
Beberapa jam lalu
“Aku kayaknya nginep di kantor yang. Kamu lagi apa? How’s your day?” pesan itu yang saat ini sedang di pandangi Rangga di layar ponselnya.
Suara hingar di studio musiknya tidak bisa memecah konsentrasinya pada pesan yang di kirim Bella sore tadi.
“Kamu tidur terus di kantor, kenapa gak nginep di hotel aja? Atau mau aku jemput, kamu nginep di sini?” balasnya. Ia khawatir juga dengan kondisi kesehatan Bella kalau terus seperti ini.
“Gak apa-apa sayang, aku lebih nyaman di kantor. Aku bisa fokus sama kerjaan, maklum di kejar deadline. Hehehe...” Tidak lupa Bella menyematkan emot senyum di ujung kalimatnya.
“Kamu berantem lagi sama abang?” terka Rangga.
“Kenapa bisa mikir gitu?” Bella membalas dengan sangat cepat. Masih di menit yang sama dengan pesan yang ia kirim. Seperti membenarkan pertanyaan Rangga.
“Ya karena kamu milih tempat yang netral. Nggak di rumah dan nggak mau di tempatku. Apalagi kalau bukan gara-gara berantem sama abang.” Terang Rangga.
Lebih dari 8 tahun bersama Bella, tentu ia tahu benar kebiasaan kekasihnya. Saat ada masalah, Bella selalu memilih tempat yang netral. Dan kantor adalah tempat yang netral baginya. Selain itu, ia pasti tengah memikirkan cara yang tepat untuk membicarakan masalahnya dengan Rangga. Rangga hanya perlu menunggu Bella menemukan waktu dan cara yang tepat untuk membicarakan masalahnya.
“Hehehee…"
"Semua baik-baik aja kok. Wajar kan kalau seorang abang sama adeknya berantem. Namanya juga keluarga, pasti mengkhawatirkan satu sama lain…"
"Btw, kamu udah makan yang?”
Pesan kali ini tidak di balas Rangga. Ia hanya membacanya lalu mematikan layar ponselnya. Pikirannya sudah bisa menduga alasan Bella dan Ozi bertengkar. Di usapnya wajahnya dengan kasar, rasanya sangat kesal jika dugaannya benar.
“Hey, kenapa? Kayaknya suntuk banget?!” suara Amara yang terdengar kemudian. Ia baru datang dengan membawa beberapa botol minuman bersoda favorit ia dan teman-teman band-nya.
“Gak apa-apa.” Sahut Rangga malas. Ia menaruh ponsel di samping tubuhnya dan dengan cepat Amara mengambilnya.
Membaca pesan yang di kirim Bella dan di balas Rangga, lantas bibirnya tersenyum kecil.
“Mau jalan ke luar?” ajaknya. Ia membenamkan ponsel Rangga di tangannya.
“Nggak dulu Ra. Lagi males.” Sahut Rangga.
“Jangan males-males gitu ah. Kamu perlu refreshing!” di tariknya tangan Rangga agar bangkit dari tempatnya duduk.
“Ayooo Ranggaaaa, kamu berat iihhh… Buruan berdiri…” Amara merengek manja. Ia berusaha menarik tangan Rangga namun malah terjatuh di samping Rangga. Tepatnya di bahu kiri Rangga.
“Ups, sorry.” Lirihnya dengan senyum tipis seraya menggigit bibir tipisnya.
Untuk beberapa saat meraka saling bertatapan sebelum akhirnya Amara tersenyum dan bibir mungilnya bersuara, “You okey?”
Rangga hanya memalingkan wajahnya. Ia mengusap wajahnya kasar dan segera bangkit dari duduknya tanpa menjawab pertanyaan Amara. Amara mengulum senyum kecilnya yang tertahan. Ia yakin Rangga tidak akan menolak.
“Gue keluar bentar.” Seru Rangga pada teman-temannya yang sedang berlatih. Ia memang perlu udara segar.
Hanya Niko yang menoleh dan melihat Rangga berjalan di tarik oleh Amara. Ia menggelengkan kepala tanpa ekspresi lantas kembali memetik snar gitar elektriknya dengan semangat seolah tengah mengeluarkan unek-uneknya.
Mobil Amara melaju kencang keluar dari halaman studio dan berbaur dengan kendaraan lainnya. Di balik kemudi, sesekali Amara memperhatikan Rangga yang asyik melihat pemandangan di luar kaca jendela.
“Bang Ozi kayaknya tau kalau Bella nyusul kamu ke Surabaya.” Suaranya memecah keheningan di antara mereka.
Rangga hanya menoleh sejenak sebelum kembali memandang keluar jendela. Tidak aneh menurutnya. Setiap yang Bella lakukan, sudah pasti Ozi akan tahu.
“Aku gak sengaja post foto kita waktu di bandara dan aku lupa private itu dari bang Ozi. Sorry….” Lanjutnya dengan penuh sesal.
"Bella juga kayaknya kesel sama aku gara-gara postingan aku itu. Padahal itu kan salah dia sendiri gak bisa menangin hati abangnya."
