.
“Kamu dimana Bell?” gumam Rangga dengan tidak karuan.
Sungguh, ia sangat mencemaskan Bella saat ini.
*****