Bella's Script

Bella's Script
Viral



Bella sudah berjalan lebih dulu menuju studio dan meninggalkan Devan yang masih berteriak memanggil namanya. Gadis itu tersenyum sendiri melihat tingkah Devan yang seperti anak kecil.


"Belll!! Tunggu Bell!! Kaki gue kram gak bisa jalan." Teriak Devan, namun Bella hanya menggelengkan kepala seraya menoleh ke belakang. Laki-laki itu sudah di pintu dan mengusap satu kakinya yang katanya kram.


"Nanti gue obatin. Turun dulu aja." Sahut Bella yaang tersenyum meledek. Ia yakin Devan sedang berpura-pura.


Devan tidak langsung turun, ia membiarkan dahulu kram kakinya mereda. Ia memang tidak sedang bercanda. Saat tadi tiba-tiba Bella keluar dari mobil, rupanya kakinya kaget dan terhentak hingga akhirnya kram. Nasib... karena kejahilannya Bella jadi mengabaikannya. Ia jadi menyesal sudah mengerjai Bella.


Setelah merasa lebih baik, Devan segera turun dan menyusul Bella. Ia memperlebar langkahnya agar bisa mengimbangi langkah Bella. Beberapa kali Bella menoleh Devan yang berusaha menyusulnya agar mereka tidak tiba bersamaan. Salah satu cara agar crew tidak melihat perbedaan sikap mereka saat ini adalah dengan menjaga jarak. Begitu pikir Bella.


Dari cara Bella berjalan, Devan mengerti benar maksud kekasihnya. Semula ia ingin menolak permintaan Bella untuk menyembunyikan sementara hubungan mereka namun ia juga tidak mau membuat Bella merasa terbebani.


"Bell. gue beneran kram loh Bell. Sakit banget..." Rengek Devan saat sudah berada di samping Bella.


"Oh ya? Uuuu... Kaciaann...  Gue kira lo becanda. Sorry yaaa..." Bella mengusap lengan Devan yang ada di sampingnya.


"Hehehe iyaa.. Sekarang udah baikan kok. Jadi lo gak usah khawatir." Sahut Devan yang tersipu malu.


Bella hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan senyum saat melihat Devan yang sepertinya salah tingkah. Ia pikir Devan hanya bercanda tapi ternyata Devan tidak berpura-pura. Kasihan juga menurutnya. Tapi salahnya sendiri suka menjahili Bella.


Tiba di dalam studio, suasana tegang langsung terasa. Beberapa orang menoleh saat melihat kedatangan Bella bersama Devan. Entah apa yang mereka perbincangkan sampai kemudian cepat-cepat mereka menyembunyikan ponselnya saat Bella mendekat.


“Hay, pagi Rin.” Sapa Bella pada Rini yang terlihat tegang menatap Bella.


Bella sengaja menghampiri Rini yang berusaha menghindar darinya.


“Pagi Bell.. Van..” Cepat-cepat Rini memasukkan ponselnya ke dalam saku.


“Lo kenapa?” Wajah Rini terlihat tegang.


Sambil menaruh barang-barangnya, Bella tidak henti memperhatikan Rini.


“Em, nggak.. Ini..” Rini tampak gelagapan tidak jelas.


“Lo kenapa sih?” Bella semakin penasaran dengan sikap Rini. Ia juga melihat tatapan orang-orang di sekitar yang diam-diam memperhatikan Bella, entah karena apa.


“BELL!!!” Seru sebuah suara yang sangat di kenal Bella yaitu Roni.


Ia terengah-engah setelah berlari bersama Inka, entah dari mana.


“Hay. Ada apa sih, kok sampe lari-lari segala? Nih orang-orang juga kenapa ngeliatin gue gini amat?” Bella memandangi kedua orang di hadapannya yang terengah-engah.


Ia juga melirik Devan dan laki-laki itu hanya menggelengkan kepala perlahan, memberi isyarat pada Bella kalau ia pun tidak tahu apa yang terjadi.


“Lo udah ngasih tau Bella Rin?” Tanya Inka dengan sisa nafasnya yang masih terengah.


Rini menggeleng pelan. Ia menatap Bella dengan cemas.


“Lo ada apa sih Rin?” Bella semakin penasaran. Wajah Rini semakin pucat.


Rini tidak bergeming dan memilih diam. Kalau saja ia tidak memberitahu teman-temannya yang lain, mungkin tidak akan ada suasana yang setegang ini.


“Lo gimana sih, gue kan udah bilang, kalau lo peduli sama Bella, lo harus ngasih tau dia.” Adalah Roni yang kemudian tiba-tiba menyodorkan ponselnya pada Bella.


Devan segera mendekat dan ikut melihat sebuah video yang ada di layar ponsel Roni.


