
“Pah, makan yuk…” Ujar Inka saat memasuki sebuah kamar utama di rumah mewah ini.
Ia mendekat pada sang ayah yang sedang terbaring di tempat tidurnya seraya memandangi beberapa foto yang ada di album foto keluarganya.
Laki-laki itu hanya tersenyum saat Inka duduk di sampingnya dan menaruh makanan di atas meja.
“Papah lagi liatin foto siapa?” Inka sedikit mengintip foto yang sedang di usap lembut oleh sang ayah.
“Foto kamu sama kakak-kakakmu.” Sahut Wibisono dengan mata berkaca-kaca.
Inka jadi ikut memandangi foto ia saat kecil. Foto 3 anak laki-laki dengan 1 anak perempuan yang sedang mengelilingi kue ulang tahun. Keempatnya tersenyum ceria pada Kamera. Inka mengingat persis foto itu di ambil saat ia berulang tahun yang ke 6.
Ketiga kakak sambungnya terlihat ikut tertawa bahagia merayakan ulang tahun Inka. Inka merasakan benar kasih sayang mereka hingga hari itu. Tapi semua berakhir saat seorang wanita datang ke rumah mereka. Wanita itu tampak kacau dengan pakaian lusuh dan kotor. Di tangannya ia membawa sebuah kado dengan kertas kado bergambar Donald duck.
Wanita itu menyodorkan kadonya pada Inka. “Selamat ulang tahun nak.” Lirih wanita yang menatap Inka dengan penuh kesedihan.
Inka tercenung melihat tatapan nanar penuh air mata yang tertuju padanya. Wajah yang pucat pasi dan menyimpan banyak kesedihan itu masih tergambar jelas di pelupuk mata Inka.
“Ibu siapa?” Tanya Inka yang penasaran. Ia mundur satu langkah bersembunyi di belakang sang kakak, Andra.
Wanita itu hanya menangis membuat Inka kebingungan.
“Maaf pak, saya sudah menahannya. Tapi wanita ini bersikeras ingin masuk. Ayo keluar!” Tarik petugas keamanan yang menarik tangan Wanita itu dengan paksa hingga tubuhnya tersentak.
“Saya mohon jangan pak, saya hanya ingin memberikan kado ini. Boleh kan mas?” Tanya wanita yang kini menatap Wibisono.
Semua mata kini tertuju pada Wibisono, ayah dari 4 anak ini.
“Kamu mengenalnya?” Tanya Indah, istri dari Wibisono.
“Tidak. Bawa dia keluar!” Cepat-cepat Wibisono memalingkan wajahnya dari orang-oang yang memandanginya terutama sang istri.
Petugas keamanan pun membawa wanita itu keluar, setengah menyeretnya walau wanita itu berontak.
"Mas ini aku mas. Aku cuma mau menemuinya. Tolong beri aku kesempatan." Teriak wanita itu.
"Cepet bawa wanita itu keluar!" Tunjuk Wibisono dengan muka merah padam.
Wanita itu hanya bisa menangis seraya menatap Inka dari kejauhan.
“Siapa wanita itu?” Pikir Inka yang hanya berani bersembunyi di balik tubuh sang kakak yang melindunginya.
Acara ulang tahun pun berakhir begitu saja. Suasana rumah mendadak tegang. Tidak seperti biasanya, setelah acara selesai Wibisono langsung pergi ke kamarnya. Inka dan ketiga kakaknya di suruh masuk kamar. Tidak ada acara mendongeng yang biasa dilakukan sang mamah sebagai pengantarnya tidur.
Inka terduduk sendirian di kamarnya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, siapa sebenarnya wanita yang tadi datang? Kenapa rasanya tidak asing.
“Dek! Sini keluar!” Panggil Andra, sang kakak tertua.
“Ada apa kak?” Inka mematung di tempatnya, sementara kilatan petir di luar sana seperti ikut menambah tegang tatapan sang kakak yang memandanginya dengan penuh kecemasan.
“Ikut kakak.” Remaja berusia 14 tahun itu pun menarik tangan Inka.
“Malam ini, kamu tidur di kamar kakak ya.” Ajaknya seraya menggenggam tangan Inka.
“I-Iya. Tapi apa mamah gak dongengin aku kak?” Inka masih berusaha bertanya.
"Ssstt..." Adalah Arfan yang kemudian mendesis meminta agar Inka diam.
Mereka berempat berjalan cepat menuju kamar Andra.
Saat mereka sampai di depan kamar orang tuanya, terdengar suara Indah yang berteriak.
“Jadi selama ini kamu menyembunyikannya dari aku mas?! Hah, iya?!” Teriak Indah yang terdengar sampai keluar pintu kamar.
Keempat anak itu sampai terhenyak kaget.
“Kak, mamah kenapa?” Tanya Leon, kakak kedua Inka.
