Bella's Script

Bella's Script
Didekatkan



Malam itu Ozi sudah berada di ruang perawatan biasa. Keluarga sudah diberikan kebebasan untuk menemani pasien.


Walau kondisinya masih lemah, secara keseluruhan kondisi Ozi menunjukkan perbaikan. Ia sudah bisa duduk bersandar walau tidak terlalu tinggi. Ia pun bisa menggerakkan kedua kakinya seperti biasa. Ketakutan yang selama ini di khawatirkan Ozi ternyata tidak terbukti. Ia bisa kembali pulih seperti sedia kala. Hanya perlu menunggu waktu saja.


“Abang mau makan?” tawar Saras seraya mendekatkan makanan di atas meja.


“Nggak mah, abang masih kenyang.” Tolak Ozi, setelah lebih dari 36 jam di puasakan, sekarang perut Ozi masih belum merasa nyaman.


“Mas Bima harus banyak makan, biar cepet sehat dan kuat lagi.” Inka ikut menimpali.


“Inka benar, abang perlu banyak makan. Saat ini abang mengkonsumsi obat-obatan dengan dosis tinggi, perutnya harus di isi biar gak naik asam lambungnya.” Bujuk Saras.


“Mau aku suapin gak?” Dengan senang hati Inka menawarkan diri.


“Nggak usah. Nanti kalau laper abang juga minta makan mah.” Tutur Ozi dengan tenang. Ia melirik Inka yang tampak kecewa karena ia menolak tawarannya.


“Ya udah, abang coba untuk istirahat, supaya tenaga abang cepet kembali pulih. Kata dokter, besok abang bisa belajar bangun. Jadi kumpulin dulu tenaganya buat besok.” Saras menarikkan selimut hingga ke batas perut Ozi dan Ozi hanya bisa patuh.


“Adek dimana mah?” sedari tadi ia tidak melihat keberadaan Bella di dekatnya.


“Lagi nelpon di luar, tadi kayaknya Devan nelpon deh. Maklum pengantin baru, pasti pengen banget saling terus bertukar kabar.”


“Emang Devan belum pulang?”


“Belum.. Tadi bilangnya masih di jalan sama temen-temennya. Paling bentar lagi juga nyampe.”


Ozi terangguk paham, ia mencoba memejamkan mata. Namun ia sempatkan untuk melirik Inka yang duduk dengan kikuk di sofa sambil memandangi Ozi. Saat pandangan mereka bertemu, Inka pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal sedari tidak di sentuhnya ponsel itu. Rupanya gadis itu salah tingkah.


Harus Ozi akui, ia mulai terbiasa dengan keberadaan Inka di sekitarnya. Melihat kondisi tubuhnya yang membaik, ketakutannya berangsur berkurang. Namun ia masih bertanya-tanya, benarkah Inka akan menunggunya?


“Abang kok ngelamun?” Rupanya Saras memperhatikan sang putra. Ia pun melirik Inka yang duduk kaku di tempatnya.


“Iya mah, abang mau tidur. Mamah sama Inka makan dulu. Jangan sampe ikutan sakit.” Kali ini tidak hanya Saras yang ia cemaskan, melainkan juga Inka.


“Ya udah, mamah ke depan sebentar yaa.. Abang di temenin Inka dulu.”


“Tante mau kemana? Kalau ada yang mau di beli biar Inka aja yang beli.”Inka segera menawarkan diri. Ia belum terbiasa kalau harus berduaan dengan Ozi di ruangan ini. Pasti akan sangat canggung.


“Gak usah. Tante ada urusan sebentar ke bagian administrasi, nggak lama kok. Inka tolong temenin Ozi dulu yaa...”


“Duduk di sini, biar Ozi gampang kalau memerlukan bantuan Inka.” Saras menggeser tubuh Inka berpindah ke samping bed Ozi.


“Oh iya tante.” Inka hanya bisa menyetujuinya. Walau kikuk, akhirnya ia duduk di kursi yang ada di samping Ozi.


“Okey, tante tinggal yaa...” Saras membawa dompet dan ponselnya sebelum pergi.


Ada senyum terkembang saat Saras menutup pintu dan melihat Inka duduk di samping putranya. Mereka tampak canggung tapi menggemaskan menurut Saras.


*****


"Mas Bima perlu sesuatu?" Tawar Inka setelah mereka berlama-lama saling terdiam.


Hanya suara televisi yang menampilkan tayangan film Mr Bean yang mengisi keheningan.


"Boleh tolong naikin bantal gue?" Pinta Ozi. Sejak tadi Ozi tampak tidak nyaman dengan posisinya.


"Oh iya." Inka segera berdiri. Mendekat pada Ozi .


Di lingkarkannya tangan kiri di tubuh Ozi seperti hendak merangkulnya lalu perlahan sedikit demi sedikit mengangkat tubuhnya.


"Awh." Ozi sedikit mengaduh saat tiba-tiba rasa pusing membuat ia harus berpegangan pada lengan Inka.