Bella menekan tombol putar dan video itu pun mulai berputar.


“Gue gak tau siapa yang nyebar video itu, tapi baru beberapa menit lalu, udah viral aja.” Ujar Roni.


Setelah beberapa detik, Bella baru tahu kalau video yang di putar di salah satu reels  akun sosial media ini adalah behind the scene syuting film. Tepatnya saat Bella beradu acting dengan Rangga.


Tidak ada yang salah sebenarnya dengan video itu namun karena di ambil dari sudut yang tepat dengan menampilkan wajah Amara yang terlihat sedih sedang duduk menyendiri di salah satu sudut, membuat banyak orang mengomentari video tersebut.


Bella iseng membaca komentar netizen di reels tersebut dan banyak orang yang tanpa ragu menuliskan kalimat ujaran kebencian untuknya.


“Hah, king selingkuh? Itu selingkuhannya?”


“Astaga, wanita sesempurna queen di selingkuhin dong… Gilak ini cewek. Berani banget mau ngerebut king.”


“Pelakoorrr, gateeell…”


“Cantik sih, tapi gatel.”


Dan banyak komentar negative lainnya yang menyudutkan Bella hingga membuat Devan terpaksa mengambil ponsel itu dari tangan Bella.


“Siapa yang nyebar video ini?” Tanya Devan kemudian.


Ia tidak terima Bella di sudutkan karena video yang tersebar ini.


“Gue gak tau. Tadi pagi tiba-tiba ada akun yang upload video ini. Gak lama dari situ fansnya Amara langsung pada nge-repost dan sekarang viral.” Terang Rini yang terbata-bata.


“Astaga…” Desis Bella seraya mengusap wajahnya.


Ia tidak menyangka kalau kini keadaan berbalik. Ia berada pada posisi seolah ia merebut Rangga dari Amara dan Amara yang tersakiti karena kelakuannya. Tidak sedikit yang menghina dan mengecam Bella karena tersebarnya video tersebut.


“Ara dimana?” Tanya Bella kemudian. Menurutnya hanya Amara yang bisa menghentikan video ini. Netizen pasti tidak tahu kalau video ini hanya BTS saat syuting, bukan adegan yang sebenarnya.


“Dari pagi dia belum dateng Bell. Gue udah nanya mba Lisa sama Rangga tapi, mereka juga gak tau. Katanya susah di hubungi.” Inka melirik Lisa yang sedang mondar-mandir dengan ponsel di tangannya. Wajahnya terlihat tegang bercampur kesal.


“Bell!” Panggil Inka namun Bella tidak menanggapi. Ia memilih mengabaikan panggilan Inka dan tetap menemui Lisa dan Rangga yang terlihat bingung.


Devan segera menyusul Bella dan berjalan di samping Bella. Ia belum tahu rencana Bella seperti apa, untuk saat ini ia hanya bisa mengikuti langkah Bella.


Sesekali ia menoleh Bella dengan cemas. Bella dengan ekspresinya yang dingin dan marah membuatnya sangat khawatir. Ingin rasanya ia meraih tangan Bella dan menggenggamnya dengan erat untuk menguatkan gadis ini namun semua tatapan tertuju pada Bella, Devan hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan marah yang menggebu di dadanya.


“Bell..” Sambut Lisa saat Bella muncul di hadapannya. Ia tersenyum kelu, membaca dengan jelas arti ekspresi wajah Bella.


“Sorry, gue belum bisa hubungin Ara. Hpnya gak aktif sejak semalam.” Terang Lisa tanpa diminta.


“Lo pegang akun medsosnya?” Tanya Bella dengan tegas.


“Nggak. Dia gak ngasih akunnya ke gue. Sorry Bell, tapi gue rasa bukan Ara yang upload videonya. Last scene medsosnya aja 12 jam lalu, sementara videonya baru nyebar beberapa menit lalu. Jadi, gue yakin ini bukan gara-gara Ara.” Terang Lisa dengan bersungguh-sungguh.


Bella hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia mengguyar rambutnya kesal lalu mengacaknya pelan. Pikirannya mulai tidak karuan gara-gara video itu. Ia sangat takut kalau tiba-tiba Saras dan Ozi tahu tentang masalah ini. Terutama bullyan yang Bella terima dari netizen yang tidak tahu keberanannya.


Lalu, entah apa yang harus ia lakukan sekarang dengan keadaan seperti ini.


“Sorry Bell…” Rangga mendekat pada Bella, membuat Devan memandangi laki-laki itu dengan waspada.


“Gara-gara bantu aku, kamu jadi kena masalah.” Ungkap Rangga penuh sesal.


Tangannya terangkat hendak menyentuh Bella namun dengan cepat Devan menahan tangan Rangga.