“Kakak juga nggak tau.” Sahut Andra yang sebenarnya sudah mendengar pertengkaran kedua orang tuanya sejak tadi.
“Kak, aku mau liat mamah.” Rengek Inka yang mencemaskan ibunya.
“Jangan Dek, Kita di sini aja. jangan ikut campur urusan orang tua.” Andra menahan tangannya.
“Selama ini kamu bohongin aku mas. Kamu bujuk aku untuk mengadopsi anak dari panti asuhan karena kamu merasa rumah kita sepi tanpa ada rengekan anak perempuan.”
“Aku menurutinya. Dan ternyata apa yang kamu lakukan. Kamu hanya mau membawa masuk anak hasil hubungan gelap kamu. Iya kan mas?!” Bentak Indah dengan suara gemetar bercampur tangis penuh kekecewaan.
Setelah itu suara mendadak hening. Ketiga anak di luar kamar itu mencoba mencerna ujaran Indah. Andra yang menyadarinya lebih dulu. Tangan mungil yang semula ia genggam kini ia lepaskan. Ia berjalan mundur menjauhi Inka yang ketakutan.
“Kakak…” Rengek Inka pada ketiga kakaknya.
“Jangan mendekat.” Dengan cepat Andra mengatakan hal itu.
"Kakak..." Inka mematung di tempatnya dengan rengekan dan tangisan. Namun Andra dan kedua adiknya mengabaikan Inka begitu saja. Ia memilih pergi meninggalkan Inka yang kemudian menangis sendirian di depan kamar orang tua mereka.
Dan sejak kejadian malam itu, semuanya berubah. Inka tidak lagi mendapat perhatian dari ketiga kakaknya. Mereka memusuhi Inka dan sangat membencinya. Terlebih setelah Indah meninggal dunia, kehadiran Inka sudah seperti masalah yang harus mereka hindari.
Seperti hari ini, untuk menemui sang ayahpun Inka harus diam-diam. Ia terpaksa tinggal di luar rumah ini hanya demi menghindari pertengkaran dengan ketiga kakaknya. Dan semua ini sudah berjalan lebih dari 20 tahun.
“Maafkan papah ya nak. Papah gak pernah bisa bersikap adil sama kamu. Papah juga gak bisa membela kamu di hadapan kakak-kakak kamu.” Wibisono terpekur sedih di hadapan Inka. Air matanya berderai di atas permukaan wajahnya yang sudah tidak muda lagi.
Ia tahu benar kesulitan putri semata wayangnya. Untuk datang ke rumah ini saja ia harus menunggu ketiga kakaknya keluar dari rumah. Ia benar-benar sudah tidak punya tempat di rumah ini.
“Pah,…” Inka mengeratkan genggaman tangan sang ayah. Dadanya selalu terasa sesak setiap kali ia mengingat kejadian itu.
Di kecupnya tangan Wibisono dengan lembut lantas di usapnya air mata Wibisono dengan sayang.
“Papah gak usah banyak pikiran. Aku baik-baik aja kok. Yang penting sekarang, papah cepet sembuh. Papah sehat lagi. Kita bisa main golf bareng lagi. Hemh?” Hibur Inka yang berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya.
Wibisono hanya memandanginya dengan penuh rasa bersalah.
“Papah makan ya. Papah kan harus minum obat. Udah ini nanti aku bikinin jus kesukaan papah. Okey?” Inka menyuapkan sendok berisi makanan ke mulut Wibisono.
“Aaaa…” Ujarnya dengan suara gemetar.
Wibisono membuka mulutnya, ia menyuap makanan yang di berikan putrinya. Ia mengunyah makanannya dengan air mata berlinang.
“Papah jangan menangis, nanti sop nya jadi asin. Itu gak baik loh buat kesehatan.” Inka berusaha menghibur.
Wibisono berusaha tersenyum namun tetap saja air matanya mengalir.
“Tuan, non, permisi.” Suara kepala pelayan terdengar jelas di pintu masuk.
“Iya bu Ratni.” Gadis itu segera menoleh.
“Anu non, tuan maaf saya mau ngasih tau. Den Andra sudah dalam perjalanan pulang.” Ujarnya dengan ragu-ragu.
“Oh, iya. Terima kasih ya bu.” Sahut Inka yang tetap berusaha tersenyum.
Setelah kepergian Bu Ratni, Inka jadi memandangi nasi di pangkuannya. Baru satu suapan ini menyuapi Wibisono.
“Pah, boleh aku selesein dulu nyuapin papah? Setelah papah minum obat, aku akan segera pergi. Kalau kakak keburu sampe rumah, aku janji aku gak akan melawannya. Boleh ya pah?” Pinta Inka dengan penuh harap.