"Gak apa-apa, cuma pusing aja." Ozi memegangi kepalanya yang berdenyut pusing.


"Oh iya, sebentar, aku benerin dulu bantalnya, biar mas Bima lebih nyaman." Dengan cepat ia memindahkan bantal lebih atas, agar Ozi bisa nyaman bersandar.


Beruntung ia sudah terbiasa mengurus sang ayah, sehingga begitu telaten mengurus Ozi.


Ozi menarik tubuhnya sedikit naik dan bersandar dengan nyaman.


"Gimana, udah lebih enak?" Tanya Inka seraya menatap Ozi. Ia tidak sadar kalau tangannya masih melingkar memeluk menahan punggung Ozi.


Pandangan keduanya bertemu untuk beberapa saat membuat pipi mereka merona dengan sendirinya.


"Sudah, terima kasih." Sahut Ozi. Ia segera memalingkan wajahnya dari Inka. Jantungnya jadi berdebar kencang dan kepalanya mendadak ringan untuk beberapa saat.


"Em, iya sama-sama." Mendadak Inka kembali kikuk. Ia duduk di samping Ozi dan menonton kembali film Mr Bean.


Sesekali Ozi melirik Inka dan gadis itu tampak fokus saja pada tayangan di depannya walau ia tidak yakin kalau Inka benar-benar menyimak.


"Lo gak pulang?" Tanya Ozi tiba-tiba.


Senyum Inka saat melihat tingkah kocak Mr Bean pun lantas hilang. Ia menoleh Ozi yang menatapnya dingin.


"Apa mas Bima merasa terganggu ada aku di sini?" Inka balik bertanya.


Ozi menggeleng, ia ikut memandangi tampilan di layar televisi.


"Lo anak perempuan, bokap lo juga lagi gak sehat. Mungkin beliau lebih butuh lo di banding gue." Ozi tidak berani menatap wajah Inka yang terlihat kecewa dengan pertanyaannya.


Sedetik kemudian Inka tersenyum. "Makasih udah mencemaskan papahku." Ucapnya dengan penuh kesungguhan.


Ia melihat jam di tangannya, sudah jam 8 malam.


Sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi, hembusan nafasnya terdengar berat.


"Papah punya 4 orang anak, tiga di antaranya adalah laki-laki. Mereka semua, lebih suka aku tidak ada di rumah itu. Kalau aku ada di rumah, aku hanya akan menjadi bahan pertengkaran antara papah dengan kakak-kakakku."


"Lagi pula, papah di rawat dengan baik oleh suster di rumah. Jadi, Mas Bima gak perlu khawatir, tidak akan ada yang mencariku dan memperdulikan keberadaanku." Inka tersenyum kecut di ujung kalimatnya.


Ya, ia berusaha tersenyum pada laki-laki yang tengah memandanginya dari samping. Air mukanya yang ceria mendadak terlihat sendu walau ia berusaha tersenyum. Menyakitkan mengakui hal seperti ini di hadapan orang lain.


"Kadang, aku sangat iri sama Bella. Dia memiliki seorang ibu seperti tante Saras, yang begitu menyayanginya. Ada mas Bima yang selalu berusaha menjaga dan memastikan Bella baik-baik saja. Ada juga Ibra yang begitu melindungi Bella. Dan sekarang, bertambah Devan, laki-laki yang begitu mencintainya."


Inka menghela nafasnya dalam kemudian menghembuskannya pelan. Ada rasa mengganjal di dadanya yang membuat nafasnya terasa berat dan sesak.


"Sayangnya, tidak semua anak perempuan seberuntung Bella, mas. Dan aku salah satunya." Kalimat Inka terdengar pedih. Matanya terlihat berkaca-kaca namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak menangis.


"Maaf, kalau selama ini mas Bima merasa risih sama kehadiran aku. Wajar kalau mas Bima merasa terganggu karena aku terus berusaha mencari perhatian mas Bima."


"Tapi, sekalipun mas Bima tidak memiliki perasaan apapun buat aku, tolong jangan suruh aku pergi."


"Aku ingin sedikit saja merasakan memiliki rumah seperti halnya Bella. Ibu yang menasihati seperti tante Saras dan orang-orang yang bisa aku panggil sebagai saudara."


"Aku harap, permintaanku tidak berlebihan." Suara Inka terdengar bergetar. Ia berusaha menelan salivanya yang mencekat nafasnya.


Mendengar ucapan Inka, Ozi hanya terdiam. Beberapa saat ia menatap sepasang mata sipit yang terlihat berkaca-kaca. Bibirnya berusaha tersenyum walau Ozi tahu itu sulit. Saat ini, mereka hanya saling terdiam. Inka tetap dengan usahanya sedikit egois ingin tetap berada di dekat keluarga Bella dan Ozi tetap dengan usahanya memahami perasaan Inka.


Tunggu, benarkah ia sedang mencoba memahami?


*****