Rangga tampak kaget dengan respon Devan dan Devan yang tampak tenang saja.


“Bella ngebantu lo secara professional, tidak perlu meresponnya secara pribadi.” Ujar Devan dengan tegas.


Bella jadi menoleh Devan yang menahan tangan Rangga. Kekasihnya benar-benar tidak mengizinkan Rangga menyentuhnya. Dan entah mengapa ia merasa kalau Devan sedang benar-benar melindunginya.


“Kita temuin cameramen. Kita tanya siapa yang minta video mentahan dari kamera utama.” Ujar Devan.


Bella hanya terangguk. Ia menurut saja saat tangan Devan menarik tangannya. Ia memandangi tangannya yang di genggam Devan dengan erat seolah menegaskan kalau ia tidak perlu khawatir karena ia tidak sendirian.


Dan tidak lama, Bella mentautkan jemarinya di antara sela jari Devan. Ia tidak lagi peduli dengan pendapat orang-orang di sekitar mereka, yang menatap keduanya dengan penuh keterkejutan terutama Rangga. Mereka berjalan lurus menuju cameramen.


Di tempat berbeda, Amara tengah terduduk di ruang tunggu sebuah ruangan pemeriksaan. Baru beberapa saat lalu ia keluar dari ruang pemeriksaan bertuliskan dokter spesialis obstetric dan gynecology.


Di tangannya ia menggenggam sebuah gambar hitam putih yang tidak lain adalah hasil USG. Ingatan akan kejadian di ruang pemeriksaan kembali terulang.


“Selamat, anda telah menjadi seorang ibu.” Kalimat yang diucapkan dokter wanita itu membuat Amara terdiam beberapa saat. Ia masih berusaha mencerna kalimat wanita yang kini memandanginya dengan penuh syukur.


“Usianya sekitar 13 minggu. Kondisi janin sangat sehat dan aktif. Detak jantungnya juga sudah bisa di dengar. Ibu mau dengar?” Tawar dokter.


Amara tidak menjawab, hanya air mata yang menetes di sudut matanya.


“Dub dub dub dub dub…” Suara mirip suara langkah kaki kuda itu bergema di rongga kepala Amara, terus berputar seperti kaset kusut yang tidak menemui ujungnya. Semakin lama, suara itu terasa semakin mengintimidasinya.


Amara mulai menutup kedua telinganya dengan jemarinya yang gemetar. Suara itu terlalu keras berdengung di telinganya. Kedua jari telunjuknya menutup lubang telinga, namun Amara masih dengan jelas mendengarnya.


Ia semakin gemetar. Dengan telapak tangannya kini ia menutupi kuat-kuat lubang telinganya, namun suara itu semakin terdengar.


“Nggak,, nggak.. tolong diam.” Lirih Amara yang gemetar sambil membungkukan badannya. Ia mulai menangis panik. Beragam bayangan menakutkan muncul di benaknya.


13 minggu, bukan usia yang muda untuk sebuah kehamilan.


“Saya mau menggugurkan kandungan saya.” Ujar Amara beberapa saat lalu pada sang dokter.


Ia berbicara dengan tegas dan matanya tampak merah serta berair.


Dokter itu segera menaruh transduser di tangannya dan melap permukaan perut Amara yang di penuhi gel dingin.


“Anak ini sudah bernyawa bu.” Ujar sang dokter yang memilih kembali ke mejanya. Tapi sepertinya ucapan dokter tidak mampu menggetarkan hati Amara.


“Usianya juga sudah melewati trimester I. Sangat berresiko apabila kehamilannya ingin di akhiri.” Terang dokter seraya menuliskan hasil pemeriksaan di medical record Amara.


Amara segera bangkit dan duduk di tepian bed pemeriksaan.


“Ini keputusan saya. saya yang bertanggung jawab atas diri saya sendiri.” Tegas Amara.


Dokter itu hanya tersenyum. Ia tidak menanggapi ujaran Amara meski Amara menghampirinya ke meja dan duduk di hadapannya. Dokter bisa melihat wajah putus asa Amara, namun membunuh janin yang tidak bersalah tidak pernah bisa ia lakukan.


Ia lebih memilih memberikan hasil USG dan resep vitamin kehamilan.


“Mohon maaf, saya tidak bisa membantu ibu.” Tegas dokter itu.


Dan saat ini Amara hanya bisa menangis di tempatnya. Ia menangis sesegukan memikirkan kondisinya saat ini.


Diusapnya perut bawah yang sudah tidak lagi rata, lantas ia remas dengan kesal. Andai saja ia bisa mengakhiri sendiri kehamilannya, maka ia akan melakukannya.


*****


Lanjut?


Jangan lupa, 4 sehat 5 sempurnanya yaaa...


Terima kasih