Wibisono menatap Inka dengan sedih. Karena tubuhnya yang lemah sisa stroke, ia tidak bisa melakukan kewajibannya untuk membela sang putri di depan para kakaknya. Ia hanya bisa menangis dalam hati setiap kali melihat Inka di perlakukan dengan semena-mena oleh ketiga kakaknya terutama Andra.
Dari ketiga kakaknya, Yang tinggal di rumah ini adalah Andra dan Leon. Andra lebih dominan dan sangat menunjukkan kalau ia tidak menyukai Inka. Sementara Leon, hanya bisa mengikuti perintah kakaknya untuk tidak mendekat pada Inka. Ada satu lagi Arfan, kakak ketiganya yang kini tinggal di luar negri. Ia cenderung lebih acuh pada keberadaan Inka. Ia menganggap Inka tidak pernah ada dan setiap bertemu seolah tidak melihatnya. Ya, seperti itulah sikap ketiga kakak Inka saat ini.
Wibisono mengangguk pelan membuat Inka tersenyum kecil. Inka menyuapkan lagi makanan, lagi dan lagi hingga tersisa beberapa suap lagi.
“Pah, aku udah menghubungi dokter jantung papah, katanya sebelum tindakan, papah harus rawat inap sekitar 2 hari. Untuk memastikan semuanya baik.” Inka mengisi keheningan di kamar ini dengan obrolan.
“Emhh,,, Boleh gak kalau papah gak usah di operasi? Rasanya papah udah capek minum obat dan di tindak macam-macam.” Wibisono terlihat menghela nafasnya dalam.
“Tapi nanti papah bisa sesak lagi. Aku gak mau liat papah lama-lama di rawat di ruang ICU lagi. Aku janji kok, aku pasti akan nemenin papah di rumah sakit. Tapi jangan di ruang ICU.” Bujuk Inka.
Wibisono tersenyum kecil, ia mengusap kepala Inka dengan lembut.
“Papah udah capek nak. Papah cuma mau istirahat. Bisakah?” Wibisono menggenggam erat tangan Inka seraya menatapnya sendu. Ia memintanya dengan sungguh.
Inka hanya terdiam. Ia tidak bisa memutuskan. Lebih dari itu, ia tidak siap jika harus kehilangan satu-satunya sandaran hidup yang ia punya saat ini.
*****
Di tempat berbeda kini ada 2 orang yang tengah memandangi Ibra dengan penuh keterkejutan. Tanpa di sangka remaja itu datang ke rumah Bella dengan membawa dua botol kopi yang ia racik sendiri beserta cemilan yang biasa Bella nikmati di café.
“Astaga. Sial.” Ozi sampai mengusap wajahnya saat ia begitu lekat menatap wajah Ibra.
Sementara Saras masih menutup mulutnya tidak percaya saat memandangi Ibra yang berusaha tersenyum di hadapannya.
“Gue pikir, gue doang yang kayak hasil scan muka bokap, ternyata ada hasil copy paste-nya.” Gumam Ozi yang tidak percaya saat melihat wajah Ibra sebegitu miripnya dengan sang ayah.
Ibra masih berusaha mengatur nafasnya setelah tadi jantungnya rasanya mau copot ketika Saras membukakan pintu untuknya. Wanita itu menatapnya dengan air mata berurai. Mungkin seperti melihat kembali wajah sang suami yang telah lama tiada.
Ibra meraih tangan Saras dan wanita itu terlihat gemetar. Ia membiarkan tangannya di kecup dengan penuh hormat oleh Ibra sementara matanya tidak lepas dari sosok tinggi dan kurus ini.
Entah dari mana asal keberanian ini datang hingga membuat Ibra melangkahkan kakinya menuju rumah ini. Jalan Akasia nomor 18, alamat yang pernah di sebutkan bella.
Mungkin karena rasa khawatir akibat beberapa hari ini ia tidak melihat Bella berkunjung ke cafenya setelah pembicaraan mereka tempo hari.
“Siapa nama kamu nak?” Tanya Saras dengan perlahan. Lembut, membuat hati Ibra berdesir.
Ia sempat berpikir kalau mungkin Saras dan Ozi akan menolak kehadirannya setelah ia melihat bagaimana sikap Bella terhadapnya selama ini. Tapi ternyata, ia bertemu orang-orang baik. Yang mau menerima kehadirannya bahkan menyuruhnya untuk duduk menghadap foto keluarga yang berada di dinding.
Wajah sang ayah berada di sana dan tengah tersenyum padanya.
“Ibra, tante. Ibra Fauzi.” Sahut Ibra dengan perlahan.
Saras seperti terhenyak saat ia mendengar nama suaminya menjadi nama belakang remaja di hadapannya, sama halnya dengan Ozi dan Bella.
“Berapa usiamu nak?” Lagi wanita itu bertanya dengan suara bergetar menahan tangis.
“Bulan depan 18 tahun tante.” Lagi Ibra menyahuti sekali lalu melirik Ozi yang masih memandanginya.