"Udah tau bang Ozi keras, eh dianya malah gak mau ngalah. Sejak dulu Bella selalu sama, keras kepala." dengus Amara yang mengerucutkan bibirnya kesal.
Hanya helaan nafas dalam yang terdengar dari Rangga tanpa menimpali ucapan Amara.
“Aku paham kalau hubungan kalian semakin hari semakin sulit. Cuma menurutku Bella tuh harusnya lebih gigih lagi sama hubungan kalian. Jangan tiap berantem, sok-sok an nenangin diri tapi gak nemu juga solusinya.”
“Aku aja yang liatnya pegel tau Ga. Apalagi kamu kan?” cerocos Amara.
Kalimat Amara kali ini berhasil memancing perhatian Rangga untuk menoleh padanya.
“Loh, aku gak salah ngomong kan? Aku cuma,”
“Kamu gak perlu mengomentari apapun soal hubungan aku sama Bella.” Imbuhnya tanpa bisa di bantah.
“Okey, sorry… Aku gak maksud kok. Ya habis, kamu bete terus sih.” Timpal Amara merajuk.
“Kita beli yang adem dan manis yaa, biar mood kamu baikan.” Tanpa menunggu persetujuan Rangga, Amara membelokkan mobilnya ke sebuah café.
Mereka berjalan bersama-sama masuk ke café. Kali ini tidak terlalu ramai, mungkin karena sudah cukup malam.
Keduanya duduk di salah satu sudut samping kaca jendela. Cahaya lampu malam yang di susun aesthetic membuat suasana terasa hangat dan romantis.
“Belum pernah ke sini kan? Ini deket loh dari tempat kerja Bella, ada jalan memotong soalnya.” Bisiknya dengan senyum sumeringah dan badan yang condong pada Rangga.
Rangga hanya tersenyum. Ia memperhatikan sekeliling. Rasanya sangat wajar kalau Bella suka datang ke sini karena tempatnya yang nyaman dan aesthetic. Ciri khas seorang Bella.
“Mau pesan apa kak?” suara waitress itu terdengar setelah Amara mengangkat tangannya.
“Aku mau milk shake with gelato, kamu?” ia bertanya pada Rangga yang saat ini sedang berpandangan dengan seorang laki-laki muda di kejauhan.
Amara ikut menoleh ke arah pandang Rangga namun anak muda itu segera berpaling.
“Kenapa, ada yang kamu kenal?” tanya Amara menyelidik.
Rangga tidak menimpali, melainkan lebih memilih daftar menu yang ada di hadapannya.
“Americano.” Pesan Rangga tanpa menoleh. Ia mendorong buku menu dengan telunjuknya agar menjauh.
“Baik kak, di tunggu ya.” Sahut waitress tadi.
“Okey makasih.” Sahut Amara.
Setelah waitress itu pergi, fokusnya kembali pada Rangga. Ia memperhatikan laki-laki yang terlihat sedikit melamun di hadapannya.
“Kamu kenapa sih?” tanyanya seraya meraih tangan Rangga. Namun dengan cepat Rangga menghindar.
“Gak apa-apa.” Sahutnya pendek.
“Heemm, kayak cewek aja kalau di tanya ada apa jawabnya gak apa-apa padahal ada apa-apa. Iya kan?” Amara berusaha menggoda Rangga yang tetap acuh.
Laki-laki itu hanya tersenyum kecil.
“Kelamaan sama Bella lo jadi makin mirip Bella. Kalau ada apa-apa pasti jawabnya gak apa-apa. Padahal dari mukanya yang ekspresif aja orang tau kalau dia ada masalah.” Tutur Amara yang hanya di balas senyuman kelu oleh Rangga.
Rangga akui, ucapan Amara memang benar. Seperti itulah kekasihnya, selalu membuat semuanya terlihat baik-baik saja.
“Pesanannya kak.” Suara seorang laki-laki menjeda obrolan mereka.
Ia menaruh pesanan Amara dengan sedikit tegas. Tidak hanya itu, ia bahkan menatap Rangga dengan sedikit sinis walau bibirnya berusaha tersenyum ramah.
“Makasih.” Amara jadi memperhatikan Rangga yang terlihat kikuk.
“Kamu kenal dia?” kali ini Amara bertanya pada pemuda ber-name tag “Ibra” tersebut.
“Tidak terlalu. Permisi kak.” Sahutnya acuh.
“Loh, tidak terlalu berarti cukup kenal dong. Iya kan Ga? kamu kenal sama pelayan tadi?” Amara celingukan karena di acuhkan oleh keduanya.
Rangga tidak menjawab, ia lebih memilih menyesap kopinya yang sebenarnya masih panas.
“Nih dua orang kenapa sih?!” gerutu Amara dalam hati.
Rangga yang sok acuh dan pelayan tadi yang sok sibuk tapi tetap memperhatikan Rangga.
*****
Dan readerku yang jangan lupa ngasih like, komen dan votenya ya, Kalau mau d share juga boleh looohhh...hehehe....
Terima kasih yang masih setia membaca dan menunggu cerita Bella. Bersiap karena akan ada roller coaster, wkwkwkwk
Happy ready semua...