Saras tersenyum kecil dengan matanya yang berkaca-kaca. Sekali lalu ia mengusap dadanya lembut saat membayangkan berapa usia anak ini saat di tinggalkan oleh kedua orang tuanya. Masih terlalu kecil untuk mendapatkan sebuah kehilangan yang besar.
Dan rupanya cukup lama, mendiang suaminya menyembunyikan hubungannya dengan wanita itu. Entah mengapa ada rasa sakit dan kelegaan yang datang bersamaan menghampiri relung hati Saras.
“Saya minta maaf kalau saya sudah lancang datang ke rumah ini. Saya, ingin memastikan kalau kak Bella baik-baik saja. Sudah beberapa hari ini kak Bella tidak datang ke café.” Terang Ibra memecah keheningan di antara mereka.
Saras hanya terangguk seraya tersenyum. Tidak lama kemudian, Bella datang dengan membawa air minum dan makanan kecil, lalu menaruhnya di atas meja.
Ia melirik Ibra yang tersenyum saat melihat kedatangannya.
“Bella baik-baik saja. Sini nak.” Saras menepuk tempat di sampingnya agar Bella duduk.
Tanpa ragu Bella duduk di samping Saras. Ia melihat cukup banyak makanan yang di bawa Ibra dan semua makanan serta minuman favoritnya di café.
“Ngapain lo bawa makanan banyak banget?” Tanya Bella. Kalau di hitung pasti tidak sedikit uang yang harus Ibra keluarkan untuk makanan dan minuman ini.
“Adekk…. Ssstt…” Saras kaget sendiri dengan cara bicara Bella terhadap Ibra.
“Hehehehe.. Gak apa-apa tante, saya udah terbiasa ngobrol kayak gini sama kak Bella. Kak, ini oleh-oleh buat lo, tante Saras sama kak Bima juga. Kabar lo baik kak?” Keberanian Ibra sudah terkumpul sehingga mampu berbicara sebanyak ini.
Walau bisa Bella lihat, tangan anak ini yang mengepal, memegangi pinggiran celananya untuk meredam rasa gemetarnya bertemu Mamah dan Abangnya.
“Ozi. Gue biasa di panggil Ozi.” Ozi segera mengklarifikasi panggilannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Ibra. Hanya Inka yang memanggilnya dengan nama itu dan ia tidak protes.
“Oh iya, kak Ozi.” Ibra mengklarifikasinya.
“Ab..” Ozi membuka mulutnya kembali.
“Abang, Bella biasa manggilnya abang Ozi.” Kali ini Saras yang meluruskan. Ia hanya mengusap punggung sang anak agar tidak tertalu tinggi nada bicaranya pada Ibra.
“Oh, iya tante. Maaf saya kurang tau.” Ibra semakin membungkuk, ia terlihat sangat canggung berada di tengah-tengah keluarga ini.
Lihat saja mata Ozi yang tidak lepas menatapnya.
Pertemuan pertama mereka hari ini hanya membahas masalah panggilan satu sama lain. Belum ada perkenalan yang lebih dalam kondisi secanggung ini.
“Tante, lain kali saya boleh kan main ke sini lagi?” Takut-takut Ibra bertanya.
Saras tampak menghela nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan seraya tersenyum.
“Ya, tentu.” Sahutnya.
Ibra mengangguk-angguk saja. Satu langkah baik dimulainya untuk mendekat pada keluarga sang ayah. Entah mengapa, ia jadi punya keberanian untuk menatap foto sang ayah yang tengah memandanginya.
"Pah, Ibra di sini. Ketemu kak Bella, bang Ozi dan tante Saras. Papah udah seneng kan liatnya?" Batin Ibra dengan nafas tertahan saat memandangi foto sang ayah yang membuatnya sesak.
******
Haayy readerku sekalian yang selalu setia nunggu cerita Belsky update, hehehehe
Aku gak tau nih mesti nulisnya dimana tapi aku mau ngasih tau info penting.
Btw, novel yang ini aku coba ikutkan lomba dengan kategori #pengkhianatan. Aku mohon dukungannya yaa…
Gak muluk-muluk menang sih cuma semoga tulisanku semakin banyak yang kenal dan mampir ke sini. Mohon bantuan like, komen dan vote nya di setiap part yang temen-temen baca yaa…
Kalau mau ngasih gift juga boleh banget, hehehe…
Aku ucapin terima kasih untuk semua dukungannya selama ini, mulai dari ngasih masukan, like dan ngasih semangat buat aku nulis dan nerusin cerita ini.
Aku memang bukan tipe penulis yang bisa bikin cerita kocak but i hope setiap tulisan yang aku buat ada maknanya 🙏
Sekali lagi terima kasih banyak ya… And happy reading buat kalian semua. Love you ❤️❤️